MENGENAL SIFAT ALLAH

Loading

MENGENAL SIFAT ALLAH
Oleh Endang Abu Rufaydah

وَلَهُمَا عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
«جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا، وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الجُزْءِ تَتَرَاحَمُ الخَلَائِقُ، حَتَّى تَرْفَعَ الدَّابَّةُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ» (١)

وَلِمُسْلِمٍ مَعْنَاهُ مِنْ حَدِيثِ سَلْمَانَ، وَفِيهِ:
«كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ القِيَامَةِ كَمَّلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ» (٢)

Terjemahan (Bahasa Indonesia):

Dari beliau (Nabi ﷺ):
“Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Lalu Dia menahan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian, dan menurunkan ke bumi satu bagian saja. Dari satu bagian itulah seluruh makhluk saling berkasih sayang, sampai seekor hewan mengangkat kakinya dari anaknya karena takut menyakitinya.”

Dan dalam riwayat Muslim, dari hadits Salman, disebutkan:
“Setiap satu rahmat besarnya memenuhi antara langit dan bumi. Maka ketika hari kiamat, Allah akan menyempurnakannya dengan rahmat tersebut.”

Kalau Anda ingin, saya bisa jelaskan makna mendalam hadits ini—ini sangat kuat untuk materi pendidikan akhlak dan kasih sayang dalam Islam.

Hadits ini sangat dalam dan “menghangatkan hati”, karena berbicara tentang rahmat Allah—inti dari hubungan Allah dengan makhluk-Nya.

Mari kita kupas dengan sederhana tapi tajam:

🌿 1. “Allah menjadikan rahmat 100 bagian”

Ini menunjukkan bahwa:

  • Rahmat Allah itu sangat besar, tidak terbatas
  • Yang kita lihat di dunia hanya 1% saja

➡️ Artinya:
Kasih sayang yang kita rasakan selama ini (ibu ke anak, guru ke murid, manusia ke sesama) itu hanya setetes kecil dari lautan rahmat Allah.

🌿 2. “99 disimpan di sisi Allah”

Ini kabar yang sangat menenangkan:

  • Rahmat terbesar belum diberikan sekarang
  • Disiapkan untuk:
    • Hari kiamat
    • Surga
    • Ampunan bagi hamba

➡️ Pesan penting:
Jangan putus asa dari rahmat Allah, karena yang terbesar belum kita lihat.

🌿 3. “1 bagian diturunkan ke bumi”

Dari 1 bagian ini terjadi:

  • Kasih sayang orang tua
  • Empati manusia
  • Bahkan hewan pun punya kasih

Contoh dalam hadits:
➡️ Seekor hewan mengangkat kakinya agar tidak menginjak anaknya

Maknanya:

  • Kasih sayang adalah fitrah yang Allah tanamkan
  • Bahkan makhluk yang tidak berakal pun punya rasa itu

🌿 4. Riwayat tambahan: “Satu rahmat sebesar langit dan bumi”

Ini memperkuat bahwa:

  • Satu bagian saja sudah luar biasa luas
  • Apalagi 99 bagian yang Allah simpan

➡️ Bayangkan:
Seluruh cinta di dunia ini digabung → masih belum sebanding dengan rahmat Allah di akhirat

🌿 5. “Akan disempurnakan pada hari kiamat”

Ini puncaknya:

  • Di dunia: rahmat terasa, tapi terbatas
  • Di akhirat: rahmat Allah sempurna dan melimpah

➡️ Ini memberi harapan:
Orang beriman hidup dengan:

  • Harapan (raja’) → karena rahmat Allah besar
  • Takut (khauf) → agar tidak lalai

🔥 Inti Besar Hadits

Hadits ini ingin membentuk jiwa yang penuh harapan:

➡️ Jangan mudah putus asa
➡️ Jangan merasa dosa terlalu besar
➡️ Jangan mengira Allah pelit rahmat

Karena faktanya:
Yang kita rasakan sekarang baru 1%

🌱 Aplikasi dalam Kehidupan (Penting untuk Pendidikan)

  1. Untuk diri sendiri
  • Saat merasa gagal → ingat rahmat Allah lebih besar
  • Saat berdosa → jangan lari, tapi kembali
  1. Untuk keluarga & anak

Ini sangat kuat untuk pendidikan:

