METODE PENDIDIKAN ANAK DALAM AL-QUR’AN

Loading

Oleh Ust. Abu Rufaydah

 

Pengertian Pendidikan Anak.

Pendidikan dalam bahasa arab disebut dengan Tarbiyyah. Secara etimologi memiliki tiga arti:

  1. رَبَا – يَرْبُو, artinya “tumbuh dan berkembang”
  2. رَبِيَ – يَرْبَى yang sama dengan wazan خَفِيَ – يَخْفَي, artinya “menjadi dewasa dan bertambah besar.
  3. رَبَّ – يُرُبُّ yang sama dengan wazan مَدَّ – يَمُدُّ, artinya “memperbaiki dan mengurus”.[1]

Al-Baidhawi dalam Tafsirnya mengatakan, “Ar-Rabb” secata etimologi artinya adalah At-Tarbiyyah, yaitu menyampaikan sesuatu pada kesempurnaannya secara sedikit demi sedikit. Kemudian, dijadikan sifat bagi Allahh Subhanahu wa Ta’a<la dalam kontek hiperbola.

Ar-Raghib al-Ashfahani dalam kitabnya al-Mufrada<t mengatakan Ar-Rabb secara etimoogis artinya At-Tarbiyyah, yaitu membuat sesuatu sedikit demi sedikit hingga mencapai tingkatan sempurna.[2]

 

Anak dalam Perspektif al-Qur’an.

Dalam al-Qur’an paling tidak ada lima istilah dalam menceritakan anak, yaitu Ibn, al-Walad, Shobiyyun, dan Thiflu. Ibn bentuk jamaknya adalah Abna’. Menurut al-Ashfahani kata ibn diartikan sebagai suatu yang dilahirkan. Kata Ibn dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 35 kali yang tersebar di dalam berbagai surat dengan arti yang berbeda sesuai konteks kalimatnya.  Pada umumnya kata ibn di dalam al-Qur’an mengacu kepada status anak, baik disandarkan kepada nama bapak, nama Allah, ataupun sebutan lainnya.[3]

Adapun kata al-Walad dengan segala derivasinya disebutkan sebanyak 102 kali dalam al-Qur’an dengan makna-makna yang berbeda sesuai dengan bentuknya. Ada 4 bentuk yang bermakna anak dalam al-Qur’an. Bentuk pertama yaitu Al-Walad anak laki-laki atau perempuan, jamaknya adlah Aulad  yang pengertian dan penggunaanya tidak banyak berbeda dengan kata al-Ibn. Bentuk kedua yaitu Walidan (waktu masih anak-anak) disebut hanya sekali dalam al-Qur’an yaitu dalam QS. Asy-Syu’ara’ 26:28. Bentuk ketiga yaitu al-Wildan (anak-anak/anak muda) disebutkan dalam QS. An-Nisa< 4:75, 98 dan 127, serta QS. Al-Muzammil 73:17, sedangkan dalam QS. Al-Waqi’ah 56::17 dan QS. Al-Insan 76:19, keduanya berarti anak muda, yaitu pelayan-pelayan surge dari anak muda yang tetap yang tetap muda selama-lamanya. Bentuk keempat yaitu Maulud (yang dilahirkan/anak) terulang sebanyak tiga kali, yaitu dalam QS. Al-Baqorah 2:233 (dua kali) dan QS. Luqman 31:33. Ketiga kata Maulu<d yang berarti ayah/bapak karena disertai kata lahu< yaitu dala QS. Al-Baqarah 2:33, sedangkan dalam QS. Luqman 31:33 berarti anak karena tidak disertai oleh kata tersebut.

Penggunaan kata Ibn  dan walad degan berbagai derivasinya di atas mempunyai arti anak pada umumnya baik dia masih anak-anak maupun sudah menjadi dewasa alias anak muda.[4]

Selain kedua istilah di atas al-Qur’an juga memakai kata Shobi<yyun dan Thiflun baik dalam bentuk tunggal maupun jamak. Kedua istilah ini cenderung berarti anak dengan usia yang masih dini. Kata Shabiy dapat kita temukan dalam dua ayat pada surat Maryam ayat 12 dan 19.

Adapun kata Thiflun dalam bentuk tunggal ditemukan pada surat al-Hajj ayat 5 dan an-Nu<r ayat 31. Jika dicermati dari kedua kalimat diatas dalam beberapa ayat berikut ini, maka penggunaan kata Walad cenderung berkonotasi negative atau menjadi ancaman bagi kedua orang tua, pemahaman ini dapat kita lihat dalam dua ayat berikut ini;

فَلا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir.[5]

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.[6]

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚوَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ الَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[7]

Data dilapangan memang menunjukan adanya relevasi antara dua ayat diatas dengan  realitas kehidupan social, jika kita mau mencermati prilaku anak-anak kita dewasa ini tanpa harus penulis ukur data rill di lapangan dalam tulisan ini.

Berbeda dengan kata Walad, kata Ibn/Banu<n mempunyai makna konotasi positf hal ini dapat ditemukan pada dua ayat berikut ini;

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu[23] serta lebih baik untuk menjadi harapan.[8]

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.[9]

Fakta dan data juga membuktikan bahwa tidak sedikit anak menjadi kebanggaan orang tua dalam berbagai hal, baik itu menyangkut karakternya maupun prestasinya. Sejak usia dini hingga memasuki duni orang tua sekalipun anak yang bersangkutan dilahirkan dalam taqdir yang kurang menguntungkan dimana orang tuannya dalam kondisi ekonomi lemah dan tidak berprofesi sebagai guru atau profesi terhormat lainnya.

  1. Perbedaan antara الولد، الطفل dan الابن
  2. ath-Thiflu diperuntukkan bagi anak yang lahir sampai ia beranjak dewasa.[10]
  3. Ash-Shabiy disebutkan untuk anak yang baru lahir sampai ia di sapih.[11]
  4. Al-Walad dinisbatkan kepada anak laki-laki atau perembuan, besar ataupun kecil. Untuk anak yang memiliki hubungan darah (nasab) dan kekerabatan. Tidak disebutkan dalam al-Qur’an batasan usianya.[12]
  5. Al-Ghulam adalah anak yang sudah beranjak dewasa ditandai dengan tumbuhnya kumis, pada usia ini syahwatnya memuncak disertai keinginan untuk menikah.[13] Pendapat lain mengatakan al-Ghulam adalah anak-anak pada usia dua tahun sampai usia tujuh belas tahun.
  6. Fata’ adalah anak yang sudah memasuki usia dewasa atau disebut dengan pemuda.[14]

 

Konsep Pendidikan Anak dalam Al-Qur’an.

