POTRET KEPEMIMPINAN DALAM AL-QUR’AN

 130 total views,  2 views today

Oleh Ust. Abu Rufaydah

Kisah Dzulqarnain telah diterangkan Al-Qur`an secara panjang lebar dalam Surat Al-Kahfi ayat 83-101. Berikut adalah penjelasannya.

  1. Analisa Tafsir Surat al-Kahfi.

 

وَيَسْأَلُونَكَ عَن ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرًا ( (83إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا (84) فَأَتْبَعَ سَبَبًا (85) حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِندَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَن تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا (86) قَالَ أَمَّا مَن ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُّكْرًا (87) وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا (88) ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا (89) حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَّمْ نَجْعَل لَّهُم مِّن دُونِهَا سِتْرًا (90) كَذَٰلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا (91) ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا (92) حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِن دُونِهِمَا قَوْمًا لَّا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا (93) قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا (94) قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا (95) آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انفُخُوا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا (96) فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا (97).

“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.’ Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: ‘Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’ Berkata Dzulqarnain: ‘Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami’.” (Al-Kahfi: 83-88)

“Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’ Dzulqarnain berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila telah datang janji Rabbku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar’.” (Al- Kahfi: 89-98).

 

  1. Mufradat

ذكرا                              : Peringatan dan pelajaran bagi umat manusia, juga nama lain al-Qur’an.

مكنَّا                              : Tamkiin maknanya memungkinkan dan menjadikan bisa dan mampu.

سببا                              : secara Bahasa artinya tali, segala sesuatu yang dapat mengantar guna

meraih apa yang dikehendaki.

مغرب الشمس              : tempat di mana seseorang melihat matahari tenggelam di ufuk

مطلع الشمس                : tempat di mana seseorang melihat matahari terbit di ufuk

حمئة                            : tanah yang hitam berlumpur.

السدين                         : Penutu, penghalang atau dingding pemisah yang menghalangi sesuatu

untuk memasukinya.

خرج                             : harta benda yang disisihkan untuk diserahkan kepada pihak lain.

ردما                             : penteng dan pembendung yang kokoh.

يأجوج و مأجوج           : Dua Kabilah keturunan dari Yaafits ibn Nuh.

زبر الحديد                    : Potongan-potongan besi yang besar.

الصدفين                       : Sisi dari suatu gunung,

قطرا                             : Menetes, maksud diayat adalah tembaga yang mencair.

 

 

  1. Asbabun Nuzul

Ibnu Katsir menuturkan di dalam kitab tafsirnya, sebab turunnya surat al-Kahfi. Pendapat dari Ibnu Ishaq sampai kepada Abdullah ibn Abbas radhiallahu anhuma bahwa latar belakang turunnya surat al-Kahfi adalah adanya utusan dari pembesar Yahudi untuk menanyakan tentang kebenaran kenabian Muhammad, lalu mereka menanyakan tiga hal, pertama tentang Ashabul Kahfi, kedua ruh dan tiga tentang Dzulqarnain.[1]

 

قال قتادة : إن اليهود سألوا نبي الله – صلى الله عليه وسلم – عن ذي القرنين ، فأنزل الله تعالى هذه الآيات

Qotadah rahimahullah mengatakan, Sesungguhnya orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabii tentang Dzulqarnain, maka Allah menurunkan ayat ini.[2]

Syaikh Shafiyurrahman al-Mubaarakfury mengatakan; Mayoritas ulama mengatakan bahwa surat al-Kahfi termasuk surat Makkiyah. Tepatnya surat ini diturunkan menjelang hijrahnya Nabi bersama sahabatnya. Seolah-olah surat ini sebagai muqoddimah untuk perjuangan besar bagi kaum muslimin, hijrah meninggalkan kampung halaman, berikut harta dan keluarganya. Dalam kondisi sempit seperti ini, surat al-Kahfi turun, sebagai sanggahan terhadap berbagai pertanyaan yang disampaikan orang-orang musyrik kepada Nabi. Surat ini juga menjadi solusi bagi kaum muslimin dari berbagai tekanan dan kesulitan yang mereka rasakan.[3]

 

