![]()
Oleh Abu Rufaydah
Orang tua hendaknya memilih waktu yang tepat untuk mengarahkan anaknya. Hal tersebut akan berpengaruh pada respons yang ditunjukkan anak. Memilih waktu yang baik atau tepat akan mempermudah orang tua dalam menanampak nilai pendidikan pada anak. Pada waktu yang tepat anak dianggap telah siap diarahkan. Di saat orang tua mengarahkan dan anak pun siap menerima pengarahan tersebut, tujuan yang ingin dicapai pun akhirnya bisa terealisasi dengan baik.
Rasulullah adalah sosok yang paling tepat telaten dalam mencari waktu dan tempat yang tepat untuk mengungkap serta mengarahkan pandangan anak dalam rangka memperbaiki perilaku anak yang menyimpang dan membentuk kepribadian yang lurus.
Minimal penulis sebutkan tiga waktu yang Nabi terapkan yang bisa kita optimalkan untuk mengarahkan anak yaitu sebagai berikut:
- Ketika rekreasi ataupun dalam perjalanan bersama.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu suatu saat aku sedang berada di belakang Rasulullah dan beliau berkata: “Wahai anakku”. (HR. at-Tirmizi)
Keadaan dalam peristiwa diatas adalah di suatu perjalanan. Keduanya sedang berjalan bersama di atas Bighol (keledai). Lihatlah Nabi tidak memberian arahan kepadanya di tempat yang khusus, namun justru di tempat penuh dengan udara yang segar. Dalam keadaan itulah secara psikis, anak siap menerima semua arahan ataupun nasihat.
Rasulullah terkadang berbagi rahasia dengan beberapaanak dalam suatu perjalanan dan meminta mereka untuk menjaganya. Hal tersebut dilakukkannya karena beliau memahami bahwa dala kondisi yang ada membuat anak mampu menjaganya dengan baik.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Ja’far, ia berkata,”Pada suatu kesempatan Rasulullah menaikkan aku di belakang beliau (dalam boncengannya) kemudian beliau membagi rahasia yang tidak pernah kuungkapkan kepada siapapun. Sesungguhnya, Rasulullah suka bila aku menyimpannya demi suatu tujuan tertentu.”
Rasulullah pun mengoptimakan momen perjalanan untuk menanamkan ketauhidan dan keimanan pada anak tetang qadha dan qadar-Nya, baik yang baik maupun yang buruk. Juga mengajarkan anak untuk lebih optimis dalam menghadapi hidup dengan penuh harapan dan keberanian. Juga memotivasi anak agar menjadi individu yang bermanfaat dalam masyarakatnya. Juga memberikan pemahaman padanya bahwa sesungguhnya setiap individu manusia diperintahkan untuk mentaati Allah.
- Ketika Makan.
Pada waktu seperti ini anak berada di bawah syahwat atas makanan. Kaernanya tak heran bila pada kondisi itu anak terkadang melakukan hal yang kurang baik, namun pada kesempatan lain, anak pun mampu menjadi anak yang baik. Bila orang tua tidak terus duduk bersama dengan anak pada waktu makan dan memperbaiki kesalahan yang dilakukannya, anak akan tetap melakukan kebiasaan buruknya. Dengan tidak menemani anak pada waktu makan, orang tua kehilangan waktu yang sangat berharga untuk bisa mendidik dan mengarahkan anak.
Rasulullah pun terkadang makan dengan anak-anak. Pada saat makan, Rasulullah bisa mengamati beberapa kesalahan yang dilakukan anak dan pada saat yang bersamaan pun Rasulullah bisa langsung mengarahkan anak untuk segera memperbaikinya.
Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ
“Wahai Ghulam, sebutlah nama Allah (bacalah “BISMILLAH”), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)
Dari Umar bin Abi Salamah, bahwasanya ia pernah masuk menemui Rasulullah ﷺ dan di sisinya ada makanan. Beliau ﷺ bersabda:
ادْنُ يَا بُنَيَّ فَسَمِّ اللهَ وَ كُلْ بِيَمِيْنِكَ وَ كُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
“Wahai anakku mendekatlah (kemari)! Ucapkanlah Tasmiyah (mengucapkan Bismillah). Makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada di dekatmu!”. [HR al-Bukhoriy: 5376, Muslim: 2022)
Pada hadits ini tampak bahwa Rasulullah mengajak anak-anak untuk makan bersama dengan ucapaknya, “Wahai anakku mendekatlah (kemari), pada saat itulah Rasulullah mengaharhkan anak pada etika makan yang benar.
Para sahabat pun membiasakan diri mereka mengajak anak merka pada setiap jamuan makan, khususnya pada jamuan yang dihadiri oleh Rasulullah, sehingga dengan demikian, diharapkan anak-anak mereka dapat mempelajari ilmu baru yang bermanfaat dari Rasulullah dan memahami etika berinteraksi dengan sesame. Dengan demikian, merka diharapkan menjadi anak yang mampu menjadi generasi yang memiliki kepribadian yang kuat di masa depannya.
Kepada setiap orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya, pergi disaat anak belum terbangun dan datang saat anak telah terlelap tidur. Sadarilah bahwa pendidikan anak tanggung jawab orang tuanya dan masa kecil anak-anak sangat singkat. Karenanya manfaatkalah waktu dengan anak sebaik mungkin.
- Ketika Anak sedang Sakit.
Masa sakit akan melembutkan hati orang dewasa yang keras. Demikian juga hati anak kecil yang masih bisa dibentuk. Pada saat anak sakit, ada dua kenikmatan besar yang bisa diotimalkan oleh pendidik dalam upaya memperbaiki kesalahan dan perilakunya, bahkan perilaku terburuk sekalipun, yakni kenikmatan fitrah masa kanak-kanak serta kenikmatan lembutnya hati dan jiwa individu manusia di saat sakit. Rasulullah telah menunjukkan hakikat ini dengan mengunjungi seorang anak Yahudi yang sedang sakit. Pada saat itulah Rasulullah menyerunya untuk memeluk agama islam. Kedatangan Rasulullah untuk membesuk anak tersebut mampu membuka pintu hidayah bagi sang anak sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, “Dulu pernah ada seorang anak kecil Yahudi yang membantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu suatu saat ia sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, lalu beliau mengatakan, “Masuklah Islam.” Kemudian anak kecil itu melihat ayahnya yang berada di sisinya. Lalu ayahnya mengatakan, “Taatilah Abal Qosim (yaitu Rasulullah) –shallallahu ‘alaihi wa sallam-”. Akhirnya anak Yahudi tersebut masuk Islam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak tersebut dari siksa neraka.
Dari hadits di atas, kita bisa melihat bahwa anak Yahudi tersebut telah lama mambantu Nabi, Namun beliau tidak mangajaknya masuk islam. Nabi memilih waktu yang tepat untuk mengajaknya, yaitu di saat anak itu sedang sakit.
Masih banyak kesempatan yang baik untuk menasihati dan mengarahkan anak. Semoga apa yang telah kita ketahui mampu kita amalkan. Aamiin
.