PENENTUAN RAMADHAN DENGAN RUKYATUL HILAL

 4,465 total views,  2 views today

PENENTUAN RAMADHAN DENGAN RUKYATUL HILAL
Oleh Abu Rufaydah

Hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Dan jika melihatnya kembali, maka berbukalah (berhari Raya ‘Ied). Lalu, jika kalian terhalangi (tidak dapat melihatnya), maka ukurlah”. HR Al Bukhari, dalam Shahih-nya, kitab Ash Shiyam, no. 1.906 dan Muslim dalam Shahih-nya, kitab Ash Shaum, no. 2.500).

FAIDAH HADITS

  1. Wajib puasa Ramadhan jika telah ada ketetapan melihat hilal, dan wajib untuk berhari raya jika adanya ketetapan melihat hilal di bulan Syawwal.
  2. Dianjurkan untuk menginformasikan masuk dan selesainya bulan Ramadhan dengan media masa atau yang semisal.
  3. Hukum puasa atau berhari raya ditentukan dengan melihat hilal, maka tidak boleh puasa sampai melihat hilal dan tidak boleh berhari raya sampai melihat hilal.
  4. Sebagaimana yang diketahui, bahwa yang dimaksudkan itu bukanlah ru’yat setiap orang dengan penglihatannya masing-masing, karena hal itu tidak mungkin. Yang dimaksud itu adalah, bila yang melihatnya itu seorang yang dapat dipercaya penglihatannya tentang masuknya bulan (bergantinya bulan), dan ini bersifat umum di setiap tempat. (Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin).
  5. Melihat hilal dengan alat-alat yang canggih termasuk melihat dengan mata telanjang.
  6. Jika hilal tidak terlihat maka sempurnakan hitungan bulan Sya’ban menjdi 30 hari, maka pada hari itu tidak boleh berpuasa. Baca di HUKUM PUASA DI HARI SYAK
  7. Puasa ramdhan bisa dilakukan dengan salah satu syarat, Pertama melihat hilal, kedua pesaksian orang terpercaya, ketiga menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.
  8. Tidak tepat penentuan bulan ramdhan atau yang lainnya dengan hisab.
  9. Para ulama telah Ijma bahwa penentuan masuknya awal bulan adalah dengan ru’yah bukan dengan hisab.
  10. Jika suatu Negara telah melihat hilal, apakah Negara lain harus mengikutinya atau tidak ?
    Pendapat pertama, Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat bahwa jika suatu Negara setah melihat hilal, maka Negara lain boleh mengikutinya. Dalilnya keumuman lafadh hadits dalam bab ini.
    Pendapat kedua, Imam asy-Syafi’I dan yang lainnya berpendapat bahwa setiap tempat atau Negara memiliki tempat munculnya hilal, karena perintah puasa atau berbuka ditunjukkan kepada yang melihat hilal.
    Yang Rajih dari kedua pendapat di atas adalah pendapat yang kedua bahwa setiap tempat memiliki penentuan masing-masing.
  11. Penentuan waktu bulanan adalah seperti halnya penentuan waktu harian, karena negara-negara itu berbeda waktu mulai puasa dan bukanya setiap hari, maka demikian juga dalam penetapan mulai dan berakhirnya bulan. Sebagaimana diketahui, bahwa perbedaan waktu/hari telah disepakati oleh kaum muslimin, di mana orang-orang yang berada di belahan timur bumi lebih dulu berpuasa daripada yang berada di belahan barat, demikian juga, mereka berbuka lebih dulu. (Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin).
  12. Bagaimana puasanya kaum muslimin di beberapa negara kafir yang tidak ada ru’yat syar’iyahnya ? Mereka disana tidak memungkinkan untuk menetapkan hilal dengan cara syar’i, maka caranya, mereka berusaha untuk melihatnya jika memungkinkan, jika tidak memungkinkan, maka ketika telah ada ketetapan ru’yat hilal di suatu negara Islam, mereka melaksanakan berdasarkan ru’yat tersebut, baik itu mereka telah melihatnya ataupun belum. (Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin).

Disusun oleh Abu Rufaydah Endang Hermawan

Referensi :

  1. Bulughul Maram
  2. Shahih Bukhari
  3. Shahih Muslim
  4. Taudhihul Ahkam
  5. Athu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Marom.
  6. Subulus Salam

Leave a Comment