  • Ajarkan anak bahwa Allah itu Maha Penyayang dulu, sebelum Maha Menghukum
  • Bangun emosi anak dengan cinta, bukan ketakutan berlebihan
  1. Untuk dakwah / ceramah

Hadits ini cocok untuk:

  • Melembutkan hati yang keras
  • Menghidupkan harapan
  • Menyeimbangkan tema “takut neraka” dengan “harap rahmat”

🌊 Analogi sederhana

Kalau seluruh lautan di dunia adalah rahmat Allah,
➡️ yang kita lihat sekarang cuma setetes air di ujung jari

عن أبي ذرٍّ رضي الله عنه قال: قال رسولُ اللهِ ﷺ:
«أَطَّتِ السَّمَاءُ، وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ، مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَفِيهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ لِلَّهِ تَعَالَى، وَلَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا، وَمَا تَلَذَّذْتُمْ بِالنِّسَاءِ عَلَى الْفُرُشِ، وَلَخَرَجْتُمْ إِلَى الصُّعُدَاتِ تَجْأَرُونَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى»
رواه الترمذي وقال: حديث حسن.

Berikut terjemahan teks Arab pada gambar tersebut:

Hadits:
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Langit berderit (mengeluarkan suara), dan memang pantas baginya untuk berderit. Tidak ada tempat selebar empat jari pun di dalamnya kecuali ada malaikat yang bersujud kepada Allah Ta‘ala. Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis, dan kalian tidak akan merasakan kenikmatan bersama istri-istri di atas ranjang, serta kalian akan keluar ke tempat-tempat tinggi untuk memohon kepada Allah Ta‘ala.”
(HR. Tirmidzi, dan ia berkata: hadits hasan)

Penjelasan (Syarh):
Sabda beliau: “Langit berderit”, maksudnya adalah untuk menjelaskan betapa banyaknya malaikat yang beribadah di dalamnya, serta menunjukkan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, dan bahwa Dia menciptakan segala sesuatu. Dan bahwa Allah – Maha Tinggi dan Maha Suci – telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Nya balasan yang besar, yang seandainya mereka mengetahuinya, niscaya mereka akan bersungguh-sungguh dalam ibadah.

Kalau ingin, saya bisa bantu jelaskan makna hadits ini lebih dalam atau kaitannya dengan pendidikan iman.

Hadits ini bukan sekadar memberi informasi tentang langit, tapi mengguncang cara pandang manusia tentang kehidupan, ibadah, dan kesadaran akhirat.

  1. “Langit berderit (أطّت السماء)”
    Ini gambaran yang sangat kuat. Bukan berarti langit benar-benar seperti kayu yang berbunyi, tetapi isyarat bahwa langit “penuh sesak”. Penuh oleh malaikat yang terus-menerus beribadah.
    Maknanya:
  • Alam atas tidak kosong, tetapi dipenuhi makhluk yang sangat taat.
  • Ibadah adalah “aktivitas utama” makhluk langit.
  1. “Tidak ada tempat 4 jari kecuali ada malaikat sujud”
    Ini hiperbola (penguatan makna), untuk menunjukkan:
  • Jumlah malaikat sangat luar biasa banyak
  • Semua mereka dalam kondisi tunduk dan taat tanpa henti

Pesannya:
Manusia sering lalai, padahal makhluk lain tidak pernah berhenti beribadah.

  1. “Kalau kalian tahu apa yang aku tahu…”
    Rasulullah ﷺ mengetahui realitas akhirat, azab, dan kebesaran Allah lebih dalam daripada manusia biasa. Maka dampaknya:
  • “Kalian akan sedikit tertawa” → dunia tidak lagi terlalu menghibur
  • “Banyak menangis” → muncul rasa takut (khauf) dan kesadaran diri

Ini bukan melarang bahagia, tapi menyeimbangkan:
➡️ jangan sampai hidup hanya diisi tawa tanpa kesadaran akhirat

  1. “Tidak akan menikmati istri di atas ranjang…”
    Artinya bukan melarang hubungan suami-istri, tapi:
  • Kenikmatan dunia akan terasa kecil dibanding akhirat
  • Fokus hati akan berubah: dari kenikmatan → keselamatan akhirat
  1. “Kalian akan keluar ke tempat tinggi memohon kepada Allah”
    Ini gambaran orang yang sangat sadar akan kebutuhan kepada Allah:
  • Banyak berdoa
  • Banyak bertobat
  • Mencari tempat sunyi untuk mendekat kepada-Nya