Urutan dalam pendidikan sangat penting. Hal ini terlihat dari dakwah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam selama di fase Makkah dimulai dengan tauhid dan iman, hampir 13 tahun Rasulullah menguatkan dan mengokohkan pondasi iman, bahkan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum zakat, puasa, perang dan yang lainnya. Karena semua itu akan sulit dilakukan jika dalam hatinya tidak ada iman. Diantara ayat yang menjelaskan urutan pendidikan ada pada surat Luqman ayat 13 sampai 19, Allah berfirman :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ * وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ * وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ * يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ * يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ * وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ * وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ ﴾

Artinya :

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di wakttu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

 

Abdurrazzaq ibn Abdul Muhsin al-Abbad[15] memberikan beberap pelajaran yang terkandung dalam wasiat Luqman di atas, diantaranya;

  1. Pelajaran yang pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah tentang mentauhidkan Allah dan mengajarkan hakikat syirik. Syirik adalah dosa yang paling besar dan mentauhidkan Allah adalah sebesar-besarnya keta’atan. Jika berlaku syirik menjadi sebesar-besarnya dosa, maka mentauhidkan Allah menjadi sebesar-besarnya ibadah.
  2. Setelah diajarkan tauhid, mengenalkan anak kepada pencipta-Nya. Setelah itu anak diajak untuk mengingat perjuangan ibu agar anak berbakti kepadanya. Digendengkannya antara hak Allah dan hak ibu mengisyaratkan bahwa hak keduanya sangat agung. Kalau pun ibu atau orang tua musyrik, maka hal itu tidak menghalangi anak untuk tidak berbakti kepadanya. Kemudian Allah menutup ayat ini dengan anjuran mengikuti jalan orang baik dan menapaki jalan orang-orang yang shalih. Hendaknya orang tua membimbing anaknya untuk meujudkan semua itu.[16]
  3. Tanamkan kepada anak-anak bahwa Allah senantiasa mengawasi kita dan tidak ada yang luput dari pengetahuan Allah. Inilah hasil dari pendidikan iman, anak selalu merasa diawasi Allah. Amal baik dan buruk akan dihisab.
  4. Perintah mendirikan shalat, amar makruf dan nahi munkar serta bersabar. Diantara cara untuk menyuburkan rasa keimanan kepada Allah dengan shalat. Dari ketiga perintah diayat ini, Allah memerintahkan kepada anak untuk bersabar melakukan amal-amalan kebaikan.[17]
  5. Pesan selanjutnya yaitu anak diajarkan untuk menjaga adab dan akhlak.[18]

Berkaitan dengan pentingnya pendidikan tauhid atau iman, dalam al-Qur’an selain ayat di atas, Al-Qur’an menyebutkan kurang lebih sebanyak 811 tempat. Muhammad Abdul Baqi menyebutkan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat kata-kata I<man yang diulang lebih dari 600 kali dalam berbagai bentuknya, seperti QS. Al-An’am 6 : 82 tentang kualitas iman dan pengaruhnya dan QS. Al-Hujurat 49 : 17 tentang iman sebagai karunia Allah yang menjadi panutan pada kebenaran.[19] Betapa pentingnya iman ini, sehingga dakwahnya Rasulullah selama 13 tahun di Makkah seluruhnya berkaitan dengan tauhid, rata-rata ayat yang turun di fase makkiyah berkaitan dengan iman dan tauhid.

Dengan demikian, keimanan menurut para ahli pendidikan merupakan materi pendidikan anak yang sangat urgen (penting). Oleh karena itu, implementasi pemberiannya tidak hanya dengan menghafal rukun iman, tapi dengan menimbulkan perasaan keimanan kepada Allah dalam hati para peserta didik dan cintanya kepada-Nya melebihi cintanya kepada ibu, bapak, guru dan lain-lain. Jadi, melalui pembinaan keimanan di atas akan dihasilkan kesucian dan etika, sedangkan melalui pembinaan akal menusia akan menghasilkan ilmu. Oleh karena itu, materi pendidikan anak juga harus dirancang untuk membangun intelektual, sperti pembelajaran menghitung, menganalisa, mengklasifikasikan, menyimpulkan dan seterusnya. Sehingga mereka memiliki keterampilan berfikir dalam memecahkan masalah yaitu menggerakkan segala yang konkrit kepada indera dan mengirimkan kessan-kesan kepada akal untuk diperoleh rumusan konsep tentang masalah tertentu.[20]

Pendidikan iman juga menjadi bagian konsep pendidikan utama Nabi kepada para sahabatnya. Hal ini bisa kita dapati dari kesaksian para sahabat Nabi, seperti Jundub bin Abdillah Radhiallahu Anhu : “Kami pemuda yang berada disisi Rasulullah, Kami belajar iman sebelum belajar al-Qur’an, kemudian kami belajar al-Qur’an maka bertanbahlah iman dengannya”. Begitupula sahabat Abdullah bin Umar bin Khaththab Radhiallahu Anhuma berkata : “Kami belajar iman kemudian belajar al-Qur’an, maka bertambahlah keimanan kami, dan kalian saat ini belajar al-Qur’an kemudian belajar iman”. Lalu beliau berkata : “Aku telah hidup dalam waktu yang lama dan sungguh salah seorang diantara kami diberikan iman sebelum al-Qur’an, sehingga surat turun kepada Rasulullah lalu kami belajar halal, haram, perintah dan larangannya serta yang sepatutnya untuk berhenti darinya. Kemudian aku melihat orang-orang yang diberikan al-Qur’an (membacanya) sebelum iman, lalu membaca antara surat al-Fatihah hingga akhir al-Qur’an tidak mengerti apa perintah dan larangan dan yang seharusnya ia berhenti darinya, membacanya begitu saja.[21]

Dari Hudzaifah bin al-Yamani Radhiallahu Anhu, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya amanah telah turun ketengah hati-hati orang-orang, kemudian turunlah al-Qur’an dan Sunnah. Kemudian Nabi menceritakan tentang hilangnya sikap amanah; seseorang tidur sebentar lalu amanah dicabut dari hatinya sehingga tersisa berkasnya seperti bercak kecil, kemudian tidur lalu dicabut amanah dari hatinya sehingga tersisa seperti lepuhan luka, seperti bara api yang kamu tempelkan ke kakimu.[22]

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata : “Yang dimaksud amanah diatas adalah iman yang masuk pada hati seseorang”. Beliau juga memperkuat perkataanya dengan dalil dari al-Qur’an pada surat Hu<d ayat 17.

