PRINSIP DASAR MELURUSKAN KESALAHAN

Loading

Oleh Ust. Abu Rufaydah

  1. Ikhlas hanya karena Allah.
  2. Berbuat salah adalah Tabiat Manusia (HR. At Tirmizi dan Ibnu Majah)
  3. Menegur Kesalahan Berdasarkan Dalil Syar’i dan Bukti.
  4. Semakin Besar Kesalahan Semakin Besar Pula Perhatian Untuk Meluruskannya. (Contoh : Syirik)
  5. Mempertimbangkan Posisi Orang yang menegur Kesalahan. (baca dikisah Ya’isy ibn Shahfah, HR. Ahmad)
  6. Membedakan antara Pelaku Kesalahan yang Tahu dan Tidak.  (baca dikisah Mu’awiyah bin Hakam as-Sulami. HR. Muslim)
  7. Membedakan Kesalahan (Ijtihad dan yang disengaja)
  8. Maksud Baik Orang Salah Tidak Boleh menghalangi Upaya Untuk Meluruskannya. (kisah Tasbih dengan Kerikil)
  9. Adil dan Tidak Pilih Kasih dalam Menegur Kesalahan. (Baca dikisah wanita al-Makhzumi yang menuri. HR. al-Bukhari dan Muslim).
  10. Tidak Menegur Kesalahan dengan Cara yang Menyebabkan Kesalahan Lebih Besar.
  11. Mengetahui Tabiat yang Menjadi Sebab Terjadinya Kesalahan. (Wanita yang bengkok)
  12. Membedakan Antara Kesalahan yang Menyangkut Syari’at dan Kesalahan Menyangkut Pribadi.
  13. Membedakan antara Kesalahan Besar dan Kesalahan Kecil. Karena Syari’at sendiri Membedakan antara Dosa Besar dan Dosa Kecil.
  14. Membedakan antara Orang Bersalah yang Memiliki Berbagai Kebaikan di Masa Sebelumnya yang bisa Jadi kesalahannya itu Telah Lenyap di tengah lautan Kebaikannya dan Orang yang Ahli Maksiat dan banyak Melakukan Dosa. Orang yang Banyak memiliki Kebaikan bisa ditoleransi kesalahannya tetapi orang yang memiliki kebaikan tidak bisa ditoleransi.
  15. Membedakan antara orang yang melakukan kesalahan Berkali-kali dan orang-orang yang baru sekali melakukannya.
  16. Membedakan antara orang yang berturut-turut melakukan keslahan dan orang yang melakukan kesalahan secara tidak berturut-turut.
  17. Membedakan antara orang yang melakukan kesalahan secara terang-terang dan orang yang melakukan secara sembunyi-sembunyi.
  18. Mempertimbangkan yang agamanya lemah dan melakukan penjinakan hatinya dengan tidak diperlakukan secara kasar.
  19. Mempertimbangkan kedudukan dan posisi orang yang melakukan kesalahan.
  20. Menegur anak kecil dengan sesuai usianya.
  21. Berhati-hati ketika menegur wanita yang bukan muhrim.
  22. Tidak sibuk meluruskan berbagai dampak kesalahan tetapi membiarkan tindakan tetapi terhadap pangkal kesalahan.
  23. Tidak membesar-besarkan kesalahan dan tidak berlebih-lebihan dalam menggambarkannya.
  24. Tidak mengada-ada dalam membuktikan kesalahan dan tidak merasa mendapatkan pengakua dari pelaku kesalahan atas kesalahannya.
  25. Memberikan waktu yang cukup untuk meluruskan kesalahan, Khususnya bagi orang yang telah biasa melakukan kesalahan tersebut dalam waktu yang panjang, disamping harus senantiasa memantau dan mengingatkan.
  26. Tidak mengesankan kepada pelaku kesalahan bahwa aia adalah musuh.

 

CARA NABI MEMPERLAKUKAN KESALAHAN MANUSIA.

