KESYIRIKAN ZAMAN SEKARANG LEBIH PARAH DARI ZAMAN DAHULU

 236 total views,  2 views today

KESYIRIKAN ZAMAN SEKARANG LEBIH PARAH DARI ZAMAN DAHULU

(KAEDAH KEEMPAT DARI KITA QOWAIDUL ARBA’)

Oleh Abu Rufaydah Endang Hermawan

Syaikhul Islam Muhammad At-Tamimi rahimahullah berkata :

القاعدة الرابعة

أنّ مشركي زماننا أغلظ شركـًا من الأوّلين، لأنّ الأوّلين يُشركون في الرخاء ويُخلصون في الشدّة، ومشركوا زماننا شركهم دائم؛ في الرخاء والشدّة. والدليل قوله تعالى: {فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ}[العنكبوت:65].

Terjemah Matan

Kaidah keempat:

Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu (yaitu: pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent.). Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik pada saat lapang (bergelimang kenikmatan) dan mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah semata) ketika berada dalam keadaan sempit (tertimpa musibah).

Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka terjadi dalam setiap keadaan, baik ketika lapang maupun sempit. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

{فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ}

Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah]. [QS.Al- Ankabut: 65].

Penjelasan (Syarh):

Kaidah keempat ini akan mudah dipahami jika telah memahami kaidah sebelumnya, bahwa orang-orang musyrik zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui dan mengimani tauhid Ruabubiyyah, maksudnya mereka mengakui Allah satu-satunya yang Maha Menciptakan, Memiliki, Menghidupkan dan Mematikan serta semua hal yang berkaitan dengan rububiyyah Allah mereka mengenalnya.

Kaidah keempat ini memperjelas kaidah sebelumnya dan benang meraka antara kesyirikan zaman dahulu dan sekarang. Sehingga setiap pembaca mengetahui dengan jelas hakikat kesyirikan yang terjadi zaman dahulu dan sekarang. Jika kesyirikan zaman dahulu dilakukan oleh mereka yang belum masuk islam, maka kesyirikan saat ini dilakukan juga oleh mereka yang sudah beragama islam. Oleh karena itu penting bagi kita mengetahui kaidah-kaidah ini. Jika kita susah memahamainya, soga Allah memberikan keberkahan kepada kita.

Penetapan bahwa kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin zaman sekarang lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ditinjau dari sisi saat kesulitan/tertimpa musibah, kaum musyrikin zaman sekarang tetap menyekutukan Allah Ta’ala.”.

Dalil yang semisal dengan ayat di atas :

Ayat pertama, Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ (22) فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (23)

“Dia-lah Rabb yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai. Dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), ‘Sesungguhnya jika Engkau (Allah) menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.’

Maka ketika Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Wahai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri. (Hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu. Lalu kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”  (QS. Yunus [10]: 22-23).

Ayat kedua, Allah Ta’ala berfirman,

 

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ (53) ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ (54)

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.  Kemudian apabila dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari kamu, tiba-tiba sebagian dari kamu mempersekutukan Rabb-nya dengan (yang lain)”  (QS. An-Nahl [16]: 53-54).

Ayat ketiga, Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka ketika dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih” (QS. Al-Isra’ [17]: 67).

Ayat keempat, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 65).

Ayat kelima, Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar”  (QS. Luqman [31]: 32).

 

Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan keadaan musyrikin ketika mereka berada dalam keadaan bahaya, menaiki kapal lalu ditimpa angin kencang dan khawatir tenggelam, mereka berdo’a kepada Allah semata dengan ikhlas dan tidak berdo’a kepada patung-patung mereka, karena mereka tahu bahwa tidak ada satupun yang mampu menyelamatkan mereka kecuali Allah.

Namun ketika mereka selamat di daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah.

Inti Kaidah Keempat : Penetapan bahwa kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin zaman sekarang lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ditinjau dari sisi tertentu,yaitu :

  1. Kaum musyrikin dahulu mentauhidkan Allah dalam berdo’a, ketika tertimpa musibah atau sedang kesulitan,namun menyekutukan Allah ketika keadaan senang dan lapang, dengan menyembah patung, pohon dan batu.

Adapun musyrikin sekarang, menyekutukan Allah baik ketika senang dan lapang, maupun ketika sulit dan tertimpa musibah,bahkan bisa jadi ketika tertimpa musibah tambah besar kesyirikannya.

  1. Kaum musyrikin dahulu menyembah pohon, para Nabi dan sholihin. Adapun musyrikin sekarang menyembah semua sesembahan yang disebutkan di atas dan menyembah orang kafir atau fasik, orang-orang yang tidak shalat , tidak puasa dan tidak meninggalkan perbuatan keji, karena diyakini orang yang disembah itu sudah tidak berlaku baginya Syari’at tentang pengharaman sesuatu, Syari’at itu diyakini hanya berlaku bagi orang-orang awam.

Kesimpulan:

Menggugah kesadaran banyak orang, bahwa walaupun suatu zaman sudah modern, namun ketika seseorang tidak berilmu tentang kesyrikan dengan benar atau ilmunya sangat kurang atau kurang diingatkan kembali akan bahayanya kesyirikan, maka sangat memungkinkan terjatuh ke dalam kesyirikan.

Bahkan, bisa jadi kesyirikan yang dilakukannya lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin yang dihadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu.

Maka, tidak ada jaminan bagi suatu negeri yang berteknologi tinggi dan bagi negara yang maju, bahwa negara tersebut pasti penduduknya selamat dari kesyirikan! Karena kemuliaan suatu negara itu adalah ketika penduduknya mengetahui dengan baik ajaran agama Islam dan mengamalkannya. Sedangkan ajaran agama Islam teragung dan asas perbaikan masyarakat terbesar adalah tauhid!

Dengan demikian, pelajaran tauhid relevan dikaji di sepanjang zaman dan di semua tempat!

وصــلى الله وســلـــم عــلـى نـبــيــنـا مـحـــمــد وعــلـى آلــه وصــحــبــه أجــمــعـيــن وآخر دعوانا أن الحــمد لله رب العالميــن الــذي بــنــعمـته تتم الصالحات.

Serial tulisan ini, banyak merujuk kepada referensi berikut ini:

  1. Syarhur Risalah Al-Qowa’id Al-Arba‘,Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr
  2. Syarhul Qawa’id Al-Arba‘, Syaikh Shaleh Al-Fauzan
  3. Transkrip ceramah syarah Al-Qowa’id Al-Arba’ah, Syaikh Sholeh Alusy-Syaikh.
  4. Syarah Qowaidul Arba’ Syaikh Dr. Shaleh bin Abdul Aziz Sindi

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah dengan beberapa tambahan dari Abu Rufaydah.

 

Leave a Comment