أَفَمَن كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِّنْهُ

Yang dimaksud  Bayyinah adalah Iman dan Yatlu<hu adalah al-Qur’an.

Kedua dalam Surat al-Nu<r ayat 35.

نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاء

Yang dimaskud Nu<r pertama dalah iman dan Nu<r yang kedua adalah al-Qur’an. Maka jelaslah pada ayat diatas bahwa penyebutan iman lebih dulu dibandingkan al-Qur’an karena iman adalah tujuan dari membaca al-Qur’an.  Dan masih banyak lagi ayat yang berkaitan tentang hal ini dimana iman didahulukan sebelum al-Qur’an.

Ibnu Taimiyyah[23] Rahimahullah Ta’ala melanjutkan : “Maka dengan demikian Iman tanpa membaca al-Qur’an bermanfaat bagi seseorang dan dapat memasukannya kesurga. Dan al-Qur’an tanpa iman tidak akan bermanfaat diakhirat bahkan dia seorang munafiq”. Seperti hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dan Imam Al-Bukhari dalam shahihnya dari Abu Musa Al-Asy’ary Radhiallahu Anhu, Nabi bersabda: “….Orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an seperti buah kurma, tidak ada wanginya, tetapi rasanya manis.[24]

Perhatikan cara al-Qur’an memperdalam iman kepada akhirat di dalam hati. Ayat-ayat al-Qur’an yang turun pada periode Makkah menekankan dan mengulang-ulang pembicaraan tentang urusan akhirat kepada hati sahabat-sahabat Nabi. Sehingga mereka seperti melihat akhirat dengan mata kepala mereka, maka nyawa mereka tidak lagi berharga, dan mereka siap mengorbankan apapun yang mereka miliki untuk mencari surge Allah dan mengharap ridha-Nya.[25]

Aisyah Radhiallahu Anha berkata: “Wahyu yang pertama-tama turun kepada Nabi ialah surat mufashshal yang berisi penjelasan tentang Surga dan Neraka. Sehingga ketika orang-orang telah berbondong-bondong masuk islam, turunlah wahyu tentang haal dan haram. Andaikata wahyu pertama yang turun berbunyi: ‘Jangan minum khamer’ pasti mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan khamer sampai kapanpun!’ Andaikata wahyu pertama yang turun berbunyi: ‘Jangan berzina’, pasti mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan zina sampai kapanpun!’ Ketika di Makkah saat aku masih kecil Muhammad menerima firman Allah:

بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَىٰ وَأَمَرُّ

Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.[26]

Sedangkan surat al-Baqarah dan Surat An-Nisa< baru turun ketika aku sudah menjadi istrinya.[27]

Yang dimaksud dengan penanaman akidah adalah memberikan pendidikan Tauhid, yaitu Setelah tauhidnya kokoh, maka akan dengan mudah seseorang untuk selalu menjaga adab dan akhlaknya karena terdapat keyakinan yang kuat dalam hatinya bahwa Allah yang menjadi asal dan tempat kembalinya.

Fakta ilmiah yang juga mendukung aplikasi ayat ini adalah pesan Nabi Muhammad Shallahualaihi wasallam, Dari Abdullah ibn Abbas Radhiyallahu Anhuma dia berkata: “Aku dibonceng Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan beliau berkata, “Nak, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, semoga Allah memberimu manfaat dengannya.” Aku berkata: (Ya Nabi berkata), “Jagalah Allah, Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, kamu akan menjumpai-Nya ada di hadapanmu. Kenalilah Dia dalam keadaan lapang, Dia akan mengenalimu di waktu sempit. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Pena telah kering terhadap semua yang ada, maka jika seluruh makhluk ingin memberimu manfaat (menolongmu) dengan sesuatu yang tidak ada dalam takdir Allah untukmu, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Dan jika mereka ingin membahayakan dirimu dengan sesuatu yang tidak ada dalam takdir Allah padamu, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Ketahuilah, sesungguhnya dalam kesabaran terhadap hal yang tidak kamu sukai ada banyak sekali kebaikan. Sesungguhnya kemenangan datang bersama dengan kesabaran. Sesungguhnya solusi datang bersama dengan kesulitan. Dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”[28]

Kini, mari kita selami suasana dan cara Nabi menguntai nasehat untuk seorang anak, semoga menjadi pelajaran bagi setiap orangtua :

  1. Abdullah bin Abbas dinasehati Nabi saat sedang dibonceng di belakang Nabi yang sedang mengendarai kendaraan. Suasana ini sangatlah indah. Sedang santai. Seorang anak cenderung menikmati suasana berkendara. Apalagi kendaraan itu seekor binatang. Ini adalah sebuah momentum mahal yang seringkali terlewatkan oleh orangtua. Saat berdua di atas kendaraan, adalah saat yang tepat untuk memasukkan nilai kepada anak-anak. Suasana senang dan nyaman adalah momentum yang sangat tepat untuk memberi mereka nasehat. Dan inilah salah satu penyebab mandulnya nasehat orangtua hari ini. Karena nasehat itu seringkali hadir dalam suasana penuh amarah dan menegangkan. Jika demikian, bagaimana bisa menembus dinding hati anak-anak kita?
  2. Rasulullah menggunakan mukaddimah sebelum menasehati, “Nak, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, semoga Allah memberimu manfaat dengannya.” 12) Mengingat, usia anak-anak yang cenderung asyik dengan permainannya, sering teralihkan oleh sekelilingnya, pendek konsentrasinya. Maka, menasehati dengan pembukaan beberapa kalimat akan memasukkan anak dalam frame konsentrasi. Sehingga seorang anak siap menerima nilai-nilai yang akan disampaikan.

