MENANTI SANG BUAH HATI

Loading

MENANTI SANG BUAH HATI

Oleh Abu Rufaydah

Saat sendiri, orang-orang bertanya kapan menikah ? sudah menikah sering ditanya kapan dapat momongan ? Iya. Pertanyaan ini sering kita dengar bahkan kita pun pernah ditanya. Setiap keluarga muslim mendambakan kehadiran seorang anak. Terlebih jika rumah tangga yang dibina sudah berjalan lama. Kehadiaran anak menjadi pelengkap kebahagiaan sebuah keluarga ideal. Keluarga tanpa anak, bak ruang hampa tanpa perabotan.

Sebagian rumah tangga merasa risau dan gelisah, manakala anak yang ditunggu tak kunjung datang. Bahkan demi untuk mendapatkan anak segala cara pun ia tempuh. Namun bukan anda satu-satunya yang merasakan bahkan Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan Nabi Zakariya  Alaihis Salam pun pernah diuji dengan penantian panjang. Penantian lahirnya sang buah hati. Penantian yang menuntut kesabaran.

Allah mengabadikan ketulusan dan keistiqomahan Nabi Zakariya Alaihis Salam dalam berdoa kepada Allah. Allah berfirman.

“Yaitu kala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut, ‘Sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, namun aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, duhai Tuhanku. Dan sungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra, yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub. Jadikanlah pula ia, duhai Tuhanku, seorang yang diridhai.’” (QS. Maryam: 2 – 6)

Doa Nabi Zakariya pun terkabul,

“Wahai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam: 7).

Kabar gembira datang saat Nabi Zakaria sedang shalat.

“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedangkan ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya), ‘Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi yang termasuk keturunan orang-orang shalih.” (QS. Ali Imran: 39).

 

Pelajaran penting dari kisah Nabi Zakariya Alahis Salam:

  1. Memohonlah kepada Allah dengan adab dan cara yang baik. Diantara cara berdoa kepada Allah yaitu dengan suara yang lembut, penuh perendahan diri di hadapan Allah Rabbul ‘
  2. Berbaik sangkalah kepada Allah dalam setiap kondisi.
  3. Berdo’a kepada Allah dengan Asmaul Husna: Ya Rabbi, wahai Tuhanku, Engkau Maha Mengabulkan doa, Engkau Maha Mendengar, Engkau Maha Pemurah, atau Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Hampir setiap Nabi memohon kepada Allah dengan menyebut nama Al-Rabb.
  4. Istiqomahlah dalam berdo’a disertai dengan penghinaan diri dihadapan yang Maha Mulia dan menyebutkan kelemahan diri dihadapan yang Maha Kuat. Hal ini terlihat dari pengakuan kondisi Nabi Zakaria yang telah menua dan istrinya yang mandul.
  5. Selain memohon agar dikaruniai anak, Nabi Zakariya juga memohon agar anak tersebut adalah seorang hamba yang Allah ridhai.
  6. Anak merupakan rahmat Allah. Kehadirannya adalah kabar gembira. Siapa pun yang telah menikah lalu dikaruniai buah hati, hendaklah senantiasa bersyukur. Syukur itu ditancapkan dalam hati, dituturkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan. Di antara wujud syukur melalui perbuatan adalah: mendidik anak dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabar atas perilaku mereka, dan selalu mendoakan kebaikan bagi mereka.
  7. Ketika Malaikat memberi kabar gembira dengan kelahiran anaknya, ia dalam keadaan beribadah kepada Allah.
  8. Diantara sebab terkabulnya doa Nabi Zakaria adalah ia lelalu
  9. Bersegera dalam melakukan kebaikan dan berdo’a kepada Allah dengan penuh rasa cemas (lihat QS. Al-Anbiya : 89-90).

 

 

Nabi Zakariya Alaihissalam kaget dengan mendapatkan anak di usia tua. Ia mengatakan,

رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا

“Ya Rabbku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”

Ada dua sebab yang membuat Nabi Zakaria kaget: sebab pertama istrinya mandul dan sebab kedua Nabi Zakariya sudah mencapai usia tua.

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Zakariya benar-benar kaget karena doa yang ia pinta pun terkabul yaitu diberi kabar kembira akan dikarunia anak. Ia gembira riang. Ia pun bertanya-tanya bagaimana bisa diberi keturunan sedangkan istrinya saja mandul sejak dulu hingga sepuh seperti saat ini tak juga diberikan keturunan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5: 210).

