KETIKA KEHILANGAN

 4,073 total views,  2 views today

KETIKA KEHILANGAN
Oleh Abu Rufaydah

Sepekan ini media Sosial Indonesia diramaikan dengan informasi hilangnya Emmeril Khan Mumtadz atau akrab disapa Eril anak dari Gubernur Jawa Barat Bapak Dr. H. Mochamad Ridwan Kamil, ST., M.U.D Hafidhohullah Taála, bahkan informasi hilangnya Eril ramai diperbincangkan di luar negri. Sebagaimana informasi dari media sosial bahwa Eril hilang saat berenang di Sungai Aare, Bern, Swiss, pada Kamis (26/5). Semoga Eril ditemukan dalam kondisi sehat wal afiyat, Aamiin.

Kehilangan orang yang kita cintai akan menyisakan rasa sedih yang sangat mendalam, terlebih jika informasi keberadaannya belum bisa dipastikan. Kehilangan orang yang dicintai bukan hal yang baru dalam kehidupan manusia. Jauh sebelum Eril yang dinyatakan hilang, al-Qurán sudah mengisahkan kisah hilangnya Nabi Yusuf dari kaluarga Nabi Ya’qub yang berdampak pada kesedihan yang mendalam hingga mengakibatkan hilangnya pengelihatan Nabi Ya’qub.

Kisah Nabi Yusuf adalah kisah terbaik dalam al-Qurán, semua unsur-unsur kehidupan ada dalam kisahnya. Termasuk kisah hilanya Yusuf dari Ayahnya sampai kembali kepada keluarganya. Lalu apa yang dilakukan Nabi Ya’qub sebagai ayah dari Nabi Yusuf ketika anak kesayangannya hilang ? Dari sinilah kita akan mengambil beberapa pelajaran dari hilangnya Nabi Yusuf Alahis Salaam.

  1. Kesabaran yang Baik.

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَٱللَّهُ ٱلْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan”. (QS. Yusuf : 18).

Bersabarlah yang baik diucapkan dua kali pada ayar ke 18 ketika Yusuf dinyatakan hilang dan ayat ke 85 keitika saudaranya Yusuf tertahan di Mesir. Menunjukkan bahwa ketika terjadi musibah yang pertama harus dilakukan seorang hamba adalah bersabar atas takdir Allah yang menimpa padanya. Ketika ia mampu menahan hati, ucapan dan tindakannya dari perkara yang tidak Allah ridhai, maka sabar menjadi obat. Ia bersabar karena sadar bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah dan Allah tidak akan mendzolimi hamba-Nya.

2. Husnudzon kepada Allah.

عَسَى ٱللَّهُ أَن يَأْتِيَنِى بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Yusuf : 85).

Ketika ia mampu sabar dalam menghadapi musibah yang menimpanya, maka ia akan husnudzon kepada Allah. Berbaik sangka kepada Allah akan melahirkan harapan yang kuat. Hal itu terlihat dari perkataan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya. Padahal saat itu yang hilang bukan hanya Yusuf tapi juga saudaranya yang tertahan di Mesir. Tentu sikap husnudzon kepada Allah ini tidaklah lahir kecuali dari hati yang yakin kepada Allah. Bahwa Allah Maha Mengetahui kondiri hamba-Nya dan Allah Maha Bijaksana dalam menentukan takdir hamba-Nya.

3. Berdoá Kepada Allah.

قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”. (QS. Yusuf : 86).

Ya doá adalah senjata terbaik seorang muslim. Ketika manusia menyadari kelemahan pada dirinya, maka ia akan mencari kekuatan dari Dzat Yang Maha Kuat. Harapan Nabi Ya’qub selalu terpatahkan oleh omongan anak-anaknya. Karena itulah kesedihan selalu menyelimuti hari-harinya sampai menyebabkan kebutaan pada matanya.

Nabi Ya’qub mengadukan kesedihan dan kesulitannya kepada Allah. Karena Allah Maha Mengetahui keberadaan anaknya dibandingkan manusia yang ada di sekitarnya. Karena itu disaat kehilangan orang yang kita cintai berdoálah kepada Allah.

4. Berusaha Mencari.

يَٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya. (QS. Yusuf : 87).

Ketika sabar, berbaik sangka dan berdoá kepada Allah, maka maksimalkan dengan mencari keberadaannya. Bisa dibayangkan berapa lama Nabi Yusuf itu hilang ? dan yang menakjubkan adalah tidak hilangnya harapan dari sosok ayahnya yang tegar. Ia meminta anak-anaknya untuk mencari Yusuf dan Binyamin yang hilang. Sebuah usaha yang luar biasa di tengah kesulitan yang mereka hadapi.

5. Jangan Putus Asa.

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf : 87).

Ketika usaha yang ditempuh telah masimal disertai dengan tawakkal maka jangan berputus asa dari Rahmat Allah. Teruslah berharap kepada-Nya, karena orang yang berharap kepada Allah tidak akan menyesal. Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim, no. 5318).

Kondisi seorang mukmin tidak terlepas dari dua kondisi, kondiri ketika ia diberi nikmat hendaknya ia bersyukur dan kondisi ketika ia diberi musibah maka ia harus bersabar. Semoga Allah memberika kepada kita kesabaran ketika tertimpa musibah dan bersyukur ketika diberikan nikmat yang melimpah.

Cianjur, 2 Juni 2022


Leave a Comment