![]()
Mendampingi anak dalam suka dan duka memiliki keunikan tersendiri. Kadang anak membuat orantuanya tersenyum, kadang juga membuat ortunya jengkel. Namun membersamai anak dalam kondisi apapun adalah kewajiban dan tanggungjwab ortu. Karenanya tidak cukup bagi kita sekedar mempelajari psikologi anak, lebih penting dari itu adalah mendo’akan dan menyertakan Allah dalam segala hal.
Melatih anak berarti membantunya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Di saat fisiknya mulai tumbuh dan tangannya mulai aktif berkreasi, itu itu merupakan suatu tanda bahwa akalnya mulai bias dioptimalkan. Pada saat itulah anak mulai mencoba melatih indranya hingga akhirnya ia mampu mengoptimalkannya dengan baik secara perlahan.
Rasulullah pernah melihan seorang anak yang ditugasi menguliti kambing, padahal ia belum terampil melakukannya. Rasulullah lalu melipat lengan bajunya dan memulai menguliti kambing tersebut di hadapan anak itu. Sang anak pun mengawasi prosesnya dan memulai berfikir tentang cara melakukannya. Akalnya pun berkonsentrasi untuk belajar dari Rasulullah.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah meewati seorang anak kecil yang sedang menguliti kambing. Rasulullah lalu bersabda kepadanya, “Menepilah! Aku akan memperlihatkan caranya kepadamu.” Beliau lalu masukkan tangannya antara kulit dan daging lalu melepaskan kulitnya dari arah tersebut hingga ke ke ketiaknya. Setelah itu lalu Rasulullah memimpin shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu.
Percobaan aplikatif dalam upaya melatih anak bias menambah wawasan anak dan memperluas kemampuan berfikirnya. Berikanlah contoh keteladanan yang baik. Lakukan sebelum memerintah dan menghindar sebelum melarang.
Berdasarkan hal tersebut, jadikanlah semboyan kita dalam berinteraksi kita dengan anak adalah “Menepilah! Aku akan memperlihatkan caranya kepadamu.” Anak membutuhkan pengalaman yang benar, yang didasari ilmu pengetahuan teoritis yang bias dipertanggungjawabkan dan aplikasinya yang selaras dengan metode yang ada.
Ketika kita gagal dalam berbisnis, kita masih bias mengulang. Gagal dalam berkarir, masih bisa kita mengulang. Namun mendidik anak harus berhasil, karena tidak bisa kita ulang. Kegegalan mendidik anak di masa kecil, akan berdampak besar pada pendidikanya di masa dewasa. Semua bertahap dan ada urutannya. Tidak semua yang baik dan bener langsung diterapkan dan diaplikasikan kepada anak. Ingat! Syari’at ini hadir dengan bertahap, tidak langsung turun semuanya. Dengan tujuan agar manusia siap menerima.
Lihatlah kehidupan para Sahabat Nabi, mereka sangat peduli pada pelatihan dan pendidikan bagi anak mereka. Sebagai contoh, dalam masalah puasa, para sahabat sangat perhatian pada puasa anak-anak mereka. Para sahabat mempersiapkan mainan di tengah aktivitas berpuasa si anak sehingga si anak tidak merasa bosen dan tidak merasa panjangnya hari yang harus dilaluinya.
Diriwayatkan oleh Rabi’ ibn Muawwidz ibn Afra, ia berkata, “Rasulullah mengutus petisi syura ke desa-desa kaum Anshar di sekitar Madinah. Barangsiapa yang sejak pagi berpuasa maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya dan barangsiapa yang sejak pagi tidak puasa maka hendaknya ia berpuasa di sisa harinya; setelah menerima petisi itu, maka kami pun berpuasa dan demikian pula dengan anak-anak kami yang masih kecil dengan seizin Allah. Kami pergi ke masjid dan kami membuatkan bagi anak-anak mainan. Bila seseorang dari mereka menangis minta makanan, kami pun memberikan mainan itu kepadanya sebagai pengganti makannannya.” (HR. Muslim).
Berdasarkan hadits ini, Ibnu Hajar mengungkapkan bahwa hadits terebut merupakan sebuah bukti disyari’atkan bagi orang tua untuk melatih anaknya berpuasa, sebagaimana tampak jelas dipahami dari kandungan hadits tersebut. Anak yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah anak yang belum dewasa dan belum diwajibkan atasnya berpuasa. Puasa itu hanyalah sebagai latihan bagi mereka.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa latihan adalah suatu hal yang sangat penting. Agar pelatihan yang kita lakukan dapat berhasil, hendaknya kita memperhatikan hal-hal berikut ini;
- Berikanlah perintah yang sesuai dengangendernya.
- Berikanlah perintah yang selaras dengan usianya.
- Bertahaplah dalam melatih atau membiasakan suatu perilaku pada anak.
- Tidak memojokkan anak bila ia melakukkan kesalahan.
- Mengawasi proses latihan anak.
- Tidak memberikan suatu perintah pada waktu yang kurang tepat.
- Tidak terlalu berlebihan dalam memberikan motivasi pada anak.
Semoga bermanfaat, Baarakallahu Fiikum
Abu Rufaydah Endang Hermawan Unib