MENGENAL IMAN

 585 total views,  2 views today

MENGENAL IMAN

Hadits Arbain ke 2
Disusun oleh Ust. Abu Rufaydah

Lanjutan dari hadits Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu,

فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Orang itu berkata, “Engkau benar.” Kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Iman.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Orang tadi berkata, “Engkau benar.” (HR. Muslim, no. 8)

 

Pelajaran Bagian Kedua dari Hadits #02

  1. Pentingnya bertanya dari hal yang mendasar.
  2. Kecerdasaan para Sahabat yang ta’jub kepada penanya yang membenarkan apa yang disampaikan Nabi, padahal tidaklah seseorang itu bertanya kecuali ia dalam kondisi tidak tahu atau bodoh.
  3. Perpindahan dari perkara lebih rendah ke perkara yang lebih tinggi yaitu dari Islam ke Iman. Semua orang bisa berislam dengan melakukan amalan lahiriyah sebagaimana yang disebutkan dalam ayat (yang artinya), “Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah kepada mereka, ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (berislam).’” (QS. Al-Hujurat: 14). Adapun iman adalah perkara batin (dalam hati).
  4. Islam dan Iman masuk dalam istilah para ulama, “Idzajtama’a iftaroqo, wa idza iftaraqa ijtama’a”, jika kedua kata tersebut disebutkan berbarengan, maknanya berbeda; namun jika kedua tersebut disebutkan secara terpisah, maka maknanya sama. Jika Islam dan Iman disebutkan bersamaan, maka yang dimaksud Islam adalah amalan lahiriyah sedangkan Iman adalah amalan batin (berupa keyakinan-keyakinan hati).
  5. Rukun iman itu ada enam. Keenam rukun iman ini jika dijalankan dengan benar, maka akan mewariskan kepada pemiliknya kekuatan untuk memohon dalam melaksanakan ketaatan dan rasa takut kepada Allah.
  6. Iman secara bahasa yaitu membenarkan dan mengikrarkan.
  7. Iman secara isltilah yaitu meyakini dengan hati, melafadhkan dengan lisan, mengamalkan dengan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Jika hilang salah satu dari difinisi ini maka ia termasuk kelompok menyimpang.
  8. Barangsiapa mengingkari salah satu dari rukun iman, ia telah kafir, karena ia telah mendustakan apa yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  9. Iman kepada Allah mencangkup beberapa hal; Pertama mengimani keberadaannya, Kedua mengimani rububiyah-Nya, ketiga mengimani uluhiyahnya dan keempat mengimani Nama dan sifat-Nya.
  10. Kita harus menetapkan adanya malaikat dan wajibnya beriman kepada para malaikat. Malaikat itu berbentuk jasad. Contohnya saja malaikat Jibril dalam wujud aslinya memiliki 600 sayap yang menutupi ufuk. Keliru jika mengatakan bahwa malaikat hanya berupa ruh saja, tidak memiliki jasad. Keliru juga jika mengatakan bahwa malaikat adalah kiasan untuk kekuatan kebaikan yang ada dalam diri manusia, sedangkan setan adalah kiasan untuk kekuatan kejahatan.
  11. Mengimani Malaikat mencangkup beberapa hal; pertama mengimani keberadaanya, kedua mengimani Nama-namanya yang disebutkan dan yang tidak disebutkan, ketiga mengimani sifat-sifatnya, keempat mengimani tugas-tugasnya.
  12. Iman kepada Kitab-kitab maksdunya mengimani semua kitab-kitab yang Allah turunkan kepada rasul-rasul-Nya. Sebagiman diturunkan kepada Nabi Daud, Injil kepada Nabi Isa, Taurat kepada Nabi Musa dan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad.
  13. Rukun Iman kepada Kitab-kitab yaitu pertama mengimani bahwa kitab-kitab diturunkan dari Allah. Kedua mengimani nama-namanya yang kita ketahui. Ketiga membenarkan apa yang diberitakannya. Keempat mengamalkan hukum-hukumnya.
