Cara Nabi Mempengaruhi Akal Anak Dengan Dialog

 10,694 total views,  159 views today

 Cara Nabi Mempengaruhi Akal Anak Dengan Dialog

Oleh Endang Hermawan Unib

 

Dr. Muhammad Nur Abdul Hafidh menyebutkan cara kedua untuk mempengaruhi akal anak adalah dengan Berdialog.

Kembali kepada al Quran dan Hadits. Kita akan dapati dialog-dialog ortu dengan anaknya. Seperti yang terjadi pada Luqman dan anaknya, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Nabi Nuh dan anaknya dan berbagai dialog yang ada pada hadits Nabi. Inilah konsep islam dalam mempengaruhi akal anak-anak. Maka sebelum kita mencari konsep yang lain. Hendaknya kita mendahulukan konsep islam dibandikan konsep yang lain.

Dialog secara langsung dalam menjelaskan berbagai realita dan menyusun berbagai pengetahuan agar dipahami dan dihafalkan membuat anak sangat dapat dan siap untuk menerima. Demikian Nabi mengajarkan kepada kita dalam banyak kesempatan untuk melakukan dialog secara langsung dengan anak-anak dengan menggunakkan kalimat yang jelas.

Mari kita lihat untaian kata dan dialog Nabi bersama sahabat kecil Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma.
Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Hai Anak Kecil, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

Bagaimana anda melihat keindahan dialog secara langsung ini yang dimulai dengan menarik perhatian si anak dengan kalimat “Hai anak kecil” yang dapat menarik perhatian dan menjadikannya merasa siperhatikan.

Dari hadits diatas kita dapat mengambil beberapa pelajaran diantaranya :
Pertama, Abdullah bin Abbas dinasehati Nabi saat sedang dibonceng di belakang Nabi yang sedang mengendarai kendaraan. Suasana ini sangatlah indah. Sedang santai. Seorang anak cenderung menikmati suasana berkendara. Apalagi kendaraan itu seekor binatang. Ini adalah sebuah momentum mahal yang seringkali terlewatkan oleh orangtua. Saat berdua di atas kendaraan, adalah saat yang tepat untuk memasukkan nilai kepada anak-anak. Suasana senang dan nyaman adalah momentum yang sangat tepat untuk memberi mereka nasehat. Dan inilah salah satu penyebab mandulnya nasehat orangtua hari ini. Karena nasehat itu seringkali hadir dalam suasana penuh amarah dan menegangkan. Jika demikian, bagaimana bisa menembus dinding hati anak-anak kita?

Kedua, Rasulullah menggunakan mukaddimah sebelum menasehati, “Nak, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, semoga Allah memberimu manfaat dengannya.”Mengingat, usia anak-anak yang cenderung asyik dengan permainannya, sering teralihkan oleh sekelilingnya, pendek konsentrasinya. Maka, menasehati dengan pembukaan beberapa kalimat akan memasukkan anak dalam frame konsentrasi. Sehingga seorang anak siap menerima nilai-nilai yang akan disampaikan.

Dan sesungguhnya ini adalah metode al-Qur’an. Ulama tafsir menyampaikan tentang fungsi huruf muqotho’ah (huruf-huruf yang mengawali surat Al Quran seperti: ،ق – آلم _ ص – يس) adalah untuk menarik perhatian. Karena huruf-huruf tersebut dikenal dengan baik oleh audiens (orang-orang Arab) tetapi tidak ada artinya. Seperti sepotong puzzle yang membuat orang semangat untuk mencari wajah utuhnya. Hal ini, akan membuat mereka penasaran dan mau mendengarkan pesan ayat berikutnya.

Demikian juga fungsi nida’ (kata panggilan seperti : “wahai orang-orang beriman, wahai orang-orang kafir). Mereka yang merasa beriman akan segera membuka hati dan telinga mereka, karena panggilan telah datang.

Ketiga, Dalam hadits Nabi ini dihaluskan dengan sentuhan doa: “semoga Allah memberimu manfaat dengannya.” Mari kita biasakan lisan ini untuk selalu menyelipkan do’a dalam setiap kalimat yang diuntainya. Sebuah sentuhan hati yang mengawali sebuah nasehat yang akan bersemayam dalam hati.

Keempat, untuk menasehati anak Abdullah bin Abbas, Nabi memilih kalimat yang singkat, padat dan mudah dipahami. Rasakan itu pada kalimat-kalimat Nabi diatas.
Baarakallahu fiikum

Cianjur, 01 Jumadil Akhir 1437 H

Leave a Comment