Inti Pesan Besar Hadits

Hadits ini ingin menggeser kesadaran manusia:

Dari:

  • Lalai → Sadar
  • Santai berlebihan → Takut yang menyehatkan
  • Dunia-sentris → Akhirat-sentris

Pelajaran Praktis (Sangat Relevan)

  1. Bangun “rasa diawasi” (muraqabah)
    Seolah kita hidup di tengah makhluk yang semuanya taat
  2. Seimbangkan emosi
    • Ada harapan (raja’)
    • Ada takut (khauf) → ini yang ditekankan dalam hadits
  3. Kurangi over-hiburan
    Terlalu banyak tertawa = tanda hati mulai lalai
  4. Perbanyak ibadah sunyi Seperti:
    • Tahajud
    • Dzikir sendiri
    • Doa diam-diam

Kalau dikaitkan dengan pendidikan (seperti yang Anda minati)

Hadits ini sangat kuat untuk membangun regulasi emosi berbasis iman:

  • Anak diajarkan bahwa dunia bukan tempat utama
  • Dibangun rasa takjub (awe) terhadap ciptaan Allah
  • Dilatih menangis karena Allah (bukan hanya karena dunia)


وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً فِي الدُّنْيَا، وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَإِنَّ اللَّهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِي الْآخِرَةِ، وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِي الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ»
رواه مسلم

🇮🇩 Terjemahan (Bahasa Indonesia)

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya orang kafir, apabila ia melakukan suatu kebaikan, maka ia diberi balasan berupa kenikmatan di dunia. Adapun orang mukmin, maka Allah menyimpan pahala kebaikannya untuknya di akhirat, dan Dia tetap memberinya rezeki di dunia karena ketaatannya.”
(HR. Muslim)

🌿 Penjelasan Hadits

  1. Perbedaan cara Allah membalas

Hadits ini menjelaskan perbedaan mendasar:

  • Orang kafir
    • Kebaikannya dibalas di dunia
    • Bentuknya: rezeki, kesehatan, popularitas, kesuksesan
    • Tapi: tidak menjadi pahala akhirat
  • Orang mukmin
    • Pahalanya disimpan untuk akhirat
    • Tetap dapat bagian dunia (rezeki), tapi bukan balasan utama
    • Balasan terbaik: surga dan ridha Allah

➡️ Artinya:
Jangan tertipu—balasan di dunia belum tentu tanda kemuliaan di akhirat.

  1. Kenapa orang kafir tetap dapat kebaikan dunia?

Karena:

  • Allah Maha Adil → setiap kebaikan tetap dibalas
  • Tapi karena tidak beriman → tidak bernilai sebagai bekal akhirat

➡️ Analogi:
Seperti orang dibayar “cash di dunia”, tapi tidak punya “tabungan akhirat”.

  1. Keistimewaan orang beriman
  • Amal tidak hilang
  • Disimpan oleh Allah (investasi akhirat)
  • Dunia hanya bonus

➡️ Ini konsep penting:
Mukmin hidup untuk hasil jangka panjang (akhirat), bukan hanya dunia

  1. Makna “diberi rezeki karena ketaatan”

Artinya:

  • Ketaatan mendatangkan keberkahan
  • Rezeki bukan sekadar uang, tapi:
    • Ketenangan
    • Keluarga yang baik
    • Hati yang lapang

🔥 Inti Pesan Hadits

Hadits ini mengajarkan:

➡️ Jangan iri pada kesuksesan dunia orang lain
➡️ Jangan ukur keberhasilan hanya dari dunia
➡️ Fokuslah pada “tabungan akhirat”

🌱 Aplikasi dalam Kehidupan

  1. Untuk diri sendiri
  • Tetap berbuat baik walau tidak langsung “terbalas”
  • Yakin: tidak ada amal yang sia-sia
  1. Untuk pendidikan anak

Ajarkan:

  • Kebaikan bukan sekadar “biar dapat hadiah”
  • Tapi karena Allah melihat dan menyimpan
  1. Untuk dakwah

Hadits ini penting untuk:

