DEMI MENUNTUT ILMU, IA TINGGALKAN ISTRI DALAM KEADAAN HAMIL

 744 total views,  2 views today

Oleh Ust. Abu Rufaydah

Al-Qodhi Iyadh rahimahullah berkata di dalam Tadribul Mudarik, III/250, tentang biografi Abdurrahman bin Qasim al-Utaqi al-Mishri rahimahullah (lahir tahun 134 H, dan wafat tahun 191 H di Mesir), beliau salah satu murid Imam Malik bin Anas rahimahullah, al-Laits dan lainnya. Ibnu Qosim berkata : “Aku datang kepada Malik di waktu menjelang subuh. Aku bertanya dua, tiga dan empat masalah kepadanya. Aku melihat ketenangan hati darinya pada waktu itu, maka aku datang kepadanya pada waktu itu, maka aku datang kepadanya di setiap waktu subuh.

Suatu hari aku menghamparkan alas di depan pintunya. Mataku terasa berat dan aku pun tertidur. Malik keluar menuju ke Masjid, tanpa aku ketahui. Lalu, seorang hamba sahaya wanita berkulit hitam membangunkanku dengan kakinya. Dia berkata kepadaku, “Tuanmu (Malik) sudah keluar. Dia tidak lalai seperti dirimu. Dia hari ini berusia 49 tahun. Dia sering shalat subuh dengan wudhu shalat Isya.” Wanita berkulit hitam itu mengira Malik adalah tuannya Ibnu Qosim, karena seringnya Ibnu Qasim mendaranginya.

Ibnu Qasim berkata, “Aku sering duduk di depan pintu Malik selama 17 tahun lamanya. Selama itu aku tidak menjual dan membeli sesuatu.” Dia berkata, “Suatu hari aku sedang berada di sisinya, tiba-tiba datang seorang haji dari Mesir. Dia seorang pemuda dengan bertutupkan wajah. Dia masuk menemui kami. Dia mengucapkan salam kepada Malik. Dia bertanya, “Adakah Ibnu Qosim di antara kalian ?” Maka, orang-orang menunjukku. Dia berjalan ke arahku dan mencium keningku. Aku mencium aroma harum darinya. Ternyata ia adalah aroma seorang anak. Ia anakku.” Ibnu Qasim meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil. Istrinya sendiri adalah sepupunya, ibnu Qasim telah memberi pilihan saat hendak berangkat, karena kepergiannya akan berlangsung lama. Namun istrinya memilih tetap setia menjadi istrinya. (Diterjemahkan secara bebas dari kitab Shofahaat min Shobril Ulama ala Syadaidi Ilmi wat Ta’shil, hlm. 115-116).

 

FAIDAH DARI KISAH DI ATAS.

  1. Kebiasaan Ulama dahulu dalam menuntut ilmu, mereka keluar dari tanah kelahirannya menuju sumber ilmu. Ibnu Qosim pergi dari Mesir menuju Madinah untuk berguru kepada Imam Malik.
  2. Adab dalam menuntut ilmu adalah dengan mendatangi ulama.
  3. Di antara waktu yang tepat untuk belajar adalah di waktu sahur. Selain fikiran masih jernih juga badan dalam kondisi bugar.
  4. Kebiasaan orang shaleh dahulu adalah menghidupkan malam dengan ibadah.
  5. Ibnu Abbas radhiallahu anhu pernah ditanya kiat sukses mendapatkan ilmu, ia menjawab :

قَالَ: “بِلِسَانٍ سَؤُولٍ، وَقَلْبٍ عَقُولٍ

“Dengan lisan yang selalu bertanya dan hati yang selalu berfikir.” (HR. Imam Ahmad, Fadhoilus Shohabah, II/970).

  1. Cara mendapatkan ilmu adalah dengan bersabar terhadap rintangan dan kesulitan yang dihadapi selama belajar. Imam Syafi’I rahimahullah berkata :

مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَعَلُّمِ سَاعَةً ** تَجَرَّعَ ذُلَّ الجَهْلِ طُوْلَ حَياتِهِ

“Barangsiapa belum pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sesaat ** Ia kan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.” (Diwan Asy-Syafi’I, hlm. 41).

  1. Semakin usia tua, semakin produktif dalam ibadah dan berkarya.
  2. Belajar tidak singkat, namun sepanjang hayat.
  3. Fokus dalam menuntut Ilmu sebagaimana Ibnu Qosim tidak pernah menjual dan tidak membeli.
  4. Dahulu, di antara adab dan cara memuliakan orang tua dan guru dengan mecium keningnya.
  5. Kesabaran wanita dahulu dalam berumah tangga dan ridho dengan kepergian suami untuk menuntut ilmu.

 

Artikel ini disebarluaskan oleh

@CKS (Cianjur kota Santri).

🌍www.cianjurkotasantri.com/wp/wp.

🌐 IG, FP . Cianjurkotasantri

👉  join Telegram  klik : Bit.ly/1S79GTK

📱 Atau Via WA ketik Nama#L/p#alamat# kirim ke 085624098804

 

Leave a Comment