  1. Munasabah Ayat

Al-Biqa’I menghubungkan kelompok ayat ini dengan kelompok sebelumnya dari sisi perjalanan di bumi. Kisah Nabi Musa adalah perjalanan menuntut ilmu, dan kisah Dzulqarnain adalah perjalanan melakukan jihad. Yang pertama didahulukan Karena tingginya derajat ilmu, sebab ilmulah asas bagi segala kebahagiaan serta syarat bagi segala persoalan.[4]

Surat al-Kahfi adalah surat pelindung dari berbagai fitnah. Fitnah yang paling besar adalah fitnah Dajjal. Tidak ada Nabi dan Rasul yang diutus kecuali mengingatkan umatnya dari besarnya fitnah Dajjal. Kita pun dituntut untuk berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal di akhir tasyahud shalat kita. Selain fitnah Dajjal ada empat fitnah ujian) yang disebutkan dalam surat al-Kahfi. Sebagai panduan dalam menghadapi fitnah.

Pertama, ujian karena agama kisah Ashabul Kahfi yang lari meninggalkan kampung halamannya dalam rangka menjaga imannya. Kedua, Fitnah harta ada pada kisah Shhibul jannatain (pemilik dua kebun), yang kufur kepada Tuhannya karena silau dengan dunia. Ketiga, ujian karena Ilmu terjadi pada kisah nabi Musa dengan Khidir. Musa diperintahkan untuk belajar kepadanya, sekalipun dia seorang Nabi yang memiliki kitab Taurat. Karena di atas orang yang berilmu, ada yang lebih berilmu. Keempat fitnah kekuasaan dan kekuatan ada pada kisah Dzulqarnain. Seorang raja yang menguasai seluruh bumi dan isinya. Kekuasannya membentang dari ujung timur hingga ujung barat. namun beliau jadikan kekuasannya untuk menegakkan keadilan dan syariat bagi seluruh manusia.

Kisah pertama, tentang Ashabul kahfi, mengajarkan bahwa manusia harus mempertahankan agamanya, sekalipun dia harus terusir dari kampung halamannya. Hijrah menjadi solusi bagi orang yang diuji keimanannya. Menyelamatkan agama adalah suatu kewajiban dan harga mati.

Kisah kedua tetang pemilik kebun, mengajarkan agar manusia tidak silau dengan harta, sehingga lebih memilih dunia dan meninggalkan agamanya. Allah telah menjamin rizki semua makhluknya. Maka dengan hijrah menuju Allah dengan meninggalkan harta, keluarga dan kampung halaman. Allah akan ganti semua itu dengan yang lebih baik.

Kisah ketiga, tentang Khidir dan Nabi Musa. Kisah ini memberikan suatu pengertian bahwa berbagai hal yang tidak selamanya bisa berjalan dan berhasil dengan bergantung kepada apa yang dilihat oleh kasat mata saja, tetapi permasalahannya bisa berbalik total tidak semperti yang Nampak. Disini terdapat isyarat yang lembut bahwa usaha memerangi orang-oranga muslim bisa membalikkan kenyataan secara total, dan orang-orang musyrik yang berbuat semena-mena terhadap orang-orang muslim yang lemah itu bisa dibalik keadaannya.

Kisah keempat tentang Dzulqornain, yang memberikan suatu pengertian bahwa bumi ini adalah milik Allah, yang diwariskan oleh-Nya kepada siapapun yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. kemenangan dan keberuntungan hanya diperoleh di jalan iman, bukan di jalan kekufuran. Dari waktu ke waktu Allah akan senantiasa menurunkan orang yang siap membela dan menyelamatkan orang-orang yang lemah, seperti Ya’juj dan ma’juj pada zaman itu. Dan bahwa yang layak mewarisi bumi ini adalah hamba-hamba Allah yang shaleh.[5]

 

  1. Bayaan al-Ijmali

Dzulqarnain, para ulama berbeda pendapat apakah dia Nabi atau seorang hamba yang salih. Namun yang jelas dia adalah seorang Raja yang memiliki kekuasaan luar biasa, apa saja dia bisa lakukan,

 

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

 

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu” (QS. Al Kahfi: 84).

