ADAB MAKAN

Loading

 

  1. ADAB SEBELUM MAKAN
  2. Niat yang benar.
  3. Berusaha mencari makanan yang halal. [1]
  4. Tidak makan ketika perut masih kenyang.
  5. Memenuhi undangan makan .
  6. Tidak makan dengan menggunakan bejana emas dan perak.[2] [3]
  7. Mengajak makan orang yang hadir.
  8. Mengajak pembantu untuk ikut makan atau memberinya makanan tersebut .[4]
  9. Sikap rendah hati. [5] [6]
  10. Mengikut sertakan tetangga untuk mencicipi makanan. [7] [8] [9] [10]
  11. Memasak makanan untuk teman-teman dan orang banyak. [11] [12]
  12. Tidak berlebih-lebihan. [13]
  13. ADAB KETIKA MAKAN
  14. Berkumpul dan memperbanyak orang ketika makan. [14] [15]
  15. Mencuci tangan sebelum makan.
  16. Menunggu makanan yang panas hingga menjadi dingin. [16]
  17. Tidak meremehkan makanan.
  18. Tidak mencela makanan.[17]
  19. Menyebut nama Allah ketika makan.[18] [19]
  20. Membaca basmallah ketika hendak makan. [20] [21] [22] [23]
  21. Jangan terburu-buru memulai makan.
  22. Terlebih dahulu mencicipi buah-buahan. [24]
  23. Makan dengan tangan kanan. [25] [26]
  24. Makan dengan tiga jari. [27]
  25. Makanlah makanan yang terdekat.
  26. Makan dari bagian pinggir makanan dan tidak memulainya dari bagian tengah.[28]
  27. Mengunyah makanan dengan baik.
  28. Memperkecil suapan.
  29. Tidak tergesa-gesa ketika makan.
  30. Berhati-hati terhadap sesuatu yang berbahaya yang terdapat dalam makanan.
  31. Tidak duduk bertelekan. [29]
  32. Tidak makan dalam posisi telungkup. [30]
  33. Menjauhkan hal-hal yang dapat mengganggu orang-orang yang sedang makan.
  34. Tidak memperhatikan orang-orang yang sedang makan.
  35. Tidak membuka bibir ketika mengunyah makanan.
  36. Tidak mengambil dua kurma sekaligus. [31]
  37. Memungut makanan yang terjatuh di lantai. [32] [33]
  38. Tidak mencampur antara kulit, biji, dan isi pada satu tempat
  39. Apabila lalat terjatuh di dalam gelas. [34]
  40. Menyuapi istri dengan tangannya.[35]
  41. Menyuguhkan makanan di hadapan para hadirin.
  42. Mempersilakan para hadirin untuk mencicipi hidangan.[36]
  43. Mendahulukan orang lain dari pada diri sendiri.[37]
  44. Tidak berlebihan ketika makan. [38] [39] [40]
  45. Menjilati piring.
  46. Menjilati jari. [41] [42] [43]
  47. Tidak membersihkan tangan dengan roti.
  48. ADAB SETELAH MAKAN.
  49. Bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya.[44] [45] [46] [47] [48]
  50. Mendo’akan orang yang menjamu. [49] [50]
  51. Mencuci mulut dan berkumur-kumur setelah makan. [51]
  52. Membersihkan gigi.
  53. Mencuci kedua tangan. [52]
  54. Bersiwak (bersugi).
  55. tidak duduk berlama-lama setelah makan. [53]
  56. Berwudlu setelah makan daging unta. [54]
  57. Tidak membawa makanan ketika beranjak pulang.
  58. Tidak langsung tidur setelah makan.
  59. ADAB YANG BERKAITAN DENGAN MAKANAN
  60. Tidak makan bawang putih dan bawang merah (termasuk durian, petai, jengkol dsb) sebelum shalat. [55] [56]
  61. Tidak makan di jalan.
  62. Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. [57] [58]

 

Disadur dari kitab Mausu’atul Adab secara ringkas

 

📝 Abu Rufaydah

📚 Artikel ini disebarluaskan oleh

@CKS (Cianjur kota Santri).

🌍www.cianjurkotasantri.com/wp/wp.

