TIGA HAL YANG WAJIB DIKETAHUI Bag. I

Loading

TIGA HAL YANG WAJIB DIKETAHUI Bag. I

Rangkuman Kajian Rutin Kitab Utsul Ats-Tsalatsah

Oleh Abu Rufaydah

 

Akhi (Saudaraku).

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada anda.

Dan ketahuilah, bahwa wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari dan mengamalkan ketiga perkara ini :

  1. Bahwa Allah-lah yang menciptakan kita dan yang memberi rizki kepada kita. Allah tidak membiarkan kita begitu saja dalam kebingungan, tetapi mengutus kepada kita seorang rasul, maka barangsiapa mentaati rasul tersebut pasti akan masuk surga dan barangsiapa menyalahinya pasti akan masuk neraka.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا﴿١٥﴾فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang rasul yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus kepada Fir’aun seorang rasul, tetapi Fir’aun mendurhakai rasul itu, maka Kami siksa ia dengan siksaan yang berat”. [al-Muzammil /73: 15-16]

Penjelasan :

  • Allah yang menciptakan kita.

Allah –ta’ala- berfirman:

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا  (سورة الإنسان : 1

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”. (QS. al Insan: 01).

Kata “al insan” (manusia) dalam ayat tersebut mencakup semua manusia; karena semua manusia adalah makhluk, dan baru, mereka diciptakan setelah sebelumnya tidak ada, dan sebelumnya bukanlah sesuatu yang bisa disebut, sebagaimana firman Allah –subhanahu wa ta’ala– tentang Nabi Zakariya –alaihis salam– :

قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا (سورة مريم: 9)

“Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali“. (QS. Maryam: 9)

Syeikh Abdur Rahman as Sa’di –rahimahullah– berkata:

“Allah telah menyebutkan dalam surat yang mulia ini keadaan pertama seorang manusia, permulaannya, dan berakhirnya, maka Dia (Allah) menyebutkan bahwa manusia akan melalui masa yang panjang, yang sebelumnya tidak ada, bahkan bukanlah sesuatu yang bisa disebut”. (Taisir Karim Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan: 900)

  • Memberikan rizki kepada kita.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari makhluk dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz Dzariyat: 56-58).

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ   (سورة هود: 6)

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

 

Ayat di atas menjelaskan bahwa setelah manusia diciptakan untuk satu tujuan yaitu beribadah kepadanya dan Allah tidak butuh kepada Makhluk-Nya. Di ayat yang kedua Allah menjelaskan bahwa semua makhluknya telah Allah jamin rizkinya.

  • Allah tidak membiarkan kita begitu saja dalam kebingungan.

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115).

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya[?] ” (Madaarijus Salikin, 1/98) Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36).

 

Imam Asy Syafi’i mengatakan,

لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى

“(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”.

Ulama lainnya mengatakan,

لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ

“(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madaarijus Salikin, 1/98)

  • Tetapi mengutus kepada kita seorang rasul,

Allah Ta’ala berfirman  :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut ” (QS. An Nahl:36)

  • Barangsiapa mentaati rasul tersebut pasti akan masuk surga dan barangsiapa menyalahinya pasti akan masuk neraka

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴿١٣﴾وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Barangsiapa taat kepada Allah dan RasulNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasulNya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. ” [An-Nisa’/4:13-14]

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏”‏ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، إِلاَّ مَنْ أَبَى ‏”‏‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ ‏”‏ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى ‏”‏‏.‏

“Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan”, para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah siapakah orang yang enggan?” Beliau menjawab, “Siapa yang taat kepadaku maka ia akan masuk surga dan siapa yang maksiat kepadaku maka ia telah enggan (untuk masuk surga).” (HR. Bukhari).

 

Kesimpulan :

  1. Hendaknya kita menyadari bahwa kita adalah makhuk yang lemah dan butuh kepada yang Maha Sempurna.
  2. Tujuan diciptakan yaitu untuk beribadah hanya kepada-Nya.
  3. Ketika Allah menciptkan Allah memfasilitasi dengan berbagai macam kebutuhan manusia dan Allah tidak mungkin meninggalkan manusia begitu saja, tanpa ada aturan dan tujuan.
  4. Agar tujuan itu tercapai Allah mengutus Rasul di setiap generasi, agar memudahkan manusia mencapai tujuan hidup.
  5. Allah mengutus para Rasul kepada segenap manusia agar ditegakkan hujjah atas mereka,, dan supaya mereka menyembah Allah dengan apa yang dicintai dan diridhai-Nya.
  6. Maka siapa yang mentaati dan mengikutinya maka ia akan sampai kepada tujuan hidupnya yaitu di surga, dan siapa yang menentang dan tidak taat kepadanya maka ia akan sengsara di dalam neraka.
  7. Poin pertama ini, penulis menjelaskan tentang Rububiyyah Allah yang terlihat dari Makhluknya.

