Breaking News
AQIQAH DAN QURBAN DIGABUNGKAN BOLEHKAH ?
TUNTUNAN MENGURUS JENAZAH
Sikap Laki-laki Ketika Datang Wanita Menawarkan Diri
ADAB-ADAB HARI JUM’AT
ADAB TIDUR dan BERMIMPI
BOLEHKAH SEORANG MUSAFIR MENJADI IMAM DAN KHATIB ?
PILIHLAH TETANGGA SEBELUM RUMAH
RUMAH ADALAH SEKOLAH
18 CATATAN TENTANG SHALAT JAMA’ DAN QOSHOR
PERAN WANITA
RUKUN IMAN KEPADA ALLAH
7 CATATAN TENTANG DZIKIR BA’DA SHALAT
BACAAN ZIKIR BA’DA SHALAT
HUKUM MENCACI MAKI ALLAH, AGAMA, DAN RASUL-NYA
ANAKKU MENCURI !
5 MASALAH SEPUTAR SUJUD SAHWI
DOA MEMINTA PERLINDUNGAN DARI BALA YANG BERAT
MENGENAL AGAMA ISLAM DENGAN DALIL
FATWA MUI DAN ULAMA TENTANG NATAL
SUJUD SAHWI SEBELUM ATAU SESUDAH SALAM ?
SHALAT TAHIYYATUL MASJID ATAU MENDENGARKAN AZAN
SEBAB-SEBAB SUJUD SAHWI
TIDAK MENGKAFIRKAN ORANG KAFIR
NADZAR (Janji)
DZABH (MENYEMBELIH)
WASILAH YANG BENAR DAN YANG SALAH
ISTI’ADZAH
ISTIGHOTSAH
ISTI’ANAH (MEMINTA PERTOLONGAN)
PEMBATAL-PEMBATAL SHALAT
ADAB TERTAWA
HADITS SYUBUHAT
MENGENAL LEBIH DEKAT KITAB SAFINATUN NAJA
BIOGRAFI PENULIS  KITAB SAFINATUN NAJA
10 PEMBATAL KEISLAMAN (SYIRIK)
TAWAKKAL
MASA KECIL NABI MUHAMMAD DI BANI SA’AD
HARAP YANG TERPUJI DAN TERLARANG
BATASAN AURAT LAKI-LAKI
Isra’ dan Mi’raj
BATASAN AURAT WANITA
13 Amalan Penting Tentang Hujan
RABO WEKASAN, ADAKAH TUNTUNANNYA ?
HUJAN AIR YANG DIBERKAHI, HUJAN-HUJANAN YUUK..
KEDUDUKAN DUA KALIMAT SYAHADAT DALAM SYARIAT ISLAM
SYARAT-SYARAT KALIMAT TAUHID
MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT
KESYIRIKAN ZAMAN SEKARANG LEBIH PARAH DARI ZAMAN DAHULU
NASIHAT ULAMA DI BALIK MUSIBAH GEMPA
BEDA TAPI SAMA
KENAPA HANYA ALLAH YANG DISEMBAH ?
TUNTUNAN HAID, NIFAS DAN ISTIHADHOH
HUKUM SEPUTAR NAJIS
TAFSIR SURAT AN-NAAS
KAIDAH PERTAMA MEMAHAMI KESYIRIKAN
BAHAGIA ITU JIKA…
PERINTAH DAN LARANG YANG WAJIB DIKETAHUI
TAK ADA ARAH TUJUAN
BOLEHKAH MENGUSAP SEPATU (BUKAN DARI KULIT)  SAAT WUDHU ?
IBU DIMANA ?
BOLEHKAH BERSUCI DENGAN TISU ?
BELAJAR IMAN SEBELUM QUR’AN
BELAJAR ADAB DULU SEBELUM BELAJAR ILMU
JIKA  MANDI JUNUB TANPA WUDHU LALU SHALAT, BOLEHKAH ?
13 CATATAN PENTING BULAN MUHARRAM
APA YANG HARUS ANAK PERTAMA PELAJARI ?
PETUNJUK NABI DI FASE TAMYIZ
BOLEHKAH PUASA KAFFARAH TIDAK BERURUTAN ?
BERSIWAK
KAPAN PENDIDIKAN ANAK ITU DIMULAI ?
TIDAK BISA DIPISAHKAN
HARTAKU SURGAKU
11 CATATAN PENTING DALAM MENUNTUT ILMU
PERKATAAN DAN TINDAKAN YANG MENGHANTAR KEPADA KESYIRIKAN
TABLIGH AKBAR KEMERDEKAAN
AQIQAH DAN QURBAN DIGABUNGKAN BOLEHKAH ?
