TAFSIR SURAT AL-IKHLAS

 995 total views,  2 views today

TAFSIR SURAT AL-IKHLAS

 

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

  1. Katakanlah, “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa.
  2. Allâh adalah Rabb Ash-Shamad.
  3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
  4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

 

SEBAB TURUN SURAT AL-IKHLAS

Sebab turun surat al-Ikhlâs ini adalah pertanyaan orang-orang kafir tentang Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana disebutkan di dalam hadits :

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ

Dari Ubayy bin Ka’ab Radhiyallahu anhu bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sebutkan nasab Rabbmu kepada kami!”, maka Allâh menurunkan: (Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa). [HR. Tirmidzi, no: 3364; Ahmad, no: 20714; Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah 1/297. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani]

 

KEUTAMAAN SURAT AL-IKHLAS

Surat Al-Ikhlas memiliki banyak keutamaan, antara lain:

  1. Surat ini berisikan sifat Allâh Azza wa Jalla, orang yang mencintainya dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ وَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِمْ فَيَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ فَسَأَلُوهُ فَقَالَ لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ

Dari ‘Aisyah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seorang laki-laki memimpin sekelompok pasukan, (ketika mengimami shalat) dia biasa membaca di dalam shalat jama’ah mereka, lalu menutup dengan ”Qul huwallaahu ahad”. Ketika mereka telah kembali, mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka beliau berkata:  “Tanyalah dia, kenapa dia melakukannya!” Lalu mereka bertanya kepadanya, dia menjawab: “Karena surat ini merupakan sifat Ar-Rahmaan (Allâh Yang Maha Pemurah), dan aku suka membacanya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahukan kepadanya bahwa Allâh mencintainya”. [HR. Al-Bukhâri, no. 7375; Muslim, no. 813]

  1. Setara dengan sepertiga Al Qur’an.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):

“Apakah seseorang dari kamu tidak mampu membaca sepertiga al-Qur’ân di dalam satu malam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang (mampu) membaca sepertiga al-Qur’ân (di dalam satu malam)?” Beliau bersabda: “Qul Huwallaahu Ahad sebanding dengan sepertiga al-Qur’ân.”  [HR. Muslim ]

Maknanya adalah bahwa kandungan al-Qur’ân ada tiga bagian : 1) hukum-hukum, 2) janji dan ancaman, 3) nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Dan surat ini semuanya berisi tentang nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . [Majmu’ Fatawa 17/103]

  1. Penyebab masuk ke dalam surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku datang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau mendengar seseorang membaca:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah wajib,” aku bertanya: “Apa yang wajib?” Beliau bersabda, “(Telah wajib baginya) Surga.” [HR. Tirmidzi, Shahih]

 

  1. Terkabulnya do’a seorang hamba apabila dimulai dengan penyebutan sifat-sifat Allah Ta’ala yang ada di dalam surat ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berdo’a:  “Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan bersaksi bahwasanya Engkau adalah Allah, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Engkau Dzat yang satu, Dzat yang semua makhluk meminta kepada-Mu, Dzat yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada yang setara dengan-Nya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda (artinya): “Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh laki-laki ini telah  meminta kepada Allah Ta’ala dengan nama-Nya yang agung yang apabila seseorang berdo’a dengan sifat-sifat ini maka Allah Ta’ala kabulkan dan apabila meminta dengan menyebutkan sifat-sifatNya maka Allah Ta’ala berikan.” (HR. Ibnu Majah & Tirmidzi, shahih).

 

TAFSIR SURAT :

Ayat Pertama

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah: “Dialah Allah, yang Maha Esa”.

  1. Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan : Maha Esa tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, tidak memiliki istri ataupun anak, dan tidak ada sekutu baginya.” [Aljami’ liahkamil Qur’an 20/244]
  2. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yakni Dia yang pertama dan Esa, tidak ada tandingan dan pembantu, tidak ada yang setara dan tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan tidak ada yang sebanding (dengan-Nya). Kata ini (ahad) tidak digunakan untuk siapapun selain Allâh Ta’ala, karena Dia Maha Sempurna dalam seluruh sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya”. [Tafsir Ibnu Katsir 8/497].
  3. Syaikh Al Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa kalimat (اللَّهُ أَحَدٌ) –artinya Allah Maha Esa-, maknanya bahwa Allah itu Esa dalam keagungan dan kebesarannya, tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Tafsir Juz ‘Amma, 292).

 

Ayat Kedua

اللَّهُ الصَّمَدُ

“Allah adalah sesembahan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”

Makna Ash-Shamad

ash-Shamad merupakan salah satu  asmaul husna yang dimiliki Allah Ta’ala. Para ulama salaf  memiliki tafsiran yang beraneka ragam tentang makna ash-Shamad, namun tafsiran- tafsiran tersebut sama sekali tidak bertentangan, akan tetapi saling melengkapi. Di antara tafsiran tersebut:

