![]()
Nama-Nama yang Dimakruhkan
Makruh seseorang memberikan nama dengan :
- Nama yang mengandung arti keberkahan atau yang menimbulkan rasa optimistis. Fungsinya agar tidak menimbulkan ganjalan hati ketika mereka dipanggil sementara itu yang bersangkutan tidak berada di tempat, sehingga akan dijawab : “Tidak ada”.
Misalnya nama : Aflah (beruntung), Naafi’ (bermanfaat), Rabaah (keuntungan), Yasaar (kemudahan), dan lain-lain.
عن سمرة بن جندب. قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (أحب الكلام إلى الله أربع: سبحان الله، والحمد لله، ولا إله إلا الله، والله أكبر. لا يضرك بأيهن بدأت. ولا تسمين غلامك يسارا، ولا رباحا، ولا نجيحا، ولا أفلح، فإنك تقول: أثم هو؟ فلا يكون. فيقول: لا(
Dari Samurah bin Jundub ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Perkataan yang paling dicintai oleh Allah ada empat : Subhaanallaah, alhamdulillah, laa ilaaha illallaah, dan allaahu akbar. Tidak masalah yang mana di antara kalimat itu akan engkau mulai. Dan janganlah engkau namai anakmu dengan Yasaar, Rabaah, Najiih, dan Aflah. Sebab, engkau nanti akan bertanya : ‘Apakah ia ada di tempat ?’. Jika ternyata tidak ada, maka akan dijawab : ‘Tidak ada.’” (HR. Muslim no. 2137; Ahmad 5/10 no. 20119, 5/21 20257; dan Al-Baihaqi dalam Al-Kubraa 9/306).
Maksud hadits ini adalah jika orang tersebut bernama Rabaah (beruntung), lantas ada seseorang yang mencarinya : “Apakah Rabaah ada di rumah ?”. Jika tidak ada, maka akan dijawab : “Rabaah tidak ada di rumah” (keberuntungan tidak ada di rumah). Oleh sebab itulah nama ini dimakruhkan.
عن ابن عباس. قال: كانت جويرية اسمها برة. فحول رسول الله صلى الله عليه وسلم اسمها جويرية. وكان يكره أن يقال: خرج من عند برة
Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata : “Dulunya Juwairiyyah bernama Barrah (kebaikan). Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menggantinya dengan Juwairiyyah. Beliau tidak suka jika dikatakan : “Beliau telah keluar dari Barrah (kebaikan)” (HR. Muslim no. 2140).
Catatan : Nama Barrah ini juga tidak diperbolehkan karena mengandung tazkiyyah terhadap diri sendiri sebagaimana akan dijelaskan pada nomor 2.
Al-Imam Ibnu Qayyim berkata :
وفي معنى هذا مبارك ومفلح وخير وسرور ونعمة وما أشبه ذلك فإن المعنى الذي كره له النبي صلى الله عليه وسلم التسمية بتلك الأربع موجود فيها فانه يقال أعندك خير أعندك سرور أعندك نعمة فيقول لا فتشمئز القلوب من ذلك وتتطير به وتدخل في باب المنطق المكروه
“Yang termasuk dalam makna ini, seperti nama Mubaarak, Muflih, Khair, Suruur, Ni’mah, dan yang sejenisnya. Makna yang tidak disukai Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada empat nama itu juga terkandung dalam nama-nama di atas. Apabila ditanyakan : ‘Apakah Khair (kebaikan) ada bersamamu ?. Apakah Suruur (kebahagiaan) ada bersamamu ?. Apakah Ni’mah (nikmat) ada bersamamu ?’. Jika dijawab : ‘Tidak ada’ – tentu saja jawaban tersebut mengandung kesan yang sangat tidak baik. Terkesan seperti ucapan sial, dan bahkan termasuk dalam katagori ucapan yang tidak disukai.” (Tuhfatul-Mauduud, hal. 82).
- Nama yang mengandung tazkiyyah (pujian) terhadap diri sendiri. Misalnya nama : Barrah (wanita yang baik dan berbakti) dan Mubaarak (orang yang diberkahi) – padahal boleh jadi ia tidak seperti itu.
عن أبي هريرة : أن زينب كان اسمها برة، فقيل: تزكي نفسها، فسماها رسول الله صلى الله عليه وسلم زينب.
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Zainab dulu bernama Barrah. Maka pernah dikatakan padanya : “Ia telah men-tazkiyyah-i (menganggap suci) dirinya sendiri”. Maka Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam merubah namanya menjadi Zainab. (HR. Al-Bukhari no. 6192, Muslim no. 2141, Ibnu Majah no. 3732, Ibnu Hibbaan no. 5830, dan yang lainnya).
Termasuk dalam hal ini adalah nama Iman – sebagaimana banyak dipakai oleh orang Indonesia. Allah ta’ala telah berfirman :
فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm : 32).
- Nama yang berhubungan dengan hawa nafsu.
Nama ini biasanya banyak diberikan kepada anak-anak perempuan, seperti : Ahlaam (impian), Ariij (harum semerbak), ‘Abiir (bau harum/parfum), Ghaadah (gadis yang lembut), Fitnah (yang mempunyai daya tarik), Nihaad (gadis yang montok buah dadanya), Wishaal (berhubungan badan), Faatin (mempesona), Syaadiyah, Syaadiy (biduanita), dan yang lainnya.
- Nama yang mengandung kesan jelek, baik dalam lafadh ataupun makna. Misalnya nama : Harb (perang), Murrah (pahit), Kalb (anjing), Hayyah (ular), Jahsy (kasar), Baghal (keledai), dan yang lainnya.
Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata : “Tidak sepantasnya memberikan nama dengan nama yang mengandung makna buruk, nama mengandung tazkiyyah (pujian) terhadap diri sendiri, dan nama yang mengandung celaan – sekalipun hanya sekedar untuk pengenal bagi seseorang, tidak dimaksudkan untuk hakekatnya. Tetap saja ada sisi kemakruhannya, yaitu ketika nama itu disebutkan dan orang yang mendengarkan mengira bahwa sifat tersebut memang ada pada si pemilik nama. Oleh karena itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengganti nama-nama tersebut dengan nama yang sesuai dengan orangnya.” (Fathul-Baariy 10/577 – lihat pula Silsilah Ash-Shahiihah 1/427).
Ada riwayat yang menyebutkan bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallaahu ‘anhu pernah berkomentar terhadap seseorang yang bernama Khabbiyyah (yang mengandung makna “menyembunyikan barang”) bin Kunaaz (yang mengandung makna “mengumpulkan barang/harta”) : “Kami tidak mempunyai hajat dengannya, karena dia telah ‘menyembunyikan barang’ dan bapaknya telah ‘mengumpulkannya’ – sebagaimana terdapat dalam kitab Al-Mu’talafu wal-Mukhtalaf 4/1965 oleh Ad-Daaruquthniy.
- Nama orang-orang fasiq, seperti para pelawak, pelukis/pematung, pemusik, dan yang sejenisnya.
- Nama yang menunjukkan dosa dan maksiat. Misalnya nama : Dhaalim bin Sarraaq (orang lalim anaknya pencuri). Ada sebuah riwayat bahwasannya ‘Utsmaan bin Abil-‘Ash penah membatalkan pelantikan seorang pejabatnya saat mengetahui bahwa ia mempunyai nama itu. Hal itu sebagaimana terdapat dalam kitab Al-Ma’rifah wat-Taariikh 3/201 oleh Al-Fasawiy.