 

Namun, Dzulqarnain, raja yang adil. Ketika Allah serahkan kewenangan kepadanya untuk berbuat yang dia suka kepada rakyatnya,

قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا

 

“Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka” (QS. al Kahfi: 86)

 

Dzulqarnain tak berbuat sewenang-wenang, yang zhalim dia beri hukuman, yang baik dia beri ganjaran.

قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى? رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا  وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى? وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

 

“Berkata Dzulqarnain: “Adapun yang zhalim, maka kami kan menghukumnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang pedih,. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami perintah kepadanya yang mudah dari perintah-perintah kami”” (QS. al Kahfi: 88).

 

Dzulqarnain seorang yang tulus, ketika masyarakat menawarkan upah padanya atas jasa membuat dinding penghalang Yajuj dan Majuj, Dzulqarnain mengatakan:

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ

 

“Dzulqarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat)”” (QS. al Kahfi: 95).

 

Dan ketika selesai tembok itu dibuat, Dzulqarnain tidak berbangga-bangga dengan hasil karyanya dan takjub dengan dirinya sendiri. Dzulqarnain memuji Allah dan menyandarkan semua pada-Nya,

قَالَهَ?ذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي

 

“Dzulqarnain berkata: “Dinding Ini adalah rahmat dari Tuhanku”” (al Kahfi: 98)

 

  1. Bayan Tafsili

Ayat diatas termasuk pada ayat-ayat atau surat-surat Makiyyah, diantara ciiri-cirinya adalah membahas tetang kisah-kisah kaum terdahulu,[6]

Keterangan mengenai raja dunia ada 4 orang, disebutkan dalam banyak riwayat, diantaranya,

Riwayat dari Muawiyah radhiyallahu ‘anhu,

ملك الأرض أربعة: سليمان بن داود وذو القرنين ورجل من أهل حلوان ورجل آخر

Raja bumi ada 4: Sulaiman bin Daud, Dzul Qarnain, Seseorang dari penduduk Halwan, dan satu orang lagi.[7]

Riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, secara marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam),

ملك الأرض أربعة: مؤمنان وكافران؛ فالمؤمنان: ذو القرنين وسليمان، والكافران: نمرود وبختنصر، وسيملكها خامس من أهل بيتي

Raja bumi ada 4, dua mukmin dan dua kafir. Untuk dua raja mukmin, Dzulqarnain dan Sulaiman. Sedangkan 2 raja yang kafir: Namrudz dan Bukhtanshar. Dan bumi akan dikuasai seseorang dari ahli baitku.[8]

Riwayat dari ulama Tabiin, Muhajid bin Jabr – murid senior Ibnu Abbas – mengatakan,

ملك الأرض مشرقها ومغربها أربعة نفر: مؤمنان وكافران، فالمؤمنان: سليمان بن داود وذو القرنين، والكافران: بختنصر ونمرود بن كنعان، لم يملكها غيرهم

Raja seluruh bumi, dari timur sampai barat ada 4 orang, dua mukmin dan dua kafir. Dua raja mukmin, Sulaiman bin Daud dan Dzulqarnain. Dua raja kafir, Bukhtanshar dan Namrud bin Kan’an.[9]

Para Ulama berbeda pendapat tentang Dzul Qarnain, sebagian berpendapat bahwa Dzul Qarnain seorang hamba Allah yang shaleh, sebagian yang lain berpendapat bahwa ia adalah seorang Nabi.[10]

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي ذِي الْقَرْنَيْنِ فَقِيلَ كَانَ نَبِيًّا ، وَقِيلَ : كَانَ مَلَكًا مِنْ الْمَلَائِكَة ، وقيل لَمْ يَكُنْ نَبِيًّا وَلَا مَلَكًا , وَقِيلَ : كَانَ مِنْ الْمُلُوك . وَعَلَيْهِ الْأَكْثَر

Ada perbedaan tentang Dzulqarnain, ada yang mengatakan, beliau nabi, ada yang mengatakan, beliau seorang Malaikat. Dan ada yang mengatakan, bukan nabi dan bukan Malaikat. Dan ada yang mengatakan, beliau hanya seorang raja, dan ini pendapat mayoritas ulama. (Fathul Bari, )

