IBNU JAUZI rahimahullah DAN MASA MUDA

 368 total views,  2 views today

Oleh Ust. Abu Rufaydah, Lc. MA

Semoga Allah merahmati Abu Faraj Abdurrahman ibn al-Jauzi (wafat 597 H) yang dikenal dengan Ibnu Jauzi, ketika dia menjelaskan keseriusannya dalam menuntut ilmu, dan dia menghabiskan masa mudanya untuk meraihnya. Dia menyinggung nikmatnya menggeluti ilmu tersebut, saat ia berusia setengah banya dan telah sempurna ilmunya. Dia berkata dalam salah satu kitabnya Shaidul Khatir, II hal, 329,

“Barangsiapa menghabiskan masa mudanya untuk ilmu, maka pada masa tuanya nanti ia akan memuji hasil dari apa yang telah ia tanam. Ia akan menikmati hasil karya yang telah ia himpun. Dia tidak akan menggubris hilangny kenyamanan fisik yang ia alami, setelah ia melihat kelezatan ilmu yang ia raih. Disamping itu, ia juga akan merasakan kelezatan dalam mencarinya, yang dengannya ia berharap mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan, bisa jadi berbagai upaya mendapatkan ilmu tersebut lebih terasa nikmat dari pada hasil yang telah ia raih. Sebagaimana seorang penyair berkata:

Aku berjingkrak-jingkrak saat berharap mendapatkana

Terkadang impian lebih manis daripada keberhasilan

Aku merenungi keadaan diriku, membandingkannya dengan kondisi keluargaku yang banyak menghabiskan umur mereka untuk meraih dunia. Aku menghabiskan masa kecilku dan masa mudaku untuk mencari ilmu. Aku merasa tidak kehilangan sesuatu seperti yang mereka peroleh, kecuali sesuatu yang seandaiknya aku meraihnya, justru aku menyesalinya. Kemudian aku merenungi keadaanku, dan aku merasa hidupku di dunia ini lebih baik daripada kehidupan mereka, dan kedudukanku lebih tinggi di banding kedudukan mereka. Ilmu yang aku dapatkan pun tidak ternilai harganya.

Ibnu Jauzi menuturkan dalam kitab yang sama tentang semangatnya dalam membaca, “Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika aku menemukan buku yang belum aku lihat, maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat catalog buku-buku wakaf di Madrasah an Nadhamiyyah yang terdiri dari 6.000 jilid buku. Aku juga melihat catalog buku Abu Hanifah, Al-Humaidi, Abdul Wahhab ibn Nashir dan yang terakhir Abu Muhammad ibn Khasysyab. Aku pernah membaca semua buku tersebut serta buku lainnya. Aku pernah membaca 200.000 jilid buku lebih. Sampai sekarang aku masih terus mencari ilmu.

Al-Muwaffaq Abdul Lathif mengatakan dalam karyanya, “Ibnu Jauzi adalah yang lembut rupanya, manis sifat-sifatnya, bagus suaranya, gerak dan kata-katanya berirama, enak humornya. Majlisnya dihadiri oleh ratusan ribu orang atau lebih. Dia tidak menyia-nyiakan waktu sedikit pun dari waktnya, menulis dalam sehari sebanyak empat buku. Dia memiliki sumbangsing dalam segala bidang ilmu, dia adalah tokoh dalam bidang tafsir, salah satu penghafal dibidang hadits, salah seorang yang memiliki pengetahuan luas mengenai sejarah, dan dia memiliki fiqh yang memadai. Adapun tentang nasihat , maka dia memiliki kemampuan mengolah kata yang indah. Dia juga memiliki kitab Al-Luqath  yang berisi tentang kedokteran sebanyak dua jilid.  (Siar A’lam an Nubalaa, 21/378).

 

 

Leave a Comment