![]()
Oleh Abu Rufaydah
Banyak dari kalangan para ulama terkemuka yang selalu membawa buku atapun beberapa bagian buku yang hendak dipelajari, kemana pun mereka pergi. Hal tersebut merupakan luapan cinta mereka untuk membaca dan belajar, sekaligus menunjukkan besarnya perhatian mereka terhadap waktu agar tidak berlalu dengan sia-sia.
- Adz-Adzahabi rahimahullah dalam bukunya Siar A’lam an-Nubalaa menyebutkan bahwa Ibnul Abnusi berkata, “al-Hafidh al-Khatibi ketika berjalan selalu membawa catatan di tangannya untuk dipelajari. (Siar A’lam an-Nubalaa, 18/281).
- Sedangkan dalam Tadzkirah al-Huffadz karya Imam adz-Dzahabi dalam biografi singkat Abu Daud As-Sajistani (pengarang Sunan Abu Daud) disebutkan bahwa Ibnu Dasah berkat, “Abu Daud memiliki baju dengan lengannya yang lebar dan yang sempit. Lalu berliau ditanya tentang hal tersebut. Beliau pun menjawab bahwasannya lengan baju yang lebar beliau gunakan untuk menaruh buku, sedangkan yang kecil beliau tidak membutuhkannya. (Tadzkirah al-Huffadz, 2/597).
- Dalam biografi Ahmad ibn Yahya, seorang ahli Nahwu yang terkenal dengan Tsa’lab (wafat 291 H) dari kitab Wafayat al-A’yan Ibnu Khallikan menuturkan penyebab wafatnya Ahmad ibn Yahya, “Beliau telah mengalami gangguan pendengaran dan tidak dapat mendengar kecuali dengan susah payah. Pada hari jum’at setelah Ashar ketika beliau hendak pulang dari masjid, beliau berjalan sambil mempelajari buku yang beliau pegang. Tiba-tiba seekor kuda menerjangnya, beliau pun terjatuh ke dalam jurang. Setelah diselamatkan dari dalam jurang, keadaan beliau seperti orang yang bingung. Kemudian beliau dibopong menuju rumahnya sambil merintih kesakitan karena luka pada kepalanya. Di hari kedua setelah kejadian tersebut beliau meninggal dunia. (Wafayat al-A’yan, 1/104).
- Al-Askari dalam buku Al-Hatstsu ‘Ala Thulab al Ilmi menyebutkan bahwa Abu Bakar al-Akhyyat, seorang ahli Nahwu yang memiliki nama asli Muhammad ibn Ahmad al-Baghdadi (wafat 320 H) menghabiskan semua waktunya untuk belajar. Bahkan, ketika dia berada di jalan. Kerap kali dia terperosok ke dalam jurang atau pun tersepak binatang.
- Banyak para ulama yang biasa meminta seseorang untuk membacakan buku kepada mereka, demi efisiensi waktu ketika menempuh perjalanan sekaligus bukti atas kecintaan mereka kepada ilmu. sebagimana kita dapati dalam biografi Al-Hafizh Asbahani, pengarang al-Hilyah (w.430 H) yang termaktub dalam Tadzkirah Al-Huffaz karya Imam Dzahabi. (Tadzkirah Al-Huffaz, 3/1094).
- Begitu juga seperti yang dialami oleh Imm Ilmuddin As-Sakhawi, seorang ahli qiro’at (w.643 H) yang diabadikan dalam Thabaqat Al-Qurra Al Kibar, 3/1105).
Diantara ulama yang kita saksikan memiliki kondisi seperti apa yang disebutkan di atas adalah As-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahmahullah (wafat1420 H). Beliau adalah gurunya guru. Sungguh hal ini telah menjadi kebiasaannya serta perilakunya, dengan dipenuhi sikap lapang dada dan wajah yang sejuk. Semoga dari ilmu yang beliau sampaikan, Allah berkenan membalas kebaikan kepadanya dan keluarganya.
Bagaimana dengan kita ? apakah kita hanya sekedar takjub dengan kondisi kehidupan mereka namun kosong dari mengamalkan apa yang telah mereka amalkan. Diawal mungkin terasa berat, terasa aneh karena lingkungan dan masyarakat kita belum terbiasa. Semoga Allah memberikan kepada kita taufik supaya kita dimudahkan dalam beramal kebikan. Aamiiin