Ada hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang menyatakan,

مَا أَدْرِي أَتُبَّعٌ أَنَبِيّاً كانَ أَمْ لاَ ، وَمَا أَدْرِي ذَا الْقَرْنَيْنِ أَنَبِيّاً كانَ أَمْ لاَ

Saya tidak tahu, apakah Tubba’ itu nabi atau bukan. Saya tidak tahu, apakah Dzulqarnain itu nabi atau bukan.[11]

Apapun yang pasti al-Quran tidak menyebut umurnya, dan zamannya. Nabi saw pernah menyebut di dalam hadis baginda :

Maksudnya : Tidak aku ketahui adakah Tubba’ itu Nabi ataupun tidak, dan tidak aku ketahui Zulqarnain itu Nabi ataupun tidak.” (Hadith riwayat al-Hakim dan al-Baihaqi dan disahihkan oleh al-Albani di dalam Sahih al-Jami’ bil. 5524)

Maka kisah tentang zulqarnain yang di sebut di dalam al-Quran adalah satu-satunya kisah yang ada secara pasti kebenarannya. Adapun pandangan lain, ia datang dari sumber yang tidak dapat dibuktikan dengan tepat kebenarannya.

Quraish Shihab mengatakan, ayat ini tidak menjelaskan siapa dzulqarnain, bukan saja Karena demikian kebiasaan al-Qur’an tidak menyebut nama, tetapi juga Karena memang mereka yang bertanya itu tidak menanyakan kecuali ihwalnya, bukan namanya.

Ia melanjutkan, berbeda-beda pendapat ulama tentang apa yang dimaksud dengan Dzulqarnain yang secara harfiah berarti pemilik dua tanduk, dan siapakah tokoh yang dipuji al-Qur’an ini. Ada yang berpendapat bahwa dia digelari demikian, Karena rambutnya yang panjang disisir dan digulung sedemikian rupa, bagaikan dua tanduk; atau Karena dia memakai perisai kepala yang terbuat dari tembaga menyerupai tanduk. Ada juga yang berkata bahwa dia mencetak uang logam dengan gambar bertanduk dua tanduk yang melambangkan dirinya serupa dengan Amoun, yakni yang dipertuhan oleh orang-orang Mesir kuno.

Tokoh ini menurut sebagian ulama adalah Alexander the Great dari Macedonia. Ada juga yang berpendapat bahwa dia adalah salah seorang penguasa Himyar (Yaman). Dengan alasan bahwa penguasa-penguasa Yaman menggunakan kata Dzu pada awal namanya seperti Szu Nuwas dan Dzu Yazin. Konon Namanya adalah Abu Bakar Ibn Afriqisi. Dia berangkat dengan pasukannya menyelusuri Mediteranian, malampaui Tunis dan Maroko, lalu membangun kota di Tunisi dan menamaninya dengan nama Afriqiyah sehingga seluruh wilayah di benua itu dinamai Afrika sampai kini. Dia juga dinamai Dzulqarnain karena dia mencapai wilayah yang dinamai kedua tanduk matahari.

Dahulu, ahli kitab atau kaum musyrikin bertanya kepada Rasulullah sallallahu’alahiwassallam tentang kisah Dzulqarnain. Allah subhanahuwata’ala memerintahkan beliau untuk mengatakan:

“Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.”

Cerita yang mengandung berita yang memberi kecukupan dan pembicaraan yang mengagumkan. Maksudnya, aku akan bacakan kepada kalian tentang Dzulqarnain, yang bisa menjadi ibrah (pelajaran). Adapun hal-hal lain yang tidak menjadi pelajaran, beliau tidak membacakannya kepada mereka.

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi.” Maksudnya, Allah subhanahuwata’ala berikan kekuasaan dan memantapkan pengaruhnya di segenap penjuru bumi, dan ketundukan mereka kepadanya.

“Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan.” Maksudnya, Allah subhanahuwata’ala memberikan sebab-sebab yang menyampaikan kepada kedudukan yang dicapainya itu. Sebab-sebab itu membantunya untuk menaklukkan berbagai negeri, memudahkannya mencapai tempat-tempat yang paling jauh yang didiami manusia. Dia menggunakan sebab-sebab yang telah Allah subhanahuwataa’la berikan itu, sesuai dengan fungsinya. Karena tidak setiap orang yang mempunyai sebuah sebab, kemudian dia (mau) menjalaninya. Dan tidak setiap orang mempunyai kemampuan untuk menjalani sebab itu. Sehingga, ketika terkumpul antara kemampuan untuk menjalani sebab yang hakiki dan (kemauan) menjalaninya, tercapailah tujuan.

