BUAH KESABARAN UMMU SULAIM radhiallahu Anha

 355 total views,  6 views today

BUAH KESABARAN UMMU SULAIM radhiallahu Anha

 

Oleh Abu Rufaydah

Kisah Singkat yang Memikat

Nama lengkap beliau adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Naja al-Anshaiyah al-Khazrajiyah.

Membaca lembaran kehidupannya sangat menginspirasi bagi siapapun yang membacanya. Wanita penyabar dan memiliki kecerdasan yang sangat menakjubkan. Tahukan anda ! bahwa dialah yang memberikan hadiah anak semata wayang yang bernama Anas bin Malik untuk kekasihnya Nabi Muhammad. Ia pula yang mensyaratkan keislaman Abu Tholhah yang hendak meminangnya sebagai pengganti dari mahar. Sekirannya para wanita masa kini membaca kehidupan mereka, niscaya luluhlah hati kesombongan dan keangkuhan mereka.

Dari pernikahannya dengan Ummu Sulaim, Abu Thalhah dikaruniai dua orang anak. Satu di antaranya amat ia kagumi, namanya Abu ‘Umair. Namun sayang, Abu ‘Umair tak berumur panjang. Ia dipanggil oleh Allah ketika masih kanak-kanak.

Anas bercerita, “Suatu ketika, Abu ‘Umair sakit parah. Tatkala azan isya berkumandang, seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke mesjid. Dalam perjalanan ke mesjid, anaknya (Abu ‘Umair) dipanggil oleh Allah.

Dengan cepat Ummu Sulaim mendandani jenazah anaknya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. Ia berpesan kepada Anas agar tidak memberi tahu Abu Thalhah tentang kematian anak kesayangannya itu. Kemudian, ia pun menyiapkan hidangan makan malam untuk suaminya.

Sepulangnya dari mesjid, seperti biasa Abu Thalhah menyantap makan malamnya kemudian menggauli istrinya. Di akhir malam, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya,

يا أبا طلحة إن آل فلان استعاروا من آل فلان عارية، فبعثوا إليهم؛ ابعثوا إلينا بعاريتنا فأبوا أن يردوها

 “Bagaimana menurutmu tentang keluarga si fulan, mereka meminjam sesuatu dari orang lain, tetapi ketika diminta, mereka tidak mau mengembalikannya, merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.”

ليس لهم ذلك إن العارية مؤداة إلى أهلها

 “Mereka telah berlaku tidak adil,” kata Abu Thalhah.

فإن ابنك كان عارية من الله عز وجل، وأن الله عز وجل قد قبضه” فاسترجع

 “Ketahuilah, sesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah, dan kini Allah telah mengambilnya kembali,” kata Ummu Sulaim lirih.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…. Segala puji bagi-Mu, ya Allah,” ucap Abu Thalhah dengan pasrah.

(diriwayatkan oleh Imam Bukhari 5153 dan Muslim 2144)

 

Keturunan yang diberkati

Selepas mengantarkan kepergian buah hatinya, keesokan harinya Abu Thalhah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala bertatap muka dengannya, beliau mengatakan, “Semoga Allah memberkati kalian berdua nanti malam.” Maka, malam itu juga Ummu Sulaim hamil lagi, mengandung Abdullah bin Abu Thalhah.

Setelah melahirkan bayinya, Ummu Sulaim menyuruh Anas menghadap Rasulullah dengan menggendong bayi mungil itu sambil membawa beberapa butir kurma ‘ajwah. Kata Anas, “Sesampaiku di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kudapati beliau sedang memberi cap pada untanya.”

“Wahai Rasulullah, semalam Ummu Sulaim melahirkan anaknya,” kataku. Maka beliau memungut kurma yang kubawa lalu mengunyahnya dengan air liur beliau, kemudian menyuapkan kepada si bayi. Bayi mungil itu mengulum kurma tadi dengan ujung lidahnya. Maka Rasulullah tersenyum sembari berkata, “Memang, makanan kesukaan orang Anshar adalah kurma.”

Setelah Abdullah dewasa Allah anugrahi Sembilan anak yang hafal al-Qur’an.