  1. Yang maha bergatung kepada-Nya seluruh makhluk dalam segala kebutuhan dan permohonan mereka (Tafsiran Ibnu Abbas).
  2. Allah tidak memiliki rongga (perut).
  3. Penguasa yang kekuasaan-Nya sempurna, Maha Mulia yang kemuliaan-Nya sempurna; Maha Agung yang keagungan-Nya sempurna; Maha Sabar yang kesabaran-Nya sempurna; Maha Mengetahui yang ilmu-Nya sempurna; Maha Bijaksana yang kebijaksanaan-Nya sempurna (tafsiran Ibnu Abbas riwayat dari Ali bin Abi Thalib).
  4. Yang Maha Hidup, Maha berdiri sendiri dan mengurusi yang lain, yang tidak akan binasa. (Ini tafsiran al-Hasan).
  5. ”Pemimpin yang paling tinggi kekuasaan-Nya”. Begitu juga diriwayatkan dari ’Ashim dari Abi Wa’il dari Ibnu Mas’ud semacam itu.
  6. Maha Kekal dan Abadi.
  7. Seluruh makhluk bersandar/bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan maupun permasalahan.
  8. Dia-lah As Sayyid (Pemimpin) yang kekuasaan-Nya sempurna. Dia-lah Asy Syarif (Maha Mulia) yang kemuliaan-Nya sempurna. Dia-lah Al ‘Azhim (Maha Agung) yang keagungan-Nya sempurna. Dia-lah Al Halim (Maha Pemurah) yang kemurahan-Nya itu sempurna. Dia-lah Al ‘Alim (Maha Mengetahui) yang ilmu-Nya itu sempurna. Dia-lah Al Hakim (Maha Bijaksana) yang sempurna dalam hikmah (atau hukum-Nya). Allah-lah –Yang Maha Suci- yang Maha Sempurna dalam segala kemuliaan dan kekuasaan. Sifat-Nya ini tidak pantas kecuali bagi-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang semisal dengan-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
  9. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (tafsiran Ubay bin Ka’ab). Masih banyak pendapat yang lainnya.

Al Hafizh Abul Qosim Ath Thobroni rahimahullah dalam kitab Sunnahnya -setelah menyebut berbagai pendapat di atas tentang tafsir Ash Shomad– berkata, ”Semua makna ini adalah shohih (benar). Sifat tersebut merupakan sifat Rabb kita ’Azza wa Jalla. Dia-lah tempat bersandar dan bergantung dalam segala kebutuhan. Dia-lah yang paling tinggi kekuasaan-Nya. Dia-lah Ash Shomad tidak ada yang berasal dari-Nya. Allah tidak butuh makan dan minum. Dia tetap kekal setelah para makhluk-Nya binasa. Baihaqi juga menjelaskan yang demikian.”

(Tafsir Ibnu Katsir 8/497 dan Zadul Masir 4/505, Tafsir al Qurthuby 20/245].

 

Ayat Ketiga

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.”

Maknanya adalah Allah Ta’ala tidak butuh anak, tidak butuh orangtua atau istri. Disebabkan sempurnanya kekayaan Allah Ta’ala. Dan dikarenakan tidaklah sesuatu yang dilahirkan melainkan akan mati dan dan tidaklah sesuatu yang mati melainkan diwarisi (orang lain).

Imam Muqotil rahimahullah mengatakan : ”Tidak beranak kemudian mendapat warisan.” Kalimat (وَلَمْ يُولَدْ) maksudnya adalah tidak disekutui, karena orang-orang musyrik Arab mengatakan bahwa Malaikat adalah anak perempuan Allah Ta’ala. Kaum Yahudi mengatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah Ta’ala. Sedangkan orang-orang Kristen mengatakan bahwa al-Masih (Nabi Isa ‘alaihissalam) adalah anak Allah Ta’ala. Dengan ayat ini, Allah Ta’ala berlepas diri dari perkara tersebut. [Zadul masir 4/506]

 

Ayat Keempat

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ

“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Maksudnya dari ayat yang mulia ini adalah tidak ada yang menyerupai Allah Ta’ala, tiada yang sebanding dan setara dengan-Nya, maka Allah Ta’ala meniadakan diri-Nya dari memiliki istri dan anak atau dilahirkan sehingga memiliki orang tua. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya):

“Allah Ta’ala tidak beranak dan tidak diperanakkan dikarenakan tidaklah sesuatu yang mati melainkan akan diwarisi (orang lain), dan Robb kita tidak mati dan tidak akan mewariskan, tidak ada yang setara, sama dan sebanding bagi Allah.” [HR. Tirmidzi, Shahih].

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak ada seorangpun yang menyamai-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya”. [Syarh Aqîdah Wasitiyah, hlm. 114, penerbit. Dar Ibnu Haitsam]

Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah berkata, “Dan tidak ada tandingan yang menyamai-Nya dalam nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/77, Syaikh Musa’id ath-Thayyâr]

 

KANDUNGAN SURAT AL-IKHLAS

Surat ini memuat berbagai kandungan dan faedah yang agung, antara lain:

  1. Penetapan sifat ahadiyyah (keesaan) bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
  2. Penetapan sifat shamadiyyah bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Yaitu sifat Allâh yang tidak membutuhkan perkara yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya
  3. Mengenal Allâh dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya
  4. Penetapan tauhid dan kenabian.
  5. Kedustaan orang yang menganggap Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki anak.
  6. Kewajiban beribadah kepda Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata, karena hanya Dia yang memiliki hak untuk diibadahi.

(Aisarut Tafâsîr, surat al-Ikhlâs, 1-5, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi)

 

Disusun oleh Abu Rufaydah

Cianjur, 23 Rajab 1439 H

 

Referensi :

  1. Tafsir al-Qurthubi
  2. Tafsir Ibnu Katsir
  3. Zaadul Masiir Ibnu Jauzi
  4. Tafsir Syaikh al-Utsaimin.
  5. Tafsir Juz Amma Mus’ad ath-Thayyar
  6. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah
  7. Aisarut Tafasir Abu Bakar al-Jazairy
  8. Syarah Aqidah al-Washitiyyah libni Utsaimin

 

Leave a Comment