APA KATA IMAM ASY-SYAFII TENTANG KUBURAN ?

Loading

APA KATA IMAM ASY-SYAFII TENTANG KUBURAN ?

Imam asy-Syafi’i rahimahullah dikenal sebagai sosok ulama pembela sunnah. Hal ini terlihat dari pernyataan dan ungkapan beliau yang di abadikan dalam kitabnya atau melalui jalur murid-muridnya. Tidak heran beliau dijuluki sebagai Naasirusunnah karena keteguhan beliau memegang sunnah Rasulillah.

Namun muncul belakangan, orang-orang yang mengakui bermadzhab syafi’i namun menyelisihinya dalam masalah aqidah, seolah-olah Imam asy-Syafi’i tidak memiliki perhatian terhadap aqidah. Tentu hal ini sangat keliru. Padahal beliau memiliki perhatian yang besar terhadap aqidah. Karena tidaklah amalan ibadah itu diterima kecuali dibangun di atas aqidah yang benar dan tauhid yang lurus.

Mendapati masyarakat yang hanya mengambil perkataan Imam asy-Syafi’i pada masalah-masalah yang sesuai dengan hawa nafsunya. Tentu ini sangat di sayangkan walaupun pada hakikatnya perkataan siapapun bisa diterima dan ditolak kecuali sabda Rasulullah.

Tema ini diangkat karena keprihatinan penulis dengan realita yang ada, dimana kuburan diagungkan dan dimuliakan melebihi tuntunan Nabi, sebagaimana kita ketahui bahwa kuburan termasuk pembahasan di bab fiqh juga termasuk di bab aqidah. Di bab fiqh Nabi Muhammad ingin mengajari kita bagaimana tuntunan jenazah yang benar. Dalam bab aqidah quburan dijadikan sebagai pengingat kematian, bukan justru dijadikan sebagai tempat memohon, meminta dan tempat bergantung.

Berikut pendapat Imam asy-Syafii rahimahullah yang berkaitan dengan kuburan. Penulis juga menyertakan dalil dari hadits ataupun pendapat darpi para ulama, agar kita sadar bahwa apa yang Imam asy-Syafii sampaikan dibangun di atas dalil, bukan atas fikirannya dan pendapat sendiri.

  1. Hukum Meratakan Kuburan.

وَ أُحِبُّ أَنْ لاَ يُزَادُ فِيْ القَبْرِ مِنْ غَيْرِهِ وَلَيْسَ بأَنْ يَكُوْنَ فِيْهِ تُرَابٌ مِنْ غَيْرِهِ بَأْسٌ إِذَا زِيْدَ فِيْهِ تُرَابٌ مِنْ غَيْرِهِ ارْتَفَعَ جِدًّا وَ إِنَّمَا أُحِبُّ أَنْ يُشَخِّصَ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ شِبْرًا أَوْ نَحْوِهِ

“Saya suka kalau tanah kuburan itu tidak ditinggikan dari selainnya dan tidak mengambil padanya dari tanah yang lain. Tidak boleh, apabila ditambah tanah dari lainnya menjadi tinggi sekali, dan tidak mengapa jika ditambah sedikit saja sekitar.Saya hanya menyukai ditinggikan (kuburan) di atas tanah satu jengkal atau sekitar itu” [Syarah Muslim 2/666(

  1. Hukum Membangun Kuburan Dan Menemboknya.

وَ أُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصُ فَإِنَّ ذَلِكَ يُشْبِهُ الزِّيْنَةَ وَ الْخُيَلاَءَ وَ لِيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهَا ولَمْ أَرَ قُبُوْرَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَ الأَنْصَارِ مُجَصَّصةً قَالَ الرَّاوِيُ عَنْ طَاوُسٍ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ تُبْنَى أَوْ تُجَصَّصُ وَقَدْ رَأَيْتُ مِنَ الْوُلاَةِ مَنْ يَهْدِمُ بِمَكَّةَ مَا يُبْنَى فِيْهَا فَلَمْ أَرَ الْفُقَهَاءَ يُعِيْبُوْنَ ذَلِكَ

“Saya suka bila (kuburan) tidak dibangun dan ditembok, karena itu menyerupai penghiasan dan kesombongan, dan kematian bukan tempat bagi salah satu dari keduanya. Dan saya tidak melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar ditembok”.

“Seorang perawi menyatakan dari Thawus, bahwa Rasulullah telah melarang kuburan dibangun atau ditembok”.