Dan sesungguhnya ini adalah metode al Quran. Ulama tafsir menyampaikan tentang fungsi huruf muqotho’ah (huruf-huruf yang mengawali surat Al Quran seperti:  قـ، آلم، يس، ) adalah untuk menarik perhatian. Karena huruf-huruf tersebut dikenal dengan baik oleh audiens (orang-orang Arab) tetapi tidak ada artinya. Seperti sepotong puzzle yang membuat orang semangat untuk mencari wajah utuhnya. Hal ini, akan membuat mereka penasaran dan mau mendengarkan pesan ayat berikutnya.

Demikian juga fungsi nida’ (kata panggilan seperti : wahai orang-orang beriman, wahai orang-orang kafir). Mereka yang merasa beriman akan segera membuka hati dan telinga mereka, karena panggilan telah datang.

  1. Dalam hadits Nabi ini dihaluskan dengan sentuhan doa: “semoga Allah memberimu manfaat dengannya.” Mari kita biasakan lisan ini untuk selalu menyelipkan doa dalam setiap kalimat yang diuntainya. Sebuah sentuhan hati yang mengawali sebuah nasehat yang akan bersemayam dalam hati.
  2. Untuk menasehati anak Abdullah bin Abbas, Nabi memilih kalimat yang singkat, padat dan mudah dipahami. Rasakan itu pada kalimat-kalimat Nabi berikut:

Jagalah Allah, Dia akan menjagamu.

Jagalah Allah, kamu akan menjumpai Nya ada di hadapanmu.

Kenalilah Dia dalam keadaan lapang, Dia akan mengenalimu di waktu sempit. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah.

 

Satu tema, titik. Satu tema, titik. Menjadi seperti sebuah doktrin yang disampaikan bahkan tanpa penjelasan. Karena kalimat-kalimatnya mudah dipahami oleh seorang anak, sehingga sang anak akan mengurai sendiri kalimat itu dalam dirinya. Membuatnya lebih cerdas, membuatnya hidup dalam pemahaman khas miliknya.[29]

Demikianlah, iman di dalam hati sahabat-sahabat Nabi yang dididik sedemikian rupa sehingga lebih kokoh dari gunung dan lebih tinggi dari awan. Dan berkah dari iman ini Nampak di dalam perjalanan iman mereka. Mereka menempati level tertinggi dalam urusan perjuangan dan pengorbanan di jalan Allah, kesungguhan persaudaraan, kesungguhan taubat, wala’ dan bara, dan kejujuran dengan Allah dan Rasul-Nya. Berkah lain dari iman ini adalah kemenangan demi kemenangan di segala bidang, kejayaan dan keunggulan di dunia dan akhirat. Jadi, pendidikan iman adalah upaya meningkatkan kualitas iman generasi muda islam dan memupuk pohon iman yang ada di dalam hati mereka.[30]

 

Tanggung Jawab Pendidikan Anak ada pada Orang Tua.

Kenyataan saat ini banyak orangtua yang menitipkan pendidikan anak sepenuhnya kepada guru, sekolah atau pesantren. Oleh karena itu Rasulullah melimpahkan tanggung jawab pendidikan anak kepada kedua orangtua.[31] Maka sebelum anak dididik oleh orang lain, hendaknya orang tua menjadi guru pertamanya. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[32]

Ayat ini menunjukan bahwa mendidik adalah suatu kewajiban dan kewajiban mendidik ada pada orang tua.

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata : “Para orangtua dan ibu wajib mengajarkan anak-anak mereka yang kecil tentang hal-hal yang harus mereka ketahui sebagai bekal mereka baligh. Orang tua harus mengajarkan mereja bersuci, shalat, shaum, dan sejenisnya, juga mengajarkan tentang keharaman zina dan liwath.[33]

Imam An-Nawawi Rahimahullah berpendapat sama tentang hak tersebut. Bahkan Imam An-Nawawi membuat Bab dalam Kitabnya Riadhush Shalihin dengan judul “Kewajiban Memerintahkan Keluarga dan anaknya yang sudah beranjak dewasa.”[34]

Imam Ibnu Qoyyim Rahimahullah berkata : “Bahwa kewajiban mendidik dan mengajar anak, berdasarkan ayat ini serta penafsiran ulama salaf terhadapnya. Yaitu mereka berkata : perihalalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.[35] Artinya ajarkan dan didiklah mereka.[36]

Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata : “Peliharalah mereka untuk ta’at kepada Allah dan ajarkan mereka kebaikkan.”[37]

Adapun dalil-dalil yang menjelaskan kewajiban mendidik anak ada pada orang tua adalah sebagai berikut :

  1. Ajarkanlah shalat pada anak kalian pada usia tujuh tahun, pukullah mereka jika mereka enggan pada usia sepuluh tahun, pisahkan antara tempat tidur anak laki-laki dan perempuan.”[38]
  2. Tidak ada pemberian yang lebih baik dari orang tua kepada anaknya melebihi adab yang baik.”[39]
  3. Bahwa seseorang dari kalian mendidik anaknya, itu lebih baik baginya daripada ia bersedekah setiap hari sebanyak setengah sha’ kepada orang-orang miskin.[40]
  4. Dari Sa’id dan Ibnu Abbas Radhiallahu Anhum, Rasulullah bersabda : Siapa yang mendapatkan anak, maka hendaknya ia memberi nama yang baik dan mendidiknya dengan baik. Dan jika ia telah mencapai baligh, maka hendaknya ia menikahkannya, karena jika anak mencapai baligh tapi tidak menikahkannya, kemudian anaknya berbuat zinz, niscaya dosanya ditanggung orang tuanya.[41]
  5. Abdullah bin Umar Radhiallahu Anhuma berkata : “Ajarkanlah anakmu, karena engkau akan ditanyakan tentang dirinya, apa yang engkau telah didik kepadanya ? Apa yang engkau ajarkan kepadanya ? Dan sebaliknya ia akan dipertanyakan tentang baktinya kepadamu serta ketaatannya kepadamu.”[42]

Dengan dasar inilah para ulama salaf tidak menganggap mudah pendidikan. Bahkan sebaliknya mereka melihat bahwa pendidikan adalah suatu kewajiban agama, yang sama setatusnya seperti shalat, puasa, shaum dan kewajiban agama lainnya. Oleh karena itu, ketika mereka berbicara tentang rukun-rukun dan kewajibannya, mereka juga menekankan masalah pendidikan sehingga orang tua dan para pendidik tidak menganggap pendidikna sebagai perkara yang sunnah, tanpa adanya beban baginya. Padahal kenyataannya sebaliknya, yaitu jika ia mendidik maka ia dijaga dan diselamatkan dari api nereka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu. Sebaliknya, jika ia melakukan atu menyia-nyiakan, niscaya dirinya dan keluarganya tidak dijaga dari api neraka.[43]

 

Tujuan Pendidikan Anak.

