![]()
Lihat pula bagaimana para sahabat Nabi yang mendidik para tabi’in. Dimeja dan bangku madrasah mereka lahir para ulama terkemuka. Tak asing ditelinga para pembaca kitab klasik ulama sekaliber Said al-Musayyib Rahimahullah menantu dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, Abdullah bin Tsuaib (Abu MuslimAl Khaulani), Abdullah bin al-Mubarak, Abu Hanifah, Aisyah binti Thalhah, Amir Bin Abdillah Attamimi, Atba’ bin Abi Rabah, Zainal Abidin bin Husain Ali Abi Thalib, Hasan Al-Bashri, Muhammad ibnu Wa’asi al Azdiy, Muhammad bin Sirin, Rabi’ah ar Ra’yi, Said ibnu Jubair, Salamah ibnu Dinar, Shilah bin Asy Syam al ‘Adawi, Syuraih al Qadli, Thaawus ibnu Kaisan, Urwah bin Zubair, Umar bin Abdul Aziz, Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz, dan Qosim bin Muhammad bin Abi Bakr Rahimahullah Ta’ala.
Betapa banyak ulama yang lahir pada masa itu. Maka mari kita ambil satu contoh dari ribuan contoh ulama yang ada pada zamannya yaitu Imam Ayyub As Sikhtiani Rahimahullah. Beliau adalah salah satu guru dari Imam Malik ibn Anas Rahimahullah. Dimana beliau memiliki posisi tersendiri dihati Imam Malik yang tidak ada pada ulama lainnya.
Imam Malik pernah ditanya tentang Ayyub As-Sikhtiani ? maka beliaupun menjawab : Tidaklah aku menyampaikan hadits dari seseorangpun kecuali Ayyub lebih stiqoh (terpercaya) dari pada orang lain. (Siar ‘A’lam An Nubala 6/24)
Di kisah lain Imam Malik mengisahkan : “Ayyub telah berhaji dua kali dan aku (dahulu) telah melihatnya, hanya saja Ayyub jika ia menyebutkan Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dia pun menangis sehingga akupun menyayanginya. Dan ketika aku menyaksikan apa yang aku lihat dan pengagungannya kepada Nabi aku pun mengambil (menulis) hadits darinya. (Siar ‘A’lam An Nubala 6/17)
.
Keshalihan Ayyub As Sikhtiani membekas di hati Imam Malik ibn Anas. Sehingga bilamana Imam Malik menyebutkan Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam berubah wajahnya dan menunduk hingga hal itu memberatkan orang-orang yang duduk bersamanya. Pada suatu hari Imam Malik ditanya tentang sikapnya itu, ia pun menjawab : “Seandainya kalian melihat apa yang aku lihat maka kalian tidak akan mengingkari (merasa berat) dengan sikapku ini.
Demikianlah keshalihan generasi salaf hingga keshalihan itu berdampak kepada murid-muridnya. Semoga Allah merahmati dan menyayangi guru-guru kita di dunia dan akhir. Aamiiin.
Bersambung….
📝 Abu Rufaydah Endang Hermawan.
Artikel ini disebarluaskan oleh @CKS (Cianjur kota Santri).
www.cianjurkotasantri.com/wp/wp
IG. Cianjurkotasantri
Ikutilah Grup KIPAS (Kajian Pendidikan Islam) via Telegram di : Bit.ly/1S79GTK
Atau Via WA dengan mengetik Daftar#Nama#L/P#Alamat kirim ke 085624098804