 

  1. Bahwa Allah tidak rela, jika dalam ibadah yang ditujukan kepada-Nya, Dia dipersekutukan dengan sesuatu apapun, baik dengan seorang malaikat yang terdekat atau dengan seorang nabi yang diutus manjadi rasul.

Allah Ta’ala berfirman :

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah seorang-pun di dalamnya disamping (menyembah) Allah”. [al-Jinn/72: 18]

 

Penjelasan:

Jika di poin pertama penulis menerangkan tentang Rububiyyah Allah, di poin ke dua ini penulis menjelaskan tentang Uluhiyyah-Nya, karena seorang muslim tidak cukup hanya mengetahui Rububiyyah Allah, sampai ia mengetahui dan mengamalkan konsekwensi Uluhiyyah Allah. Oleh karena itu orang yang hanya mengetahui Rububiyyah Allah tidak memasukkannya ke dalam islam.

Jika Allah telah menciptakan, memberikan rizki, dan mengutus para Rasul pada setiap generasi, maka sikap kita kepada Allah yaitu tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Apakah yang disekutukan itu malaikat yang dekat atau Rasul yang diutus maka hal itu tidak boleh. Jika kepada Malaikan dan Rasul yang sudah jelas kedudukannya di sisi Allah, kita tidak boleh menyekutukan-Nya apalagi dengan selainnya.

Dalam ayat di atas, terdapat dua keumuman. Yang pertama adalah larangan beribadah pada selain Allah dan yang kedua adalah terkait dengan sesembahan selain Allah. Berikut penjelasannya.

  1. Larangan Ibadah pada Selain Allah

Dalam kata kerja فَلَا تَدْعُوا falā tad’ū terdapat mashdar nakirah pada konteks kalimat larangan yang menunjukkan keumuman cakupan makna kata kerjanya, yaitu ad-du’a yang mencakup do’a masalah (berdo’a) maupun do’a ibadah (beribadah selain berdo’a). Sehingga makna فَلَا تَدْعُو adalah janganlah kalian menyembah. Maksudnya adalah janganlah kalian menyembah selain Allah, baik dengan ibadah dalam bentuk do’a kepada selain Allah maupun mempersembahkan ibadah lainnya (selain ibadah do’a) kepada selain Allah.

  1. Keumuman Kedua

Dalam فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا falā tad’ū ma’allāhi ahadā disebutkan kata أَحَدًا ahadā adalah nakirah (tidak ber alif lam) dan berada dalam konteks kalimat larangan, maka menunjukkan bahwa seluruh sesembahan selain Allah dilarang disembah, baik dari kalangan malaikat, wali, jin, manusia, dan selainnya.

Penjelasan tentang kedua keumuman di atas, disebutkan oleh Syaikh Sholeh Alusy- Syaikh –hafizhahullah– dalam kitab beliau Syarh Tsalatsatil Ushul, beliau menjelaskan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kalian menyembah apapun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (maksudnya) tidak (menyembah selain Allah) dengan do’a masalah dan tidak pula dengan do’a ibadah.

فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

karena itu janganlah kalian menyembah apapun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”, maksudnya janganlah kalian beribadah kepada siapapun di samping beribadah kepada Allah1.

Dengan demikian, tepatlah ucapan Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullahu di atas, bahwa Allah tidak ridho dipersekutukan dengan sesuatu apapun dalam peribadatan.

Kesimpulan :

  1. Orang yang mengakui Rububiyyah Allah belum masuk islam sampai mengamalkan Uluhiyyah Allah yaitu hanya beribadah kepada-Nya.
  2. Allah yang Maha Menciptakan dan Maha Memberi Rizki, maka konsekwensinya kita hanya beribadah kepada-Nya.
  3. Larangan melakukan kesyirikan yaitu menduakan Allah dalam penciptaan dan dan Ibadah.
  4. Jika beribdah kepada malaikan dan rasul tidak boleh, padahal telah jelas kedudukannya di sisi Allah. Apalagi ibadah kepada selain-Nya.
  5. Allah menyebutkan di ayat ini diantara contoh kesyirikan yaitu berdo’a kepada selain Allah. Karena hal ini banyak dilakukan oleh manusia

 

Cianjur, 27 Syawwal 1439 H.

Referensi :

  1. Syarah Usul Tsalatsah Syaikh al-Utsaimin rahimahullah
  2. Syarah Usul Tsalatsah Syaikh Dr. Sulaiman Ar-Ruhaily
  3. Syarah Usul Tsalatsah Syaikh Dr. Shalih al Fauzan
  4. Taisir al-Wusul Syarh Tsalatsah al-Usul karya Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad al-Qosim.
  5. Dan yang lainnya.

 

Leave a Comment