 

FAIDAH DARI KISAH

  1. Anak adalah anugrah yang besar, maka hendaknya menjaga mereka dengan baik.
  2. Cara mensyukuri nikmat anak yaitu dengan mendidiknya dengan pendidikan yang baik.
  3. Kesabaran Ummu Sulaim Radhiallahu Anha ketika anaknya dipanggil Allah. Karena tabiat dan sifat wanita tidak sabar dengan kehilangan buah hatinya.
  4. Boleh berbicara dengan Tauriyah yaitu berbicara yang menyelisihi niat, dengan tujuan yang baik da nada mashlahat yang besar atau menghilangkan madhorot.
  5. Pentingnya komunikasi yang baik dengan pasangan.
  6. Anjuran untuk ber-Istirja saat mendengar orang yang meninggal.
  7. Kecerdasaan Ummu Sulaim dalam berkomunikasi.
  8. Mintalah solusi kepada Allah dengan mendatangi ulama.
  9. Do’a senjata bagi kaum muslimin, maka gunakanlah di waktu dan kondisi yang tepat.
  10. Disunnahkan memberi Nama dengan diawali penghambaan (Abdul).
  11. Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.
  12. Anjuran kepada orang tua untuk memilih nama yang baik untuk anaknya, karena nama dapat berpengaruhi fisikisnya.
  13. Keberkahan do’a Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
  14. Kebiasaan orang-orang Madinah ketika anaknya lahir, mereka mendatangi Nabi dan membawa kurma untuk ditahnik.
  15. Mentahnik memiliki faidah yang sangat banyak, yang tidak didapati pada makanan lainnya. Ini menunjukkan konsep nubuwah yang berkah.
  16. Kisah ini sangat menakjubkan bagi siapa saja yang membacanya, bahwa Allah menjamin balasan yang tidak terhingga bagi hamba-Nya yang bersabar.
  17. Saat anaknya wafat Ummu Sulaem tidak menampakkan wajah yang sedih, justru sebaliknya. Untuk menghibur suaminya dan berharap Allah ganti dengan yang lebih baik.
  18. Tidak masalah jiga sesuatu yang berharga hilang dari kita, asal jangan iman yang hilang dari hati kita.
  19. Bukan satu aib jika sang istri mengajak suaminya berjima’.
  20. Seorang istri harus berusaha meraih ridha suami, walaupun dalam kondisi terkena musibah.
  21. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, hal itu terlihat dari Anas dan Abdullah menjadi anak yang mengharumkan nama kedua orang tuanya di dunia dan akhirat.
  22. Tugas suami di luar rumah untuk cari nafkah, dan wanita berada di rumah untuk melayani suami ketika pulang kerja.
  23. Hendaknya suami dan istri mengetahui hak dan kewajibannya. Karena factor utama perceraian yaitu hilangnya hak dan kewajiban dalam rumah tangga.
  24. Kecerdasan anak dalam mencerna kisah yang terjadi pada keluarganya. Dengan memilih bahasa yang bagus nan indah.
  25. Dalam kisah di atas ada beberapa dialog yang terjadi yaitu, pertama Ummu Sulaim dan keluarganya. Kedua antara Ummu Sulaim dan Suaminya. Ketiga antara Nabi dan Abu Tholhah, Keempat antara Anas dan Ummu Sulaim dan terkahir antara Nabi dan Anas.
  26. Perhatian islam yang sangat tinggi terhadap anak, dengan menganjurkan untuk memilih pasangan yang baik, dan setiap tahapan ada pelajaran dan tuntunan.
  27. Pentingnya membaca kisah para sahabat, sebagai cerminan bagi kita dalam mengarungi kehidupan.

 

Cianjur, 22 Rajab 1439 H

Referensi :

  1. Shahih Bukhari
  2. Shahih Muslim.
  3. Fathul Baari Ibnu Hajar al-Asqolani
  4. Syarah Riyadhush Shalihin karya Syaikh Shaleh al-Utsaimin.
  5. at-Tawadhih lisy Syarih al-Jaami’ ash-Shahih.
  6. Maqol ash-Shabr ‘Inda Faqdil Walad karya Dr. Ahmad Muhammad asy-Syarqowy.

 

Leave a Comment