4. MEMPERHATIKAN RASA CINTA TERHADAP ILMU

 3,439 total views,  2 views today

4. MEMPERHATIKAN RASA CINTA TERHADAP ILMU

Oleh Ustadz M. Iqbal Rahmatullah, Lc (Mudir Ma’had Abdullah bin Abbas Cianjur)

     Dari Anas –radhiallahu ‘anhu-, “Bahwa ada seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam tentang hari kiamat. Maka ia berkata: ‘Kapan hari kiamat?’

     Beliau bersabda:

     وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟

     ‘Dan apa yang kamu telah persiapkan untuknya?’

     Orang itu menjawab: ‘Tidak ada, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasalam.

     Maka beliau bersabda:

     أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ.

     ‘Kamu bersama orang yang kamu cintai.’”

     Anas berkata: “Kami tidak pernah bergembira dengan sesuatu seperti kegembiraan kami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam ‘Kamu bersama orang yang kamu cintai.’

     Anas berkata: “Maka aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam, Abu Bakar dan Umar, aku berharap akan bersama mereka dengan kecintaanku kepada mereka, meski aku tidak beramal seperti amalan mereka.’”[1]

     Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah (wafat tahun 751 H) -rahimahullah- berkata:

     “Cinta kepada Allah, bermaksud (melihat) wajah-Nya, rindu bertemu dengan-Nya; adalah modal utama, inti urusan, kehidupan yang baik, pokok kebahagiaan, keberhasilan, kenikmatan dan kesejukan pandangan seorang hamba.

     Dikarenakan hal itu; dia diciptakan, dengannya diperintahkan, dengannya diutus para rasul, dan kitab-kitab diturunkan. Tidak ada kebaikan dan kenikmatan bagi hati; kecuali cintanya hanya ditujukan kepada Allah ‘azza wajalla saja … sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

     ﴿ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرغَبْ

     ‘Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.’”[2]

     “Seandainya tidak ada (keutamaan lain) dalam cinta kepada Allah; kecuali orang yang mencintai-Nya akan diselamatkan Allah; pastilah semestinya seorang hamba tidak menggantikannya dengan sesuatu apapun juga selamanya.

     Sebagian ulama ditanya: dimana anda temukan dalam Al-Quran bahwa Allah tidak mengazab orang yang mencintai-Nya? Maka ia menjawab: ‘Yaitu dalam firman-Nya:

     ﴿ وَقَالَتِ ٱليَهُودُ وَٱلنَّصَٰرَىٰ نَحنُ أَبنَٰؤُاْ ٱللَّهِ وَأَحِبَّٰؤُهُۥۚ قُل فَلِمَ يُعَذِّبُكُم بِذُنُوبِكُم ﴾

     ‘Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.’ Katakanlah: ‘Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?’[3]

     Oleh karena itu, Imam Ibnul Qayyim berkata: “Cintamu terhadap sesuatu akan menjadikanmu buta dan tuli, maka seseorang yang mencintai sesuatu tidak melihat yang lebih indah dari yang ia cintai.”[4]

     “Dikatakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullah ta’ala-: Anda belajar ilmu ini karena Allah? Beliau menjawab: “Adapun karena Allah; maka itu mulia (berat), akan tetapi ini sesuatu yang dijadikan aku mencintainya, maka aku melakukannya.”[5]

     “Dan jika anda perhatikan segala sesuatu yang ada, hampir tidak anda temukan antara dua orang yang mencintai kecuali pada keduanya ada kesamaan rupa, atau kesesuaian dalam perbuatan, keadaan atau tujuan. Maka jika tujuan, sifat, perbuatan dan cara sudah saling bebeda; tidak tersisa kecuali hati-hati ini saling menghindar dan menjauh.

     Dan cukuplah dalam hal ini hadits shahih[6] dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ‘Perumpamaan orang orang beriman dalam saling mencintai, mengasihi dan berlemah lembutnya, seperti perumpamaan satu tubuh, jika ada satu anggota tubuh yang sakit; maka seluruh anggota tubuh merasakan sakitnya, dengan panas dan bergadang.’”[7]

Baca juga : 1. JANGAN DULU KAGUM DENGAN IBADAH SESEORANG 2. 2. KEILMUAN DINILAI BUKAN DARI PANDAINYA BERBICARA 3. 3. MENGAMALKAN DALIL MESKI BERBEDA DENGAN PERBUATAN ULAMA


[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3688), Muslim (2639), Abu Dawud (5127), at-Tirmidzi (2386), Ahmad (3/ 226&283).

[2] QS Asy-Syarh: 8.

[3] QS. Al-Maidah: 18. Lihat: Raudhatul Muhibbin, karya Ibnul Qayyim, hal. 550 & 564.

[4] Ibid hal. 104.

[5] Ibid, hal, 107.

[6] al-Bukhari (6011) dan Muslim (2586).

[7] Raudhatul Muhibbin, hal. 117.

1 thought on “4. MEMPERHATIKAN RASA CINTA TERHADAP ILMU”

Leave a Comment