5. ILMU YANG TIDAK BERMANFAAT

 1,620 total views,  2 views today

5. ILMU YANG TIDAK BERMANFAAT

Oleh Ustadz M. Iqbal Rahmatullah, Lc (Mudir Ma’had Abdullah bin Abbas Cianjur)

     Allah subhanahu wata’ala berfirman:

     يَعلَمُونَ ظَٰهِرًا مِّنَ ٱلحَيَوٰةِ ٱلدُّنيَا وَهُم عَنِ ٱلآخِرَةِ  هُم غَٰفِلُونَ

     “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”[1]

     Al-Hafizh Ibnu Katsir (wafat tahun 774 H) –rahimahullah– berkata: “Yakni: kebanyakan manusia tidak memiliki ilmu kecuali hanya dunia, mata pencahariannya, urusannya dan apa yang ada tentangnya. Mereka orang-orang jenius dan cerdas di dalam menghasilkannya serta mencari peluang-peluangnya. Namun mereka lalai dari apa yang bermanfaat untuk mereka tentang negeri akhiratnya.”[2]

     Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di –rahimahullah– berkata: “Yang mengherankan dari tipikal ini; kecerdasan mereka dalam hal yang nampak dari dunia telah mencapai batas yang membuat akal terheran dan kaget.

     Mereka tampakkan kehebatan api, listrik, sarana transportasi darat, laut dan udara; apa yang dengannya mereka menonjol dan unggul. Mereka kagum terhadap akal mereka, mereka anggap selain mereka lemah dari kemampuan yang telah Allah berikan kepada mereka.

     Mereka melihat selain mereka dengan mata yang merendahkan dan angkuh. Meski demikian; mereka adalah orang-orang yang paling bodoh tentang urusan agamanya, paling lalai tentang urusan akhiratnya, paling dangkal pandangannya terhadap akibat yang terjadi.

     Sungguh (jika) mereka dilihat oleh orang-orang yang memiliki pandangan (agama) yang tajam; (jelas nyata) bahwa mereka terjerumus ke dalam kebodohannya, mabuk dalam kesesatannya, ragu dalam kebatilannya, mereka lupa kepada Allah, sehingga Allah jadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik.

     Kemudian (jika orang-orang yang memiliki pandangan agama yang tajam ini) melihat kepada apa yang Allah berikan kepada mereka berupa pemikiran yang detail dalam urusan dunia, dan (mereka bandingkan dengan) apa yang mereka terhalang darinya berupa pandangan jauh; jelaslah bahwa urusan dan keputusan itu milik Allah terhadap hamba-hamba-Nya, hidayah dan kesesatan hanya di tangan-Nya, sehingga mereka takut kepada Rab mereka, mereka meminta kepada-Nya; agar menyempurnakan apa yang Allah anugerahkan kepada mereka berupa cahaya akal dan iman, sehingga mereka bisa sampai kepadanya …

     Semua perkara (dunia) ini jika diiringi dengan iman dan jika dibangun di atasnya; pastilah akan menghasilkan kemajuan yang pesat dan kehidupan yang baik. Akan tetapi; ketika kebanyakan darinya dibangun di atas penyimpangan, maka tidak membuahkan hasil kecuali hanya rusaknya akhlak dan sebab kebinasaan.”[3]

     Al-Hafizh Ibnu Rajab –rahimahullah– menjelaskan bahwa termasuk ilmu yang tidak bermanfaat adalah sibuk belajar ilmu yang hukum asalnya boleh melebihi belajar ilmu yang lebih penting. Beliau memberikan beberapa contoh, diantaranya apa yang beliau katakan:

     “Demikian juga berluas-luas dalam ilmu Bahasa Arab, baik lughah atau nahwunya, hal itu menyibukan dari ilmu yang lebih penting, dan fokus bersamanya akan menghalangi (seseorang) dari ilmu yang bermanfaat.

     Sungguh al-Qasim bin Mukhaimirah membenci ilmu nahwu, dan berkata: ‘Awalnya sibuk, akhirnya melampaui batas,’ yang beliau maksud adalah berluas-luas di dalamnya.

     Demikian juga (Imam) Ahmad membenci berluas-luas dalam bahasa dan gharib-nya, beliau mengingkari Abu ‘Ubaid yang berluas-luas dalam hal tersebut, dan berkata: ‘Ia akan menyibukan dari yang lebih penting darinya.’

     Oleh karena itu dikatakan: ‘Sesungguhnya Bahasa Arab dalam perkataan seperti garam dalam makanan,’ maksudnya bahwa ia dipelajari dengan tujuan memperbaiki bahasa, sebagaimana garam digunakan dengan tujuan membuat makanan enak, dan selebihnya akan merusaknya.”[4]

     Diantaranya apa yang dikatakan oleh Imam Ibnul Jauzy –rahimahullah-: “Hasan al-Bashry berkata: ‘Al-Quran diturunkan untuk diamalkan, namun orang-orang menjadikan aktivitas bacaan jadi amalan.’

     Yang beliau maksud adalah bahwa mereka membatasi hanya membacanya saja dan meninggalkan beramal dengannya.”[5]

Baca juga 4. MEMPERHATIKAN RASA CINTA TERHADAP ILMU


[1] QS Ar-Rum: 7.

[2] Tafsir Al-Quranil ‘Azhim, 6/ 305.

[3] Taisiir al-Kariimir Rahman, hal. 608.

[4] Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘Alal Khalaf, hal. 24.

[5] Al-Muntaqan Nafiis, hal. 97.

1 thought on “5. ILMU YANG TIDAK BERMANFAAT”

Leave a Comment