MENDULANG HIKMAH DARI KISAH ASH-SHABUL KAHFI

 236 total views,  4 views today

MENDULANG HIKMAH DARI KISAH ASH-SHABUL KAHFI

Oleh Abu Rufaydah Endang Hermawan

Surat al Kahfi adalah surat pelindung dari berbagai fitnah. Fitnah yang paling besar adalah Fitnah Dajjal. Tidak ada Nabi dan Rasul diutus kecuali mengingatkan kaumnya dari besarnya fitnah Dajjal. Kita pun dituntut untuk berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal di akhir Tasyahhud shalat kita. Selain fitnah Dajjal ada 4 fitnah (ujian) yang disebutkan dalam surat al Kahfi. Sebagai panduan kita dalam menghadapi berbagai fitnah. Baca selengkapnya di INTISARI SURAT AL-KAHFI

Allah Berfirman :

Ayat ke 9

قال تعالى: “أم حسبتَ أنَّ أصحابَ الكهفِ والرقيمِ كانوا من آياتِنا عجباً” [الكهف:9].

Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) Ar Raqim[1] itu, termasuk tanda-tanda kebesaran Kami yang menakjubkan (2)

Faidah :

  1. Tidak sepantasnya kita membaca kisah-kisah dalam al-Qur’an dengan cepat. Tapi bacalah dengan disertai tafakkur dan tadabbur untuk mengambil faidah dan pelajaran yang terkandung didalamnya sehingga menjadi petunjuk dan cahaya bagi kita. Jika tidak seperti itu maka kita seperti Keledai yang membawa kitab, namun tidak memahaminya.
  2. Tidak ada yang menakjubkan dari kisah Ash-Shabul Kahfi, karena kemampuan Allah tidak ada batasnya, bukankah penciptaan langit dan bumi jauh lebih menakjubkan dibandingkan penciptaan manusia ? Sekiranya orang-orang kafir itu takjub kepada yang akan membangkitkan mereka setelah kematian. Sesungguhnya para Nabi mengetahui keagungan Allah sehingga bertambahlah imannya.
  3. Seorang mukmin semestinya bertafakkur terhadap semua ayat-ayat Allah, karena tafakkur kunci keimanan dan jalan untuk mendapatkan ilmu. (Syaikh Abdurrahman As-Sa’dy rahimahullah).
  4. Dalam al-Qur’an tidak disebutkan waktu dan tempat ash-Shabul Kahfi berada, karena hal itu tidak memberikan faidah, jika hal itu diketahui bisa menyebabkan Ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap mereka.

Ayat ke 10

إذ أوى الفتيةُ إلى الكهفِ فقالوا ربَّنا آتِنا من لدنكَ رحمةً وهيئْ لنا من أمرِنا رَشَداً” [الكهف:10].

[3](Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua[4], lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan Kami[5].”

Faidah :

  1. Kepergian mereka ke Gua adalah untuk menyelamatkan agama mereka dari fitnah kaumnya. Mereka telah mamadukan antara lari dari fitnah dan tunduk kepada Allah serta tidak menyandarkan permasalah yang terjadi pada diri sendiri. (Syaikh Abdurrahman As-Sa’dy).
  2. Keutamaan berdo’a kepada Allah dan penjelasan do’a-do’a yang mereka munajatkan kepada Allah. (Ibnu Jarir Ath-Thobari).
  3. Bersandar kepada Allah adalah sulusi bagi seorang mukmin, karena Allah yang menolong-Nya dan melindungnya. Ketika mereka bersandar kepada-Nya dengan berdo’a, maka Allah memberikan perlindungan dan memberikan kepada mereka rahmat, petunjuk dan pengarahan. (Ustman Qodary Makanisy).
  4. Orang-orang kafir Quraisy bertanya kepada Nabi tentang Ash-Shabul Kahfi, lalu Nabi berjani untuk mengabari mereka, maka Allah mengabarkan kisah mereka.