  14. Kita harus beriman kepada seluruh Rasul. Jika seseorang beriman kepada Rasulnya saja dan mengingkari Rasul selainnya, maka berarti ia belum beriman kepada Rasulnya, bahkan dia termasuk orang kafir.
  15. Rukun Iman kepada Rasul-rasul diantaranya pertama Mengimani bahwa risalahnya dari Allah. Kedua mengimani nama-namanya yang kita ketahui. Ketiga membenarkan yang datang darinya. Ketiga mengamalkan syariatnya yang belum di hapus.
  16. Kita harus beriman pada hari Akhir yang disebut hari kiamat, di mana manusia dibangkitkan dari kubur mereka untuk dilakukannya hisab (perhitungan) dan diberi balasan, yang berakhir dengan tinggalnya penduduk surga di tempat mereka dan juga penduduk neraka di tempatnya.
  17. Rukun iman kepada hari akhir yaitu mengimani hari kebangkitan, mengimani adanya hisab dan balasan, dan mengimani adanya surga dan neraka.
  18. Wajib kita beriman pada takdir yang baik dan yang buruk.
  19. Rukun iman kepada takdir terdiri dari :
  • Mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara global dan terperinci.
  • Mengimani bahwa Allah telah menulisnya di Lauhul Mahfudh.
  • Mengimani bahwa semua tidak akan terjadi kecuali atas kehendak Allah.
  • Mengimani bahwa semuanya adalah makhluk Allah.
  1. Takdir itu tidak berisi sesuatu yang buruk, yang buruk hanya pada yang telah ditakdirkan (maqdur). Penjelasan hal ini adalah bahwa perkara takdir yang berkaitan dengan perbuatan Allah seluruhnya baik.
  2. Mengapa Allah menakdirkan kejelekan? Karena ada hikmah di balik itu seperti: (1) agar kebaikan dapat dikenal; (2) supaya manusia menyandarkan diri pada Allah; (3) supaya manusia bertaubat kepada-Nya setelah ia berbuat dosa; (4) banyak meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan dengan berdzikir dan berdoa; (5) ada maslahat besar di balik kesulitan atau musibah yang menimpa.
  3. Keburukan disandarkan pada makhluk, bukan disandarkan pada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kejelekan tidaklah disandarkan kepada-Mu.” (HR. Muslim)
  4. Kita tidak boleh menjadikan qadha dan qadar Allah sebagai alasan untuk meninggalkan perintah dan melakukan larangan-Nya. Allah telah memiliki hujjah atas kita melalui kitab-kitab yang diturunkan dan rasul yang diutusnya. Dalam ayat disebutkan (yang artiya), “Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.”  (QS. Al-Anbiya’: 23)
  5. Allah tidaklah memaksa seorang pun untuk mengerjakan kemaksiatan atau meninggalkan ketaatan, manusia tetap punya pilihan.
  6. Ada dua macam iradah (kehendak), yaitu iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyahIradah kauniyyah adalah iradah yang semakna dengan masyiah (kehendak yang pasti terjadi). Iradah syar’iyyah adalah iradah yang semakna dengan mahabbah (kecintaan). Iradah kauniyyah itu pasti terjadi namun belum tentu Allah cintai. Sedangkan iradah syari’iyah itu kehendak Allah yang Dia cintai tetapi tidak mesti terjadi. Contoh, berimannya Abu Bakar Ash-Shiddiq terdapat di dalamnya iradah kauniyyah karena hal itu terjadi dan terdapat pula iradah syar’iyah karena beriman itu dicintai Allah. Sedangkan kafirnya Fir’aun terjadi secara iradah kauniyyah, namun tidak dicintai oleh Allah.

 

Referensi:

  1. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.
  2. Syarh Lum’ah Al-I’tiqad. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
  3. rumasho.com
  4. Ad Durratus Salafiyyah Syarah Arbain Nawawiyah

 

Leave a Comment