Breaking News
WARISAN TERBAIK
Hak Sesama Muslim
KEAJAIBAN DO’A SEORANG IBU
BOLEHKAN MENANGGUNG ZAKAT ORANG LAIN ?
TIGA KALI TIDAK SHALAT JUM’AT
HUKUM UANG JAJAN UNTUK CALON ISTRI
DAMPAK MENGIDOLAKAN
HARTOSNA SYAHADAT
SYARAT HOYONG PAPENAK SAREUNG ALLAH DI AKHERAT AYA 2
VIRUS KASMARAN
PENYAPIHAN ANAK DALAM ISLAM
URGENSI MENYUSUI BAYI
NADZOR BERKALI-KALI
KAPAN DARAH SEORANG MUSLIM MENJADI HALAL
MENCINTAI ORANG LAIN SEPERTI MENCINTAI DIRI SENDIRI
HUKUM ULANG TAHUN DAN MENGHADIRINYA
5 CATATAN PENTING DI HARI KELAHIRAN ANAK
MENINGGALKAN HAL YANG TIDAK PENTING
TAFSIR SURAT AL-FALAQ
TINGGALKAN YANG MERAGUKAN
TAFSIR SURAT AL-IKHLAS
FASE HADHONAH (Pengasuhan) ke 2
 FASE HADHONAH (Pengasuhan)
HUBUNGAN ANTARA DO’A DAN MENGKONSUMSI MAKANAN HALAL
TAFSIR SURAT AL-MASAD
MENINGGALKAN LARANGAN DAN MELAKSANAKAN PERINTAH
APAKAH RUQYAH DAPAT MENYEMBUHKAN PENYAKIT ?
RUQYAH MASSAL BOLEHKAH ?
SISA AIR KENCING NAJISKAH ?
KEHORMATAN SEORANG MUSLIM
TAFSIR SURAT AN-NASHR
AGAMA ADALAH NASIHAT
TAFSIR SURAT AL-KAFIRUN
TAFSIR SURAT AL KAUTSAR
HALAL, HARAM DAN SYUBHAT
PENDIDIKAN ANAK PADA FASE KEHAMILAN
TAHAPAN DALAM PENCIPTAAN MANUSIA
TAFSIR SURAT AL FIIL
MENGENAL IHSAN DAN TANDA HARI KIAMAT
TAFSIR SURAT AL-HUMAZAH
MENGENAL IMAN
TAFSIR SURAT AL-ASHR
MENGENAL ISLAM
TAFSIR SURAT AT-TAKATSUR
AMALAN TERGANTUNG NIATNYA
FAIDAH DARI PERANG BANI QURAIZHAH
TIPS MENGENAL KAREKTERISTIK ANAK DIDIK
KETIKA AKU JATUH CINTA
RUMAH YANG PENUH DENGAN KETELADANAN
HUKUM ZIARAH KUBUR BAGI WANITA DALAM MADZHAB SYAFI’I
ANAK LAHIR DALAM KEADAAN FITRAH
APA YANG ANDA CARI ?
BAGAIMANA CARA MEMINANGNYA ?
NIKMATNYA KEMERDEKAAN DAN RASA AMAN
Berhutang untuk Qurban
Sedekah di Hari Jumat
SAUDARIKU, APA YANG MENGHALANGIMU BERJILBAB ?
APA KATA IMAM ASY-SYAFII TENTANG KUBURAN ?
MALAM MENYELIMUTI MATAHARI
PROSES TERJADINYA MALAM
IMAM ASY-SYAFII MEYAKINI ALLAH DI ATAS ARSY
Bermadzhab Syafi’i, Berakidah Asy’ari
MEMOHON PERLINDUNGAN KEPADA JIN
ANTAR JEMPUT DAN DISAMBUT
AQIQAH DAN QURBAN DIGABUNGKAN BOLEHKAH ?
TUNTUNAN MENGURUS JENAZAH
Sikap Laki-laki Ketika Datang Wanita Menawarkan Diri
ADAB-ADAB HARI JUM’AT
ADAB TIDUR dan BERMIMPI
BOLEHKAH SEORANG MUSAFIR MENJADI IMAM DAN KHATIB ?
PILIHLAH TETANGGA SEBELUM RUMAH
RUMAH ADALAH SEKOLAH
18 CATATAN TENTANG SHALAT JAMA’ DAN QOSHOR
PERAN WANITA
RUKUN IMAN KEPADA ALLAH
7 CATATAN TENTANG DZIKIR BA’DA SHALAT
BACAAN ZIKIR BA’DA SHALAT
HUKUM MENCACI MAKI ALLAH, AGAMA, DAN RASUL-NYA
ANAKKU MENCURI !
5 MASALAH SEPUTAR SUJUD SAHWI
DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI BALA YANG BERAT
MENGENAL AGAMA ISLAM DENGAN DALIL
FATWA MUI DAN ULAMA TENTANG NATAL
SUJUD SAHWI SEBELUM ATAU SESUDAH SALAM ?
SHALAT TAHIYYATUL MASJID ATAU MENDENGARKAN AZAN
SEBAB-SEBAB SUJUD SAHWI
TIDAK MENGKAFIRKAN ORANG KAFIR
NADZAR (Janji)
DZABH (MENYEMBELIH)
WASILAH YANG BENAR DAN YANG SALAH
ISTI’ADZAH
ISTIGHOTSAH
ISTI’ANAH (MEMINTA PERTOLONGAN)
PEMBATAL-PEMBATAL SHALAT
ADAB TERTAWA
HADITS SYUBUHAT
MENGENAL LEBIH DEKAT KITAB SAFINATUN NAJA
BIOGRAFI PENULIS  KITAB SAFINATUN NAJA
10 PEMBATAL KEISLAMAN (SYIRIK)
TAWAKKAL
MASA KECIL NABI MUHAMMAD DI BANI SA’AD
HARAP YANG TERPUJI DAN TERLARANG
BATASAN AURAT LAKI-LAKI
Isra’ dan Mi’raj
BATASAN AURAT WANITA
13 Amalan Penting Tentang Hujan
RABO WEKASAN, ADAKAH TUNTUNANNYA ?
HUJAN AIR YANG DIBERKAHI, HUJAN-HUJANAN YUUK..
KEDUDUKAN DUA KALIMAT SYAHADAT DALAM SYARIAT ISLAM
SYARAT-SYARAT KALIMAT TAUHID
MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT
KESYIRIKAN ZAMAN SEKARANG LEBIH PARAH DARI ZAMAN DAHULU
NASIHAT ULAMA DI BALIK MUSIBAH GEMPA
BEDA TAPI SAMA
KENAPA HANYA ALLAH YANG DISEMBAH ?
TUNTUNAN HAID, NIFAS DAN ISTIHADHOH
HUKUM SEPUTAR NAJIS
TAFSIR SURAT AN-NAAS
KAIDAH PERTAMA MEMAHAMI KESYIRIKAN
BAHAGIA ITU JIKA…
PERINTAH DAN LARANG YANG WAJIB DIKETAHUI
TAK ADA ARAH TUJUAN
BOLEHKAH MENGUSAP SEPATU (BUKAN DARI KULIT)  SAAT WUDHU ?
IBU DIMANA ?
BOLEHKAH BERSUCI DENGAN TISU ?
BELAJAR IMAN SEBELUM QUR’AN
BELAJAR ADAB DULU SEBELUM BELAJAR ILMU
JIKA  MANDI JUNUB TANPA WUDHU LALU SHALAT, BOLEHKAH ?
13 CATATAN PENTING BULAN MUHARRAM
APA YANG HARUS ANAK PERTAMA PELAJARI ?
PETUNJUK NABI DI FASE TAMYIZ
BOLEHKAH PUASA KAFFARAH TIDAK BERURUTAN ?
BERSIWAK
KAPAN PENDIDIKAN ANAK ITU DIMULAI ?
TIDAK BISA DIPISAHKAN
HARTAKU SURGAKU
11 CATATAN PENTING DALAM MENUNTUT ILMU
PERKATAAN DAN TINDAKAN YANG MENGHANTAR KEPADA KESYIRIKAN
TABLIGH AKBAR KEMERDEKAAN
AQIQAH DAN QURBAN DIGABUNGKAN BOLEHKAH ?
BELAJAR ADAB DULU BARU ILMU
10 Catatan Penting Tentang  Qurban
BAHAYA SYIRIK
ADA APA DENGAN BULAN DZUL HIJJAH
FAKTOR-FAKTOR PENGHALANG DALAM MENUNTUT ILMU
PANGGIL ANAK DENGAN JULUKAN SEBAGAI PENGHORMATAN
NASIHAT IMAM ASY SYAFII KEPADA PARA GURU
MENANTI SANG BUAH HATI
PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK
KETIKA AKU MENEMUKANNYA
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK
WAJIB NIAT DI MALAM HARI UNTUK PUASA WAJIB
BERIKAN SEMUANYA IA HANYA MEMBERI SEPARUHNYA
PEMBAGIAN HUKUM AIR
PERAN RUMAH DALAM PENDIDIKAN
MULAILAH DENGAN TAUHID 2
SEBAB-SEBAB PENYIMPANGAN AQIDAH DAN CARA MENGATASINYA
MULAILAH DENGAN TAUHID, SEBELUM YANG LAINNYA 1