Dan bila keduanya (kemampuan dan kemauan) atau salah satunya tidak ada, maka tujuan tidak akan tercapai. Sebab-sebab yang Allah subhanahuwata’ala berikan kepada Dzulqarnain tidak diberitakan oleh Allah subhanahuwata’ala maupun Rasul-Nya sallallahu’alaiiwassallam kepada kita. Tidak pula berita-berita itu dinukilkan para ahli sejarah kepada kita dengan penukilan yang meyakinkan. Maka, tidak ada yang pantas bagi kita kecuali diam dan tidak melihat pada apa yang disebutkan para penukil kisah Israiliyat dan yang semacamnya. Hanya saja kita tahu secara global bahwa sebab-sebab tersebut kuat dan banyak, baik sebab internal maupun eksternal. Dengan sebab-sebab itu, dia mempunyai pasukan yang besar, banyak personil dan perlengkapannya, serta diatur dengan baik. Dengan pasukan tersebut, dia mampu mengalahkan musuh-musuh, memudahkannya untuk sampai ke belahan timur, barat maupun segenap penjuru bumi. Allah subhanahuwata’ala memberikan sebab kepadanya yang mengantarkannya sampai ke tempat terbenamnya matahari, hingga dia melihat matahari dengan mata kepala seakan-akan matahari itu tenggelam di lautan yang hitam. Dan ini biasa bagi orang yang hanya ada air (lautan) antara dia dan ufuk terbenamnya matahari. Dia melihat bahwa matahari tenggelam ke dalam laut itu, meskipun dia berada pada puncak ketinggian.

Di sana, yakni di tempat terbenamnya matahari tersebut, Dzulqarnain menemukan sekelompok manusia. “Kami berkata: ‘Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka’.” Yakni, engkau bisa mengadzab mereka dengan pembunuhan, pukulan, atau menawan mereka dan semacamnya. Atau engkau berbuat baik kepada mereka. Dzulqarnain diberi dua pilihan, karena –yang nampak– kaum itu adalah orang kafir atau fasik, atau mereka memiliki sebagian sifat-sifat tersebut. Karena bila mereka adalah kaum yang beriman bukan orang fasik, tentu Allah subhanahuwata’ala tidak memberikan keringanan bagi Dzulqarnain untuk mengadzab mereka. Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain memiliki assiyasah asy-syar’iyyah yang menjadikannya berhak dipuji dan disanjung, karena taufiq yang Allah berikan kepadanya. Dia lalu berkata: “Aku akan menjadikan mereka dua bagian: “Adapun orang yang aniaya.” Yakni kafir.  “Maka Kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya.” Yakni, orang yang aniaya akan mendapatkan dua hukuman, hukuman di dunia dan di akhirat. “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan.” Yakni sebagai balasannya, dia akan mendapatkan surga kedudukan yang baik di sisi Allah subhanahuwata’ala pada hari kiamat.

“Dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah Kami.” Yakni, Kami akan berbuat baik kepadanya, berlemah lembut dalam tutur kata, dan Kami permudah muamalah baginya. Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain termasuk raja yang shalih, wali Allah subhanahuwata’ala yang adil lagi berilmu, di mana dia menepati keridhaan Allah dengan memperlakukan setiap orang sesuai dengan kedudukannya.

Maksudnya, Dzulqarnain mendapati matahari terbit di atas komunitas manusia yang tidak memiliki pelindung dari sinar matahari. Bisa jadi karena mereka tidak menyiapkan tempat tinggal, karena mereka masih liar, tidak beradab, dan nomaden. Atau bisa juga karena matahari selalu berada di atas mereka, tidak pernah tenggelam. Sebagaimana hal ini terjadi di wilayah Afrika Timur bagian selatan. Dzulqarnain telah sampai kepada suatu tempat yang belum pernah diketahui penduduk bumi, terlebih pernah mereka datangi (secara fisik) dengan tubuh mereka. Namun demikian, ini semua terjadi dengan takdir Allah subhanahuwata’ala kepada Dzulqarnain dan pengetahuannya terhadap hal itu. Oleh karena itu, Allah subhanahuwata’ala berfirman:

“Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.” (Al-Kahfi: 91)

Maksudnya, Kami mengetahui kebaikan dan sebab-sebab agung yang ada padanya, dan ilmu Kami bersamanya, kemanapun ia menuju dan berjalan.