Manusia diciptakan untuk tujuan yang mulia yaitu beribadah kepada Allah dan menjauhi peribadahan kepada selainnya. Begitu juga dengan pendidikan memiliki tujuan. Al-Qo<bisi mengatakan bahwa diantara tujuan pendidikan adalah mengenalkan agama dengan ilmu dan amal untuk beribada kepada Allah. Adapun menurut Al-Ghazali tujuan pendidikan adalah mengenal Allah dan bersungguh-sunggu untuk mencapai ridha-Nya.[44]

Jika kita mengacu saja pada UUD 1945 (versi Amandemen) tentang Tujuan Pendidikan Nasional: Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”.

Ternyata tujuan pendidikan Nasional di UUD 45 sesuai dengan kalimat dari para sahabat Nabi yaitu belajar Iman sebelum al-Qur’an dan belajar adab sebelum belajar ilmu.

 

Metode Pendidikan dalam Al-Qur’an.

Ahmad Farid mengatakan : “Menulis buku tentang pendidikan itu mudah. Membuat kurikulum kendati membutuhkan wawasan, keahlian dan pengetahuan yang luas itu terbilang mudah. Namun, itu semua akan menjadi tinta di atas kertas sepanjang tidak berubah menjadi fakta yang nyata dan bergerak di atas bumi yang nyata. Sepanjang tidak berubah menjadi manusia yang bisa menterjemahkan prinsip-prinsip dan konsep-konsep dari kurikulum tersebut dengan perilaku, tindakan, perasaan dan pikirannya. Ketika itu barulah kurikulum tersebut berubah menjadi kenyataan, berubah menjadi gerakan dan berubah menjadi sejarah.[45]

Diantara metode yang paling baik adalah metode pendidikan yang ada dalam al-Qur’an. Diantara metode tersebut adalah:

 

  1. Metode Teladan

Keteladanan adalah inti dari pendidikan.[46] Dalam al-Qur’an kata teladan disamakan pada kata Uswah yang kemdian diberikan sifat dibelakangnya seperti sifat hasanah yang berarti baik. Sehingga dapat terungkapkan menjadi Uswatun Hasanah yang berarti teladan yang baik. Kata uswah dalam al-Qur’an diulang sebanyak enam kali dengan mengambil contoh Rasullullah SAW, Nabi Ibrahim dan kaum yang beriman teguh kepada Allah. Firman Allah SWT dalam surat al-Ahzab :

Sesungguhnya dalam diri Rasullullah itu kamu dapat menemukan teladan yang baik” (Q.S.al-Ahzab:21).[47]

Muhammad Quthb, misalnya mengisyaratkan bahwa di dalam diri Nabi Muhammad, Allah menyusun suatu bentuk sempurna metodologi Islam, suatu bentuk yang hidup dan abadi sepanjang sejarah masih berlangsung.[48] Metode ini dinggap sangat penting karena aspek agama yang trpenting adalah akhlak yang termasuk dalam kawasan aektif yang terwujud dalam tingkah laku(behavioral). Dari sini keteladanan menjadi factor yang sangat berpengaruh pada baik buruknya anak.[49]

 

  1. Metode Kisah-Kisah

Muhammad Nur Abdul Hafizh Suuwaid berpendapat bahwa berkisah adalah bagian terpenting dalam mempengaruhi akal anak, berkisah juga bagian dari metode pendidikan dalam al-Qur’an.[50] Di dalam al-Qur’an selain terdapat nama suatu surat, yaitu surat al-Qasash yang berarti cerita-cerita atau kisah-kisah, juga kata kisah tersebut diulang sebanyak 44 kali.[51] Menurut Quraish Shihab bahwa dalam mengemukakan kisah di al-Qur’an tidak segan-segan untuk menceritakan “kelemahan manusiawi”. Namun, hal tersebut digambarkanya sebagaimana adanya, tanpa menonjolkan segi-segi yang dapat mengundang rangsangan. Kisah tersebut biasanya diakhiri dengan menggaris bawahi akibat kelemahan itu, atau dengan melukiskan saat kesadaran dan kemenangannya mengalahkan kelemahan tadi.

Kemudian Quraish Shihab memberikan contoh pada surat al-Qashash ayat 76-81.[52] Disini, setelah dengan bangganya Karun mengakui bahwa kekayaan yang diperolehnya adalah berkat kerja keras dan usahanya sendiri. Sehingga muncul kekaguman orang-orang sekitarnya terhadap kekayaan yang dimilkinya, tiba-tiba gempa menelan Karun dan kekayaanya. Orang-orang yang tadinya kagum menyadari bahwa orang yang durhaka tidak akan pernah memperoleh keberuntungan yang langgeng. Pelajaran yang terkandung dalam kisah tersebut adalah mengingatkan menusia agar jangan lupa bersyukur kepada Allah, jangan lupa diri, takabbur, sombang dan seterusnya, karena itu semua hal yang tidak disukai oleh Allah.

Kisah atau cerita sebagai metode pendidikan ternyata mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan. Islam menyadari akan adanya sifat alamiah manusia yang menyukai cerita dan menyadari pengaruh besar terhadap perasaan. Oleh karena itu Islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu tehnik pendidikan. Islam mengunakan berbagai jenis cerita sejarah factual yang menampilkan suatu contoh kehidupan manusia yang dimaksudkan agar kehidupan manusia bisa seperti pelaku yang ditampilkan contoh tersebut(jika kisah itu baik). Cerita drama yang melukiskan fakta yang sebenarnya tetapi bisa diterapkan kapan dan disaat apapun.

