ADA APA DENGAN BULAN SHAFAR ?

 407 total views,  2 views today

ADA APA DENGAN BULAN SHAFAR ?

Oleh Abu Rufaydah

Bulan ini dinamakan Shafar (kosong/nol) karena kota Makkah (seolah-olah) kosong dari penghuninya apabila orang-orang bersafar. Dinamakan juga Shafar karena dahul memerangi kabilah-kabilah lalu ditinggalkan begitu saja karena tidak memiliki barang apapun (untjk dijarah). (Ibnu Mundzir, Lisaanul Arab, IV/462-463)

Masyarakat jahiliah juga menganggap bulan ini sebagai bulan sial. Mereka tidak berani mengadakan acara penting dan perjalanan jauh di bulan ini. Ketika Islam datang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus keyakinan ini.

Di masyarakat Indonesia ada keyakinan dan ritual di Rebo Wekasan. Mereka beranggapan bahwa pada bulan ini Allah menurunkan 360.000 macam malapetaka dan 20.000 macam bencana kebumi dan semua itu terjadi pada hari rabu terkahir di bulan shafar. Jika sekiranya berita ini benar adanya tentunya akan ada ayat atau hadits yang menerangkan perihal diatas.

Hadis sahih seputar bulan Shafar

  1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada penyakit menular, tidak ada shafar, dan tidak ada hammah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
  2. Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada penyakit menular, tidak ada shafar. Allah menciptakan segala sesuatu serta Allah tetapkan jatah usianya, rezekinya, dan musibahnya.” (HR. Ahmad dan At-Turmudzi; dinilai sahih oleh Al-Albani).

Keterangan:
Perselisihan ulama tentang makna kata ”shafar” dalam hadis

  1. Makna “shafar” pada hadis di atas adalah ‘penyakit yang merusak perut, yang bentuknya seperti cacing’. Menurut orang Arab, penyakit ini lebih parah dibandingkan kudis. Mereka meyakini, barang siapa yang terkena penyakit shafar, pasti sebentar lagi akan mati. Adapun kaitannya dengan makna hadis “tidak ada shafar” adalah untuk menolak keyakinan masyarakat jahiliah, bahwa setiap yang terkena shafar pasti mati. (lihat Fathul Baari, X/188).
  2. Makna “shafar” pada hadis di atas adalah bulan Shafar (bulan kedua di tahun qamariah). Ulama, yang memilih pendapat ini, berselisih pendapat tentang makna “tidak ada shafar”:

▶ Maksudnya, bahwa masyarakat jahiliah dilarang untuk berperang di “bulan haram”, salah satunya adalah bulan Muharram. Namun, jika perang mereka belum selesai ketika hilal bulan Muharram tiba, mereka membuat aturan sendiri dengan tetap melanjutkan peperangan, dan mereka menunda larangan perang ke bulan Shafar. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghilangkan aturan penundaan ini. Keterangan ini adalah pendapat Imam Malik bin Anas rahimahullah.

⏩ Masyarakat jahiliah memiliki keyakinan tentang kesialan tentang bulan Shafar. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus keyakinan ini. Keterangan ini merupakan pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Rajab.

Diausun oleh Abu Rufaydah Endang Hermawan Unib

📚 Artikel ini disebarluaskan oleh
@CKS (Cianjur kota Santri).
🌍www.cianjurkotasantri.com/wp/wp.
🌐 IG, FP . Cianjurkotasantri
👉 join Telegram klik : Bit.ly/1S79GTK

📱 Atau Via WA dengan mengetik Daftar#Nama#L/P#Alamat kirim ke +6285938500004

Leave a Comment