MENGENAL AGAMA ISLAM DENGAN DALIL

Loading

MENGENAL AGAMA ISLAM DENGAN DALIL

Endang Hermawan Unib

 

Bismillah Wal Hamdulillah Washalatu Wassalamu Ala Rasulillah, Amma Ba’du:

Prinsip Dasar

Di antara prinsip dasar yang wajib diketahui oleh setiap muslim yaitu mengenal agama islam dengan dalil. Islam tegak dengan dalil, dalil dari al-Qur’an atau Hadits sesuai pemahaman salafus shaleh, bukan berdasarkan perasaan, akal, logika, adat istiadat, ta’ashub, panatisme, dan yang lainnya. Sejak Nabi dan Rasul pertama dan terakhir diutus dan kitab-kitab diturunkan, islam tetaplah agama tauhid, agama yang menjungjung tinggi nilai keesaan Allah. Alam semesta tercipta, adanya pahala dan siksa, surga dan neraka semua tujuannya sama yaitu agar manusia beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi sesembahan selain-Nya, itulah yang dinamakan dengan islam.

Definisi ad-Diin (Agama).

Pembaca yang dirahmati Allah. Agama atau yang disebut dengan ad-Diin secara Bahasa adalah taat, tunduk, dan berserah diri. Adapun secara istilah berarti sesuatu yang dijadikan jalan oleh manusia dan diikuti (ditaati) baik berupa keyakinan, aturan, ibadah, maupun yang semacamnya, benar maupun salah. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ

“Untukmulah agama (terjemahan din, red)-mu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 6)

Ad-Din yang benar adalah Islam, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

Sesungguhnya din (yang diridhai) di sisi Allah, hanyalah Islam….” (Ali ‘Imran: 19)

Maka agama yang dianut oleh ahlul kitab setelah Nabi Muhammad diutus jika mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad maka termasuk orang kafir dan jika meninggal masuk dalam neraka. Jadi Dinul Islam mencakup akidah (keyakinan), ibadah, muamalah, dan akhlak sebagaimana dalam hadits Jibril yang menyebutkan tentang rukun Islam, rukun iman, dan ihsan. Dikatakan pada akhir hadits tersebut, “Ini Jibril, datang kepada kalian mengajari diin kalian.”

Definisi Islam

Adapun Islam yaitu secara Bahasa yaitu pasrah, tunduk dan patuh. Sedangkan secara istilah Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah mengatakan :

الإسلام هو الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة ، والبراءة من الشرك وأَهله

Islam adalah pasrah kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya, dan berlepas diri dari semua kesyirikan dan pelakunya. (Taisir al-Wushul Syarah Tsalatsah al-Ushul, hlm. 113).

Jika melihat dalil dari al-Qur’an atau pun as-Sunnah, maka kita akan dapati bahwa semua Nabi dan Rasul beragama islam.  Oleh karena itu para ulama membagi islam kepada dua bagian;

Pertama, islam dalam arti umum

Yang dimaksud islam dalam arti umum adalah semua ajaran para nabi, yang intinya mentauhidkan Allah dan mengikuti aturan syariat yang berlaku ketika itu.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

الإسلام بالمعنى العام: هو التعبد لله بما شرع منذ أن أرسل الله الرسل إلى أن تقوم الساعة

Islam dalam arti umum adalah menyembah Allah sesuai dengan syariat yang Dia turunkan, sejak Allah mengutus para rasul, hingga kiamat. (Syarh Ushul at-Tsalatsah, hlm. 20)

Berdasarkan pengertian ini, berarti agama seluruh Nabi dan Rasul beserta pengikutnya adalah islam. Meskipun rincian aturan syariat antara satu dengan lainnya berbeda. Diantara dalil mengenai islam dalam makna umum, dalam al-Quran, Allah menyebut Ibrahim dan anak keturunannya, orang-orang islam.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. al-Baqarah: 132).

Allah juga mengingkari klaim sebagian orang bahwa Ibrahim penganut yahudi dan nasrani,

أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ

Kalian (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” (QS. al-Baqarah: 140).

Kedua, islam dalam arti khusus

Islam dalam arti khusus adalah ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syariat beliau menghapus syariat sebelumnya yang bertentangan dengannya .

Imam Ibnu Utsaimin menyebutkan,

والإسلام بالمعنى الخاص بعد بعثة النبي صلى الله عليه وسلم يختص بما بعث به محمد صلى الله عليه وسلم لأن ما بعث به النبي صلى الله عليه وسلم نسخ جميع الأديان السابقة فصار من أتبعه مسلماً ومن خالفه ليس بمسلم

Islam dengan makna khusus adalah islam setelah diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khusus dengan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Syariat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus semua agama sebelumnya. Sehingga pengikutnya adalah orang islam, sementara yang menyimpang dari ajaran beliau, bukan orang islam. (Syarh Ushul at-Tsalatsah, hlm. 20).

Islam berdiri di atas Dalil

Hal terpenting setelah mengetahui agama islam yaitu bahwa agama islam tegak di atas dalil. Semua hal yang dibutuhkan oleh setiap muslim pasti ada panduannya dari islam, apakah berkaitan dengan aqidah, ibadah atau mu’amalah. Hal ini semakin memperjelas akan kesempurnaan agama islam di atas agama lainnya, sehingga siapapun yang menambahkan atau mengurangi maka dia berada dalam kerugian yang nyata.

Tidak dengan akala tau Logika

Ali radhiyallahu ‘anhu, pernah berkata,

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Kata Ash Shon’ani rahimahullah, “Tentu saja secara logika yang lebih pantas diusap adalah bagian bawah sepatu daripada atasnya karena bagian bawahlah yang langsung bersentuhan dengan tanah.” Namun kenyataan yang dipraktekkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah demikian. Lihat Subulus Salam, 1: 239.

Tidak mengikuti nenek Moyang.

Allah berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).

Dalam menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Jika mereka diajak kepada agama dan syariat Allah, kepada hal-hal yang Allah wajibkan dan meninggalkan hal-hal yang Allah haramkan, mereka berkata, cukup bagi kami jalan-jalan yang ditempuh oleh nenek moyang kami. Allah berfirman, ‘Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?’ Yakni, mereka tidak mengetahui, memahami dan mengikuti kebenaran. Lalu kenapa mereka tetap mengikutinya padahal demikian keadaannya?! Tidak ada yang mengikuti mereka melainkan orang yang lebih bodoh dari mereka dan lebih sesat jalannya. (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim (2/108, 109).

Kesimpulannya tidak ada agama yang diridhoi oleh Allah kecuali agama Islam, maka wajib menyakini bahwa islam satu-satunya agama yang benar, adapun selainnya adalah agama yang batil. Islam harus dibangun di atas dalil, bukan mengikuti perasaan, logika, adat istiadat atau yang lainnya.

Referensi:

  1. Syarah Utsul at-Tsalatsah
  2. Tafsir Ibnu Katsir
  3. Subulus Salam

 

 

 

Leave a Comment