![]()
Cara kelima untuk mempengaruhi akal anak adalah dengan Mengarahkan Anak untuk Meneladani Rasulullah.
Dari Abdullah ibn Abbas Radhiallahu Anhuma : “Aku menginap di rumah bibiku Maimunah. Pada sebagian malam, Rasulullah bangun untuk shalat. Beliau menuju ke tempat kendi yang digantung. Disana beliau berwudhu dengan wudhu yang ringan. Setelah itu, beliau shalat. Aku pun bangun dan berwudhu. Aku melakukan sama persis yang beliau lakukan. Kemudia aku berdiri di samping beliau. Namun, beliau memindahkanku kesamping kanan beliau. Kemudia beliau shalat beberapa rakaat. Setelah itu beliau berbaring hingga tertidur sampai mengdengkur. Kemudian datanglah muuazin yang memberitahukan bahwa waktu shalat subuh telah tiba. Beliau keluar rumah dan shalat. (HR. Ibnu Khuzaimah 3/17).
Diriwayat lain : Aku menginap di rumah bibiku Maimunah agar aku dapat memperhatikan bagaimana Rasulullah mengerjakan shalat..
Ayah dan bunda, satu hal yang hilang pada pendidikan kita adalah keteladanan. Hilangnya keteladanan pada pendidikan kita sangat berdampak pada akhlak dan adab seorang anak. Untuk menumbuhkan kembali keteladanan ini yaitu dengan mempelajari keteladanan Rasulullah. Jika kita kembali kepada al-Qur’an, maka ada dua Nabi yang Allah sebutkan sebagai suri tauladan, yaitu Nabi Muhammad pada surat al-Ahzab ayat 21 dan Nabi Ibrahim pada surat al-Mumtahah ayat 4.
Keterikatan anak pada Rasulullah membuatnya menjadi manusia yang sempurna. Karena, pikirannya menjadi terbuka untuk mempelajari jalan hidup pemimpin para rasul, pemimpin seluruh umat manusia dan kekasih Allah. Akalnya akan diterangi oleh cahaya keimanan. Dengan memahami sejarah hidup yang mulia ini, anak akan mengangkat kepalanya dengan bangga sebagai pengikut setia Rasulullah.
Orang-orang Barat tahu bagaimana cara merusak akal anak, mereka membuat tokoh-tokoh fiktif atau membuat acara-acara yang dapat menarik perhatian anak. Dengan begitu anak akan mengidolakan dan meneladani tokoh yang mereka perankan.
Dengan semikian kita menjadi paham pentingnya mengikat akal anak dengan pribadi Rasulullah. Kita cukup dengan menceritakan sejarah hidup beliau, akhlak beliau dan berbagai pertempuran yang beliau lakukan di hadapan anak, dengan rangka memupuk rasa cinta mereka kepada nabinya, meneladani rasulnya dan mecontoh perilaku Nabi, serta menjauhkan diri dari tokoh-tokoh maksiat.
Sa’ad ibn Abi Waqqos Radhiallahu Anhu berkata : “Kami mengajari anak-anak kami tentang sejarah peperangan Rasulullah sebagaimana kami mengajari mereka surat al-Qur’an”.
Baarakallahu Fiik.
📝 Abu Rufaydah Endang Hermawan