PILIH WAKTU YANG TEPAT UNTUK MENGARAHKAN
TIGA HAL YANG WAJIB DIKETAHUI Bag. I
BERIKAN SEMUANYA IA HANYA MEMBERI SEPARUHNYA
OPTIMALKAN WAKTUMU
DIMULAI DARI WANITA
MACAM-MACAM AIR
EMPAT HAL YANG WAJIB DIKETAHUI
Registrasi Member MBC
MUDIK
12 CATATAN PENTING TENTANG ZAKAT FITRAH
100 FAIDAH RAMDHAN BAGIAN 3
18  CATATAN PENTING TENTANG I’TIKAF
100 FAIDAH PUASA bagian 2
100 FAIDAH PUASA
DAURAH RAMADHAN PERDANA
MUSLIM BIKES CIANJUR SELENGGARAKAN KAJIAN, BUKA PUASA BERSAMA DAN TARAWIH
RAMADHAN DAN DO’A
DUA KEBAHAGIAAN BAGI ORANG YANG BERPUASA
MENELADANI ULAMA DALAM MEMBERI MAKANAN DI BULAN RAMADHAN
MEMBERI TAK PERNAH RUGI
MUSLIM BIKER CIANJUR ADAKAN TA’JIL ON THE ROAD
32 KESALAHAN-KESALAHAN ORANG YANG BERPUASA
ILMU DIDATANGI BUKAN MENDATANGI
12 CATATAN PENTING TENTANG TARAWIH
SIKAP LEMAH LEMBUT DALAM PENDIDIKAN ISLAM
10 HAL YANG DIMAAFKAN DALAM BERPUASA
MAKNA KEBAIKAN DAN KEBAHAGIAAN
28 CATATAN SINGKAT SEPUTAR RAMADHAN
RAMADHAN BULAN AL-QUR’AN
MENJALANKAN KOTAK AMAL SAAT KHOTIB SEDANG KHUTBAH JUM’AT
IMAM AHMAD BIN HANBAL
KISAH HARUN AR RASYID DENGAN GURU ANAKNYA
DIMULAI DARI WANITA
RAMADHAN BULAN AMPUNAN
TANGGUNG JAWAB SEORANG AYAH !
KATA MEREKA TENTANG GURU
ADAB-ADAB PUASA
HAL-HAL YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA
EFEK KESHALIHAN GURU PADA MURID
IJMA’ ULAMA, PEMBATAL PUASA
MUSLIM BIKER CIANJUR TOURING, NGAJI, DAN TADABBUR CIANJUR SELATAN DAN GARUT
TIDAK PUASA ATAU BUKA PUASA DI SIANG HARI TANPA ADA UDZUR SYAR’I
JADILAH GURU YANG MENGGUGAH DAN MERUBAH
BERI IA PUJIAN DAN PENGHARGAAN
Ortu Adalah Guru
BOLEHKAH MENCIUM PASANGAN SAAT PUASA ?
PUASA YANG TIDAK SEMPURNA
HUKUM PUASA WISHOL
BUKA PUASA TERBAIK DENGAN KURMA
SAHUR YANG DIBERKAHI
TERMASUK KEBAIKAN DALAM PUASA ADALAH MENYEGERAKAN WAKTU BERBUKA
HARUSKAH NIAT DI MALAM HARI UNTUK PUASA SUNNAH ?
WAJIB NIAT DI MALAM HARI UNTUK PUASA WAJIB
TAFSIR AL-FATIHAH AYAT 4
MENGAMALKAN BERITA MASUK BULAN RAMDAHAN DENGAN SATU ORANG SAKSI
APAKAH PENENTUAN RAMADHAN DENGAN HISAB ATAU RU’YAH
HUKUM PUASA DI HARI SYAK
BAGAIMANA SIFAT WANITA MUSLIMAH DALAM SURAT AT-TAHRIIM ?
LARANGAN MENDAHULUI RAMADHAN DENGAN PUASA
PILIHKAN UNTUKNYA GURU YANG SHALIH
MENGENAL LEBIH DEKAT IMAM ASY-SYAFI’I rahimahullah
NABI SAJA TAKUT DENGAN KESYIRIKAN BAGAIMANA DENGAN KITA ?
HUKUM TAYAMMUM UNTUK DUA KALI SHALAT
HUKUM MEMBACA SHODAQOLLAHUL ADHIM SETELAH MEMBACA AL-QUR’AN
KELAHIRAN DAN WAFATNYA NABI
ADA APA DENGAN BULAN SYA’BAN
INTISARI SURAT AL-KAHFI
MENDULANG HIKMAH DARI KISAH ASH-SHABUL KAHFI
CARA MANDI JUNUB
ADAB KEPADA SAHABAT NABI
TAFSIR SURAT AL-IKHLAS
BUAH KESABARAN UMMU SULAIM radhiallahu Anha
NASIHAT IMAM ABU HAMID AL GHAZALI RAHIMAHULLAH KEPADA ANAKNYA
HUKUM MERAYAKAN HARI ULANG TAHUN
HUKUM ORANG JUNUB
22 CATATAN TENTANG SHALAT
NASAB RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
INTISARI AYAT KURSI
BACALAH
ALIRAN YANG MENYIMPANG DALAM MEMAHAMI TAUHID RUBUBIYYAH
70.000 ORANG MASUK SURGA TANPA HISAB DAN ADZAB
CARA BERAGAMA YANG BENAR
8 MUTIARA HIKMAH HATIM AL A’SHAM RAHIMAHULLAH
TABLIGH AKBAR 2
ADAB MEMBACA AL-QUR’AN
MUSLIM BIKER CIANJUR (MBC)
SEMESTA BERTASBIH
HUKUM MENGUSAP KHUFF (Sepatu)
HUKUM BERSIWAK
AWALI DENGAN DO’A Bag. 1
UCAPAN YANG PALING DICINTAI ALLAH Bag. 1
ADAB TA’ZIYAH
ADAB ZIYARAH KUBUR
POTRET KEPEMIMPINAN DALAM AL-QUR’AN
PENGGALAN HIKMAH DARI KISAH KHADIJAH
ANAK PEREMPUAN BAGIAN DARI AYAHNYA
FASE TAMYIZ
BALIGH DALAM PANDANGAN ISLAM
KEUTAMAAN MENDIDIK ANAK PEREMPUAN
MENGAJAK ANAK KE MASJID
PRINSIP DASAR MELURUSKAN KESALAHAN
SEBAB-SEBAB KENAKALAN ANAK
PILIH WAKTU YANG TEPAT UNTUK MENGARAHKAN
KEMANA-MANA MEMBAWA BUKU
METODE PENDIDIKAN ANAK DALAM AL-QUR’AN
TAFSIR AL FATIHAH AYAT 5
Syaikh Ali Thanthawi rahimahullah
WARISAN TERBAIK
MAKNA SYAHADAT
MACAM-MACAM TAUHID
CADAR DALAM KACAMATA NAHDATUL ULAMA
RISALAH CINTA UNTUK PUTRI TERCINTA
RIHLAH ULAMA DALAM MENUNTUT ILMU
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR
KEUTAMAAN TAUHID 4
KAPAN DISYARI’ATKAN MEMBACA BASMALAH ?
MENGENAL LEBIH DEKAT IMAM NAWAWI AL-BANTANY
KEUTAMAAN TAUHID  3
KEUTAMAAN TAUHID 2
KEUTAMAAN TAUHID 1
HAK ALLAH DAN HAK HAMBA
DEMI MENUNTUT ILMU, IA TINGGALKAN ISTRI DALAM KEADAAN HAMIL
HUKUM AIR KENCING ORANG DEWASA
📚📚📚 TUGAS NABI DAN RASUL📚
SIKAP KEPADA ALLAH DAN ORANG TUA
TUJUAN HIDUP
TAFSIR AL FATIHAH AYAT 7
TAFSIR AL FATIHAH AYAT 6
TAFSIR ALHAMDULILLAH
AR-RAHMAN DAN AR RAHIM
ADAB MAKAN
IBNU JAUZI rahimahullah DAN MASA MUDA
ATHO BIN ABI RABAH
DAKWAH JAHRIYAH (TERANG-TERANGAN)
AWALI DENGAN DO’A Bag. 2
SIKAP TAWADHU ULAMA
TUJUAN PENDIDIKAN
DAMPAK WUDHU PADA HARI KIAMAT
MENDAHULUKAN YANG KANAN
CARA MEMBERSIHKAN JILATAN ANJING
CATATAN HAMDALAH Bag. 2
CATATAN ALHAMDULILLAH Bag. 1
JANGAN SALAH MEMILIH TEMAN
📚 PENGARUH TEMAN 📚
LARANGAN KENCING DI AIR YANG TIDAK MENGALIR
ISTINSYAQ (Menghirup Air)
ANCAMAN BAGI YANG TIDAK MENCUCI KAKI DENGAN SEMPURNA
KAPAN DISYARI’ATKAN MEMBACA BASMALAH ?
KAPAN IZTIADZAH DIBACA ?
HUKUM ISTIADZAH ATAU TA’AWWUD
ADAB MAKAN
ADAB BERSIN
ADAB BERPUASA
ADAB BEROLAH RAGA
ADAB TIDUR dan BERMIMPI
ADAB BERTAMU
ADAB BERMAJLIS
ADAB PENGHAFAL AL-QUR’AN
ADAB SEORANG PELAJAR
ADAB KEPADA ORANG TUA
