“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Dan jika melihatnya kembali, maka berbukalah (berhari Raya ‘Ied). Lalu, jika kalian terhalangi (tidak dapat melihatnya), maka ukurlah”. HR Al Bukhari, dalam Shahih-nya, kitab Ash Shiyam, no. 1.906 dan Muslim dalam Shahih-nya, kitab Ash Shaum, no. 2.500).
“Siapa yang puasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qosim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Bukhari secara Muallaq, 3/27).
“Hadis ini dijadikan dalil haramnya puasa pada hari syak. Karena sahabat Ammar tidak mungkin mengatakan demikian dari pendapat pribadinya, sehingga dihukumi sebagaimana hadist marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). (Fathul Bari, 4/120).
“Jika sampai Nabi menceraikan kalian, mudah-mudahan Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, Muslimat, Mukminat, Qanitat, Taibat, ‘Abidat, Saihat dari kalangan janda ataupun gadis.” (at-Tahrim: 5).
LARANGAN MENDAHULUI RAMADHAN DENGAN PUASA Puasa secara bahasa maknanya menahan Secara istilah maknanya menahan diri dari perkara-perkara yang membatalakan, seperti makan, minum dan jima’ sejak … Read more
Ayah dan bunda yang dirahmati Allah. Jika sebelumnya saya pernah menulis Dampak Keshalehan Guru Pada Anak [1], maka dipembahasan ini kami peruntukkan kepada orang tua yang hendaknya memilih guru yang shalih. Interaksi anak dengan guru akan terjadi ikatan batin di antara kedua pihak sehingga mampu memberikan pengaruh kepada anak kita.
Allah memberikan contoh yang baik kepada kita tentang kisah Nabi Musa Alaihissallam yang belajar kepada Nabi Khidir Alaihissallam. Allah Ta’ala berfirman :
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” [QS. Al-Kahfi : 65-66].
MENGENAL LEBIH DEKAT IMAM ASY-SYAFI’I rahimahullah
TEMPAT KELAHIRAN IMAM SYAFI’I
Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syaafi’ bin As-Saai’b bin ‘Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al- Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pada Abdu Manaf, sedangkan Al-Muththalib adalah saudaranya Hasyim (bapaknya Abdul Muththalib).
Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Oleh karena itu terkumpullah pada dirinya kefakiran, keyatiman, dan keterasingan dari keluarga. Namun, kondisi ini tidak menjadikannya lemah dalam menghadapi kehidupan setelah Allah memberinya taufik untuk menempuh jalan yang benar. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.
NABI SAJA TAKUT DENGAN KESYIRIKAN BAGAIMANA DENGAN KITA ? Allah Ta‘ala berfirman, وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ أَنْ نَّعْبُدَ … Read more
PERTANYAAN Assalaamualaikum ustadz, yang dimaksud tayammum hanya belaku untuk satu shalat itu apa ya ? apa hanya untuk satu kali waktu, misal tayammum maghrib tidak … Read more
Assalamualaikum Ustadz, Saya mau bertanya, apa termasuk kebid’ahan jika setiap selesai baca al-Qur’an mengucapkan Shadaqollahul Adhim ? Anggota Grup WA CKS 0821-2737-XXXX Walaikumussalam Warahmatullah … Read more
Disusun oleh Abu Rufaydah KELAHIRANNYA Irbatd bin Sariyah radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, kemudian disebutkan hadits di dalamnya ada, إِنَّ … Read more