Ayat ke 12

فضربنا على آذانِهم في الكهفِ سنينَ عدداً ثُمَّ بعثناهم لنعلمَ أيُّ الحزبينِ أحصى لما لبثوا أمداً” [الكهف:12].

Maka Kami tutup telinga mereka[6] di dalam gua itu selama beberapa tahun[7], Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu[8] yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).

Faidah :

  1. Karomah Allah kepada Ash-Shabul Kahfi (Ibnu Jarir)
  2. Allah selalu mengabulkan siapapun yang berdo’a kepada-Nya. (As-Sa’dy).
  3. Sesungguhnya pada tidur mereka terdapat penjagaan Allah dari rasa takut yang mereka hadapi. Hal ini sebagai bukti yang nyata.
  4. Hikmah Allah menutup telinga mereka agar mereka tidak mendengar suara apapun yang ada disekitar mereka, hal ini menunjukkan tidur mereka sangat pules. (Ibnu Utsaimin).
  5. Allah menamai bangun dari tidur dengan kata bangkit, karena tidur bagian dari kematian. (Ibnu Utsaimin).
  6. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui) maksudanya Allah mengetahu perkara yang Nampak dan yang tersembunyi, tidak ada yang luput dari pengetahuan Allah. (Ibnu Utsaimin).
  7. Dalam kisah ini jelas menunjukkan kesempurnaan kempuan, hikmah dan rahmat Allah, dan Ilmu Allah meliputi segala sesuatu. (As-Sa’dy).

Ayat ke 13

نَحنُ نقصُّ عليكَ نبأهم بالحقِّ إنهم فتيةٌ آمنوا بربِّهم وزدناهم هُدىً” [الكهف:13].

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda[9] yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka[10].

Faidah :

  1. Dhomir Nahnu (kami) pada ayat diatas menunjukkan keagungan. (Ibnu Utsaimin)
  2. Kisah yang Allah kabarkan kepada kita adalah sebaik-baiknya kisah. Karena bersumber dari ilmu dan kebenaran. Dengan bahasa yang lugas dan jelas. (Ibnu Utsaimin).
  3. Allah membalas para pemuda ash-Shabul Kahfi dengan petunjuk. (As-Sa’dy).
  4. Setiap kali amal seorang hamba bertambah karena ilmunya, maka Allah memberikan mereka petunjuk (ilmu). (ibnu Utsaimin).
  5. Kisah mereka nyata dan bukan fiktif, tidak seperti yang dikatakan orang-orang dimana kisah-kisah dalam al-Qur’an adalah fiktif belaka, hanya untuk mengambil pelajaran saja. Justru sebaliknya kisah-kisah dalam al-Qur’an adalah nyata.
  6. Pemuda memiliki peran yang sangat besar untuk menyebarkan dakwah, karena mereka memiliki banyak kekuatan.
  7. Mengetahui kebenaran dan petunjuk tidak dilihat dari usia atau pengalaman, ash-Shabul Kahfi adalah para pemuda yang beriman kepada Allah di saat para orang tua durhaka kepada-Nya. (ibnu Jarir)

Ayat ke 14

وربطنا على قلوبِهم إذ قاموا فقالوا ربُّنا ربُّ السمواتِ والأرضِ لن ندعوا من دونهِ إلهاً لقد قلنا إذاً شَططاً” [الكهف:14].

Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri[11], lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; Kami tidak menyeru tuhan selain Dia[12]. Sungguh, kalau kami berbuat demikian tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.”