 

  1. Segera Menegur Kesalahan.
  2. Menegur Kesalahan dengan Menjelaskan Hukumnya.
  3. Mengembalikan Pelaku pada Hukum Syara’ dan Mengingatkan pada Prinsip Yang Dilanggar.
  4. Memperbaiki Pemahaman yang Mengakibatkan Kesalahan. (3 sahabat Nabi, HR. Bukhari dan Muslim) dan (Kahmas al-Hilali HR. Ath Thabrani).
  5. Memberi Terapi dengan Nasihat yang Baik dan Mengulang-ulang Peringatan tentang Akibat Buruk dari Kesalahan. (Usamah bin Zaid)
  6. Menunjukan Belas Kasihan Terhadap Pelaku Kesalahan. (Pemuda minta berzinah).
  7. Tidak Lekas Menyalahkan. (Umar dan Hisyam bin Hakam)
  8. Bersikap Tenang dalam Meperlakukan Pelaku Kesalahan. (Kisah orang Badui, HR. Muslim)
  9. Menjelaskan bahaya Melakukan Kesalahan (Auf bin Malik).
  10. Menjelaskan Bahaya Kesalahan.
  11. Memberikan Pelajaran kepada Pelaku Kesalahan dengan Contoh Nyata.
  12. Memberi Alternatif yang benar.
  13. Membimbing ke Arah Pencegahan Terjadinya Kesalahan.
  14. Tidak Menghadapi Pelaku Kesalahan dengan Kesalahan Lain tapi Cukup dengan Penjelasn Umum.
  15. Mengajak Masyarakat Umum Menentang Pelaku Kesalahan.
  16. Menjauhkan Pertolongan Setan Kepada Pelaku Kesalahan.
  17. Berupaya Menghentikan Perbuatan Salah.
  18. Membimbing Pelaku Kesalahan untuk Memperbaiki Kesalahannya.
  19. Menolak inti Kesalahan dan Menerima yang Lainnya.
  20. Mengembalikan Kebenaran kepada Pelaku Kebenaran dan Menjaga Kedudukan Pelaku Kesalahan.
  21. Mengarahkan Perkataan Kepada Kedua Pihak yang Bertengkar dalam Kesalahan Bersama.
  22. Mendesak Pelaku Kesalahan untuk Meminta Maaf kepada Orang Yang Mendapat Perlakuan Salah.
  23. Mengingatkan Pelaku Kesalahan dengan Keutamaan Orang yang Mendapat Perlakuan Salah agar Ia Menyesal dan Minta Maaf.
  24. Campur Tangan untuk Meredam Emosi dan Menyingkirkan Api Fitnah di antara Para Pelaku Kesalahan.
  25. Menampakkan Sikap Marah terhadap Kesalahan.
  26. Berpaling dari Pelaku Kesalahan dan Menghindari Perdebatan agar Ia Kembali kepada Kebenaran.
  27. Mengecam Pelaku Kesalahan.
  28. Mencela Pelaku Kesalahan.
  29. Berpaling dari Pelaku Kesalahan.
  30. Menjauhi orang yang Bersalah.
  31. Mendo’akan Keburukan terhadap Pelaku Kesalahan yang tidak Mau Mengaku Salah.
  32. Berpaling dari Sebagian Kesalahan Karena Sudah Cukup dengan Isyarat demi Menjaga Kehormatan Pelaku Kesalahan.
  33. Menolong Seorang Muslim dalam Memperbaiki Kesalahan.
  34. Menemui Pelaku Kesalahan untuk Berdiskusi.
  35. Menyatakan Keadaan dan Kesalahan secara Terus Terang kepada Pelaku Kesalahan.
  36. Sikap Persuasif terhadap Pelaku Kesalahan.
  37. Memberi Pengertian bahwa Alasan yang Tidak Sah tidak dapat Diterima.
  38. Memaklumi Watak dan Tabiat Asli Manusia.

Leave a Comment