BERSIWAK

 103 total views,  2 views today

BERSIWAK

Oleh Abu Rufaydah

 

  1. Definisi Siwak

Secara bahasa :

Imam Az-Zubaidi rahimahullah menjelaskan,

ساكَ الشَّيءَ يَسُوكُه سَوْكًا : دَلَكَه ، ومِنْهُ أُخِذَ المِسواكُ

Saaka asy-syai’, yasuukuhu-saukan, yang artinya menggosok sesuatu. Dari kata tersebutlah diambil penamaan untuk alat menggosok gigi. (Taj Al-‘Arus 27/215).

Dalam kitab ‘Aunul Ma’bud ‘Ala Sunan Abi Dawud diterangkan,

وَهُوَ يُطْلَقُ عَلَى : الفعل والآلة ، والأول هو المراد ها هنا

Siwak dimaknai tindakan menggosok gigi dan dimaknai benda untuk menggosok gigi. Namun makna yang dimaksud dalam hal ini adalah makna yang pertama. (‘Aunul Ma’bud, 1/59).

Secara Syari maknanya menggunakan kayu arak atau yang sejenisnya seperti pasta gigi untuk membersihkan gigi dan apa yang ada disekitar mulut untuk menghilangkan baud an bekas makanan. (al-Mu’tamad, I/59).

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

السِّوَاك: هُوَ اسْتِعْمَال عود، أَو نَحوه، فِي الْأَسْنَان لإِزَالَة الْوَسخ، وَهُوَ من ساك، إِذا دلك، وَقيل من التساوك، وَهُوَ التمايل

Siwak adalah penggunaan sebuah ranting pohon atau semisalnya pada gigi untuk menghilangkan kotoran. Kata ini berasal dari kata“ saaka” jika dia menggosok (gigi). Ada pula yang mengatakan “Diambil dari kata “At-Tasaawuk” yaitu At-Tamaayul.” (Tahriru Alfaazhit Tanbih, hal. 33).

 

  1. Dalil Pensyariatan Siwak

Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda.

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudlu”. [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Irwaul Ghalil no 70]

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَّلاَةٍ

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat”. [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Irwaul Ghalil no 70]

  1. Hukum bersiwak dalam kitab Tqriratus Sadidah fi Masail al-Mufidah.
  • Wajib ; jika mulut sudah baud an hendak melaksanakan shalat jum’at, maka wajib baginya bersiwak.
  • Sunnah pada beberapa kondisi;

Waktu-waktu Disunnahkannya Bersiwak. Bersiwak adalah sunnah (mustahab) dalam seluruh waktu. Namun ada lima waktu yang lebih ditekankan bagi kita untuk melakukannya (Al-Minhaj 1/135, Al-Majmu‘ 1/328, Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib 1/225). Waktu-waktu tersebut adalah sebagai berikut:

  • Setiap akan shalat dan wudhu

Abu Hurairah z mengabarkan bahwa Rasulullah  bersabda:

“Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.” (HR. Ahmad 2/400, Malik dalam Al-Muwaththa` no. 143 dengan Syarh Az-Zarqani. Disebutkan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu‘allaq. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwa`ul Ghalil no. 70)

  • Ketika masuk rumah

Syuraih bin Hani` pernah bertanya kepada ‘Aisyah radhiallahu anhu:

“Apa yang mulai Nabi n lakukan apabila beliau masuk rumah?” Aisyah menjawab: ‘Beliau mulai dengan bersiwak’.” (HR. Muslim no. 589)

  • Saat bangun tidur di waktu malam

Hudzaifah ibnul Yaman rahimahullah berkata:

“Adalah Rasulullah shalallahu Alaihi Wasallam apabila bangun di waktu malam beliau menggosok mulutnya dengan siwak.” (HR. Al-Bukhari no. 245, 889, 1136 dan Muslim no. 592, 594)

  • Ketika hendak membaca Al-Qur`an

Dengan dalil sabda Rasulullah :“Siwak itu membersihkan mulut, diridhai oleh Ar-Rabb.” (HR. Ahmad 6/47,62, 124, 238, An-Nasa`i no. 5 dan selainnya. Al-Imam Al-Bukhari meriwayat-kannya dalam Shahih-nya secara mu‘allaq. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan An-Nasa`i, Al-Misykat no. 381, Irwa`ul Ghalil no. 65)

  • Saat bau mulut berubah

Perubahan bau mulut bisa terjadi karena beberapa hal. Di antaranya: karena tidak makan dan minum, karena memakan makanan yang memiliki aroma menusuk/tidak sedap, diam yang lama/tidak membuka mulut untuk berbicara, banyak berbicara dan bisa juga karena lapar yang sangat, demikian pula bangun dari tidur. (Al-Hawil Kabir 1/85, Al-Minhaj, 1/135)

  • Makruh, dilakukan ketika dalam kondisi puasa setelah zawal bada zuhur. Imam an-Nawawi rahimahullah berpendapat tidak makruh.
  • Khilaful Aula, menggunakan siwak atau pasta gigi orang lain dengan seizing pemiliknya
  • Haram, ketika menggunakan siwak atau pasta gigi orang lain tanpa seizinnya.
  1. Bahan yang digunakan yang paling utama menggunakan kayu arak, lalu kurma, zaitun, dan yang lainnya. Tidak termasuk bersiwak jika menggunakan jari-jemari, kecuali ketika tidak ada yang bisa digunakan selainnya. (Al-Majmu’, I/335).
  2. Adab-adab bersiwak;
  • Disunnahkan bersiwak dari atas ke bawah atau sebaliknya.
  • Disunnahkan menggunakan dari kayu arak yang memiliki bau yang wangi.
  • Disunnahkan memulai dari mulut sebelah kanan.
  • Disunnahkan mencuci kayu siwak selepas diguanakan.
  • Dianjurkan anak-anak untuk bersiwak sedini mungkin.
  1. Keutamaan berdiwak

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah menjelaskan sebab sangat dianjurkannya bersiwak ketika akan shalat, beliau berkata: “Rahasianya yaitu bahwasanya kita diperintahkan agar dalam setiap keadaan ketika bertaqorrub kepada Allah, kita senantiasa dalam keadaan yang sempurna dan dalam keadaan bersih untuk menampakkan mulianya ibadah”. Dikatakan bahwa perkara ini (bersiwak ketika akan shalat) berhubungan dengan malaikat karena mereka terganggu dengan bau yang tidak enak. Berkata Imam As-Shan’ani : “Dan tidaklah jauh (jika dikatakan) bahwasanya rahasianya adalah digabungkannya dua perkara yang telah disebutkan (di atas) sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu.

مَنْ أَكَلَ الثَّوْمَ أَوِ الْبَصَالَ أَوِ الْكَرَّاثَ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا لأَنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى بِهِ بَنُوْ آدَمَ

“Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah atau bawang bakung maka janganlah dia mendekati mesjid kami. Sesungguhnya malaikat terganggu dengan apa-apa yang bani Adam terganggu dengannya” [Taisir ‘Alam 1/63]

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda,

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Bersiwak itu membersihkan mulut dan merupakan sesuatu yang mendatangkan ridha Rabb” (HR. Bukhari dan An Nasa’i).

 

Cianjur Kota Santri, 16 Dzulhijjah 1439 H

 

 

Leave a Comment