![]()
Oleh Ust. Abu Rufaydah, Lc. MA
- Kapan Hamdalah Sunnahkan untuk diucapkan ?
- Ketika mendapatkan nikmat, apakah nikmat islam, iman atau ihsan. Apapun bentuk nikmat yang kita terima ucapkan hamdalah.
- Ketika di dalam Majlis Dzikir
- Ketika sedang khutbah Jum’at atau khutbah pernikahan.
- Selepas shalat fardhu, dibaca diwaktu dzikir. (Shahihul Jaami’ no. 5804)
- Ketika membaca dzikir pagi dan petang. (HR. Muttafaq Alaihi).
- Ketika dalam shalat. Terdapat bacaan hamdalah, seperti do’a iftitah atau bangun dari ruku’ dan lainnya.
- Dibaca sebelum tidur. (Shahihul Jaami’ no. 3230).
- Ketika bangun di malam hari untuk melaksanakan Qiyamul Lail. (HR. Abu Daud no. 771).
- Ketika bangun dari tidur. (HR. Muttafaq Alaihi).
- Ketika memakai pakaian.
CATATAN ALHAMDULILLAH Bag. 1
- Kapan Hamdalah Sunnahkan untuk diucapkan ?
- Ketika mendapatkan nikmat, apakah nikmat islam, iman atau ihsan. Apapun bentuk nikmat yang kita terima ucapkan hamdalah.
- Ketika di dalam Majlis Dzikir
- Ketika sedang khutbah Jum’at atau khutbah pernikahan.
- Selepas shalat fardhu, dibaca diwaktu dzikir. (Shahihul Jaami’ no. 5804)
- Ketika membaca dzikir pagi dan petang. (HR. Muttafaq Alaihi).
- Ketika dalam shalat. Terdapat bacaan hamdalah, seperti do’a iftitah atau bangun dari ruku’ dan lainnya.
- Dibaca sebelum tidur. (Shahihul Jaami’ no. 3230).
- Ketika bangun di malam hari untuk melaksanakan Qiyamul Lail. (HR. Abu Daud no. 771).
- Ketika bangun dari tidur. (HR. Muttafaq Alaihi).
- Ketika memakai pakaian.
- Buah membaca Hamdalah. الحمد لله رب العالمين
- Terkandung sebuah pilar ibadah yang sangat agung yaitu kecintaan. Para ulama kita menjelaskan bahwa ucapan Hamdalah bermakna pujian yang disertai dengan rasa cinta dan pengagungan. Tidaklah suatu pujian disebut sebagai hamdalah kecuali jika dilandasi rasa cinta.
- Dalam Hamdalah telah terkandung penetapan kesempurnaan Allah dari segala sisi. Karena ucapan alhamdulillah bermakna segala puji atau pujian yang mutlak hanya layak diberikan untuk Allah. Allah terpuji dari segala sisi. Allah terpuji karena berbagai kesempurnaan yang ada pada-Nya, baik kesempurnaan Dzat, nama-nama, sifat-sifat, perbuatan, dan juga kesempurnaan nikmat yang Allah curahkan kepada hamba-hamba-Nya. Sebab tidak ada satu pun nikmat melainkan itu adalah bersumber dari-Nya. Di tangan-Nya lah segala kebaikan.
- Dalam alhamdulillah juga tersimpan penetapan tauhid uluhiyah; yaitu kewajiban mengesakan Allah dalam beribadah. Sebab kata ‘Allah’ dalam ungkapan alhamdulillah menunjukkan makna bahwa Allah lah al-Ilah al-Haq yaitu sesembahan yang benar dan selain-Nya adalah sesembahan yang batil.
- Dalam ‘Rabbil ‘alamin’ terkandung penetapan tauhid rububiyah, bahwa Allah lah Rabb yaitu yang mencipta, mengatur dan menguasai alam semesta ini. Pengakuan terhadap hal ini telah menjadi fitrah dan naluri yang tertanam dalam hati manusia. Bahkan kaum musyrikin sekali pun telah meyakininya. Konsekuensi dari pengakuan ini adalah ketundukan secara penuh kepada Allah akan hukum dan perintah-Nya, dan perintah yang paling agung adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Oleh sebab itu Allah berfirman (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian…” (al-Baqarah : 21)
- Dalam ‘Rabbil ‘alamin’ terdapat penegasan bahwa seluruh alam adalah makhluk ciptaan Allah yang butuh kepada Allah. Tidak ada yang bisa melepaskan diri dari kekuasaan dan pertolongan-Nya. Oleh sebab itu wajib beriman kepada takdir dan iradah/kehendak-Nya yang meliputi seluruh makhluk. Segala yang Allah kehendaki -secara kauni- pasti terjadi dan segala yang tidak Allah kehendaki juga tidak akan terjadi. Inilah yang disebut dengan istilah irodah kauniyah. Dan semua yang Allah kehendaki terjadi ini pasti mengandung hikmah. Tidak mungkin Allah menghendaki sesuatu terjadi tanpa hikmah, Maha suci Allah dari kesia-siaan.
- Dalam ‘Rabbil ‘alamin’ juga terdapat pelajaran bahwa setiap muslim -bahkan setiap insan- harus tunduk kepada hukum dan syari’at Allah. Sebab Allah lah yang telah menciptakan alam ini, yang memeliharanya dan menguasainya. Tidak ada yang lebih mengetahui kemaslahatan hamba kecuali Allah semata. Oleh sebab itu Allah lah sebaik-baik hakim, tidak ada hukum yang lebih baik selain hukum-Nya, dan tidak ada aturan yang lebih adil daripada aturan-aturan-Nya.