5 KONSEP BERAGAMA YANG BENAR

Loading

5 KONSEP BERAGAMA

Oleh Abu Rufaydah

Agama islam datang dari Dzat Yang Maha Sempurna dan dibawa oleh Nabi Muhammad yang mulia. Dari generasi ke generasi berikutnya islam terjaga dengan baik, sekalipun setelahnya banyak bermunculan pemahaman dan aliran beragama yang menyesatkan. Justru dengan begitu akan terlihat siapa yang tunduk kepada syariát dan siapa yang tunduk kepada hawa nafsu.

Sejak meninggalnya Khalifah Umar bin Khaththab –radhiallahu anhu- maka pintu-pintu fithan semakin terbuka. Muncullah firqoh-firqoh sesat dan menyesatkan seperti Qodariyyah, Mu’tazilah, Syiáh dan kelompok lainnya. Jika zaman Para Sahabat dan Genasi Terbaik saja banyak bermunculan pemikiran-pemikiran yang sesat dan menyesatkan, apalagi di zaman digitalisasi seperti sekarang semakin tak terbendung.

5 konsep beragama yang benar ini memudahkan bagi orang awam yang tidak memiliki ilmu yang memadai untuk bersikap di tengah gelombang arus beragam pemikiran dan idiologi menyesatkan. Karena itulah Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berpegang teguh dengan al-Qurán dan As-Sunnah sesuai pemhaman para sabahat;

  1. ISLAM DI BANGUN DI ATAS DALIL
    Ya…tidak ada kelompok yang menisbatkan kepada islam kecuali berdalil dengan al-Qurán atau As-Sunnah, yang mengherankan justru ada kelompok yang menisbatkan ke dalam islam namun tidak dibangun di atas dalil yang Shahih. Dalil atau sumber beragama yang disepakati oleh para ulama yaitu Al-Qurán, As-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Namun apa yang menyebabkan mereka bebeda dan berpecah belah, karena mereka tidak dibangun di atas pemahaman para sahabat.
    Jika berdalil dengan al-Qurán dan As-Sunnah bisa menyimpang karena tidak sesuai dengan pemahaman para sahabat bagaimana pula jika cara beragama mereka tidak dibangun di atas dalil yang shahih seperti di atas. Ada kelompok yang berdalil melalui mimpi syaikh atau imamnya, tentu ini keliru dan menyimpang.
  2. ISLAM DI BANGUN DI ATAS TAUHID
    Selapantasnya bagi umat islam memiliki perhatian yang sangat bersat terhadap tauhid, di tengah masyarakat yang hanya tahu tentang pembatal-pembatal wudhu, shalat atau puasa, namun minim pengetahuan mereka tentang hakikat tauhid, aqidah, syirik dan bi’dah.
    Membaca al-Qurán atau As-Sunnah akan kita dapati bagimana kandungan di dalamnya membahas tema-tema aqidah atau tauhid, contohnya ayat yang paling mulia adalah ayat kursi jika kita baca dan pahami maknanya maka akan kita dapat semua kandungan ayat tersebut berkaitan dengan tauhid. Surat yang paling pendek seperti al Ikhlas atau Al-Kautsar tidak luput dari pembahasan tauhid. Lebih dari itu bahkan inti dari bahasan al-Qurán adalah tentang Tauhid.
  3. DALAM MENYAKINI, MENGUCAPKAN DAN MENGAMALKAN HARUS DI ATAS ILMU
    Saat ini setiap orang mudah berbicara dan membuat konten di ranah pablik. Peran media sosial tidak bisa dihindari dampaknya. Namun agama islam dibangun di atas ilmu. Sehingga setiap keyakinan, perkataan atau perbuatan harus di landasi dengan ilmu. Jika kita melihat dan memperhatikan bagaimana Nabi Muhammad –Shalallahu Alaihi Wasaallam– mengajarkan para sahabatnya tentang hakikat beragama pasti dibangun di atas dalil dan ilmu. Tidak ada yang lupu dari perhatian Nabi dalam mengajarkan agama ini. Bahkan Sahabat Abu Darda menyampaikan bahwa burung yang terbang saja ada ilmu yang Nabi sampaikan.
  4. MEMAHAMI DALIL SESUAI PEMAHAMAN PARA SAHABAT
    Para sahabat memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam agama islam. Al-Qurán dan Hadits berbicara banyak tentang keutamaan mereka. Pujian itu sebanding dengan besarnya peran para sahabat dalam menyebarkan agama islam. Para sahabat tidak saja membersamai Nabi dalam segala aktifitasnya, lebih dari itu mereka meneladani Nabi dalam beragama. Karena itulah mush-musuh islam berusaha merusak agama islam dengan mencela para sahabat, salah satunya adalah sakte syiáh rafidhoh. Mereka menyakini bahwa semua sahabat selain Ali bin Abi Talib dihukumi dengan kafir. Tentunya keyakinan ini memiliki dampak kepada kemurnian agam islam menjadi hilang. Karena referensi agam ini bersumber dari para sahabat.
  5. MENGIKUTI NABI DAN TIDAK MENYELISIHINYA.
    Bukti mencintai adalah dengan mengikuti. Tidak ada kecintaan kepada Nabi melebihi cintanya para sahabat kepadanya. Sirah para sahabat membuktikan bagaimana mereka mencintai Nabi dengan mengikutinya. Tidak saja dalam masalah agama bahkan mereka dalam perkara sederhanapun ingin mirip dengan Nabi. Orang yang menyelisihi Nabi membuktikan bahwa cinta kepadanya tidak murni. Sekalipun bentuk penyelisihan itu bertingkat-tingkat.
    Tidak ada orang yang mutlak untuk diikuti kecuali Nabi, jika kita mengikuti selain Nabi maka ikutilah dia dalam kebenaran, jangan mengikuti kebenaran karena orang.

Semoga penyampaian yang sederhana ini bermanfaat. Aamiin

Leave a Comment