Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Memberi Nama)

Loading

Apa Arti Sebuah Nama ?

Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Di antara keindahan ialah memberi nama baik bagi bayi dan tidak memberinya nama yang mengandung makna buruk. Islam adalah agama yang mudah.

Allah menghendaki kemudahan bagimu.  (al-Baqarah : 185 ).

Untuk itu, islam selalu menginginkan kemudahan, buhkan dalam persoalan pemberian nama. Islam tidak menginginkan kesulitan dalam pemberian nama. Hal ini dapat dilihat dengan jelas melalui larangan Nabi memakai nama Harb (perang). Nabi bersabda, Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman; nama yang paling baik adalah Harits dan Hammam; sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah. (HR. abu Daud IV, no. 288, An-Nasa’I VI, no. 218, al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Dr. Adnan Hasan Shalih Baharist Hafidhohullah berkata; “Secara psikologis anak terpengaruh dengan nama dan panggilan yang diberikan kepadanya. Kadang anak merasa rendah diri karena nama yang diberikan oleh orang tuanya tidak mengandung makna yang mengagumkan. Hal ini terjadi karena kata dan tulisan yang pertama kali dikenal anak adalah nama sendiri. Apabila nama yang diberikan oleh orang tuanya bagus, maka dia akan bangga dan mengekspresikannya dengan suka cita. Sebaliknya jika nama yang diberikan tidak baik, akan mengakibatkan anak menjadi pemurung dan tidak menampakkan wajah keceriaan.” (Masuliyatul al-Ab al-Muslim fii Tarbiyatil Aulad).

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara nama dengan yang dinamai, dengan kata lain dapat berpengaruh terhadap kedamaian anak. Selanjutnya, beliau juga mengungkapkan bahwa pemberian nama yang baik akan mendorong yang punya nama untuk berbuat yang baik sesuai dengan makna yang terdapat dalam namanya. Hal ini terjadi karena dia merasa malu terhadap nama yang disandangnya bila perbuatannya tidak sesuai dengan makna namanya. (Tuhfatul Wadudu bi Ahkamil Maulud).

Pada dasarnya pemberian nama bukan saja dilihat dari maknanya yang baik nan indah, tapi juga harus mengikuti tuntunan agama dalam pemberian nama. Hal ini terlihat dari Nabi Muhammad yang merubah beberapa nama atau memilih nama yang baik. Bukan saja pada nama orang tapi juga pada nama tempat, kabilah, jalan, gunung, piring dan hewan tungganngan dan yang lainnya. Nabi pernah melewati jalan diantara dua gunung. Lalu beliau menanyakan nama gunung itu. Ada yang menjawab, Fadhih (aib) dan Mukhz (hina).” Mendengar nama itu, beliau berbalik dan tidak jadi melewati jalan antara dua gunung tersebut.

Jamal Abdurrahman mengatakan, orang yang mempelajari sunnah Nabi maka akan mendapati makna-makna nama yang memiliki kaitan dengan yang dinamai. Bahkan, seolah-olah maknanya diambil dari nama itu sendiri. Nama itu seakan-akan kata turunan dari makna-makna nama. Perhatikan sabda Nabi;

Nama Alam semoga Allah memberikan keselamatan; Ghifar semoga diampuni Allah; dan Ushayyah maka ia akan bermaksiat kepada Allah. (HR. al-Bukhari 3513 dan Muslim 2518).

Beliau melanjutkan; perhatikan sabda Nabi ketika Suhail ibn Amir datang pada hari perjanjian Hudaibiyah, Persoalanmu mudah. Suhail artinya mudah. Ketika beliau menanyakan nama Buraidah, ia menjawab, Buraidah (dingin). Maka beliau bersabda, Wahai Abu Bakr, persoalanmu dingin. Beliau lalu bersabda, Darimana engkau?  Ia menjawab, Dari bani Aslam. Maka Nabi bersabda, Wahai Abu Bakar kita selamat. Kemudian beliau bersabda, Dari siapa ? Ia bersabda, Dari Sahm (anak panah). Beliau bersabda, Anak panahmu telah keluar. (Athfalul Muslimin Kaifa Rabbahum an-nabiyu al-Amiin).

Jika kita ingin mengetahui pengaruh nama terhadap pemiliknya, perhatikanlah hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id ibn Musayyib, dari ayahnya, dari kakeknya yang berkata, Aku mendatangi Nabi, lalu beliau bersabda, Siapa namamu ? Aku menjawab, Hazn (sedih). Beliau bersabda, Engkau Sahl (mudah). Orang itu menjawab, aku tidak akan mengganti nama yyang diberikan ayahku. Ibnu Musayyib berkata, ternyata orang itu selalu tampak sedih setelah kejadian itu. (HR. Bukhari no. 619).

Senada yang diriwayatkan oleh Malik ibn Anas dalam al-Muwatha’: II/973 dari Yahya ibn Said bahwa Umar ibn Khaththab berkata kepada seseorang:

Siapa namamu ?

Jamrah (kerikil).

Anak siapa kamu ?

Ibnu Syihab (anak bintang).

Dari mana ?

Dari al-Hurqah (Kebakaran).

Di mana tempat tinggalmu ?

Di Harratin Nar (panasnya api).

Di manakah itu ?

Di Dzatu Lazha (memiliki nyala api).

Akhirnya, Umar berkata, Beritahulah keluargamu bahwa mereka telah terbakar. Sebagaimana kata Umar, ini adalah riwayat Malik.

Untuk permasalahan pekerjaan pun Nabi memilih nama yang baik. Diriwayatkan oleh Imam Malik ibn Anas Rahimahullah  dalam kitab Al-Muwatha’ II/973 bahwa Rasulullah menanyakan tentang kambing yang banyak susunya, Siapa yang akan memerah susunya ? maka seorang berdiri sembari berkata, Saya. Beliau bertanya, Siapa namamu ? Orang itu menjawab, “Murrah (sangat pahit). Beliau bersabda kepadana. Duduklah. Beliau kemudian bersabda, Siapa yang akan memerah susunya ? Maka seorang yang lain berdiri lalu beliau bertanya kepadanya, Siapa namamu ? Orang itu menjawab, Harb (perang). Beliau bersabda kepadanya, Duduklah. Beliau kemudian bertanya lagi, siapa yang akan memerah susunya ? Maka seorang yang lain berdiri dan berkata, Saya. Beliau bertanya, Siapa namamu ? Orang ini menjawab, Ya’isy (kehidupan). Maka beliau bersabda, perahlah.

Ternyata, beliau menyatakan enggan secara langsung menerima pekerjaan seseorang hanya karena orang yang memiliki nama yang tidak disukai olehnya.

Adalah Abdul Muthallib yang memilih Halimah as-Sa’diyah sebagai persusuan Rasulullah. Abdul Muthalib berkata kepadanya, “Siapa anda ?” Ia menjawab, “Seorang wanita dari Bani Sa’ad.” Abdul Muthalib berkata, “Siapa namamu?” Ia menjwab, “Halimah.” Abdul Muthalib berkata, Wah, hebat. Bahagia dan lembut. Dua sifat ini merupakan kekayaan sepanjang masa. (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, hal. 105).

Setelah penjelasan panjang diatas. Kita semakin yakin bahwa nama memiliki pengaruh kepada pemiliknya. Dan tidak ada petunjung yang paling baik melebihi petunjuk Nabi dalam memilih nama.

Leave a Comment