Faidah :

  1. Menyelisihi suatu kaum memerlukan keteguhan, apalagi para pemuda, mereka begitu mudah terpengaruh. (Ibnu Utsaimin)
  2. Kelembutan Allah kepada mereka dengan diberikan kekuatan iman, petunjuk, kesabaran, keteguhan dan ketenangan. (As-Sa’dy).
  3. Keutamaan para pemuda yang mengenal Allah, mereka menggabungkan antara tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah dan berlepas diri dari kesyirikan. (as-Sa’dy).
  4. Siapa yang bersandar kepada Allah, maka Allah akan meneguhkannya.
  5. Perlunya menyampaikan dakwah kepada manusia secara terang-terangan, agar dakwah yang haq ini sampai kepada mereka. Pemuda Ash-Shabul Kahfi menjadi teladan kebaikan bagi kita.
  6. Siapa saja yang merealisasikan tauhid dalam hatinya dan hatinya dioenuhi dengan keimanan dan kejujuran, maka tidak akan menyulitkannya jika harus berpisah dengan kelurga an kampong halamannya. Mekera akan memilih keimanan yang benar dan agama yang lurus, walaupun mereka mendapati berbagai macam ancaman dan penyiksaan. (Ibnu Jarir).

Ayat ke 15

هؤلاءِ قومُنا اتخذوا من دونهِ آلهةً لولا يأتون عليهم بسلطانٍ بيّنٍ فمن أظلمُ ممن افترى على اللهِ كذِباً” [الكهف:15].

  1. [13]Mereka itu kaum kami yang telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah[14]?

Faidah :

  1. Kaumnya memaksa mereka untuk membuktikan apa yang mereka yakini, karena mereka berada dalam kebodohan yang nyata.
  2. Siapapun yang berdusta, maka tidak ada yang paling zalim melebihi orang yang berdusta. (ibnu Utsaimin).

Ayat ke 16

وإذ اعتزلتُموهم وما يعبدونَ إلا اللهَ فأووا إلى الكهفِ ينشرْ لكم ربُّكم من رحمتِهِ ويُهيئْ لكم من أمرِكم مِرفقاً” [الكهف:16].

[15]Dan apabila kamu meninggalkan mereka[16] dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu[17].

Faidah :

  1. Boleh mengambil sebab yang dibenarkan untuk selamat dari keburukan. (As-Sa’dy).
  2. Penjagaan Allah terhadap wali-wali-Nya. Ketika mereka beriman kepada Allah dengan keimana yang benar, maka Allah menjaga mereka dari berbagai mara bahaya. (ibnu Jarir).
  3. Lari dari fitnah adalah solusi yang tepat.

Ayat ke 17 dan 18

وترى الشمسَ إذا طلعتْ تَزاورُ عن كهفِهم ذاتَ اليمينِ وإذا غرَبتْ تَّقرِضُهم ذاتَ الشمالِ وهم في فجوةٍ منه ذلكَ من آياتِ اللهِ من يهدِ اللهُ فهو المهتدي ومن يُضلِلْ فلن تجدَ له وليّاً مُرْشِداً وتحسبُهم أيقاظاً وهم رُقودٌ ونقلِّبُهم ذاتَ اليمينِ وذاتَ الشمالِ وكلبُهم باسطٌ ذراعيهِ بالوصيدِ لو اطلعتَ عليهم لولَّيتَ منهم فِراراً ولمُلِئْتَ منهم رُعباً” [الكهف:17-18].

  1. Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri[18] sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu[19]. Itulah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka Dialah yang mendapat petunjuk[20]; dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya[21].
  2. Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur[22]; dan Kami bolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri[23], sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan diri dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka[24].

Faidah :