BELAJAR ADAB DULU BARU ILMU
10 Catatan Penting Tentang  Qurban
BAHAYA SYIRIK
ADA APA DENGAN BULAN DZUL HIJJAH
FAKTOR-FAKTOR PENGHALANG DALAM MENUNTUT ILMU
PANGGIL ANAK DENGAN JULUKAN SEBAGAI PENGHORMATAN
NASIHAT IMAM ASY SYAFII KEPADA PARA GURU
MENANTI SANG BUAH HATI
PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK
KETIKA AKU MENEMUKANNYA
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK
WAJIB NIAT DI MALAM HARI UNTUK PUASA WAJIB
BERIKAN SEMUANYA IA HANYA MEMBERI SEPARUHNYA
PEMBAGIAN HUKUM AIR
PERAN RUMAH DALAM PENDIDIKAN
MULAILAH DENGAN TAUHID 2
SEBAB-SEBAB PENYIMPANGAN AQIDAH DAN CARA MENGATASINYA
MULAILAH DENGAN TAUHID, SEBELUM YANG LAINNYA 1
PILIH WAKTU YANG TEPAT UNTUK MENGARAHKAN
TIGA HAL YANG WAJIB DIKETAHUI Bag. I
BERIKAN SEMUANYA IA HANYA MEMBERI SEPARUHNYA
OPTIMALKAN WAKTUMU
DIMULAI DARI WANITA
MACAM-MACAM AIR
EMPAT HAL YANG WAJIB DIKETAHUI
Registrasi Member MBC
MUDIK
12 CATATAN PENTING TENTANG ZAKAT FITRAH
100 FAIDAH RAMDHAN BAGIAN 3
18  CATATAN PENTING TENTANG I’TIKAF
100 FAIDAH PUASA bagian 2
100 FAIDAH PUASA
DAURAH RAMADHAN PERDANA
MUSLIM BIKES CIANJUR SELENGGARAKAN KAJIAN, BUKA PUASA BERSAMA DAN TARAWIH
RAMADHAN DAN DO’A
DUA KEBAHAGIAAN BAGI ORANG YANG BERPUASA
MENELADANI ULAMA DALAM MEMBERI MAKANAN DI BULAN RAMADHAN
MEMBERI TAK PERNAH RUGI
MUSLIM BIKER CIANJUR ADAKAN TA’JIL ON THE ROAD
32 KESALAHAN-KESALAHAN ORANG YANG BERPUASA
ILMU DIDATANGI BUKAN MENDATANGI
12 CATATAN PENTING TENTANG TARAWIH
SIKAP LEMAH LEMBUT DALAM PENDIDIKAN ISLAM
10 HAL YANG DIMAAFKAN DALAM BERPUASA
MAKNA KEBAIKAN DAN KEBAHAGIAAN
28 CATATAN SINGKAT SEPUTAR RAMADHAN
RAMADHAN BULAN AL-QUR’AN
MENJALANKAN KOTAK AMAL SAAT KHOTIB SEDANG KHUTBAH JUM’AT
IMAM AHMAD BIN HANBAL
KISAH HARUN AR RASYID DENGAN GURU ANAKNYA
DIMULAI DARI WANITA
RAMADHAN BULAN AMPUNAN
TANGGUNG JAWAB SEORANG AYAH !
KATA MEREKA TENTANG GURU
ADAB-ADAB PUASA
HAL-HAL YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA
EFEK KESHALIHAN GURU PADA MURID
IJMA’ ULAMA, PEMBATAL PUASA
MUSLIM BIKER CIANJUR TOURING, NGAJI, DAN TADABBUR CIANJUR SELATAN DAN GARUT
TIDAK PUASA ATAU BUKA PUASA DI SIANG HARI TANPA ADA UDZUR SYAR’I
JADILAH GURU YANG MENGGUGAH DAN MERUBAH
BERI IA PUJIAN DAN PENGHARGAAN
Ortu Adalah Guru
BOLEHKAH MENCIUM PASANGAN SAAT PUASA ?
PUASA YANG TIDAK SEMPURNA
HUKUM PUASA WISHOL
BUKA PUASA TERBAIK DENGAN KURMA
SAHUR YANG DIBERKAHI
TERMASUK KEBAIKAN DALAM PUASA ADALAH MENYEGERAKAN WAKTU BERBUKA
HARUSKAH NIAT DI MALAM HARI UNTUK PUASA SUNNAH ?
