![]()
12 CATATAN PENTING TENTANG TARAWIH
Pertanyaan
Assalaamualaikum Ustadz.
mau bertanya bagaimana tata cara shalat Tarawih sesuai Sunnah ?
Baarakallahu fiikum
Anggota WAG CKS
0857-2337-XXX
Jawab :
Walaikumussalaam warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillah wal hamdulillah washalatu wassalamu ala Rasulillah, waba’du
Pertanyaan antm menunjukkan semangatnya antm untuk mengikuti tuntunan Nabi, semoga kita tetap istiqomah sampai ajal menjemput. Shalat Tarawih termasuk rangkaian ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan. Tapi sudah benarkah Shalat tarawih yang kita lakukan selama ini ? karena realita yang kita saksikan dan mungkin pernah kita lakukan shalat tarawih selalu identic dengan cepat dan kilat. Apakah shalat seperti itu sah dilakukan ? Lalu apakah shalat tarawih yang Nabi dan sahabat lakukan pun demikian ? berikut 12 catatan penting tentang Tarawih.
- Dinamakan Shalat Tarawih karena mereka beristirahat setiap selesai empat raka’at. (al-Qomus al-Muhiith, 282).
- Sa’id ibn Ali Wahf al-Qohthoni dalam kitabnya Shalatun Mukmin Maghumuha, wa Fadhluha wa Aadabun, Wa Anwaa’un wa Ahkamun wa Kaifiyatun fi DHaui al-Kitaab was Sunnahi dalam Bab Shalaatut Tathowwu beliau berkata Shalat Tarawih adalah berdiri shalat pada bulan Ramadhan di awal malam.
- Hukum shalat Tarawih adalah sunnah Muakkad.
- Shalat Tarawih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam riwayat Ahmad, Abu Daud dan yang lainnya nampir menjelang sahur. Seperti yang dikatakan oleh perawi ketika bertanya kepada Abu Dzarr al-Ghifari, apa yang dimaksud dengan falaah ? maka ia menjawab, ‘Makan sahur”. Hal ini juga menjadi dalil bagi mereka yang shalat cepat dan kital dengan dalil tradisi di masyarakat. Maka sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Shalat Tarawih memiliki beberapa keutamaan di antaranya menghapus dosa yang telah berlalu. Dalilnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).
- Shalat Tarawih disyari’atkan berjama’ah dan tetap bersama imam sampai selesai.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani)
- Shalat Tarawih dilaksanakan selepas shalat Isya atau setelah ba’diyah Isya.
- Jumlah raka’at shalat Tarawih tidak dibatasi.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749).
- Shalat Tarawih dilakukan dua raka’at dua raka’at, kemudian istirahat di raka’at ke empat. Ini pendapat Jumhur Ulama Sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah nambahi lebih dari 11 rakaat, baik di dalam ramadhan maupun di luar ramadhan. Beliau shalat 4 rakaat, jangan kamu tanya bagusnya dan panjangnya. Kemudian shalat lagi 4 rakaat, jangan kamu tanya bagusnya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 3 rakaat. (HR. Bukhari 3569)
- Tidak ada do’a khusus selepas shalat Tarawih.
- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan tidak lebih dari sebelas raka’at.
A’isyahradhiallahu anha pernah ditanya oleh murid-muridnya tentang bagaimana cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam. Jawab A’isyah radhiyallahu ‘anha,
مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
Beliau tidak pernah nambahi lebih dari 11 rakaat, baik di dalam ramadhan maupun di luar ramadhan. (HR. Bukhari 3569).
12. Doa setelah witir
Doa pertama
اللَّهُمَّ إِني أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِـمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَـتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ ، أَنْتَ كَمَا أَثْــــنَــــيْتَ عَلَى نَــــفْسِكَ
“Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak bisa menyebut semua pujian untuk-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” (H.r. An-Nasa’i, Abu Daud, dan Turmudzi; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Doa kedua
سُبْحَانَ الـمَلِكِ القُدُّوْسِ
“Mahasuci Dzat yang Maha Menguasai lagi Mahasuci.” (H.r. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Baca juga 28 CATATAN SINGKAT SEPUTAR RAMADHAN
Cianjur, 30 Sya’ban 1439 H
Abu Rufaydah di Kota Santri Cianjur