![]()
FASE HADHONAH (Pengasuhan) ke 2
Oleh Ust Abu Rufaydah Hafidhohullah
- Mengajak Anak ke Masjid
Fase Hadhonah adalah fase di mana seorang anak baru keluar dari masa penyusuan menuju masa pengawasan. Anak-anak pada awalnya hanya mengenal ayah bunda dan keluarganya, maka pada fase ini anak-anak akan mengenal orang-orang di luar keluarganya. Diantara caranya adalah mengajak anak-anak ke masjid. Selain menanamkan kepada mereka untuk mencintai tempat-tempat ibadah juga mengajari mereka untuk menghormati orang lain, bersikap tenang, tidak menggangu, tidak bermian, belajar berkomunikasi dengan orang-orang di luar rumah, juga akan bermanfaat bagi si anak untuk mengenal lingkungan sekitar.
Hikmah lain yaitu untuk membiasakan mereka dalam ketaatan dan menghadiri sholat jamaah, mulai sejak kecil, karena sesungguhnya pemandangan-pemandangan yang mereka lihat dan dengar saat di masjid -seperti: dzikir, bacaan qur’an, takbir, tahmid, dan tasbih- itu memiliki pengaruh yang kuat dalam jiwa mereka, tanpa mereka sadar. Pengaruh tersebut, tidak akan -atau sangat sulit- hilang saat mereka dewasa dan memasuki perjuangan hidup dan gemerlap dunia. Banyak hadits yang menerangkan tentang kehidupan Nabi bersama anak-anak di masjid. Diantaranya hadits-hadits sebagai berikut:
- Abu Qotadah radhiallahu ‘anhu mengatakan: Ketika kami sedang duduk-duduk di masjid, Rosulullah –shallallahu alaihi wasallam– muncul ke arah kami sambil menggendong Umamah binti Abil Ash, -ibunya adalah Zainab binti Rosulullah, ketika itu Umamah masih kecil (belum disapih)-, beliau menggendongnya di atas pundak, kemudian Rosulullah mengerjakan sholat, sedang Umamah masih di atas pundak beliau, apabila ruku’ beliau meletakkan Umamah, dan apabila berdiri beliau menggendongnya kembali, beliau melakukan yang demikian itu hingga selesai sholatnya. (HR. Abu Daud no. 783, an-Nasa’i no. 703 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahumullah).
- Anas radhiallahu ‘anhu mengatakan: Rosulullah –shallallahu alaihi wasallam– pernah mendengar tangisan seorang anak kecil bersama ibunya, sedang beliau dalam keadaan sholat, karena itu beliau membaca surat yang ringan, atau surat yang pendek. (HR. Muslim no. 722).
- Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan: Rosulullah – shallallahu alaihi wasallam – bersabda: “Sungguh aku pernah memulai sholat yang ingin ku panjangkan, lalu karena kudengar tangisan seorang anak kecil, maka kuringankan (sholat tersebut), karena (aku sadar) kegusaran ibunya terhadapnya”. (HR. Bukhari no. 666 dan Muslim no. 723).
- Buroidah mengatakan: Suatu saat Nabi –shallallahu alaihi wasallam– berkhutbah, lalu datanglah Hasan dan Husain radhiallahu ‘anhu yang memakai baju merah, keduanya berjalan tertatih-tatih dengan baju tersebut, maka beliau pun turun (dari mimbarnya) dan memotong khutbahnya, lalu beliau menggendong keduanya dan kembali ke mimbar, lalu mengatakan: “Maha benar Allah dalam firman-Nya: ‘Sungguh harta-harta dan anak-anak kalian itu adalah fitnah (cobaan)’, aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih dengan bajunya, maka aku tidak sabar, hingga aku memotong khutbahku, lalu aku menggendong keduanya”. (HR. an-Nasa’i no. 1396, Ibnu Majah no. 5390 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahumullah).
- Abu Bakroh radhiallahu ‘anhu mengatakan: Sungguh Rosulullah –shallallahu alaihi wasallam– suatu ketika pernah sholat, jika beliau sujud, Hasan melompat ke atas punggung dan leher beliau, maka beliau pun mengangkatnya dengan lembut agar dia tidak tersungkur (jatuh)… Beliau melakukan hal itu tidak hanya sekali… Maka seusai beliau mengerjakan sholatnya, para sahabatnya bertanya: “Wahai Rosulullah, kami tidak pernah melihat engkau memperlakukan Hasan sebagaimana engkau memperlakukannya (hari ini)”… Beliau menjawab: “Dia adalah permata hatiku dari dunia, dan sungguh anakku ini adalah sayyid (seorang pemimpin), semoga dengannya Allah tabaroka wa ta’ala mendamaikan dua kelompok kaum muslimin (yang bertikai)”. (HR. Ahmad no. 19611 dengan sanad yang jayyid).
- Syaddad radhiallahu ‘anhu mengatakan: Suatu ketika Rosulullah –shallallahu alaihi wasallam– pernah datang kepada kami dalam salah satu sholat fardhu malamnya (maghrib atau isya’), sambil menggendong Hasan atau Husein, lalu Rosulullah –shallallahu alaihi wasallam– maju ke depan (untuk mengimami), beliau pun menurunkannya (Hasan atau Husein), lalu bertakbir untuk memulai sholatnya, di tengah-tengah sholatnya beliau sujud dengan sujud yang panjang.
Syaddad mengatakan: maka aku pun mengangkat kepalaku, dan ternyata ada anak kecil (Hasan atau Husein) di atas punggung Rosulullah yang sedang sujud, lalu aku kembali sujud. Setelah Rosulullah menyelesaikan sholatnya, para sahabatnya bertanya: Wahai Rosulullah, sungguh engkau telah bersujud dengan sujud yang panjang di tengah-tengah sholatmu, sehingga kami mengira terjadi sesuatu, atau ada wahyu yang turun kepadamu? Beliau menjawab: Bukan karena itu semua, akan tetapi cucuku (Hasan atau Husein) menunggangiku, dan aku tidak ingin segera menyudahinya sampai ia puas dengan keinginannya. (HR. an-Nasa’I no. 1129, Hakim no. 4759 dan dishahihkannya serta disepakati oleh adz-Dzahabi).
Namun penting untuk diperhatikan, ketika anak hendak diajak ke masjid pastikan telah memahami adab-adab masjid dan bisa dipastikan anak bisa tenang di masjid. Karena tujuan anak diajak ke masjid yaitu agar anak bisa mengikuti dan bersosialisasi dengan orang lain, bukan menjadikan masjid tempat bermain. Apalagi anak-anak mengganggu ketenangan dan kekyusuan jamaah, berarti anak anda belum siap diajak ke masjid.
Bersambung إن شاء الله
baca juga FASE HADHONAH (Pengasuhan)