  • Meluruskan mindset materialistik
  • Menanamkan orientasi akhirat

🌊 Analogi sederhana

  • Orang kafir: dapat “gaji harian”
  • Orang beriman: punya “tabungan besar + bonus harian”

Kalau Anda mau, saya bisa bantu:

  •  Jadikan ini materi ceramah yang menyentuh
  • Atau  storytelling kuat untuk anak & jamaah
  • Atau dikaitkan dengan regulasi emosi (tidak iri, tidak gelisah)

Tinggal arahkan saja 👍
[20.47, 30/4/2026] Ustadz Endang Abu Abu Rufaydah: Berikut teks bahasa Arab, terjemahan, dan penjelasan dari gambar tersebut:

📜 Teks Hadits (Bahasa Arab)

وَلَهُ عَنْهُ مَرْفُوعًا:
«إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، وَيَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا» (١)

🇮🇩 Terjemahan (Bahasa Indonesia)

Dari beliau (diriwayatkan secara marfu’), Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba yang ketika ia makan suatu makanan lalu ia memuji (bersyukur kepada)-Nya atas makanan itu, dan ketika ia minum suatu minuman lalu ia memuji-Nya atas minuman itu.”

📖 Penjelasan (Syarh)

  1. Allah ridha dengan hal yang sederhana

Hadits ini sangat menakjubkan:

➡️ Hal kecil seperti:

  • Makan
  • Minum

➡️ Bisa menjadi sebab:

  • Ridha Allah

Syaratnya satu: bersyukur (mengucap الحمد لله)

  1. Makna “ridha Allah”

Dalam penjelasan kitab:

  • Ini menetapkan bahwa Allah memiliki sifat ridha
  • Ridha adalah sifat kesempurnaan Allah
  • Lawannya adalah:
    • Murka (غضب)
    • Tidak suka (سخط)

➡️ Artinya:
Allah bukan sekadar “mengetahui”, tapi merespon amal hamba dengan cinta dan keridhaan

  1. Ibadah tidak harus besar

Hadits ini mengajarkan:

❌ Ibadah bukan hanya:

  • Shalat panjang
  • Puasa berat

✅ Tapi juga:

  • Kesadaran kecil yang terus hidup
  • Mengingat Allah dalam aktivitas harian

➡️ Ini disebut: mengubah kebiasaan jadi ibadah

  1. Syukur = kunci ridha

Kenapa syukur penting?

Karena:

  • Syukur menunjukkan pengakuan nikmat dari Allah
  • Syukur menjaga hati dari:
    • sombong
    • lalai
    • merasa semua karena diri sendiri

  1. Pesan aqidah dalam syarah

Di bagian penjelasan tertulis:

  • Wajib menetapkan sifat ridha bagi Allah
  • Tanpa:
    • menolak (ta’thil)
    • menyelewengkan makna (ta’wil berlebihan)

➡️ Artinya:
Kita imani sebagaimana datangnya, dengan cara yang sesuai keagungan Allah

🔥 Inti Pesan Hadits

➡️ Hal kecil + hati yang sadar = bernilai besar
➡️ Syukur sederhana bisa mengundang ridha Allah
➡️ Islam membangun kesadaran harian, bukan hanya ibadah musiman

🌱 Aplikasi dalam Kehidupan

  1. Biasakan dzikir setelah nikmat
  • Setelah makan: الحمد لله
  • Setelah minum: الحمد لله

Jangan sekadar ucapan → hadirkan rasa

  1. Latih anak dari hal kecil

Ini sangat kuat untuk pendidikan:

  • Ajarkan anak mengucap “Alhamdulillah”
  • Tanamkan: semua dari Allah

  1. Regulasi emosi berbasis syukur

Orang yang sering bersyukur:

  • Lebih tenang
  • Tidak mudah mengeluh
  • Tidak mudah iri

🌊 Analogi sederhana

Bayangkan:
➡️ Kita memberi hadiah kecil ke seseorang, lalu dia sangat menghargai
➡️ Kita pasti senang

➡️ Maka Allah—dengan kesempurnaan-Nya—lebih “ridha” ketika hamba-Nya bersyukur

Kalau Anda mau, saya bisa bantu:

  •  Jadikan ini materi ceramah menyentuh hati
  • Atau  modul pendidikan adab anak
  • Atau  konten storytelling (visual-audio-kinestetik)

Leave a Comment