TAFQIH (Ta'lim Fiqh)

PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

 3,003 total views,  223 views today

PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

Oleh Abu Rufaydah

Mengetahui pembatal-pembatal wudhu termasuk yang wajib kita ketahui, mengingat wudhu termasuk syarat shalat, karena shalat tidak sah tanpa wudhu. Dengan mengetahui pembatal-pembatal wudhu ini maka kita akan semakin mudah beragama. Karena beragama dibangun di atas ilmu dan amal shalih.

Dalam kitab Bulughul Maram karya al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqolany rahmahullah pada Bab Thaharah di pembahasan pembata-pembata wudhu, beliau membawakan sekitar 19 hadits yang memiliki derajat hadits yang berbeda-beda.

Jika dikerucutkan dan disimpulkan secara sederhana dan ringkas, berikut ini penulis merangkum dari pembahasan pembatal wudhu tersebut.

Pembatal wudhu terbagi menjadi dua

  1. Pembata wudhu yang disepakati para ulama
  2. Pembata wudhu yang diperseisihkan para ulama

A. Pembatal Wudhu yang disepakati Ulama yaitu :

  1. Kencing dan buang hajat :
  2. Madzi
  3. Mani (sperma).
  4. Darah Wanita seperti darah istihadhoh.
  5. Hilang akal disebabkan karena gila, pingsan, mabuk atau tidur yang nyenyak.

B. Pembata wudhu yang diperseisihkan para ulama.

1. Menyentuh kemaluan dengan tangan tanpa penghalang.

  • Ulama Maikiyyah dan Hanabiah berpendapat bahwa menyentuh kemaluan tanpa penghalang membatakan wudhu, sama saja dengan syahwat ataupun tidak.
  • Ulama Hanafiyah berpendapat tidak membatalkan wudhu, jika tidak dengan syahwat. Adapun dengan syahwat maka membatalkan.

2. Menyentuh wanita yang bukan mahram.

  • Pendapat Imam Abu Hanifah Rahimahullah bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu jika tidak sampai keluar (mani atau madzi).
  • Ulama Hambali berpendapat tidak membatalkan wudhu jika tidak dengan syahwat. Pendapat ini sama dengan pendapat Imam Malik.
  • Imam asy-Syafi’i rahimahullah berpendapat bahwa menyentuh wanita membatakan wudhu dengan tanpa syahwat apalagi dengan syahwat.

3. Memandikan mayit.

  • Jumhur Ulama berpendapat tidak membatalkan wudhu.
  • Ulama Hambali berpendapat membatalkan wudhu.

4. Makan daging Unta.

  • Jumhur Ulama berpendapat tidak membatakan wudhu secara mutlak.
  • Ulama Hambali berpendapat membatalkan wuhdu. Pendapat ini sema dengan pendapat Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, 2/71)
  • Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i berpendapat berbekam tidak membatakan wudhu.
  • Pendapat Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah membatakan wudhu.

5. Mimisan dan Muntah.

  • Pendapat Abu Hanifah dan Imam Ahmad mimisan dan mintah membatalkan wudhu. Alasannya karena darah dan muntahan itu najis.
  • Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i berpendapat tidak membatakan wudhu, karena keluar bukan dari qubul dan dubur.

Read more