Saya sendiri melihat sebagian penguasa di Makkah menghancurkan semua bangunan di atasnya (kuburan), dan saya tidak melihat para ahli fikih mencela hal tersebut [al Umm 1/277)

  1. Hukum Membangun Masjid Di Atas Kuburan.

وَ أَكْرَهُ أَنْ يُبْنَى عَلَى الْقَبْرِ مَسْجِدٌ وَ أَنْ يُسَوَى أَوْ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَ هُوَ غَيْرُ مُسَوَى أَوْ يُصَلَّى إِلَيْهِ وَ إِنْ صَلَّى إِلَيْهِ أَجْزَأَهُ وَ قَدْ أَسَاءَ

“Saya melarang dibangun masjid di atas kuburan dan disejajarkan atau dipergunakan untuk shalat di atasnya dalam keadaan tidak rata atau shalat menghadap kuburan. Apabila ia shalat menghadap kuburan, maka masih sah namun telah berbuat dosa” (al Umm 1/278(

  1. Tidak Mengagungkan Kuburan.

Imam asy-Syafi’i berkata : “Aku membenci orang yang mengagungkan makhluk, sehingga menjadikan kuburannya sebagai mesjid khawatir akan terjadi fitnah (kesyirikan) bagi orang setelahnya. (Syarah Muslim, V/38 dan Kitab Tauhid fi Dhaui ‘Aqidah Imam asy-Syafi’i, 42).

  1. Sholat disamping Kuburan.

Imam asy-Syafi’i berkata ; “Seandainya ada orang yang shalat di samping kuburan atau di atasnya, maka aku membencinya. ) Kitab Tauhid fi Dhaui ‘Aqidah Imam asy-Syafi’i, 42)

Adapun dari hadits Nabi Muhammad tentang kuburan sangat banyak, berikut ini beberapa hadits yang menerangkan tentang kuburan.

 

  1. Dari Jundab, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallambersabda,

أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ  أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ  مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Ingatlah bahwa orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kubur nabi  dan orang sholeh mereka sebagai masjid. Ingatlah, janganlah jadikan kubur  menjadi masjid. Sungguh aku benar-benar melarang dari yang demikian” (HR.  Muslim no. 532).

  1. Ummu Salamah pernah menceritakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam mengenai gereja yang ia lihat di negeri Habaysah yang disebut  Mariyah. Ia menceritakan pada beliau apa yang ia lihat yang di dalamnya terdapat  gambar-gambar. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ – أَوِ الرَّجُلُ  الصَّالِحُ – بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ  الصُّوَرَ ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

Mereka adalah kaum yang jika hamba atau orang sholeh mati di  tengah-tengah mereka, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya. Lantas  mereka membuat gambar-gambar (orang sholeh) tersebut. Mereka inilah  sejelek-jelek makhluk di sisi Allah” (HR. Bukhari no. 434).

  1. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى ، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ  مَسْجِدًا

Allah melaknat orang Yahudi dan Nashrani di mana mereka menjadikan kubur  para nabi mereka sebagai masjid” (HR. Bukhari no. 1330 dan Muslim no.  529).

  1. Ali bin Abi Tholib radhiallahu Anhu

عَنْ أَبِى الْهَيَّاجِ الأَسَدِىِّ قَالَ قَالَ لِى عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ أَلاَّ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, “‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku, “Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengutusku dengan perintah tersebut. Yaitu jangan engkau biarkan patung (gambar) melainkan engkau musnahkan dan jangan biarkan kubur tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.” (HR. Muslim no. 969).

Syaikh Musthofa Al Bugho -pakar Syafi’i saat ini- mengatakan, “Boleh kubur dinaikkan sedikit satu jengkal supaya membedakan dengan tanah, sehingga lebih dihormati dan mudah diziarahi.” (At Tadzhib, hal. 95). Hal ini juga dikatakan oleh penulis Kifayatul Akhyar, hal. 214.

  1. Jabir, ia berkata,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim no. 970).

 

Kesimpulan dari pembahasan di atas;

  1. Boleh meninggikan sedikit tanah kuburan.
  2. Tidak boleh menambahkan dari tanah lain.
  3. Tidak boleh menembok kuburan.
  4. Tidak boleh membangun masjid di atas kuburan.
  5. Jika ada kuburan di depan masjid namun terhalang oleh tembok, maka hal itu dibolehkan dan shalatnya sah.
  6. Tidak boleh mengagungkan kuburan.
  7. Kuburan tempat mengingat kematian, bukan tempat ibadah.
  8. Kuburan di jadikan tempat ibadah adalah kebiasaan orang dahulu.
  9. Allah melaknak oorang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.

Cianjur, 16 Dzulqo’dah 1440 H

Abu Rufaydah

 

 

Leave a Comment