ADAB KEPADA NABI MUHAMMAD Shalallahu Alaihi Wa Sallam
ADAB KEPADA ALLAH Ta’ala
HUKUM AIR KENCING BAYI
ADA APA DENGAN BULAN RAJAB ?
ORANG BERIMAN TIDAK MEMPERSEKUTUKAN ALLAH
ORANG BERIMAN TIDAK MEMPERSEKUTUKAN ALLAH
Muslim Yang Kuat
Tabligh Akbar – Rumahku Surgaku
Kajian Islam Ilmiyah
Pilihkan Untuknya Guru Yang Shalih
Pintar Dunia, Tapi …
Kiat Sukses Mendidik Anak
Nasihat Malam
Mengamalkan Ilmu
Pengaruh Teman
Hukuman Dalam Pendidikan Islam
Sabar Dan Menahan Emosi
Antara Uang dan Anak
Jangan Tertipu
Dampak Hasad
Antara Keinginan Dunia Atau Akhirat
Sikap Lemah Lembut
Sibuk Dengan Kekurangan Diri Sendiri
Tawadhu Seorang Guru
Sifat Pendidik Yang Sukses
Teh Hijau CKS
Paket Umroh Bersama CKS
Jangan Bosan Melatih Anak
Dahsyatnya Peran Ibu Pada Anak
Cacian Yang Berujung Pujian
Dampak Keshalihan Ulama dan Umara
Menanamkan Kejujuran dan Tidak Suka Berbohong
MENGENAL LEBIH DEKAT ABU HURAIRAH
ADA APA DENGAN BULAN SHAFAR ?
Asas -Asas Pendidikan
AJAK IA BERMAIN
Membaca Bagian Dari Pendidikan
TAHAPAN PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM – FASE HADHONAH – Memperhatikan Penampilan dan Potongan Rambut
ADA APA DENGAN BULAN MUHARRAM
Kisah Pendidikan Islam – IBNU JAUZI rahimahullah DAN MASA MUDA
TAHAPAN PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM – CARA NABI MENDIDIK ANAK PADA USIA HADHONAH
KEGEMARAN IBNU TAIMIYAH DALAM MENELA’AH
KEUTAMAAN HARI ARAFAH
TAHAPAN PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM – FASE HADHANAH (PENGASUHAN)
Kisah Pendidikan Islam – RIHLAH ULAMA DALAM MENUNTUT ILMU
TAHAPAN PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM – FASE HADHANAH (PENGASUHAN)
BELAJAR MENGAJAR DAN METODE PEMBELAJARAN
FIQHUL JUM’AH – MAKNA JUM’AT
Petunjuk Ibnu Qoyyim Rahimahullah Ta’ala dalam Mengurus Anak di Fase Radha’ah agar Tumbuh dengan Baik
Tahapan Pendidikan Anak dalam Islam – Penyapihan dalam Islam
Kisah Pendidikan Islam – SKALA PRIORITAS DALAM MENUNTUT ILMU
FIQHUL JUM’AH – KAPAN HARI KIAMAT TERJADI ?
Al-Imam adz-Dzahabi Rahimahullah
FIQHUL JUM’AH – Jual Beli di Hari Jum’at, Bolehkah?
KATA-KATA YANG MENGGUGAH DAN MERUBAH
Jangan Berhenti Menasehati
KAPAN WAKTU MUSTAJAB DI HARI JUMAT ITU TERJADI  ?
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Hari Ketujuh Dari Kelahiran – AQIQAH
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Memberi Nama) [13-15]
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Memberi Nama) [10-12]
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Memberi Nama) [7-9]
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Memberi Nama) [4-6]
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Memberi Nama)
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Mencukur)
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam “Fase Kelahiran”
Komentar Ulama Tentang Pendidikan Anak [4]
Komentar Ulama Tentang Pendidikan Anak [3]
Komentar Ulama Tentang Pendidikan Anak [2]
Komentar Ulama Tentang Pendidikan Anak [1]
Proses Melahirkan [2]
Proses Melahirkan [1]
Do’a dan Dzikir Ibu Hamil [5]
Do’a dan Dzikir Ibu Hamil [4]
Do’a dan Dzikir Ibu Hamil [3]
Do’a dan Dzikir Ibu Hamil [2]
Do’a dan Dzikir Ibu Hamil [1]
Pendidikan Anak Pada Usia Kandungan [2]
Pendidikan Anak Pada Usia Kandungan [1]
Perhatian Islam Pada Janin [2]
PERHATIAN ISLAM PADA JANIN
Mintalah Kepada Allah [3]
Mintalah Kepada Allah [2]
Mintalah Kepada Allah [1]
Adab Jima’ [2]
Adab Jima’
Apa Yang Anda Pilih ? [3]
Apa Yang Anda Pilih ? [2]
Apa Yang Anda Pilih ? [1]
Kapan Pendidikan Anak Itu di Mulai ?
Dampak Keshalihan Guru Pada Anak [4]
Dampak Keshalihan Guru Pada Anak [3]
Dampak Keshalehan Guru Pada Anak [2]
Dampak Keshalehan Guru Pada Anak [1]
Dampak Kesholehan Orang Tua Pada Anak [3]
Dampak Keshalehan Orang Tua Pada Anak [2]
Dampak Keshalehan Orang Tua Pada Anak [1]
PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK [4]
PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK [3]
PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK [2]
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK [6]
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK [5]
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK [4]
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK [3]
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK [2]
PERAN RUMAH DALAM PENDIDIKAN [2]
ORANG TUA ADALAH GURU PERTAMA [3]
ORANG TUA ADALAH GURU PERTAMA [2]
ORANG TUA ADALAH GURU PERTAMA [1]
Petunjuk Ibnu Qoyyim Rahimahullah Ta’ala dalam Mengurus Anak di Fase Radha’ah agar Tumbuh dengan Baik [4]
Petunjuk Ibnu Qoyyim Rahimahullah Ta’ala dalam Mengurus Anak di Fase Radha’ah agar Tumbuh dengan Baik [3]
Petunjuk Ibnu Qoyyim Rahimahullah Ta’ala dalam Mengurus Anak di Fase Radha’ah agar Tumbuh dengan Baik [2]
Petunjuk Ibnu Qoyyim Rahimahullah Ta’ala dalam Mengurus Anak di Fase Radha’ah agar Tumbuh dengan Baik [1]
Bagaimana Cara Nabi Mempengaruhi Akal Anak [5]
Bagaimana Cara Nabi Mempengaruhi Akal Anak [4]
BICARA SESUAI KADAR AKAL ANAK
Cara Nabi Mempengaruhi Akal Anak Dengan Dialog
DAMPAK KISAH PADA AKAL ANAK
Konsep Pendidikan Terbaik
HADITS
Hak Sesama Muslim