“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan keduanya suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.” (Al-Kahfi: 92-93)

Para ahli tafsir berkata: Dzulqarnain pergi dari arah timur menuju ke utara.

Sampailah dia di antara dua dinding penghalang. Kedua dinding penghalang itu adalah rantai pegunungan yang dikenal pada masa itu, yang menjadi penghalang antara Ya`juj dan Ma`juj dengan manusia. Di hadapan kedua gunung itu, dia menemukan suatu kaum yang hampir-hampir tidak bisa memahami pembicaraan, karena asingnya bahasa mereka dan tidak cakapnya akal dan hati mereka. Dan Allah subhanahuwata’ala telah memberi Dzulqarnain sebab-sebab ilmiah yang dengannya bahasa kaum itu menjadi bisa dipahami dan dia memahamkan mereka. Dia bisa berbicara kepada mereka dan mereka bisa berbicara kepadanya. Mereka kemudian mengeluhkan kejahatan Ya`juj dan Ma`juj kepada Dzulqarnain. Mereka merupakan dua umat yang besar dari keturunan Adam ‘alaihissalam.

Kaum itu berkata: “Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.” (Al-Kahfi: 94)

yaitu dengan melakukan pembunuhan, perampokan, dan lain-lain.

“Maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu….” (Al-Kahfi: 94) maksudnya upah.

“Supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (Al-Kahfi: 94). Hal ini menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk membangun dinding penghalang, dan mereka mengetahui kemampuan Dzulqarnain untuk membangunnya. Mereka pun memberikan upah kepadanya untuk melakukannya. Mereka menyebutkan sebab yang mendorong hal itu, yaitu perusakan Ya`juj dan Ma`juj di bumi. Dzulqarnain bukanlah orang yang tamak, dia tidak memiliki keinginan terhadap harta dunia. Namun dia juga tidak meninggalkan perbaikan keadaan rakyat. Bahkan tujuannya adalah perbaikan. Sehingga dia memenuhi permintaan mereka karena kemaslahatan yang terkandung di dalamnya. Dia tidak mengambil upah dari mereka. Dia bersyukur kepada Rabbnya atas kekokohan dan kemampuannya.

Dzulqarnain berkata kepada mereka:

“Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku adalah lebih baik.” (Al-Kahfi: 95) Maksudnya, lebih baik daripada apa yang kalian berikan kepadaku. Aku hanyalah meminta kalian untuk membantuku dengan kekuatan tangan-tangan kalian.

“Agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (Al-Kahfi: 95) Yakni sebagai penghalang agar mereka tidak melintasi kalian. “Berilah aku potongan-potongan besi.” (Al-Kahfi: 96)

Merekapun memberinya. “Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu.” (Al-Kahfi: 96) yaitu dua gunung yang antara keduanya dibangun penghalang.

“Berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu)’.” (Al-Kahfi: 96) Maksudnya, nyalakanlah dengan nyala yang besar. Gunakanlah alat tiup agar nyalanya membesar, sehingga tembaga itu meleleh. Tatkala tembaga itu meleleh, yang hendak dia tuangkan di antara potongan-potongan besi, “Berilah aku tembaga agar kutuangkan ke atas besi panas itu.” (Al-Kahfi: 96) Maksudnya, tembaga yang mendidih. Aku tuangkan tembaga yang meleleh ke atasnya. Maka dinding penghalang itu menjadi luar biasa kokoh. Terhalangilah manusia yang berada di belakangnya dari kejahatan Ya`juj dan Ma`juj.

“Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.” (Al-Kahfi: 97) Maksudnya, mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mendakinya karena tingginya penghalang itu. Tidak pula mereka bisa melubanginya karena kekokohan dan kekuatannya. Setelah melakukan perbuatan baik dan pengaruh yang mulia, Dzulqarnain menyandarkan nikmat itu kepada Pemiliknya. Dia berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku.” (Al-Kahfi: 98) Maksudnya, merupakan karunia dan kebaikan-Nya terhadapku. Inilah keadaan para khalifah yang shalih. Bila Allah subhanahuwata’ala memberikan nikmat-nikmat yang mulia kepada mereka, bertambahlah syukur, penetapan, dan pengakuan mereka akan nikmat Allah subhanahuwata’ala. Sebagaimana ucapan Sulaiman ‘alaihissallam ketika singgasana Ratu Saba` tiba di hadapannya dari jarak yang sedemikian jauh: “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (An-Naml: 40)

Ini berbeda dengan orang yang congkak, sombong, dan merasa tinggi di muka bumi. Nikmat-nikmat yang besar menjadikan mereka bertambah congkak dan sombong. Sebagaimana ucapan Qarun ketika Allah subhanahuwata’ala memberinya perbendaharaan yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Dia berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al-Qashash: 78) Ucapan Dzulqarnain: “Maka apabila sudah datang janji Rabbku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar.” (Al-Kahfi: 98) Maksudnya, waktu keluarnya Ya`juj dan Ma`juj. “Dia akan menjadikannya….” (Al-Kahfi: 98) Maksudnya, menjadikan dinding penghalang yang kuat dan kokoh itu (hancur luluh), dan runtuh. Ratalah dinding itu dengan tanah. “Dan janji Rabbku itu adalah benar.”(Al-Kahfi: 98) “Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain.” (Al-Kahfi: 99) Bisa jadi dhamir (kata ganti mereka) kembali kepada Ya`juj dan Ma`juj –ketika mereka keluar kepada manusia– karena banyaknya jumlah mereka dan meliputi seluruh permukaan bumi, sehingga mereka berbaur satu sama lain. Sebagaimana firman Allah subhanahuwata’ala:

“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (Al-Anbiya`: 96)

Bisa juga kata ganti tersebut kembali kepada seluruh makhluk pada hari kiamat. Mereka berkumpul pada hari itu dalam keadaan banyak sehingga bercampur-aduk antara satu dengan yang lain….” (Diambil dari Taisir Al-Karimirrahman karya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, hal. 486-487).

 

 

  1. Fiqh Waqi’

Melihat potret pemimpin dan raja di zaman ini, sangat jauh dari tuntunan al-Qur’an. Hal dampaknya adalah kenyataan hari ini bahwa para pemimpin semakin menjauh dari rakyat merupakan potret buram tentang realitas politik atau kepemimpinan dewasa ini. Rakyat hanya didekati seolah diayomi dan dipedulikan ketika Pemilu akan digelar. Setelah itu, ceritanya pasti akan berbeda seratus delapan puluh derajat. Elite-elite politik yang sok peduli itu tiba-tiba menghilang dan seolah tidak mau tahu dengan jeritan rakyat, dengan aspirasi-aspirasi yang mestinya diperjuangkan.

Dalam konteks inilah barangkali kita tidak perlu heran jika setiap hari melihat elite-elite politik tidak mau berbaur dengan rakyat. Barangkali kita tidak perlu mengernyitkan dahi melihat elite-elite politik yang ja’im berdekat-dekatan dengan rakyat miskin (kecuali jelang Pemilu).

Sangat miris memang melihat kenyataan demikian. Satu sisi mereka adalah perpanjangan tangan kita (karena memang mereka berjuang, konon, atas nama kita, rakyat). Tapi, di sisi lain, mereka justru menjadikan kita sebagai boneka-boneka yang tidak tahu apa-apa. Miris, bukan?

Kenyataan demikian semakin diperparah dengan banyaknya politik pencitraan. Saat ini yang kerap dilakukan oleh tokoh-tokoh politik tak lain dan tak bukan adalah politik pencitraan. Kita sebagai rakyat seolah diibaratkan sebagai sekumpulan konsumen. Mereka menjajakan barang dagangan dan kita dipaksa membelinya. Barang dagangan yang tak lain adalah visi misi politik itu dikemas dengan sangat elegan agar kita percaya bahwa itu adalah produk yang bermutu dan pantas dibeli. Politisi-politisi yang kerap menjajakan barang dagangannya itu memiliki strategi yang sangat cerdas bagaimana barang-barang yang didagangkan itu bisa terjual habis.

