PETUNJUK NABI DI FASE TAMYIZ

 121 total views,  1 views today

PETUNJUK NABI DI FASE TAMYIZ

 

عن عبدالله بن عمرو قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ. (رواه أبو داود وقال الألباني : صحيح

Dari Abdullah ibn Amr radhiallau Anhu, Rasulullah shallalahu Alaihi wasallam bersabda; “Suruhlah anak-anakmu shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan  pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Syamsul Haq Abadi rahimahullah berkata, “Hadits yang mewajibkan orang tua untuk memerintahkan anak-anak mengerjakan shalat mencakup anak laki-laki dan perempuan. Adapun syarat umur tujuh tahun, hal ini bertujuan agar anak-anak menjadi terbiasa melakukannya sejak dini. Dan perintah memukul anak jika ia meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun, hal ini dikarenakan seorang anak sudah memasuki atau hampir memasuki usia akil baligh. Dan juga orang tua diharuskan memisah tempat tidur anak-anak.”

Al-Manawi Rahimahullah berkata, “Maksud dari Pisahkanlah tempat tidur anak-anak kalian”. Maksudnya, pisahkanlah tempat tidur anak-anak kalian, ketika mereka telah beranjak usia sepuluh tahun, demi untuk mengantisipasi hal-hal yang muncul diakibatkan syahwat yang terbakar, walaupun mereka adalah saudara kandung sendiri. (Fathul Qodiir Syarhul Jaami’ish Shaghiir).

Ath-Thibi Rahimahullah berkata, “Hadits diatas menggabungkan antara perintah mengerjakan shalat dan perintah memisahkan tempat tidur anak-anak. Hal ini bertujuan untuk mendidik mereka, mengajari mereka untuk selalu melaksanakan perintah-nya, mengajari mereka aturan-aturan berinteraksi dengan sesama, dan juga mengajarkan kepada mereka agar jangan melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan tuduhan dan prasangka buruk, sehingga akhirnya mereka pun terjauh dari hal-hal yang diharamkan. (Tarbiyatul Banaat Fil Islam, hal. 170).

Al-Imam Al-Khathabi Rahimahullah berkata, “Sabda Nabi yang memerintahkan orang tua untuk memukul si anak jika meninggalkan shalat ketika umur sepuluh tahun memberikan sebuah isyarat untuk menghukum lebih keras lagi jika si anak dengan sengaja meninggalkan shalat ketika telah memasuki usia baligh. Dan kami berkata : “Jika seorang anak berhak untuk dipukul padahal ia belum baligh, maka bisa dipahami bahwa jika ia telah memasuki usia akil baligh, maka hukuman yang akan diterimanya lebih keras. (Tarbiyatul Banaak Fil Islam, hal. 170).

Dari hadits dan penjelasan Ulama di atas, kita dapat mengambil faidah dan kesimpulan, diantaranya:

  1. Periode Tamyiz (FASE TAMYIZ )terbagi dua tahapan, tahapan pertama pada usia 7 tahun hingga 10 tahun dan kedua pada usia 10 tahun sampai baligh.
  2. Pada usia 7 sampai 10 tahun adalah fase pembiasaan anak untuk melakukan keta’atan dan menjauhi larangan.
  3. Periode 10 tahun hingga baligh adalah fase kesadaran anak untuk melakukan kebaikan dan diberikan hukuman jika tidak melaksanakan.
  4. Sebelum anak terbiasa melakukan keta’atan pada fase ini, maka sebelum itu (fase hadhonah) anak diberikan keteladanan dalam melakukan kebaikan.
  5. Kata Walad dalam bahasa arab mencangkup anak laki-laki dan perempuan. Maka hadits di atas berlaku untuk keduanya.
  6. Rasulullah mendahulukan shalat dibandingkan ibadah lain, karena shalat adalah rukun islam yang kedua. Artinya sebelum shalat diajarkan anak sudah dikenalkan tentang Dzat, nama, sifat dan perbuatan Allah, yaitu mengenal Allah, mengenal Agamanya dan mengenal Nabinya. Sehingga ketika ia shalat menyadari bahwa shalat adalah perintah Rabbnya
  7. Diantara hikmah Allah memerintahkan shalat sebelum ibadah yang lain adalah karena shalat dikerjakan secara terus-menerus, sehingga anak bisa terbiasa melakukkannya. Wallahu A’lam
  8. Jika anak dalam kurun waktu 3 tahun terbiasa melakukan ibadah shalat, maka sudah dipastikan ia akan mudah melakukan ibadah lainnya.
  9. Jika anak shalatnya baik, maka perkara lainnya akan baik.
  10. Pada usia 7 tahun anak baru diperintahkan ibadah, maka sebelum itu adalah fase keteladanan.
  11. Jika ada anak sudah terbiasa melakukan ketaatan, maka kecil kemungkinan di usia 10 tahun ia meninggalkan shalat.
  12. Pemukulan adalah bagian dari pendidikan, hal ini menjadi bantahan kepada para aktifis pendidikan yang melarang adanya pemukulan dalam pendidikan.
  13. Pemukulan adalah akhir dari hukuman. Maksudnya sebelum pemukulan ada tahapan yang harus dilalui, karena tidak setiap hukuman dengan pemukulan.
  14. Dalam menghukum hendaknya memperhatikan aturan syari. Dan pemukulan itu dilakukan ketika anak melanggar aturan yang selevel dengan shalat. Maka selain itu hendaknya dihindari.
  15. Orang tua wajib memisahkan tempat tidur dengan anaknya juga dengan saudara-saudarinya.
  16. Pemisahan tempat tidur di usia 10 tahun mengandung hikmah yang sangat besar. Ketika perintah ini terabaikan maka akan berdampak buruk pada pertumbuhan anak.
  17. Memisahkan tempat tidur adalah bagian dari pendidikan sex usia dini. Bahkan sebelum itu orang tua telah mengajari anak-anak tentang pendidikan sex melalui pakaian yang ia kenakan, warna pakaian dan yang lainnya.
  18. Pendidikan sex tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian orang dengan mengenalkan alat reproduksi. Cukup dengan anak melihat posisi shalat laki-laki dan permbuan dipisah dan tempat tidur yang terpisah hal itu secara tidak langsung mangajari anak tentang pendidikan sex.

Wallahu A’lam

 

📝 Abu Rufaydah Endang Hermawan Unib

Cianjur, 6 Februari 2018

 

📚 Artikel ini disebarluaskan oleh

@CKS (Cianjur kota Santri).

🌍www.cianjurkotasantri.com/wp/wp.

🌐 IG, FP . Cianjurkotasantri

👉  join Telegram  klik : Bit.ly/1S79GTK

📱 Atau Via WA dengan mengetik Daftar#Nama#L/P#Alamat kirim ke +62859 38 50000 4

Leave a Comment