10 CATATAN PENTING TENTANG KURBAN

 3,425 total views,  2 views today

10 CATATAN PENTING TENTANG KURBAN
Oleh Abu Rufaydah

  1. Istilah kurban lebih umum dari udhiyah. Kurban adalah segala bentuk pendekatan diri pada Allah yang dilaksanakan pada hari idul Adha dan hari Tsayrik dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.[1]
  2. Dalil disyariatkannya Kurban
    Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

 “Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2).
Di antara tafsiran ayat ini adalah “berkurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”.(Lihat Zaadul Masiir, 9: 249).

‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (kurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)

Ulama telah sepakat tentang disyari’atkannya berkurban. (al-Hawi lil Marudi, 19/83).

  1. Keutamaan Kurban

Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (kurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)

Hadis di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (dhaif Ibn Majah, 671). Namun kegoncangan hadist di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berkurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan kurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan kurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan kurban. Karena maksud terpenting dalam berkurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih kurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah (lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/379 & Syarhul Mumthi’, 7/521).

Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.”

  1. Hukum Kurban.

Hukum kurban dalam madzhab Syafi’I yaitu Sunnah Muakkad.[2] Pendapat ini pula yang dipegang oleh Jumhur Ulama.[3] Dalilnya;

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً

“Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut dan kulit yang tumbuh rambut sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1977)

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini adalah dalil bahwasanya hukum udhiyah tidaklah wajib karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian ingin menyembelih kurban …”. Seandainya menyembelih udhiyah itu wajib, beliau akan bersabda, “Janganlah memotong rambut badannya hingga ia berqurban (tanpa didahului dengan kata-kata: Jika kalian ingin …”.”[4]

Dari Abu Suraihah, ia berkata, “Aku pernah melihat Abu Bakr dan ‘Umar tidak berqurban.” (HR. Abdur Rozaq). Ibnu Juraij berkata bahwa beliau berkata kepada ‘Atho’, “Apakah menyembelih qurban itu wajib bagi manusia?” Ia menjawab, “Tidak. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkurban.” (HR. Abdur Rozaq)

  1. Hikmah dan Manfaat disyari’atkannya Kurban.
  • Mencontoh Nabi Ibrahim.
  • Mencukupkan orang lain.
  • Ungkapan rasa syukur.
  • Bukti ketaqwaan.
  • Memberikan kegembiraan pada hari qurban.
  • Menampakkan syiar islam.
  • Mengikuti sebagain amalan jamaah haji.
  1. Ketentuan Hewan Kurban

Hewan yang digunakan untuk kurban adalah unta, sapi (termasuk kerbau), dan kambing.[5]

  • Seekor kambing hanya untuk kurban satu orang dan boleh pahalanya diniatkan untuk seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia. kambing, umur minimal 1 tahun dan domba jadza’ah, umur minimal 6 bulan.
  • Seekor sapi boleh dijadikan qurban untuk 7 orang. Umur minimal 2 tahun
  • Sedangkan seekor unta untuk 10 orang (atau 7 orang menurut pendapat yang lainnya). Umur minimal 5 tahun;

Yang paling dianjurkan sebagai hewan kurban adalah yang paling gemuk dan sempurna.[6]

  • Hewan kurban yang lebih utama adalah unta, kemudian sapi, kemudian kambing.
  • Namun satu ekor kambing lebih baik daripada kolektif dalam sapi atau unta,
  • Warna yang paling utama adalah putih polos, kemudian warna debu (abu-abu), kemudian warna hitam.
  • Berkurban dengan hewan jantan lebih utama dari hewan betina.

Cacat hewan kurban dibagi menjadi 3:

  1. Cacat yang menyebabkan tidak sah untuk berqurban, ada 4:
  • Buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya
  • Sakit dan tampak jelas sakitnya
  • Pincang dan tampak jelas pincangnya
  • Sangat tua sampai-sampai tidak punya sumsum tulang
  1. Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban, ada 2:
    • Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong
    • Tanduknya pecah atau patah
    • Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban (boleh dijadikan untuk qurban) namun kurang sempurna.

Selain 6 jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu maka tidak berpengaruh pada status hewan qurban. Misalnya tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung.[7]

  1. Tuntunan Penyembelihan Kurban
    • Syarat hewan qurban, Yaitu hewan tersebut masih dalam keadaan hidup ketika penyembelihan, bukan dalam keadaan bangkai (sudah mati).
    • Syarat orang yang akan menyembelih:
      1. berakal, baik laki-laki maupun perempuan, sudah baligh atau belum baligh asalkan sudah tamyiz,
      2. yang menyembelih adalah seorang muslim atau ahli kitab (Yahudi atau Nashrani),
      3. Menyebut nama Allah ketika menyembelih.

Perhatian: Sembelihan ahlul kitab bisa halal selama diketahui kalau mereka tidak menyebut nama selain Allah. Jika diketahui mereka menyebut nama selain Allah ketika menyembelih, semisal mereka menyembelih atas nama Isa Al Masih, ‘Udzair atau berhala, maka pada saat ini sembelihan mereka menjadi tidak halal.

  • Syarat alat untuk menyembelih: (1) menggunakan alat pemotong, baik dari besi atau selainnya, baik tajam atau tumpul asalkan bisa memotong, (2) tidak menggunakan tulang dan kuku.
  • Adab dalam penyembelihan hewan: (1) berbuat baik terhadap hewan, (2) membaringkan hewan di sisi sebelah kiri, memegang pisau dengan tangan kanan dan menahan kepala hewan ketika menyembelih, (3) meletakkan kaki di sisi leher hewan, (4) menghadapkan hewan ke arah kiblat, (5) mengucapkan tasmiyah (basmalah) dan takbir.