🌐 IG, FP . Cianjurkotasantri

join Telegram  klik : Bit.ly/1S79GTK

📱 Atau Via WA ketik Nama#L/p#alamat# kirim ke 085624098804

 

[1] QS. Al-Mu’minuun: 51, QS. Al- Baqarah: 172

[2] HR. Al-Bukari 5634 dan Muslim 2065 dari Ummu Salamah

[3] HR. Al- Bukhari 5426, 4632, 5633 dan Muslim 2067 dari Hudzaifah

[4] HR. Al-Bukhari 2557, 5460 dan Muslim 1663 dari Abu Hurairah

[5] HR. Abu Ya’la dalam Musnadnya 4899, al-Baghawi dalam Syarhus Sunnahnya 3683, dan lain-lain dari ‘Aisyah. Tercantum pula dalam kitab Shahiihul jamii’ 7

[6] QS. An-Nahl: 23

[7] Penulis kitab al-Mujma’ VIII/165 berkata: “Diriwayatkan ole hath-Thabrani dalam al-Ausath. Di dalam sanadnya terdapat ‘Ubaidillah bin Sa’id penuntun al-‘Amasy. Ia ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban, namun yang lain mendhaifkannya, sementara perawi lain tsiqah. Hadits ini dicantumkan al-Albani dalam Shahiihul Jamii’ 676

[8] HR. Al-Bukhari 2566, 6017 dan Muslim 1020 dari Abu Hurairah

[9] An-Nihaayah karya Ibnu Atsir III/429

[10] Ath-Thabrani dalam al-Kabiir XII/154/12741, al-Hakim IV/167 dan ia menshahihkan hadits ini serta disetujui oleh adz-Dzahabi, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad hlm. 20, 72, al-Baihaqi dalam al-Kubraa X/3, dan lain-lain dari hadits Ibnu ‘Abbas. Lihat kitab Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah 148

[11] HR. Ibnu Majah 3252, Ibnu ‘Adi dalam al-Kaamil III/267, al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab 8750, dan lain-lain dari Ibnu ‘Umar. Hadits ini juga tercantum dalam Shahiihul Jamii’ 1089

[12] Al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab 8750. Ia cantumkan dalam hadits ini dalam Shahiihul Jamii’ 1096 dan menisbatkannya kepada Ibnu Abid Dun-ya tentang melepaskan kesulitan orang lain dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu ‘Adi dari Ibnu ‘Umar

[13] QS. Al-A’raf: 31

[14] Ahmad III/501, Abu Dawud 3763, Ibnu Majah 3286, Ibnu Hibban VII/337/h 5201, dan al-Hakim II/102 dari Wahsyi bin Harb. Lihat kitab Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah 664

[15] HR. Muslim 2059ndari Jabir

[16] HR. Ahmad VI/350, ad-Darimi II/100, Ibnu Hibban VII/321/h 5184, Abu Nu’aim dalam kitabnya al-Hilyah VIII/177, al-Baihaqi dalam asy-Syu’bah 5909 dari Asma’. Lihat kitab Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah 659

[17] HR. Al-Bukhari 3563, 5409 dan Muslim 2064 dari Abu Hurairah

[18] HR. Ahmad I/220, Abu Dawud 3730, at-Tirmidzi 3455 dan ia menghasankan hadit ini, Ibnu Majah 3222, dan lain-lain dari Ibnu ‘Abbas. Lihat  Shahiihul Jamii’ 381

[19] HR. Abu Dawud 2357, al-Hakim I/422 dan ia menshahihkan hadits ini serta disetujui oleh adz-Dzahabi dari hadits Ibnu ‘Umar. Lihat Shahiihul Jaami’ 4678

[20] HR. Abu Dawud 2357, al-Hakim I/422 dan ia menshahihkan serta disetujui oleh adz-Dzahabi dari hadits Ibnu ‘Umar. Lihat Shahiihul Jaami’ 4678

[21] HR. Abu Dawud 3767, at-Tirmidzi 1858 dan ia menshahihkannya, al-Hakim IV/107 dan ia menshahihkannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi dari hadits ‘Aisyah. Lihat dalan Shahiihul Jaami’ 380

[22]HR. Ahmad IV/62 dari seorang  laki-laki dari kalangan sahabat. Lihat Shahiihul Jaami’ 3768

[23] QS. Al-A’raaf: 158, QS. Al-Ahzab: 21

[24] QS. Al-Waaqi’ah: 20-21

[25] HR. Muslim 2020 dari Ibnu ‘Umar

[26] HR. Muslim 2021 dari Salamah bin al-Akwa’

[27] HR. Muslim 2032 dari Ka’ab bin Malik

[28] HR. Ahmad I/270, al-Baihaqi dalam al-Kubraa VII/278, dan lain-lain dari Ibnu ‘Abbas. Lihat Shahiihul Jaami’ 4502

[29] HR. Al-Bukhari 5398, 5399 dari Abu Juhaifah

[30] HR. Abu Dawud 3774, Ibnu Majah 3370, dan lain-lain dari Ibnu ‘Umar. Lihat Shahiihul Jaami’ 6874

