ADAB BERTAMU

Loading

 

  1. ADAB-ADAB YANG BERKAITAN DENGAN TUAN RUMAH.
  2. Niat yang benar.
  3. Menerima Tamu dengan baik.[1]
  4. Menempatkan tamu ditempat yang layak.
  5. Menyuguhkan hak tamu dan memuliakannya.[2]
  6. Menghidangkan makanan ke tempat tamu.
  7. Tidak berlebihan dalam menjamu tamu.
  8. Menaikan hak-hak tamu.[3]
  9. Hendaknya tuan rumah sendiri yang melayani [4]
  10. Berbuat baik kepada tamu selama ia tinggal di rumah kita.
  11. Hendaknya tuan rumah mengantarkan tamu sampai ke pintu.[5]
  12. Tidak masuk rumah dan mengunci pintu kecuali setelah tamu pergi.

0o

 

  1. ADAB-ADAB ORANG YANG BERTAMU.
  2. Memenuhi undangan apabila diundang. [6]
  3. Melaksanakan adab meminta izin dan berkunjung.
  4. Mengetuk pintu sebanyak tiga kali [7].
  5. Mengetuk pintu dengan perlahan .
  6. Memberikan jarak waktu antara ketukan-ketukan pintu .
  7. Tidak menghadap ke arah pintu. [8]
  8. Mengucapkan salam sebelum masuk [9] [10]
  9. Memperkenalkan diri [11].
  10. Menundukkan pandangan [12].
  11. Kembali apabila tidak diizinkan [13].
  12. Menerima alasan tuan rumah .
  13. Menunggu izin .
  14. Masuk bersama utusan orang yang mengundang [14].
  15. Mengucapkan tasbih bagi orang yang sedang shalat jika dimintai izin[15].
  16. Meminta izin sebelum masuk menemui para mahram[16].
  17. Hendaknya tamu berterima kasih kepada tuan rumah.
  18. Hendaknya seorang tamu memperhatikan adab makan dan minum.
  19. Tidak memberatkan tuan rumah sehingga merasa kesulitan.[17]
  20. Tidak terlalu sering berkunjung hingga berlebihan.
  21. Memilih waktu yang tepat untuk berkunjung.
  22. Menjaga adab-adab izin.
  23. Menundukan pandangan terhadap privasi ahli bait.
  24. Hendaknya seorang tamu duduk di tempat yang telah diizinkan oleh pemilik rumah.
  25. Janganlah mengumbar pandangan untuk melihat-lihat perabot dan barang-barang lain disekitarnya.
  26. Jangan mengangkat suara di dalam rumah.[18]
  27. Jangan mencuri dengar atau mengintai pemilik rumah.
  28. Tidak membiarkan anak-anaknya merusak di rumah orang.
  29. Tidak mengimami pemilik rumah di rumah mereka.[19]
  30. Tidak berlama-lama ketika berkunjung.
  31. Menyuruh yang ma’ruf dan menjegah dari yang mungkar.
  32. Tidak beranjak pulang kecuali jika telah diizinkan oleh pemilik rumah.[20]
  33. Menyukuri pemilik rumah atas jamuan mereka.

 

Disadur dari kitab Mausu’atul Adab secara ringkas

 

📝 Abu Rufaydah, Lc. MA Hafidhohullah

📚 Artikel ini disebarluaskan oleh

@CKS (Cianjur kota Santri).

🌍www.cianjurkotasantri.com/wp/wp.

🌐 IG, FP . Cianjurkotasantri

join Telegram  klik : Bit.ly/1S79GTK

📱 Atau Via WA ketik Nama#L/p#alamat# kirim ke 085624098804

 

[1] HR. al-Bukhari 6176

[2] HR. al-Bukhari 6475 dan Muslim 47 dari Abu Hurairah

[3] HR. al-Bukhari 6134. Hak tamu sebagaimana yang telah disebutkan dalam sunnah adalah sehari semalam. Adapun hak berkunjung adalah tiga hari tiga malam. Maka dari itu, tidak ada lagi keharusan menjamu tamu lebih dari waktu itu. Namun menjamu tamu lebih dari itu termasuk sedekah.

[4] QS. Adz-dzariyaat 26-27

[5] Al-Aaadaabusy Syar’iyyah III/227

[6] HR. Muslim

[7] HR. Al-Bukhari 6245 dan Muslim 2153 dari Abu Musa dan Abu Sa’id

[8] HR. Ahmad IV/189 dan Abu Dawud 5186 dari ‘Abdullah bin Bisr. Lihat kitab Shahiihul Jamii’ 4638

[9] HR. Ahmad V/369 dan Abu Dawud 5177 dari seorang laki-laki Bani ‘Amir. Lihat kitab Shahiihul Jamii’ 234

[10] HR. Abu Nu’aim dalam Taariikh Ashbahaan I/357 dari Jabir. Lihat kitab Silsilah ash-Shahiihah 817

[11] HR. Al-Bukhari 6250 dan Muslim 2155 dari Jabir

[12] HR. Al-Bukhari 6241 dan Muslim 6156 dari Sahl bin Sa’ad

[13] QS. An-Nuur: 28

[14]HR. Abu Dawud 5190 dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimaan 8831 dari Abu Hurairah. Lihat kitab Shahiihul Jamii’ 534

[15] HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa II/247 dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Shahiihul Jamii’ 320

[16] Referensi tambahan: Min Adabil Islam karya ‘Abdul Faatih Abu Ghuddah 14 dan setelahnya, Ahkamul Isti’dzaan fil Kitab was Sunnah karya Sulaiman al-‘Uraini, al-Aadaab karya al-Baihaqi 107, Syarhus Sunnah karya al-Baghawi XII/254 dan setelahnya, al-Aadaab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih I/393 dan setelahnya, Tafsir surat An-Nuur karya al-Maududi, Jami’ul Ushul karya Ibnu  Atsir VI/577 dan setelahnya, Dustur al-Uswah fi Dhilalil Qur’an karya Ahmad Faiz, Ishlaahul Mujtama’, dan setelahnya.

[17] Adaabus Salam hal. 48

[18] QS. Luqman ; 19

[19] HR. Ahmad III/436

[20] HR. Ad Darimi.

Leave a Comment