BAB 1 – ADAB

Oleh: Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA

MUQADIMAH

Pembaca yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālaKitābul Jāmi’ adalah bagian dari kitab Bulūghul Marām min Adillatil Ahkām yang ditulis oleh Al-Hāfizh Ibnu Hajar rahimahullāh. Beliau  rahimahullāh meletakkan kitab ini di bagian akhir dari Buluughul Maraam min Adillatil Ahkaam.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Kitab Bulūghul Marām min Adillatil Ahkām adalah kitab yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fiqih, mulai dari Bab Thaharah, Bab Shalat, Bab Haji, Bab Zakat, Bab Jihad, dan seterusnya.

Namun, yang menakjubkan dari Al-Haafizh Ibnu Hajar adalah, beliau meletakkan Kitābul Jāmi’ di ujung Kitab Bulūghul Marām. Padahal, Kitābul Jāmi’ ini tidak ada hubungannya dengan masalah fiqih, tetapi lebih cenderung berhubungan dengan masalah adab dan akhlak, yaitu tentang akhlak yang baik yang harus dibiasakan, tentang akhlak yang buruk yang harus dijauhi, serta tentang dzikir dan do’a.

Wallaahu a’lam, seakan-akan Al-Haafizh Ibnu Hajar ingin mengingatkan kepada segenap pembaca kitab Bulughul Maram, bahwasanya jika seorang telah menguasai bab-bab ilmu, telah menguasai masalah-masalah fiqih, maka hendaknya dia beradab dan memiliki akhlak yang mulia. Karena bisa jadi ilmu yang luas dapat menjadikan pemiliknya terjerumus dalam kesombongan dan merendahkan orang lain. Sebagaimana harta yang banyak juga bisa menjerumuskan dalam kesombongan. Sebagaimana pula nasab yang tinggi, rumah yang mewah, postur tubuh yang sempurna, paras yang tampan dan cantik,  bisa menjerumuskan  pemiliknya ke dalam kesombongan.

Maka demikian pula ilmu yang banyak –jika tidak disertai dengan keikhlasan dalam menuntutnya dan mengamalkannya- juga berpotensi besar menjerumuskan seseorang dalam keangkuhan dan kesombongan. Bahkan tidak jarang kita jumpai sebagian penuntut ilmu pemula yang masih cetek ilmunya sudah mulai tumbuh bibit keangkuhan dan kesombongan yang ditunjukkan dalam ungkapan-ungkapan lisannya atau tulisan-tulisannya. Ilmu yang seharusnya menjadikan seseorang beradab dan berakhlak bisa menjadi senjata makan tuan yang menambahkan kesombongan apabila tidak dibarengi dengan niat yang benar dan tujuan yang tulus dalam menuntutnya.