[31] Al-Khathib dalam tarikhnya VII/180 dan lain-lain dari Ibnu ‘Umar dengan sanad marfu’. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ 6088. Dalam riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain tercantum larangan memakan dua kurma sekaligus

[32] HR. Muslim 2034 dari Anas bin Malik. Yuslit artinya mengutip (mengambil) makanan yang tersisa dengan jari, dengan cara mengusapnya

[33] HR. At-Tirmidzi 1802 dari Jabir. Lihat kitab Shahiihul Jaami’ 378

[34] HR. Al-Bukhari 3320, 5782 dari Abu Hurairah

[35] HR. Al-Bukhari 1295 dan Muslim 1628 dari Sa’ad

[36] QS. Adz-Dzariyat: 27

[37] QS. Al-Hasyr: 9

[38] HR. Al-Bukhari 5393, 5394 dan Muslim 2060 dari Ibnu ‘Umar

[39] HR. Ahmad II/ 132, at-Tirmidzi 2380 dan ia menshahihkannya, Ibnu Majah 3349, al-Hakim IV/331 dan ia menshahihkannya serta disepakati oleh adz-Dzahabi, dan lain-lain dari Al-Miqdam. Lihat kitab Shahiihul Jaami’ 5674

[40] HR. Ahmad II/181, an-Nasa-I V/79, Ibnu Majah 3605, al-Hakim IV/135 dan ia menshahihkannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi. Semua sanadnya berasal dari Ibnu ‘Amr. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ 4505. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dengan sanad mu’allaq dalam bentuk jazm pada awal kitab al-Libaas

[41] HR. Muslim 2034 dari Anas bin Malik

[42] HR. Muslim 2032 dari Ka’ab bin Malik

[43] HR. Al-Bukhari 5456 dan Muslim 2031 dari Ibnu ‘Abbas

[44] HR. Abu Dawud 3751, an-Nasa-i dalam al-Kubraa VI/10117/I serta Ibnu Hibban 5197 dan ia menghasankannya. Hadits ini dari Abu Ayyub. Tercantum pula dalam kitab Shahiihul Jaami’ 4671

[45] HR. Al-Bukhari 5458, 5459 dari Abu Umamah

[46] Fat-hul Baari IX/493, 494

[47] HR. Ahmad III/439, Abu Dawud 4023, at-Tirmidzi 3458 dan ia menghasankannya, Ibnu Majah 3285, al-Hakim I/508 dan ia menshahihkannya serta disepakati oleh adz-Dzahabi dari hadits Mu’adz bin Anas. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ 6076

[48] HR. Muslim 2734 dari Anas

[49] HR. Ahmad III/118, an-Nasa-I dalam al-Kubraa VI/10128/2, al-Baihaqi dalam al-Kubraa III/239, dan lain-lain dari Anas bin Malik. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ 6541

[50] HR. Ahmad III/138, Abu Dawud 3854, an-Nasa-I dalam al-Kubraa VI/10129/II dari Anas bin Malik. Tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ 1226

[51] HR. Al-Bukhari 5454 dari Suwaid bin An-Nu’man

[52] HR. Ahmad II/263, Abu Dawud 3852, at-Tirmidzi 1860 dan ia menghasankannya, Ibnu Majah 3297 dan lain-lain dari Abu Hurairah. Tertera dalam kitab Shahiihul Jaami’ 6115, 6564

[53]QS. Al-Ahzab: 53

[54] HR. Muslim 360 dari Jabir bin Samurah

[55] HR. Al-Bukhari 885, 5452, 7359 dan Muslim 564 dari Jabir

[56] HR. Muslim 564 dari Jabir

[57] QS. Al-Baqarah: 172. QS. Saba: 13

[58] Referensi tambahan: Aadaabul Akl Karya Ibnu ‘Ammad al-Aqfasi, Fat-hul Baari Syarh shahiihil Bukhari IX/427 dan seterusnya, Shahiih Muslim dengan Syarah an-Nawai XIII/294 dan seterusnya, al-Ihsan bi Tartiibi Shahiih Ibni Hibban VII/321 dan seterusnya, Sunan Abi Dawud IV/123 dan seterusnya, Sunan Ibni Majah II/1083 dan seterusnya, Riyaadhush Shaalihiin hlm. 338 dan seterusnya, al-Aadaab karya al-Baihaqi 236-211 dan seterusnya, Adabud Dunya wad Diin hlm. 335 dan seterusnya, Tanbiihul Ghaafiliin karya an-Nuhas hlm. 257 dan seterusnya dan lain-lain.

Leave a Comment