Politik pencitraan seperti tak terkendali. Dari hari ke hari para politisi kita mencitrakan diri dan barang dagangannya sebagai sesuatu yang istimewa. Kita dipaksa berpikir bahwa apa yang mereka jual adalah suatu kebenaran. Inilah potret pemimpin kita hari ini.

Politik pencitraan masih saja dianggap sebagai strategi politik. Politik pencitraan meniscayakan pembodohan karena yang diatampilkan adalah “kulitnya” saja. Apa yang tampak di luar. Sesuatu yang hanya diomongkan. Itulah inti dari pencitraan. Dalam konteks politik, tentu saja pencitraan semacam itu dianggap sebagai jalan pintas agar rakyat bersimpati. Inilah potret pemimpin kita hari ini.

Dari kisah kehidupan Dzulqornain sangat serat dengan hikmah dan pelajaran. Dikisahkan dalam al-Qur’an agar menjadi acuan dalam kepemimpinan yang adil. Semoga akhlak mulia nan ksatria ini dimiliki pula oleh Dzulqarnain-Dzulqarnain masa kini, dan kita pun bisa menjadi Dzulqarnain-Dzulqarnain masa kini.

 

Dari kisah Dzulqornain diatas dapat kita simpulkan beberapa hal;

  1. Dzulqornain benar-benar nyata kehidupannya. Tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang liberaslis yang mengatakan bahwa kisah-kisah dalam al-Qur’an adalah fiktif.
  2. Para ulama berbeda pendapat tentang hakikat dzulqornain. Namun mereka sepakat bahwa Dzulqornain seorang raja yang menguasai Timur dan Barat.
  3. Untuk mendapatkan suatu kekuasaan dan kerajaan harus mengambil sebab.
  4. Seorang pemimpin hendaknya mengayomi masyarakat.
  5. Memberi lebih daripada yang diminta.

 

 

DAFTAR PUSATAKA

Abu Al-Husaen Ali ibn Ahmad al-Wahidy an-Naesabury, Asbabun Nuzul, Kaira, Daar al-Qutub al-Alamiyah, 1414, hal, 608.

Al-Kasysyaaf, II/743.

Disebutkan Ibnul Jauzi dalam al-Muntadzam fi at-Tarikh)

  1. Hakim 104 dan Baihaqi 18050.
  2. Hakim dalam al-Mustadrak 4143 tanpa komentar dari ad-Dzahabi)

Ibnu Katsir, Tafsir al-Quranul Adhim, Kaira; Daarul Hadits.

Muhammad ibn Shaleh al-Utsaimin, Usul Tafsir, Kaira; Darul Hadits

Muhammad Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Jakarta; Lentera Hati, 2005, jili 8, hal. 112.

Rahihiqul Makhtu, hal. 180-181.

Riwayat Thabari dalam tafsirnnya, 5/433.

Shafiyurrrahman al-Mubarakfury, Rahiqul makhtum, Riyadh: Darul Wafa, hal. 179.

 

[1] Ibnu Katsir, Tafsir al-Quranul Adhim, Kaira; Daarul Hadits.

[2] Abu Al-Husaen Ali ibn Ahmad al-Wahidy an-Naesabury, Asbabun Nuzul, Kaira, Daar al-Qutub al-Alamiyah, 1414, hal, 608.

                [3] Shafiyurrrahman al-Mubarakfury, Rahiqul makhtum, Riyadh: Darul Wafa, hal. 179.

[4] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Jakarta; Lentera Hati, 2005, jili 8, hal. 112.

                [5] Rahihiqul Makhtu, hal. 180-181.

[6] Muhammad ibn Shaleh al-Utsaimin, Usul Tafsir, Kaira; Darul Hadits

[7] HR. Hakim dalam al-Mustadrak 4143 tanpa komentar dari ad-Dzahabi)

[8] Disebutkan Ibnul Jauzi dalam al-Muntadzam fi at-Tarikh)

[9] Riwayat Thabari dalam tafsirnnya, 5/433.

[10] Al-Kasysyaaf, II/743.

[11] HR. Hakim 104 dan Baihaqi 18050.

Leave a Comment