 

  1. Metode Nasihat

Dari beberapa metode pendidikan dalam al-Qur’an adalah dengan metode nasihat, metode ini sangat efektif dalam membentuk keimanan anak, akhlak, mental, dan social, adalah metode mendidik dengan nasihat.[53] Al-Qur’an juga menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati untuk mengarahkan manusia kepada ide yang dikehendakinya. Inilah yang kemudian dikenal nasihat. Tetapi pada setiap nasihat yang disampaikannya ini selalu dengan teladan dari I pemberi atau penyampai nasihat itu. Ini menunjukkan bahwa antara satu metode yakni nasihat dengan metode lain yang dalam hal ini keteladanan bersifat melengkapi.

Didalam al-Qur’an, kata-kata yang menerangkan tentang nasihat diulang sebanyak 13 kali yang tersebut dalam 13 ayat didalam tujuh surat. Diantara ayat-ayat tersebut berkaitan dengan para Nabi terhadap umatnya. Salah satunya contoh nasihat Nabi Saleh kepada kaumnya, dalam firman Allah:

Maka berpaling dari mereka dan (Nabi Saleh) berkata:”hai kaumku aku telah menyampaikan kepadamu amanat dari Tuhanku, dan aku telah memberimu nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yangmemberi nasihat.”[54]

 

  1. Metode Ceramah

Metode ini merupakan metode yang sering digunakan dalam menyampaikan atau mengajak orang mengikuti ajaran yang telah ditentukan. Metode ceramah sering disandingkan dengan katakhutbah. Dalam al-Qur’an sendiri kata tersebut diulang sembilan kali. Bahkan ada yang berpendapat metode ceramah ini dekat dengan katatablih,yaitu menyampaikan sesuatu ajaran. Pada hakikatnya kedua arti tersebut memiliki makna yang sama yakni menyampaikan suatu ajaran.

Pada masa lalu hingga sekarang metode ini masih sering digunakan, bahkan akan selalu kita jumpai dalam setiap pembelajaran. Akan tetapi bedanya terkadang metode ini di campur dengan metode lain. Karena kekurangan metode ini adalah jika sang penceramh tidak mampu mewakili atau menyampaikan ajaran yang semestinya haus disampaikan maka metode ini berarti kurang efektif. Apalagi tidak semua guru atau pendidik memiliki suara yang keras dan konsisten, sehingga jika menggunakan metode ceramah saja maka metode ini seperti hambar.

Didalam al-Qur’an kata tabligh lebih banyak digunakan daripada kata khutbah, al-Qur’an mengulang kata tabligh sebanyak 78 kali. Salah satunya adalah dalam surat Yaasin ayat 17, yang artinya berbunyi;

Dan kewajiban kami adalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”.[55]

Dalam ayat ini jelas bahwa metode ini telah digunakan sejak zaman dahulu, untuk menjelaskan tetang suatu ajaran atau perintah.

 

  1. Metode Tanya Jawab

Metode Tanya jawab dalam kegiatan belajar mengajar juga cukup efektif untuk memahamkan murid, menarik perhatian mereka, dan menetapkan serta menegaskan materi pelajaran yang akan disampaikan.[56] Hal ini tergambar dari cara Rasulullah dalam mendidik generasi sahabat.[57] Contohnya ketika Nabi menanyakan hari Iedul Adha, bulan Dzul Hijjad dan kota Makkah.[58]

Didalam al-Qur’an hal ini juga digunakan oleh Allah agar manusia berfikir. Pertanyaan-pertanyaan itu mampu memancing stimulus yang ada. Adapun contoh yang paling jelas dari metode pendidikan Qur’an terdapat didalam surat Ar-Rahman. Disini Allah SWT mengingatkan kepada kita akan nikmat dan bukti kekuasaan-Nya, dimulai dari manusia dan kemampuannya dalam mendidik, hingga sampai kepada matahari, bulan, bintang, pepohonan, buah-buahan, langit dan bumi.

Pada setiap ayat atau beberapa ayat dengan kalimat bertanya itu, manusia berhadapan dengan indera, naluri, suara hati dan perasaan. Dia tidak akan dapat mengingkari apa yang di inderanya dan diterima oleh akal serta hatinya. Ayat itu adalah Ar-Rahman ayat 13 :

Maka nikmat rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan?”( Qs. Ar Rahman : 13)

Pertanyaan itu diulang sebanyak 31 kali didalam surat ini. Setiap diulang, pertanyaan itu merangsang kesan yang berlainan sesuai dengan konteksnya dengan ayat sebelumnya.

 

  1. Metode Diskusi

Metode diskusi diperhatikan dalam al-Qur’an dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap sesuatu masalah. Sama dengan metode diatas metode diskusi merupakan salah satu metode yang secara tersirat ada dalam al-Qur’an.

Didalam al-Qur’an kata diskusi sama dengan al-mujadallah itu diulang sebanyak 29 kali. Diantaranya adalah pada surat al-Nahl ayat 125 yang berbunyi:

Dan bantahlah dengan cara yang baik..”(Q.S.al-Nahl:125).

Dari ayat diatas Allah telah memberikan pengajaran bagi umat Islam agar membantah atau berargument dengan cara yang baik. Dan tidak lain itu bisa kita temui dalam rangkaian acara yang biasa disebut diskusi.

Diskusi juga merupakan metode yang langsung melibatkan anak didik untuk aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Diskusi bisa berjalan dengan baik jika anak didik yang menduskisikan suatu materi itu benar-benar telah menguasai sebagian dari inti materi tersebut. Akan tetapi jika peserta diskusi yakni anak didik tidak paham akan hal tersebut maka bisa dipastikan diskusi tersebut tidak sesuai yang diharapkan dalam pembelajaran.

 

7. Hikmah

Dengan mempelajari urutan pendidikan dalam QS. Luqman : 13-19 penulis dapat mengambil beberapa hikmah diantaranya; pertama, Urgensi urutan dalam pendidikan. Sekolah saat ini sudah kehilangan urutan dalam pendidikan, mana yang harus didahulukan dan mana yang harus diakhirkan. Kedua, pelajaran iman menjadi prioritas utama dalam pendidikan anak. Hal ini sesuai dengan UUD 45 dimana tujuan pendidikan melahirkan generasi yang beriman dan bertakwa. Tujuan ini akan sulit tercapai jika di sekolah-sekolah sudah tidak lagi menyertakan pelajaran-pelajaran agama di sekolah. Ketiga, belajar iman sebelum belajar al-Qur’an. Saat ini justru terbalik, anak-anak diajarkan al-Qur’an sebelum iman. Sehingga lahirlah para penghafal al-Qur’an yang tidak memiliki iman. Keempat, Belajar adab sebelum ilmu.

