10. TIDAK MENUNTUT ILMU RENTAN DENGAN TIPUAN IBLIS

 5,632 total views,  2 views today

10. TIDAK MENUNTUT ILMU RENTAN DENGAN TIPUAN IBLIS
Oleh Ustadz M. Iqbal Rahmatullah, Lc. (Mudir Ma’had Abdullah bin Abbas Cianjur)

     Allah subhanahu wata’ala berfirman:

     ﴿ مِن شَرِّ ٱلوَسوَاسِ ٱلخَنَّاسِ . ٱلَّذِي يُوَسوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ ﴾

     “Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.”[1]

     Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di –rahimahullah– berkata: “Di antara bisikan dan kejahatannya adalah memberikan waswas ke dalam dada manusia, (yaitu) memperindah kejelekan bagi mereka dan menampakkannya baik, dan menampakkan kebaikan menjadi jelek. Dia selalu dalam keadaan demikian, (tapi) dia bersembunyi jika seorang hamba mengingat Rab-nya dan memohon pertolongan kepada-Nya.”[2]      

     Imam Ibnul Jauzy –rahimahullah– mengatakan: “Terkadang seorang awam merasa adanya satu macam pemahaman dalam dirinya, maka Iblis memperalatnya sehingga orang ini melawan Rab-nya. Di antara mereka ada yang berkata: Mengapa Allah menghukum dan menyiksa? Di antara mereka ada yang berkata: Mengapa Allah menyempitkan rizki orang yang bertakwa daripada pelaku maksiat? Di antara mereka ada yang bersyukur terhadap nikmat, namun ketika datang cobaan dia melawan dan kufur. Terkadang terjadi peristiwa di mana kaum Nashrani mengalahkan orang-orang beriman, lalu berkatalah orang-orang awam: pasukan salib telah menang, mengapa kita shalat jika kenyataannya demikian?

     Semua kesesatan ini dijadikan peluang bagi Iblis; karena jauhnya mereka dari ilmu dan ulama, seandainya mereka bertanya kepada ahli ilmu; tentu mereka akan mengajarkan bahwa Allah ‘azza wajalla Maha Bijaksana dan Maha Memiliki, sehingga tidak akan ada sikap menentang.[3]

Beca artikel sebelumnya di 9. TIDAK IKUT CAMPUR JIKA BUKAN AHLINYA


[1] QS An-Naas: 4-5.

[2] Lihat: Taisiir al-Kariimir Rahman, hal. 897.

[3]  Lihat: al-Muntaqan Nafiis, hal. 445-446.

Leave a Comment