Karenanya, di akhir kitab hadits-hadits fikih Bulūghul Marām yang disusunnya, Al-Haafizh Ibnu Hajar meletakkan sebuah kitab tentang adab dan akhlak yang beliau namai Kitābul Jāmi’.

Al-jaami’ dalam bahasa Arab artinya “yang mengumpulkan” atau “yang mencakup”. Dikatakan Kitābul Jāmi’ karena kitab ini mencakup 6 bab yang berkaitan dengan akhlak, yaitu sebagai berikut.

   Bab Pertama – Baabul Adab.

   Bab Kedua – Baabul Birr wash Shilah, yaitu bab tentang bagaimana berbuat baik dan bagaimana bersilaturahim.

   Bab Ketiga – Baabul Zuhud wal Wara’, tentang zuhud dan sifat wara’.

   Bab Keempat – Baabut Tarhiib min Masaawil Akhlaaq, bab tentang yang memperingatkan tentang akhlaq-akhlaq yang buruk.

   Bab Kelima – Baabut Targhib min Makaarimul Akhlaaq, yaitu bab tentang motivasi untuk memiliki akhlak yang mulia.

   Bab Keenam – Baabudz Dzikir wad Du’ā, yaitu bab tentang dzikir dan do’a.

Pada bab ini, Insya Allah akan dibahas bab pertama dari enam bab di atas, yaitu Baabul Adab (bab tentang adab).  Bab ini mencakup hadits-hadits yang menjelaskan tentang adab-adab di dalam Islam yang seorang muslim hendaknya berhias dengan akhlak (perangai-perangai) yang mulia tersebut.

Hadits 1 – Hak Sesama Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قال رَسُولُ اَللهِ صلى الله عليه وسلم : حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam:  (1) Jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, (2) Jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, (3) Jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat, (4) Jika ia bersin dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka do‘akanlah ia dengan mengucapkan ‘Yarhamukallah’, (5) Jika ia sakit maka jenguklah dan (6) Jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya)

Pembaca yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Disebutkan di dalam hadis ini bahwa Rasūlullāh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim terhadap muslim yang lain“.

Ungkapan ini bersifat umum, mencakup setiap individu muslim, baik muslim yang baik keislamannya, maupun muslim yang kurang baik dalam berislam. Baik muslim yang senantiasa menjauhi dosa-dosa maupun muslim yang banyak terjatuh pada dosa-dosa meskipun dosa besar, selama dosa besar tersebut bukan kekufuran yang mengeluarkannya dari Islam. Asal ia masih seorang muslim, maka ia berhak mendapatkan haknya sebagai seorang muslim. Inilah hukum asalnya.

Akan tetapi hak yang merupakan hukum asal tersebut dapat gugur (dapat tidak dipenuhi) jika ada penghalang. Misalnya seorang muslim mengundang muslim lainnya untuk menghadiri acara walimah pernikahannya. Namun, karena di dalam acara walimah tersebut banyak ditemui hal-hal yang berbau maksiat, maka muslim yang diundang tersebut tidak memenuhi undangan itu. Hukum asal mendatangi undangan yang semula wajib sebagai pemenuhan hak terhadap sesama muslim menjadi gugur karena adanya kemaksiatan dalam acara yang dilaksanakan.  Dengan demikian, tidak lagi wajib untuk memenuhi undangan–sebagaimana akan datang penjelasannya-.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam“. Bilangan enam yang disebutkan di sini bukan merupakan suatu pembatasan. Artinya, bilangan enam di sini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bukan untuk menafikan adanya hak-hak yang lain. Dengan kata lain, bukan berarti tidak ada hak-hak lain antara sesama muslim selain enam yang akan disebutkan.

Di kalangan ahlul ‘ilmi (ulama) dikenal istilah al-‘adad laysa lahu mafhuum. Maknanya, bilangan tidak ada mafhum mukhalafah-nya. Jadi, penyebutan bilangan enam dalam hadits  ini hanya sekedar menunjukkan perhatian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap enam perkara tersebut dan bukan berarti tidak ada hak-hak yang lainnya.

Adapun yang dimaksud hak di sini adalah perkara yang laa yanbaghi tarkuhu, artinya, yang semestinya tidak ditinggalkan. Bisa jadi hak yang dimaksud adalah perkara yang wajib, bisa jadi  pula perkara mustahab yang sangat ditekankan sehingga mirip dengan perkara-perkara wajib yang ditekankan oleh syari’at (lihat Subulus Salaam 2/611).

Hak yang pertama, sabda Nabi

إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ

jika engkau bertemu seorang muslim maka berilah salam kepadanya.

Memberi salam merupakan salah satu di antara amalan yang sangat mulia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga kecuali kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang suatu perkara jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai?  Yaitu sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Oleh karenanya, di antara afdhalul ‘amal (amalan yang paling mulia) menurut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu memberi makan kepada fakir miskin, kemudian memberi salam kepada orang yang kita kenal dan orang yang tidak kita kenal.

Dari Abdullah bin ‘Amr :

أَنَّ رَجُلا سَأَلَ النَّبِىَّ (صلى الله عليه وسلم) أَىُّ الإسْلامِ خَيْرٌ؟ قَالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلامَ عَلَى مَنْ عرَفْتَ، وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Ada seseorang bertanya kepada Nabi “Islam manakah yang terbaik?”. Nabi berkata, “Memberi makan, dan engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal” (HR Al-Bukhari No. 6236)

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa di antara tanda-tanda hari kiamat adalah apabila seseorang hanya memberi salam kepada orang yang dikenalnya saja.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيمَ الْخَاصَّةِ

“Sesungguhnya sebelum hari kiamat ada pemberian salam kepada orang yang khusus (yang dikenal saja).” (HR. Ahmad no. 3.870 dan dishahikan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 647)

Salam merupakan amalan yang indah karena di dalamnya terdapat doa keselamatan kepada sesama muslim. Dengan membiasakan menyebarkan salam, maka akan timbul cinta di antara kaum muslimin. Dengan demikian, ukhuwah Islamiyah semakin kuat.

Setiap muslim berhak untuk mendapatkan ucapan salam meskipun muslim tersebut merupakan ahli maksiat, sebagaimana telah disinggung di depan. Bisa jadi, salam yang kita ucapkan dengan tulus ikhlas kepada muslim yang bermaksiat dapat membuka hatinya untuk segera berbuat kebaikan dan meninggalkan maksiat yang ia lakukan.

Bayangkan jika seorang yang shalih di zaman kita ini melewati seorang muslim yang ahli maksiat, kemudian ia bermuka masam, berpaling, dan enggan mengucapkan salam. Bisa jadi si pelaku maksiat tersebut akan semakin jengkel dengan orang-orang shalih dan semakin membuatnya tidak tertarik untuk bersegera meninggalkan kemaksiatan dan melaksanakan kebaikan.