 

Dalam al-Qur’an pendidikan iman menjadi prioritas utama untuk mendidik anak-anak. hal ini semakin dikuatkan oleh Rasulullah saat mengajari sahabat-sahabatnya. Terlebih di kuatkan oleh UUD 45 tentang pendidikan di Negara Indonesia. Para sahabat Nabi menjadi contoh ketika al-Qur’an dijadikan sebagai konsep utama dalam pendidikan. Kerusakan moral, kekejama, kejahilan, dan kegobrokan masa jahiliyah dapat dirubah dengan pendidikan iman. Sehingga pada akhirnya Allah memuji para sahabat menjadi generasi terbaik umat ini.

Anak dilahirkan dalam keadaan suci, tergantung orang tuannya yang akan membentuk anak itu selanjutnya, apakah akan dibentuk menjadi orang Yahudi, Nasrani dan Majusi. Kaum muslimin akan meahirkan generasi terbaik mana kala mereka mengaplikasikan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan anak dalam surat Luqman ayat 13-19 ini akan menjadi baik, ketika orang tua, guru, masyarakat dan negera menyadari bahwa pendidikan iman menjadi prioritas utama dalam melahirkan generasi terbaik. Maka perlu ada dukungan dari semua pihak.

 

REFERENSI

  1. Departemen Agama Ri, Al Qur’an Dan Terjemahnya, ( Jakarta : Pustaka Al

Kautsar, 2009 ).

  1. Al-Bukhari, Abu Abdullah Ismail ibn Ibrahim, Shahih al-Bukhari, Mesir:

Maktabah Iba<durrahman, 2008.

  1. An-Naisabury, Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, Mesir:

Maktabah al-Islamiyah, 2008.

  1. Hanba, Ahmad ibn, Musnad Imam Ahmad, Bairut: Darul Fikr, 1398.
  2. As-Sijistiani, Abu Daud Sulaiman ibn al-Sy’ats, Sunan Abu Daud, Kaira:

Maktabah al-Ma’rifah, 1426.

  1. At-Tirmizi, Abu Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurah, Sunan at-Tirmizi, Kaira:

Maktabah al-Ma’arif, 1426 H.

  1. An-Nasa’I, Abu Abdirrahman Ahmad ibn Syu’aib ibn Ali, Sunan An-Nasa’I,

Kaira: Maktabah al-Ma’arif, 1426 H.

  1. al-Abbad, Abdurrazzab ibn Abdul Muhsin, Wasiyat Luqman lib Nihi,

Madinah: Da<r at-Tauhid, 1436.

  1. Al-‘Adawi, Mushthafa, Fiqh Tarbiyatil Abna< wa Thaifatun min Nasha<ihul al-

Athibba<, Riyadh: Da<r ibn Rajab, 1425/2002.

  1. al-‘Ajamy, Muhammad Abdus Salam, al-Tarbiyah al-Islamiyyah al-Usul wa

At-Tatbiq<at, Riyadh: Da<rul Ma’rifah, 1327/2006.

  1. An-Nahlawi, Abdurrahman, , Usul at-Tarbiyyah al-Islamiyah wa Asa<li<buha,
  2. Najamuddin, “Pendidikan Anak Usia Dini dalam Perspektif al-Qur’an dan

Hadits,” www.semut.

  1. Baqi’, Muhammad Fuad Abdul, al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fadz al-Qur’an

al-Kari>m, Bairut: Da<r al-Fikr, 1987.

  1. Ibrahim, Abdul Mun’im, Tarbiyatul Bana<t fil al-Isla<m, Kaira: Maktabah

Aula<d Syekh lit Turst, 1423/2002.

  1. Qutub, Muhammad, Sistem Pendidikan Islam, terjemah Salman Harun,

Bandung: Al-Ma’arif, 1988.

  1. Taimiyyah, Ibnu, Majmu’ al-Fata<wa, Riyadh: Muassasah al-Risalah, 1432, jilid 6.
  2. Farid, Ahmad, At-Tarbiyah Ala Manhaji Ahlissunnah Wal Jama’ah, Mesir:

Darul Sala<m, 1433.

  1. Al-Utsaimi, Muhammad n, Syarah al-Arbain Nawawiyah, Unaizah, KSA:

Da<rul ‘Ashifah, 1432 H.

  1. Budi, Ashari, http://www.parentingnabawiyah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=59:antara-dua-nasehat-rasulullah-bagian-1&catid=40:guru&Itemid=62 , diakses, 28/3/2016, pukul 17.15 WIB.
  2. Suuwaid, Muhammad Nur Abdul Hafizh, Manhaj at-Tarbiyyah an-

Nabawiyyah li Tif, Kwait: Da<r ibn Katsir, 1430/2009.

  1. Imam Nawawi, Riyadhush Shalihin, Kaira: Darul Hadits, 1432.
  2. Al-Syantu<t, Khale<d Ahmad, Kaifa Nurabbi Bana<tuna Ala al-Hija<b, tp, tt, hal. 45.
  3. Ulwan, Abdullah Nashih, Tarbiyatul Aula<d fil Isla<m, Kaira: Da<rus Sala<m,

1396/1976.

  1. Quraish Shihab,Membumikan al-Qur’an,(Bandung:Mizan,1982)hal:175
  2. Ilahi, Fadhli, An-Nabiyu al-Karim Mu’alliman, Pakistan: Idara Turjuman

Islam, 1424/2003.

[1] Muhammad Abdus Salam al-‘Ajamy, al-Tarbiyah al-Islamiyyah al-Usul wa At-Tatbiq<at, Riyadh: Da<rul Ma’rifah, 1327/2006, hal. 22-23.

[2] Abdurrahman An-Nahlawi, Usul at-Tarbiyyah al-Islamiyah wa Asa<li<buha, hal. 12.

[3] Najamuddin, “Pendidikan Anak Usia Dini dalam Perspektif al-Qur’an dan Hadits,” www.semut.depag.com

[4] Abdul Mun’im Ibrahim, Tarbiyatul Bana<t fil al-Isla<m, Kaira: Maktabah Aula<d Syekh lit Turst, 1423/2002, hal. 6.

