BICARA SESUAI KADAR AKAL ANAK

 10,674 total views,  159 views today

BICARA SESUAI KADAR AKAL ANAK

Oleh Endang Hermawan Unib

 

Sudah menjadi kewajiban ayah dan ibu membersamai anak dalam proses pertumbuhan, baik pertumbuhan jasadnya apalagi ruhiyyahnya. Sering kali orang tua tidak memahi karakter anak, ortu tidak paham sifat dan tabiat anak sendiri, hal ini disebabkan karena banyak hal, misalnya kesibukan kedua ortu dengan pekerjaannya, sehingga kepribadian anak lebih dipahami oleh pembantunya dibandingkan ortunya. Ini tentu musibah besar bagi keberlangsungan pendidikan anak, karena kegagalan dimasa kanak-kanak akan berdampak pada masa dewasa. Karena itulah dalam konsep pendidikan islam ada yang dinamakan dengan fase Hadhonah (Pengasuhan dan pengawasan) artinya orangtualah yang mengasuh dan yang mengawasi perkembangan anak.

Mari kita pelajari bagaimana konsep Nabi dalam pendidikan anak, lahirnya para sahabat besar dari madrasah kenabian dan bangku kerosulan tidak perlu diragukan lagi kesusksesan dan kampuan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dalam mendidik anak. Perlu kita buang konsep yang bertentangan dengannya, karena konsep Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam adalah konsep yang bernaung di bawah wahyu, tidak perlu ada keraguan dan ketakutan ketika menerapkannya.

Cara ketiga untuk mempengaruhi akal anak adalah dengan berbicara sesuai kadar akalnya.

Sebelum terjadi Perang Badar, para sahabat menangkap seorang anak kecil yang menjadi penggembala kaum Quraisy. Para sahabat menanyakan jumlah tentara Quraisy, namun anak itu tidak bisa menjawab, sehingga mereka pun memukulinya. Hal ini terus berlangsung sampai Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam datang. Tidak diragukan lagi bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam sangat memahami kejiwaan anak. Lalu Nabi bertanya kepada anak itu, “Berapa banyak unta yang mereka sembelih ?” Anak itu menjawab, “Antara semilan hingga sepuluh ekor.” Nabi bersabda, “Jumlah mereka antara sembilan ratus sampai seribu personel”.

Perhatikan diaolog Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam diatas, betapa Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam faham betul kadar akal anak tersebut yang tidak memahami hitungan dengan jumlah ribuan. Karena kemampuan akalnya baru mencapai hitungan jumlah puluhan. Iya, puluhan unta yang mudah untuk dihitung oleh setiap anak kecil, dan itu sudah cukup besar menurut mereka.

Seperti halnya makhluk hidup lainnya, anak-anak memiliki keterbatasan yang tidak mampu dilaluinya. Akal dan fikirannya sedang dalam masa pertumbuhan, pengetahuan kedua orangtua dan guru tentang tingkatan pertumbuhan akal anak cukup memudahkan mereka untuk memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi anak. Karena, dengan pengetahuan tersebut, mereka mengetahui kapan harus berbicara dengan anak, kalimat apa yang harus dipakai dan pola pikir apa yang akan diungkapkan.

Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu pernah mengatakan:

حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ, أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

Bicaralah dengan manusia apa yang mereka ketahui, apakah kalian ingin kalau Allah dan rasul-Nya didustakan? (HR. Bukhori 127).

بارك الله فيكم…..

Cianjur, 24 Maret 2016

Leave a Comment