WAJIB NIAT DI MALAM HARI UNTUK PUASA WAJIB
TAFSIR AL-FATIHAH AYAT 4
MENGAMALKAN BERITA MASUK BULAN RAMDAHAN DENGAN SATU ORANG SAKSI
APAKAH PENENTUAN RAMADHAN DENGAN HISAB ATAU RU’YAH
HUKUM PUASA DI HARI SYAK
BAGAIMANA SIFAT WANITA MUSLIMAH DALAM SURAT AT-TAHRIIM ?
LARANGAN MENDAHULUI RAMADHAN DENGAN PUASA
PILIHKAN UNTUKNYA GURU YANG SHALIH
MENGENAL LEBIH DEKAT IMAM ASY-SYAFI’I rahimahullah
NABI SAJA TAKUT DENGAN KESYIRIKAN BAGAIMANA DENGAN KITA ?
HUKUM TAYAMMUM UNTUK DUA KALI SHALAT
HUKUM MEMBACA SHODAQOLLAHUL ADHIM SETELAH MEMBACA AL-QUR’AN
KELAHIRAN DAN WAFATNYA NABI
ADA APA DENGAN BULAN SYA’BAN
INTISARI SURAT AL-KAHFI
MENDULANG HIKMAH DARI KISAH ASH-SHABUL KAHFI
CARA MANDI JUNUB
ADAB KEPADA SAHABAT NABI
TAFSIR SURAT AL-IKHLAS
BUAH KESABARAN UMMU SULAIM radhiallahu Anha
NASIHAT IMAM ABU HAMID AL GHAZALI RAHIMAHULLAH KEPADA ANAKNYA
HUKUM MERAYAKAN HARI ULANG TAHUN
HUKUM ORANG JUNUB
22 CATATAN TENTANG SHALAT
NASAB RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
INTISARI AYAT KURSI
BACALAH
ALIRAN YANG MENYIMPANG DALAM MEMAHAMI TAUHID RUBUBIYYAH
70.000 ORANG MASUK SURGA TANPA HISAB DAN ADZAB
CARA BERAGAMA YANG BENAR
8 MUTIARA HIKMAH HATIM AL A’SHAM RAHIMAHULLAH
TABLIGH AKBAR 2
ADAB MEMBACA AL-QUR’AN
MUSLIM BIKER CIANJUR (MBC)
SEMESTA BERTASBIH
HUKUM MENGUSAP KHUFF (Sepatu)
HUKUM BERSIWAK
AWALI DENGAN DO’A Bag. 1
UCAPAN YANG PALING DICINTAI ALLAH Bag. 1
ADAB TA’ZIYAH
ADAB ZIYARAH KUBUR
POTRET KEPEMIMPINAN DALAM AL-QUR’AN
PENGGALAN HIKMAH DARI KISAH KHADIJAH
ANAK PEREMPUAN BAGIAN DARI AYAHNYA
FASE TAMYIZ
BALIGH DALAM PANDANGAN ISLAM
KEUTAMAAN MENDIDIK ANAK PEREMPUAN
MENGAJAK ANAK KE MASJID
PRINSIP DASAR MELURUSKAN KESALAHAN
SEBAB-SEBAB KENAKALAN ANAK
PILIH WAKTU YANG TEPAT UNTUK MENGARAHKAN
KEMANA-MANA MEMBAWA BUKU
METODE PENDIDIKAN ANAK DALAM AL-QUR’AN
TAFSIR AL FATIHAH AYAT 5
Syaikh Ali Thanthawi rahimahullah
WARISAN TERBAIK
MAKNA SYAHADAT
MACAM-MACAM TAUHID
CADAR DALAM KACAMATA NAHDATUL ULAMA
RISALAH CINTA UNTUK PUTRI TERCINTA
RIHLAH ULAMA DALAM MENUNTUT ILMU
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR
KEUTAMAAN TAUHID 4
KAPAN DISYARI’ATKAN MEMBACA BASMALAH ?