[5] QS. At-Taubat : 55

[6] QS. Al-Anfal : 28.

[7] QS. At-Taghobun : 14.

[8] QS. Al-Kahfi : 46.

[9] QS. Al-Furqon : 74.

[10] http://pull-rose.ahlamontada.net/t75-topic, diunduh kamis, 19/0502016 jam 09.00.

[11] Ahmad ibn Faris ibn Zakariya, Mu’jam Maqoisu al-Lughoh, Kairo: Daarul Fikr, 1399/1979, hal. Shod Alif

[12] Ahmad ibn Faris ibn Zakariya, Mu’jam Maqoisu al-Lughoh,bab و ل د

[13] Ahmad ibn Faris ibn Zakariya, Mu’jam Maqoisu al-Lughoh,bab غ ل م

[14] Ahmad ibn Faris ibn Zakariya, Mu’jam Maqoisu al-Lughoh,bab ف ت ا

[15] Abdurrazzab ibn Abdul Muhsin al-Abbad, Wasiyat Luqman lib Nihi, Madinah: Da<r at-Tauhid, 1436, hal. 15.

[16] Mushthafa Al-‘Adawi, Fiqh Tarbiyatil Abna< wa Thaifatun min Nasha<ihul al-Athibba<, Riyadh: Da<r ibn Rajab, 1425/2002, hal. 359.

[17] Mushthafa Al-‘Adawi, Fiqh Tarbiyatil Abna< wa Thaifatun min Nasha<ihul al-Athibba<, hal. 363.

[18] Abdurrazzab ibn Abdul Muhsin al-Abbad, Wasiyat Luqman lib Nihi, hal. 16.

[19] Muhammad Fuad Abdul Baqi’, al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fadz al-Qur’an al-Kari>m, Bairut: Da<r al-Fikr, 1987, hal. 132

[20] Muhammad Qutub, Sistem Pendidikan Islam, terjemah Salman Harun, Bandung: Al-Ma’arif, 1988, hal. 129-130.

[21] HR. Al-hakim dalam Al-Mustadrak 1/91 dan al-Baihaqi dalam sunan al-Kabir  3/120.

[22] HR. Muttafaq Alaihi.

[23] Ibnu Taimiyyah, Majmu’ al-Fata<wa, Riyadh: Muassasah al-Risalah, 1432,  jilid 6, hal. 650.

[24] HR. Bukhari dan Muslim.

[25] Ahmad Farid, At-Tarbiyah Ala Manhaji Ahlissunnah Wal Jama’ah, Mesir: Darul Sala<m, 1433, hal. 207.

[26] QS. Al-Qamar: 46.

[27] HR. al-Bukhari, Fadhailul Qur’an, bab Ta’liful Qur’an, no. 4993.

[28] HR. Ahmad dalam al-Musnad : 1/307 dan Tirmidzi no. 2526. Muhammad Al-Utsaimin, Syarah al-Arbain Nawawiyah, Unaizah, KSA: Da<rul ‘Ashifah, hal. 320.

[29]http://www.parentingnabawiyah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=59:antara-dua-nasehat-rasulullah-bagian-1&catid=40:guru&Itemid=62 , diunduh 28/3/2016, pukul 17.15 WIB.

[30] Ahmad Farid, At-Tarbiyah Ala Manhaji Ahlissunnah Wal Jama’ah, hal. 210.

[31] Muhammad Nur Abdul Hafizh Suuwaid, Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah li Tif, Kwait: Da<r ibn Katsir, 1430/2009, hal. 47.

[32] QS. At-Tahrim : 6.

[33] Abdul Mun’im Ibrahim, Tarbiyatul Bana<t fil al-Isla<m,  hal. 11.

[34] Imam Nawawi, Riyadhush Shalihin no. 305, Kaira; Da<rul Hadits, 1433, ha. 554

[35] QS. At-Tahriim : 6.

[36] Abdul Mun’im Ibrahim, Tarbiyatul Bana<t fil al-Isla<m, hal. 11

[37] Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6/397.

[38] HR. Ahmad, Abu Dawud dan lainnya.

[39] HR. Ahmad dan At-Tirmizi.

[40] HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi.

[41] HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman 8299, hadits ini didho’fkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah dalam Silsilah Adh-Dha’ifah 737 karena didalamnya ada Syaddad bin Sa’id Ar-Raasibi.

[42] Syu’abul Iman 6/400 hadits no. 8662.

[43] Abdul Mun’im Ibrahim, Tarbiyatul Banaat fil Islam, hal. 123.

[44] Muhammad Abdus Salam al-‘Ajamy, al-Tarbiyah al-Islamiyyah al-Usul wa At-Tatbiq<at, hal. 29.

[45] Ahmad Farid, At-Tarbiyah Ala Manhaji Ahlissunnah Wal Jama’ah, hal. 426.

[46] Khale<d Ahmad Al-Syantu<t, Kaifa Nurabbi Bana<tuna Ala al-Hija<b, tp, tt, hal. 45.

[47] Departemen Agama Ri, Al Qur’an Dan Terjemahnya, ( Jakarta : Pustaka Al Kautsar, 2009 ), hal. 420.

[48] Muhammad Quthb,Sistem Pendidikan Islam, Bandung:PT.Al-Ma’arif,1984, hal:180.

[49] Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aula<d fil Isla<m, Kaira: Da<rus Sala<m, 1396/1976, hal. 516.

[50] Muhammad Nur Abdul Hafizh Suuwaid, Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah li Tif, hal. 166.

[51] Muhammad Fuad Abd al-Baqy, al-Mu’jam alMufrasdli Alfazhal Qur’an al-Karim, hal:286

[52] Quraish Shihab,Membumikan al-Qur’an,(Bandung:Mizan,1982)hal:175

[53] Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aula<d fil Isla<m, hal. 558.

[54] Q.S. al-‘Araf:79.

[55] Q.S. Yaasin:17

[56] Fadhli Ilahi, An-Nabiyu al-Karim Mu’alliman, Pakistan: Idara Turjuman Islam, 1424/2003, hal. 175.

[57] Muhammad Nur Abdul Hafizh Suuwaid, Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah li Tif, hal. 179.

[58] Fadhli Ilahi, An-Nabiyu al-Karim Mu’alliman, hal. 175.

Leave a Comment