Ketika akan menyembelih disyari’atkan membaca “bismillaahi wallaahu akbar, hadza minka wa laka” atau ”hadza minka wa laka ’annii atau ’an fulan (disebutkan nama shahibul kurban)” atau berdoa agar Allah menerima qurbannya dengan doa, ”Allahumma taqabbal minnii (Semoga Allah menerima qurbanku) atau min fulan (disebutkan nama shahibul qurban).

  1. Niatan Kurban untuk Mayit

Para ulama berselisih pendapat mengenai kesahan qurban untuk mayit jika bukan karena wasiat. Dalam madzhab Syafi’i, qurbannya tidak sah kecuali jika ada wasiat dari mayit. Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Minhaj, “Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk qurban tersebut.”

Yang masih dibolehkan adalah berqurban untuk mayit namun sebagai ikutan. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya termasuk yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Dasarnya adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban untuk dirinya dan keluarganya, termasuk di dalamnya yang telah meninggal dunia.[8]

  1. Waktu Penyembelihan Kurban

Para ulama sepakat bahwa menyembelih hewan Qurban tidak boleh dilakukan sebelum terbit fajar pada hari idul adha.[9]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum shalat (Idul Adha), maka ia berarti menyembelih untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang menyembelih setelah shalat (Idul Adha), maka ia telah menyempurnakan manasiknya dan ia telah melakukan sunnah kaum muslimin.” (HR. Bukhari)

Sedangkan mengenai waktu akhir dari penyembelihan qurban, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah menjelaskan, “Yang hati-hati bagi seseorang muslim bagi agamanya adalah melaksanakan penyembelihan qurban pada hari Idul Adha (10 Dzulhijjah) sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dan hal ini lebih selamat dari perselisihan para ulama yang ada. Jika sulit melakukan pada waktu tersebut, maka boleh melakukannya pada 11 dan 12 Dzulhijjah sebagaimana pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Wallahu a’lam.” Sedangkan yang menyatakan bahwa waktu penyembelihan pada seluruh hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dibangun di atas riwayat yang dho’if.[10]

  1. Pembagian Sepertiga dari Hasil Kurban

Hasil sembelihan kurban dianjurkan dimakan oleh shohibul Kurban. Sebagian lainnya diberikan kepada faqir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari itu. Sebagian lagi diberikan kepada kerabat agar lebih mempererat tali silaturahmi. Sebagian lagi diberikan pada tetangga dalam rangka berbuat baik. Juga sebagian lagi diberikan pada saudara muslim lainnya agar semakin memperkuat ukhuwah.”[11]

Adapun daging hasil sembelihan Kurban, maka lebih utama sepertiganya dimakan oleh shohibul qurban; sepertiganya lagi dihadiahkan pada kerabat, tetangga, dan sahabat dekat; serta sepertiganya lagi disedekahkan kepada fakir miskin. Namun jika lebih/ kurang dari sepertiga atau diserahkan pada sebagian orang tanpa lainnya (misalnya hanya diberikan pada orang miskin saja tanpa yang lainnya, pen), maka itu juga tetap diperbolehkan. Dalam masalah ini ada kelonggaran.”[12]

  1. Larangan dalam Kurban.
  • Tidak boleh menjual Hewan Kurban. Jika seseorang telah membeli hewan Kurban maka tidak boleh baginya menjualnya.[13]

Imam Syafi’i juga berkata,” Jika ada yang bertanya kenapa dilarang menjual daging qurban padahal boleh dimakan? Jawabnya, hewan qurban adalah persembahan untuk Allah. Setelah hewan itu dipersembahkan untukNya, manusia pemilik hewan tidak punya wewenang apapun atas hewan tersebut, karena telah menjadi milik Allah. Maka Allah hanya mengizinkan daging hewan untuk dimakan. Maka hukum menjualnya tetap dilarang karena hewan itu bukan lagi menjadi milik yang berqurban”. Oleh karena itu para ulama melarang menjual bagian apapun dari hewan qurban yang telah disembelih; daging, kulit, kikil, gajih, kepala dan anggota tubuh lainnya. Mereka melarangnya berdasarkan dalil, di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka qurbannya tidak diterima.” (HR. Hakim dan Baihaqi, shahih)

  • Tidak boleh Menjual bagian hewan Kurban seperti daging dan kulitnya. Para ulama sepakat bolehnya memanfaatkan kulit hewan Kurban untuk keperluan seperti membuat sepatu, sandal dan yang lainnya, tapi tidak boleh dijual.[14]
  • Memberi upah tukang jagal dari hewan qurban. Jika jagal diberi upah bagian dari hewan yang disembelih sebagai bentuk hadiah maka tidak mengapa, tapi jika diberi sebagai imbalan menyembelih maka tidak boleh.

Cianjur, 23 Dzul Qo’dah 1439 H

[1]  Subulus Salam, 4/160 atau Shahih Fiqh Sunnah, 2/331.

[2]  Fiqh al-Manhaji, 1/233

[3]  Mausu’ah Kuwaitiyyah

[4]  Al Baihaqi dalam Al Kubro.

[5]  Shahih Fiqh Sunnah, 2/334

[6]  Shahih Fiqh Sunnah, 2/338.

[7]  Shahih Fiqih Sunnah, 2/370-375

[8]  Talkhish Kitab Ahkamil Udhiyah wadz Dzakaah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 12-13.

[9]  Shahih Fiqh Sunnah, 2/340.

[10]  Fiqhul Udhiyah, hal. 119

[11]  Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5612, 11: 423-424.

[12]  Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah no. 1997, 11: 424-425.

[13] Majalis Syahri Dzil Hijjah, hlm 83.

[14]  Al-Furuq, 3/554.

Leave a Comment