HUJAN AIR YANG DIBERKAHI, HUJAN-HUJANAN YUUK..

Loading

HUJAN AIR YANG DIBERKAHI, HUJAN-HUJANAN YUUK..

Oleh Endang Hermawan

            Hujan…..Selain membuat banyak orang merasa terganggu aktifitasnya dan terhambat kerjanya, juga menyebabkan banyak hal terbengkalai. Misalnya ketika akan pergi bekerja menjadi terlambat jika hujan deras, jemuran tak kunjung kering, jalanan becek dan licin, dan alasan lainnya yang menjadi bagian dari keluh kesah manusia. Lihat saja sifat manusia ketika kemarau ingin hujan, ketika hujan ingin kemarau. Semestinya kedua kondisi tersebut disyukuri bukan untuk dicaci dan dimaki.

Apalagi sebagian orang tua yang suka ngoceh dan murka ketika anak pulang sekolah hujan-hujanan, dibalik asyiknya anak hujan-hujanan, ortu di rumah merasa resah, seringkali ortu melarang anaknya hujan-hujanan dengan tanpa alasan atau segudang alasan, contohnya; “Nak…jangan hujan-hujanan nanti sakit”, atau kalimat yang semisal dengannya. Wajar kasih sayang ortu terutama ibu kapada anaknya begitu kuat. Anak-anak penulis ketika hujan pasti minta izin ke umahnya untuk hujan-hujanan, disisi lain anak tetangga ingin ikut, namun terkendala oleh izin ortunya, pada akhirnya karena sering melihat anak penulis hujan-hujanan maka dengan berat hati ia pun mengizinkan anaknya.

Namun tahukah kita wahai para pembaca yang dirahmati Allah. Bahwa air hujan adalah salah satu air yang Allah sifati dengan air yang diberkahi. Ketika al-Qur’an atau hadits menjelaskan apapun termasuk air, maka tak perlu ragu untuk kita Imani dan yakini, bagaimana tidak yang berfirman adalah yang menciptakan alam ini termasuk hujan, dan yang bersabda adalah hamba-Nya yang istimewa dimana ia tidak akan berbicara dengan hawa nafsunya namun sesuai tuntunan wahyu.

  1. Air Hujan adalah Air yang Diberkahi

Allah ta’ala berfirman :

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا

“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi (mubaarak)…” [QS. Qaaf : 9].

Yaitu : Banyaknya kebaikan dan barakah. (Tafsir Al-Baghawiy 4/221 dan Tafsir Al-Qurthubiy 17/6).

Allah jalla wa ‘alaa juga berfirman :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” [QS. Al-A’raf : 96].

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

أي قطر السماء ونبات الأرض

“Yaitu hujan dari langit dan tumbuh-tumbuhan di bumi”. (Tafsir Ibni Katsiir 2/234)

Pada Tafsir Al-Khaazin 2/266 disebutkan :

سمي المطر بركة السماء لثبوت البركة فيه وكذا ثبوت البركة في نابت الأرض لأنه نشأ عن بركات السماء وهي المطر

“Hujan dinamakan sebagai berkah dari langit karenanya keberadaan berkah padanya. Begitu juga keberkahan yang yang ada pada tumbuh-tumbuhan di bumi karena tumbuh dari berkah yang datang dari langit, yaitu hujan”.

  1. Hujan-hujanan

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya, lalu beliau guyurkan badannya dengan hujan. Kamipun bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa anda melakukan demikian?” Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

“Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” (HR. Ahmad 12700, Muslim 2120, dan yang lainnya).

An Nawawi rahimahullah menjelaskan,

ومعناه أَنَّ الْمَطَرَ رَحْمَةٌ وَهِيَ قَرِيبَةُ الْعَهْدِ بِخَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى لَهَا فَيُتَبَرَّكُ بِهَا

“Makna hadits ini adalah hujan itu rahmat. Rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) darinya.” (Syarh Shahih Muslim, 6/195).

Hujan-hujanan adalah cara yang tepat untuk ngalap berkah, hal ini terlihat dari apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dan para sahabatnya.

Kapan Dianjurkan Ngalap Berkah?

Imam an Nawawi rahimahullah berkata,

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ لِقَوْلِ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ عِنْدَ أَوَّلِ الْمَطَرِ أَنْ يَكْشِفَ غَيْرَ عَوْرَتِهِ لِيَنَالَهُ الْمَطَرُ

“Dalam hadits ini terdapat dalil yang pendukung pendapat ulama syafi’iyah tentang anjuran menyingkap bagian badan selain aurat pada awal turunnya hujan, agar bisa terguyur air hujan.” (Syarh Shahih Muslim, 6/196).

Contoh Bentuk Ngalap Berkah dengan Hujan

Praktek ngalap berkah ketika turun hujan, juga dilakukan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu. Ketika hujan turun, Ibnu Abbas menyuruh pembantunya (Jariyah) untuk mengeluarkan barang-barangnya, agar terkena hujan.

Dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Ibnu ‘Abbas,

أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ، يَقُوْلُ: “يَا جَارِيَّةُ ! أَخْرِجِي سَرْجِي، أَخْرِجِي ثِيَابِي، وَيَقُوْلُ: وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً

“Apabila turun hujan, beliau mengatakan, ”Wahai jariyah keluarkanlah pelanaku, juga bajuku”.” Lalu beliau membaca (ayat),

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً

“Dan Kami menurunkan dari langit air yang penuh barokah (banyak manfaatnya).” (QS. Qaaf: 9).” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 1228 dan dinyatakan shahih mauquf, sampai Ibnu Abbas).

Mulai sekarang jauhilah kata-kata cacian dan makian kepada makhluk Allah, yakinilah bahwa hujan adalah anugrah Allah dan Allah juga yang menurunkannya bukan pawang hujan atau bintang tertentu, mulailah ajak anak-anak hujan-hujanan sebagai bagian dari pendidikan nabawiyyah, dan tinggalkan ocehan dan omelan kepada anak-anak yang hujan-hujanan. Jika sakit setelah hujan-hujanan maka tidak perlu menyalahkan hujannya, namun boleh jadi ada keyakinan atau sugesti yang salah tentang hujan. Jangan lupa memperhatikan adab-adab saat hujan terjadi, sehingga disamping kita mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  kita pun mendapatkan pahala dari apa yang kita lakukan. Wallahu A’lam

 

Leave a Comment