  1. Karomah Allah kepada mereka. Diantara penjagaan Allah kepada mereka yaitu posisi pintu yang tidak menghadap timur dan barat, Subhanallah jika sekirannya menghadap ke timur, maka akan terkena matahari saat terbit, jika menghadap barat akan terkena matahari saat tenggelam, hal ini menunjukkan kekuasaan Allah. (ibnu Utsaimin).
  2. Adapun sebab matahari tidak langsung mengenai mereka agar jasad mereka tidak mudah rusak. (Ibnu Utsaimin).
  3. Pada firman Allah Terbit, condong dan tenggelam hal ini menunjukkan bahwa matahari bergerak dan bumi itu bergerak diporosnya. (ibnu Utsaimin).
  4. Hendaknya seorang muslim senantiasa memohon hidayah kepada Allah. Karena Allah Maha Pemberi petunjuk. (Ibnu Utsaimin).
  5. Penjagaan Allah dari bumi dengan membolak-balikan badan mereka kemiri dan kekanan, padahal tanpa itu pun Allah mampu, namun hal ini agar menjadi sunnatullah dengan begitu maka manusia akan mencari sebab-sebab yang diperbolehkan. (As-Sa’dy)
  6. Kemampuan Allah sangat sempurna yang menjadikan mereka seolah-olah dalam kondisi terjaga dan tidak nampak pada mereka tanda-tanda tidur.
  7. Apa yang mereka lakukan saat tidur, yaitu bolak-balik ke kiri dan ke kanan tidak disandarkan kepada mereka, namun disandarkan kepada Allah. Adapun hikmah bolak-balik badan mereka agar kondisi darah stabil. (ibnu Utsaimin).
  8. Allah berika rasa takut kepada siapapun yang melihat mereka, agar tidak ada satu pun yang mendekati mereka. (Ibnu Utsaimin).
  9. Diperbolehkan menjadikan anjing sebagai penjaga. (ibnu Utsaimin).

 

Bersambung ……

Cianjur, 26 Rajab 1439 H

Keterangan :

[1] Raqim, menurut sebagian ahli tafsir adalah nama anjing, dan sebagian yang lain mengartikan batu bertulis, yang di sana tertulis nama dan nasab mereka.

[2] Tidak ayat-ayat-Nya yang lain. Bahkan ayat-ayat-Nya yang lain pun sama menakjubkan pula, oleh karena itu perlu diperhatikan dan dipikirkan, karena memperhatikan ayat-ayat-Nya merupakan kunci keimanan, jalan mencapai ilmu dan keyakinan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala senantiasa memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya ayat-ayat-Nya di alam semesta dan pada diri mereka agar semakin jelas antara yang hak dengan yang batil, dan petunjuk daripada kesesatan.

[3] Di ayat ini disebutkan kisah mereka secara jumlah (garis besar), dan nanti (yaitu pada ayat 13 dan seterusnya) akan disebutkan lebih rinci.

[4] Dalam keadaan takut disiksa oleh kaum mereka yang kafir karena beriman kepada Allah.

[5] Mereka menggabung antara usaha dan menjauh dari fitnah dengan sikap tadharru’ (merendahkan diri) dan meminta kepada Allah, serta tidak bersandar kepada diri dan orang lain. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengabulkan doa mereka.

[6] Yakni Kami tidurkan mereka.

[7] Maksudnya, Allah menidurkan mereka selama 309 tahun qamariah dalam gua itu (Lihat ayat 25) sehingga mereka tidak dapat dibangunkan oleh suara apa pun. Dalam tidur mereka selama ratusan tahun itu untuk menjaga mereka dari keguncangan hati dan rasa takut, demikian pula untuk menjaga mereka dari penangkapan oleh kaum mereka, serta sebagai salah satu di antara ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[8] Kedua golongan itu ialah pemuda-pemuda itu sendiri yang berselisih tentang berapa lamanya mereka tinggal dalam gua itu.

[9] Dalam ayat tersebut dipakai jama’ yang menunjukkan sedikit, yaitu kata “fityah” (beberapa pemuda), yang menunjukkan bahwa jumlah mereka di bawah sepuluh.

[10] Berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

[11] Maksudnya, berdiri di hadapan raja Dikyanus (Decius) yang zalim dan menyombongkan diri, serta memerintahkan mereka bersujud kepada berhala.