Perhatikan kisah menakjubkan yang disebutkan dalam hadits yang bersumber dari Abdullāh bin Salaam  berikut. Beliau  adalah salah seorang Yahudi yang masuk Islam kemudian menjadi sahabat. Beliau berkata,

لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ جِئْتُ فَلَمَّا تَبَيَّنْتُ وَجْهَهُ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ. فَكَانَ أَوَّلُ مَا قَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلام»

“Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, akupun datang (melihatnya). Tatkala aku memperhatikan wajah beliau maka aku tahu bahwasanya wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Maka pertama yang beliau ucapkan, “Wahai manusia (wahai masyarakat), tebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah silaturahim, dan sholat malamlah tatkala orang-orang sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan penuh keselamatan.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Hakim, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 569)

Oleh karenanya, menyebarkan salam bukanlah perkara yang sepele, bahkan merupakan perkara yang sangat diperhatikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak di awal dakwah beliau di kota Madinah.

Al-Imam Malik meriwayatkan :

أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، أَخْبَرَهُ أَنَّهُ كَانَ يَأْتِي عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ فَيَغْدُو مَعَهُ إِلَى السُّوقِ، قَالَ: فَإِذَا غَدَوْنَا إِلَى السُّوقِ، لَمْ يَمُرَّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَلَى سَقَاطٍ، وَلَا صَاحِبِ بِيعَةٍ، وَلَا مِسْكِينٍ، وَلَا أَحَد إِلَّا سَلَّمَ عَلَيْهِ، قَالَ الطُّفَيْلُ: فَجِئْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَوْمًا فَاسْتَتْبَعَنِي إِلَى السُّوقِ، فَقُلْتُ لَهُ: وَمَا تَصْنَعُ فِي السُّوقِ؟ وَأَنْتَ لَا تَقِفُ عَلَى الْبَيِّعِ، وَلَا تَسْأَلُ عَنِ السِّلَعِ، وَلَا تَسُومُ بِهَا، وَلَا تَجْلِسُ فِي مَجَالِسِ السُّوقِ؟ قَالَ: وَأَقُولُ اجْلِسْ بِنَا هَاهُنَا نَتَحَدَّثُ، قَالَ فَقَالَ لِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ: «يَا أَبَا بَطْنٍ – وَكَانَ الطُّفَيْلُ ذَا بَطْنٍ – إِنَّمَا نَغْدُو مِنْ أَجْلِ السَّلَامِ، نُسَلِّمُ عَلَى مَنْ لَقِيَنَا»

Bahwasanya At-Thufail bin Ubayy bin Ka’ab mendatangi Abdullah bin Umar, lalu ia pergi bersama beliau ke pasar. At-Thufail berkata : Maka ketika kami berangkat ke pasar maka tidaklah Abdullah bin Umar melewati seorangpun yang menjual barang-barang yang jelek atau penjual apapun atau seorang miskin atau siapapun juga kecuali beliau memberi salam kepadanya.

At-Thufail berkata : Akupun mendatangi beliau pada suatu hari lalu beliau memintaku untuk mengikuti beliau ke pasar. Lalu aku berkata kepadanya, “Apa yang hendak engkau lakukan di pasar?, sementara engkau tidaklah berhenti di penjual, engkau tidak bertanya tentang harga barang, engkaupun tidak menawar harga barangnya, dan engkaupun tidak duduk di tempat-tempat duduk yang ada di pasar? Kita duduk aja di sini berbincang-bincang”. Maka Ibnu Umar berkata kepadaku, “Wahai Abu Bathn (panggilannya At-Thufail), kita hanyalah ke pasar karena (menyebarkan) salam, kita memberi salam kepada siapa saja yang kita temui” (Al-Muwattho’ 2/961)

Selanjutnya hak yang kedua dari 6 hak seorang muslim terhadap muslim lainnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ

“Jika dia mengundangmu maka penuhilah undangannya.”

Sebagian ulama berpendapat bahwa undangan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum, mencakup segala undangan, baik undangan makan maupun undangan ke rumahnya (sebagaimana pendapat sebagian ulama Syafi’iyah dan ulama Dzohiriyah).

Namun jumhur ulama (mayoritas ulama) mengatakan yang wajib dipenuhi hanyalah undangan walimah pernikahan. Adapun memenuhi undangan-undangan yang lain maka hukumnya mustahab dan tidak sampai kepada hukum wajib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الوَلِيمَةِ، يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الفُقَرَاءُ، وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah (acara pernikahan), yang hanya diundang orang-orang kaya sementara orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak memenuhi undangan walimah (pernikahan), maka dia telah bermaksiat kepada Allāh dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam..” (HR. Al-Bukhari no. 5.177 dan Muslim no. 1.432)

Hadis di atas menunjukkan bahwa memenuhi undangan walimah pernikahan hukumnya adalah wajib. Hanya saja, para ulama mengatakan jika ternyata ada udzur atau ada kemungkaran dalam walimah tersebut, maka seorang muslim tidak diwajibkan untuk hadir.

Kemungkaran yang dimaksud misalnya dalam walimah tersebut ada ikhtilath (campur-baur antara laki-laki dengan wanita), sementara kita tahu, kebiasaan para wanita di tempat kita jika menghadiri acara walimah, mereka berhias dengan seindah-indahnya dan bersolek dengan secantik-cantiknya. Belum lagi banyak di antara para wanita tersebut yang tidak memakai jilbab, terbuka auratnya, dan lain-lain. Maka dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak lagi wajib untuk menghadiri undangan walimah.

Jika kita tahu acara walimah akan  seperti itu, maka kita bisa memilih untuk datang sebelum atau setelah acara walimah guna menyenangkan hati saudara kita yang mengundang.

Apabila kemungkaran dalam walimah tersebut berupa adanya khamr, bir, wine, dan sejenisnya,  maka acara walimah yang seperti itu tidak boleh dihadiri. Atau kita boleh menghadirinya dengan syarat mampu untuk mengingkari kemungkaran tersebut.

Contoh kemungkaran lain yang sering muncul dalam acara walimah misalnya pertunjukan dangdut atau sejenisnya. Di acara walimah, penyanyi dangdut yang diundang seringkali berjoget-joget sampai menampakkan aurat dan keindahan lekuk tubuhnya.Maka, model walimah seperti ini juga tidak wajib dihadiri.

Model walimah lain yang tidak wajib dihadiri adalah walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja, tidak mengundang orang-orang miskin  dan para tetangga di sekitarnya.Model walimah seperti ini termasuk syarruth tho’am (makanan yang terburuk) artinya makanan tersebut tidak ada berkahnya sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga kita tidak wajib menghadirinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الْأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ

“Seburuk-buruk makanan adalah makanan acara walimah dimana hanya diundang orang-orang kaya, adapun orang-orang miskin ditinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 5.177 dan Muslim no. 1.432)

Karena walimah yang seperti ini biasanya dibumbui dengan keinginan bermegah-megahan dalam mengadakan acara, sehingga yang diundang hanyalah orang-orang kaya. Padahal yang lebih membutuhkan makanan, apalagi makanan yang lezat adalah orang-orang miskin. Sebagian orang miskin mungkin hanya bisa makan daging kambing setahun sekali, itupun kalau dapat jatah pembagian daging kurban. Adapun orang-orang kaya maka setiap hari mereka memakan makanan yang lezat seperti makanan walimah tersebut atau bahkan lebih enak dari makanan walimah tersebut.