Saudaraku, semuanya mudah bagi Allah untuk memberi anak di usia tua seperti Nabi Zakaria. Semudah Allah menciptakan Nabi Adam tanpa kedua orang tua, menciptakan Hawa dari tulang rusuk,  dan kehamilan Maryam tanpa suami.  Maka akan lebih mudah lagi jika usia anda masih muda dan istri anda tidak mandul. Ingatlah, segala sesuatu yang Allah kehendaki pastilah terjadi. Allah berfirma:

كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

 “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.”

Syaikh As Sa’di Rahimahullah berkata, “Ini hal yang tidak normal terjadi dan jarang terjadi dalam ketetapan Allah. Akan tetapi jika Allah kehendaki untuk terjadi tanpa ada sebab apa-apa, maka itu mudah bagi Allah. Allah pun sebelumnya telah menciptakan dari sesuatu yang belum ada sama sekali.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 490).

Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana kegigihan dan husnudhonnya Nabi Zakariya kepada Allah. Hal ini akan menjadi contoh bagi keluarga manapun yang belum diberi rizki seorang anak. Hendaknya ia tidak putus asa dari rahmat Allah, memohon kepada-Nya dengan Nama-nama-Nya yang Maha Indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi disertai dengan husnudhon kepada Allah.

Berikut ini do’a-do’a dan cara mendapatkan anak:

  1. Nabi Ibrahim alaihis salaam berkata,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash Shaffaat: 100).

  1. Nabi Zakariya ‘alaihis salaam berdo’a,

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa.” (QS. Ali Imron: 38).

  1. Doa Nabi Zakariya Alahis Salam.

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

 “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. QS. Al-Anbiya : 89.

  1. Doa setiap hamba yang telah mencapai usia 40 tahun.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al Ahqof: 15)

  1. Ibadurrahman (hamba Allah Yang Maha Pengasih) berdoa,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqon: 74)

  1. Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam pernah mendo’akan anak Ummu Sulaim, yaitu Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma dengan do’a,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480). Dari sini seseorang bisa berdo’a untuk meminta banyak keturunan yang sholeh pada Allah,

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي

 Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri.”

 

  1. Perbanyak istighfar kepada Allah. Allah berfirman :

“… istighfarlah kepada Rabb-mu karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan menciptakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12).

Ada seseorang yang mengadu kepada Imam Hasan al-Bashri Rahimahullah –ulama senior dari tabi’in– karena lama tidak punya anak. Orang itu meminta tolong agar Hasan mendoakannya supaya punya anak. Hasan al-Bashri mengatakan, “Perbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah.” Setelah ditanya, mengapa beliau memberi saran untuk banyak istighfar. Belliau menjawab,

مَا قُلْتُ مِنْ عِنْدِي شَيْئاً ؛ إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ فيِ سُوْرَةِ نُوح :  اِسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً ….

“Saya tidak menjawab dengan logikaku. Sesungguhnya Allah berfirman di surat Nuh (yang aritnya): istighfarlah kepada Rabb-mu karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun… dst.” (Tafsir al-Qurtubi, 18:302).

  1. Perbanyak sedekah.

Bahwasannya ada seorang datang kehadapan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak diberi anak dan aku tidak memiliki anak seorang pun.” Beliau bersabda: “Dimana kamu dengan banyak beristighfar dan sedekah yang dengannya engkau akan diberi anak ?” Maka, orang itu pun memperbanyak sedekah dan istighfar. Dia pun mendapatkan Sembilan orang anak laki-laki. (HR. Abu Hanifah dalam Musnadnya dari Jabir ibn Abdillah)

Kita sering dapati sebagian orang diuji oleh Allah dengan tidak diberi kenikmatan menjadi seorang yang bersetatus ayah atau ibu. Pasti ada hikmah yang Allah kehendaki dibalik ujian ini, yaitu agar hati selalu mengarah kepada-Nya dan selalu berdo’a memohon diberikan keturunan, khususnya keturuaan yang saleh.

Semoga setiap rumah tangga yang mendambakan kehadiran seorang anak, Allah berikan kepadanya anak yang shalih dan mampu mendidik dengan sebaik-baiknya pendidikan. Wallahu A’lam.

 

Selesai…

Baarakallahu fiikum.

Leave a Comment