[12] Mereka berdalih dengan rububiyyah Allah terhadap alam semesta untuk menunjukkan keberhakan-Nya untuk diibadahi, yaitu karena Dia Tuhan Pencipta langit dan bumi, maka hanya Dialah yang brhak diibadahi. Mereka menggabung antara mengikrarkan tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah, demikian pula berpegang di atasnya serta menerangkan bahwa selain Alah adalah batil. Hal ini merupakan bukti sempurnanya pengetahuan mereka terhadap Tuhan mereka dan pemberian petunjuk dari Allah kepada mereka.

[13] Setelah mereka menyebutkan nikmat yang telah diberikan Allah berupa iman dan hidayah, maka mereka beralih melihat keadaan kaum mereka yang menjadikan sesembahan selain Allah. Mereka membenci perbuatan itu dan menerangkan, bahwa perbuatan itu sama sekali tidak di atas ilmu dan keyakinan.

[14] Dengan menisbatkan sekutu bagi-Nya, padahal Dia tidak mempunyai sekutu.

[15] Perkataan ini terjadi antara mereka sendiri yang timbul karena ilham dari Allah.

[16] Karena tidak sanggup menghadapi mereka dan tidak mungkin tinggal di tengah-tengah mereka.

[17] Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan Kami.” Di mana dalam doa tersebut mereka menggabung antara sikap berlepas diri dari kemampuan mereka, menghadap kepada Allah agar Dia memperbaiki urusan mereka, berdoa dengannya, dan merasa yakin dengan Allah, bahwa Dia akan melakukannya, maka sudah tentu Allah akan melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka, menyiapkan hal yang berguna bagi mereka, menjaga agama dan badan mereka, serta menjadikan mereka termasuk di antara ayat-ayat-Nya, menyebut mereka dengan sebutan yang baik, di mana hal itu termasuk rahmat-Nya kepada mereka. Demikian pula memudahkan sebabnya untuk mereka, sampai tempat yang mereka singgahi untuk istirahat pun sangat cocok bagi mereka.

[18] Oleh karena itu, mereka tidak terkena panasnya matahari.

[19] Oleh karena itu, udara dan angin sepoi-sepoi masuk mengenai mereka, tidak ada udara kotor, dan mereka tidak terganggu dengan tempat yang sempit, terlebih dengan waktu yang lama. Hal ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah dan rahmat-Nya. Demikian pula sebagai pengabulan terhadap doa mereka, dan hidayah bagi mereka sampai dalam masalah ini.

[20] Tidak ada jalan untuk memperoleh hidayah kecuali dengan meminta kepada Allah.

[21] Yakni engkau tidak akan mendapatkan seorang pun yang mengarahkan dan mengaturnya kepada hal yang bermaslahat baginya; hal yang di dalamnya terdapat kebaikan dan keberuntungan baginya, karena Allah telah memutuskannya sebagai orang yang tersesat, dan tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya.

[22] Banyak para mufassir yang mengatakan, bahwa hal itu karena mata mereka terbuka agar tidak rusak.

[23] Hal ini termasuk penjagaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala terhadap badan mereka, karena tanah itu pada tabi’atnya memakan jasmani yang menempel dengannya. Oleh karena itu, termasuk qadar Allah, Dia membolak-balikkan rusuk mereka ke kanan dan ke kiri seukuran yang tidak dimakan tanah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala sesungguhnya Mahakuasa menjaga mereka tanpa perlu membolak-balikkan badan mereka, akan tetapi Dia Mahabijaksana; Dia ingin sunnah-Nya berlaku di alam semesta dan mengikat sebab dengan musabbabnya.

[24] Hal ini merupakan penjagaan Allah untuk mereka dari manusia, setelah sebelumnya disebutkan penjagaan-Nya agar jasad mereka tidak dimakan tanah. Penjagaan-Nya dari manusia adalah apabila ada manusia yang melihat mereka, tentu hatinya penuh rasa takut dan melarikan diri dari mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka, padahal gua tersebut dekat sekali dengan kota.

 

Leave a Comment