Sebagian para ulama juga menyebutkan bahwa tidak wajib bagi kita untuk menghadiri walimah yang apabila untuk sampai ke acara  walimah tersebut diperlukan safar.  Meskipun demikian, yang perlu diingat  adalah, jika yang mengundang acara walimah tersebut adalah kerabat dekat kita, seperti kakak, adik, paman, sepupu, dan semisalnya, maka sebaiknya kita berusaha menghadirinya. Meskipun dari sisi walimahnya kita tidak wajib hadir, tetapi dari sisi kekeluargaan hal itu dapat menghindarkan kita dari perselisihan keluarga yang dapat berakibat terputusnya silaturahim. Oleh karenanya, kita melihat acara walimah dari sisi walimahnya dan juga dari sisi kerabat. Kalau kerabat maka kita berusaha menghadiri meskipun harus bersafar.

Yang ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا اسْتَنْصَحَك فَانْصَحْه

“Jika dia minta nasihat kepadamu, maka nashihatilah dia.”

Seseorang disunnahkan untuk menasihati saudaranya. Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhumaa berkata,

بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Saya membai’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjanji untuk menegakkan sholat, membayar zakat, dan memberi nasihat bagi setiap muslim.” (HR. Al-Bukhari no. 57 dan Muslim no. 56)

Para ulama menyebutkan bahwa hukum menasihati seorang muslim apabila tanpa diminta adalah sunah. Tetapi jika seorang muslim datang meminta nasihat kepada kita, maka wajib hukumnya bagi kita untuk menasihatiya. Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا اسْتَنْصَحَك فَانْصَحْه

“Jika dia minta nasihat kepadamu, maka nashihatilah dia.”

Terkadang seorang muslim yang sedang ditimpa suatu permasalahan datang kepada kita untuk minta nasihat. Maka kalau kita mampu untuk menasihati, hendaknya kita nasihati. Jangan kita pelit dengan nasihat! Kalau kita mampu menasihati dan mampu memberikan pengarahan, berikan arahan berdasarkan pengalaman kita, juga berdasarkan dalil-dalil yang sesuai.

An-Nawawi rahimahullah berkata :

وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَمَعْنَاهُ طَلَبَ مِنْكَ النَّصِيحَةَ فَعَلَيْكَ أَنْ تَنْصَحَهُ وَلَا تُدَاهِنَهُ وَلَا تَغُشَّهُ وَلَا تُمْسِكَ عَنْ بيان النصيحة

“Dan jika ia meminta nasihat kepadamu maka wajib atasmu untuk menasihatinya dan janganlah engkau berbasa-basi, jangan engkau menipu/memperdayai nya, dan janganlah engkau menahan penjelasan nasihat” (Al-Minhaaj Syarah Shahih Muslim 14/143)

Misalnya, seseorang datang pada kita dengan mengatakan, “Akhi, ada orang ingin melamar putri saya, bagaimana menurut antum? Antum kan mengenal orang tersebut.”

Sebagai orang yang mengenal pribadi orang yang ditanyakan, maka kita berusaha menjelaskan bagaimana kebaikan orang tersebut, bagaimana kekurangannya, bagaimana penilaian kita,  dan sebagainya, seakan-akan yang akan dilamar adalah putri kita sendiri.

Ini namanya benar-benar seorang naashih, seorang pemberi nasihat bagi saudara kita. Karena nasihat itu berarti kita ingin memberikan kebaikan atau yang terbaik bagi pihak yang diberi nasehat.

Yang keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ

“Jika dia bersin, kemudian dia mengucapkan “alhamdulillah” maka jawablah dengan “yarhamukallah.”“

Pembahasan secara detail tentang permasalahan ini akan datang pada hadits-hadits berikutnya.

Yang kelima, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ

“Jika dia sakit maka jenguklah dia.”

Ini adalah sunnah yang harus kita kerjakan dan hukumnya adalah fardhu kifayah. Artinya, jika salah seorang muslim sakit, tidak semua muslim lainnya harus menjenguk. Akan tetapi jika sebagian muslim sudah menjenguknya, itu sudah mencukupi.

Menjenguk orang sakit memiliki keutamaan yang sangat besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَادَ مَرِيْضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barangsiapa yang menjenguk orang sakit, maka ia senantiasa berada di jalan menuju surga (atau sedang memetik buah surga) hingga ia kembali.” (HR. Muslim no. 2.568)

Menjenguk saudara yang sakit tidak dibatasi hanya sekali saja. Bahkan jika saudara kita sakitnya lama, kita disunahkan untuk mengunjunginya berulang-ulang. Selama mengunjunginya kita dapat bercengkerama dengan saudara kita yang sakit tersebut,  menghiburnya, menghilangkan kesedihannya, menghilangkan kebosanannya, membawakan oleh-oleh, dan yang paling penting kita mendoakannya agar sakit yang diderita menggugurkan dosa-dosanya dan juga mendoakan agar ia segera diberi kesembuhan.

Meskipun orang yang sakit itu dalam keadaan tidak sadar, misalnya pingsan atau koma, kita tetap disunahkan untuk mengunjunginya. Jika tidak bisa menghiburnya, paling tidak kita bisa mendo’akannya meskipun dia tidak tahu. Allāh tahu kita sudah mengunjunginya. Atau paling tidak setelah dia siuman/tersadar, jika ada yang bercerita kepadanya bahwa saudaranya mengunjunginya, maka hal itu dapat menyenangkan hatinya. Hal itu dapat menunjukkan bahwa saudara-saudara seimannya tetap memperhatikannya sehingga dia tetap bersemangat dan tidak berburuk sangka. Demikian pula keluarganya, tentu akan terhibur jika kita menjenguknya.

Ketika menjenguk saudara yang sedang sakit, kita harus memperhatikan keadaannya. Jika dia tampak lelah dan membutuhkan banyak istirahat serta tidak ingin banyak mengobrol, hendaknya kita mempercepat kunjungan. Hendaknya  kita mendoakannya lalu segera pergi untuk memberikan kesempatan kepadanya beristirahat.

Yang keenam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذاَ ماَتَ فاتْبَعْهُ

“Jika dia meninggal, maka ikutilah jenazahnya.”

Seorang muslim yang telah meninggal tetap dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sampai-sampai orang yang menyolatkannya akan mendapatkan pahala satu qirath dan orang yang mengikuti jenazahnya sampai mengkafankannya dan menguburkannya akan mendapatkan 2 qirath, yaitu masing-masing qirath-nya besarnya seperti gunung Uhud.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

“Barangsiapa yang menghadiri janazah hingga menyolatkannya maka baginya pahala seukuran qiroth, dan barangsiapa yang menghadirinya hingga dikuburkan maka baginya pahala dua qiroth.” Ditanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Apa itu dua qiroth?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Seperti dua gunung yang besar.” (HR. Al-Bukhari no. 1.325)

Dalam riwayat yang lain,

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهاَ فَلَهُ قِيْرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَها فله قيراطان… أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ

“Barangsiapa yang menyolatkan jenazah namun tidak mengantarnya maka baginya pahala qirot, jika ia ikut mengantarnya (hingga dikuburkan) maka baginya pahala dua qiroth … ukuran yang terkecil dari keduanya seperti gunung Uhud.” (HR. Muslim no. 945)

Hadits ini juga menunjukkan keagungan syari’at Islam, di mana Islam memerintahkan seorang muslim untuk menghormati dan mencintai saudaranya meskipun saudaranya telah meninggal dunia.

Peringatan

Pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim” menunjukkan bahwa hak-hak tersebut pada asalnya tidak berlaku bagi seorang kafir (non muslim). Artinya, seorang kafir tidak berhak untuk diberi salam, tidak berhak untuk dipenuhi undangannya, tidak berhak untuk dikunjungi tatkala sakit, tidak berhak untuk diberi nasihat, tidak berhak untuk dilayati janazahnya. Ini hukum asalnya. Tentu saja ada penjelasannya secara terperinci pada masing-masing hak tersebut.

Adapun memulai salam terhadap non muslim maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya, akan tetapi jika mereka memulai memberi salam maka kita menjawab salam mereka (sebagaimana akan datang penjelasannya).

Demikian pula menjenguk orang kafir yang sakit, maka tidak dianjurkan karena hal itu merupakan hak orang muslim.  Akan tetapi jika dalam kunjungan tersebut ada maslahat baik maslahat dunia maupun akhirat seperti maslahat dakwah maka tidak mengapa kita menjenguknya. Terutama apabila orang tersebut adalah tetangga atau kerabat karena kita telah diperintahkan untuk berbuat baik kepada tetangga dan kerabat meskipun ia seorang non muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mengunjungi seorang Yahudi yang sedang sakit dalam rangka mendakwahinya.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan,

كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ أَسْلِمْ فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنْ النَّارِ

Ada seorang pemuda Yahudi yang pernah melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ia pun sakit. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya dan duduk di sisi kepalanya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Masuklah Islam.” Pemuda tersebut lalu memandang kepada ayahnya yang sedang hadir di sisinya, maka sang ayah berkata, “Taatlah kepada Abul Qosim (yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Maka Ia pun masuk Islam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 1.356)

Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk pamannya Abu Thalib yang akan meninggal dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerunya untuk masuk Islam dengan mengucapkan Laa ilaaha illalllahu, akan tetapi pamannya enggan mengucapkannya dan akhirnya meninggal dalam kondisi musyrik.

Demikian pula halnya jika ada orang musyrik atau kafir –bahkan meskipun kerabat dekat- jika meninggal dunia, maka kita tidak disyari’atkan untuk melayat janazahnya, karena sudah terlambat tidak bisa lagi kita dakwahi. Dan dengan melayatnya seakan-akan kita menghormati janazahnya dan memuliakannya serta menunjukan walaa’ (loyalitas) kita kepadanya, padahal hal ini adalah hak jenazah muslim.

Adapun janazah kafir maka akan menuju neraka jahannam dan tidak pantas untuk dihormati atau dimuliakan. Meskipun Islam menganjurkan untuk menyambung silaturahim kerabat non muslim akan tetapi melayat jenazah kafir merupakan bentuk walaa’ (loyalitas) kepada kafir yang akan menuju neraka jahannam, maka hal itu dilarang dalam Islam.

Ketika Abu Thalib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedemikian banyak jasanya dalam membela Islam, meninggal dalam kondisi musyrik, maka datanglah putranya, yaitu Ali bin Abi Thalib  berkata kepada Nabi,

إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ، فَقَالَ: ” انْطَلِقْ فَوَارِهِ، (وفي رواية : قال علي : لاَ أُوَارِيْهِ، إِنَّهُ مَاتَ مُشْرِكًا، فقال: اِذْهَبْ فَوَارِهِ) … فَانْطَلَقْتُ فَوَارَيْتُهُ

“Sesungguhnya paman Anda sorang tua yang sesat telah meninggal.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Pergilah dan kuburkanlah.” (Dalam riwayat lain: Ali berkata, “Aku tidak akan menguburkannya, sesungguhnya ia mati dalam kondisi musyrik.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Pergilah dan kuburkanlah!”) … Ali berkata, “Maka akupun pergi menguburkannya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasaa’i, Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Sa’ad, dll, dan dishahihkan oleh Al-Albani di As-Shahihah no 161)

Dari hadits ini, para ulama berkesimpulan bahwa jenazah kafir tidak layak dilayati. Namun, jika tidak ada orang kafir lain yang menguburkannya maka seorang muslim boleh menguburkannya, sebagaimana Ali yang tadinya menolak menguburkan ayahnya namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyuruhnya untuk menguburkan ayahnya. Sebagaimana juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya menguburkan jenazah Abu Jahl dan pembesar-pembesar kuffaar Quraisy tatkala selesai perang Badr.

Namun jika tidak menghadiri jenazah kerabat kafir dikhawatirkan akan menimbulkan mudharat, maka hendaknya seorang muslim melayat keluarga jenazah setelah pemakaman mayat demi meng-hindari kemudharatan sebagaimana pendapat sebagian ulama. Wallahu a’lam.

Demikian pula halnya menghadiri undangan pernikahan orang kafir, maka tidak wajib. Akan tetapi, dianjurkan jika memang ada kemaslahatan dakwah dalam menghadiri walimah tersebut  dengan syarat acara walimah tersebut kosong dari kemungkaran-kemungkaran (dan syarat ini tentu sangat sulit atau hampir tidak bisa dipenuhi dalam acara walimah pernikahan orang-orang kafir di zaman kita sekarang ini) dan juga kosong dari ritual-ritual keagamaan mereka.

Bersambung insya Allah…

Read more https://firanda.com/3626-kitabul-jami-bab-adab-hadis-1-hak-sesama-muslim.html

About the author

Related Post

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BIKER MUSLIM CIANJUR (BMC)

Kantor BMC
Jln. Prof. Moch. Yamiin No. 119 – Sayang- Cianjur Jawa Barat

CP. 0859 38 50000 4

RUMAH QUR’AN AMINAH

RUMAH QUR’AN AMINAH

Kp. Mananti RT/RW Desa. Margajaya Kec. Lemahsugih Majalengka

Akta Yayasan No. 1 14-8-2017 SK. Kemenkumham Nomor AHU-0012680.AH.01.04. Tahun 2017 NPWP 82.610.442.4-405.000

yayibnuunib@gmail.com HP. 0823 2140 9816

 

 

 

ALAMAT KANTOR YAYASAN

Kantor 1
Kp. Pasir Sarongge RT/RW. 03/08 Desa Ciputri Kec. Pacet Cianjur Jawa Barat

Kantor II
Perumahan Prima Anggrek al-Hidayah No. 21 RT/RW. 01/07 Desa Rancagoong Kec. Cilaku Cianjur Jawa Barat

CP. 0859 38 50000 4