MENGENAL LEBIH DEKAT IMAM NAWAWI AL-BANTANY
KEUTAMAAN TAUHID  3
KEUTAMAAN TAUHID 2
KEUTAMAAN TAUHID 1
HAK ALLAH DAN HAK HAMBA
DEMI MENUNTUT ILMU, IA TINGGALKAN ISTRI DALAM KEADAAN HAMIL
HUKUM AIR KENCING ORANG DEWASA
📚📚📚 TUGAS NABI DAN RASUL📚
SIKAP KEPADA ALLAH DAN ORANG TUA
TUJUAN HIDUP
TAFSIR AL FATIHAH AYAT 7
TAFSIR AL FATIHAH AYAT 6
TAFSIR ALHAMDULILLAH
AR-RAHMAN DAN AR RAHIM
ADAB MAKAN
IBNU JAUZI rahimahullah DAN MASA MUDA
ATHO BIN ABI RABAH
DAKWAH JAHRIYAH (TERANG-TERANGAN)
AWALI DENGAN DO’A Bag. 2
SIKAP TAWADHU ULAMA
TUJUAN PENDIDIKAN
DAMPAK WUDHU PADA HARI KIAMAT
MENDAHULUKAN YANG KANAN
CARA MEMBERSIHKAN JILATAN ANJING
CATATAN HAMDALAH Bag. 2
CATATAN ALHAMDULILLAH Bag. 1
JANGAN SALAH MEMILIH TEMAN
📚 PENGARUH TEMAN 📚
LARANGAN KENCING DI AIR YANG TIDAK MENGALIR
ISTINSYAQ (Menghirup Air)
ANCAMAN BAGI YANG TIDAK MENCUCI KAKI DENGAN SEMPURNA
KAPAN DISYARI’ATKAN MEMBACA BASMALAH ?
KAPAN IZTIADZAH DIBACA ?
HUKUM ISTIADZAH ATAU TA’AWWUD
ADAB MAKAN
ADAB BERSIN
ADAB BERPUASA
ADAB BEROLAH RAGA
ADAB TIDUR dan BERMIMPI
ADAB BERTAMU
ADAB BERMAJLIS
ADAB PENGHAFAL AL-QUR’AN
ADAB SEORANG PELAJAR
ADAB KEPADA ORANG TUA
ADAB KEPADA NABI MUHAMMAD Shalallahu Alaihi Wa Sallam
ADAB KEPADA ALLAH Ta’ala
HUKUM AIR KENCING BAYI
ADA APA DENGAN BULAN RAJAB ?
ORANG BERIMAN TIDAK MEMPERSEKUTUKAN ALLAH
ORANG BERIMAN TIDAK MEMPERSEKUTUKAN ALLAH
Muslim Yang Kuat
Tabligh Akbar – Rumahku Surgaku
Kajian Islam Ilmiyah
Pilihkan Untuknya Guru Yang Shalih
Pintar Dunia, Tapi …
Kiat Sukses Mendidik Anak
Nasihat Malam
Mengamalkan Ilmu
Pengaruh Teman
Hukuman Dalam Pendidikan Islam
Sabar Dan Menahan Emosi
Antara Uang dan Anak
Jangan Tertipu
Dampak Hasad
Antara Keinginan Dunia Atau Akhirat
Sikap Lemah Lembut
Sibuk Dengan Kekurangan Diri Sendiri
Tawadhu Seorang Guru
Sifat Pendidik Yang Sukses
Teh Hijau CKS
Paket Umroh Bersama CKS
Jangan Bosan Melatih Anak
Dahsyatnya Peran Ibu Pada Anak
Cacian Yang Berujung Pujian
Dampak Keshalihan Ulama dan Umara
Menanamkan Kejujuran dan Tidak Suka Berbohong
MENGENAL LEBIH DEKAT ABU HURAIRAH
MAKNA BULAN SHAFAR
Asas -Asas Pendidikan
AJAK IA BERMAIN
Membaca Bagian Dari Pendidikan
TAHAPAN PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM – FASE HADHONAH – Memperhatikan Penampilan dan Potongan Rambut
ADA APA DENGAN BULAN MUHARRAM
Kisah Pendidikan Islam – IBNU JAUZI rahimahullah DAN MASA MUDA
TAHAPAN PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM – CARA NABI MENDIDIK ANAK PADA USIA HADHONAH
KEGEMARAN IBNU TAIMIYAH DALAM MENELA’AH
KEUTAMAAN HARI ARAFAH
TAHAPAN PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM – FASE HADHANAH (PENGASUHAN)
Kisah Pendidikan Islam – RIHLAH ULAMA DALAM MENUNTUT ILMU
TAHAPAN PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM – FASE HADHANAH (PENGASUHAN)
BELAJAR MENGAJAR DAN METODE PEMBELAJARAN
FIQHUL JUM’AH – MAKNA JUM’AT
Petunjuk Ibnu Qoyyim Rahimahullah Ta’ala dalam Mengurus Anak di Fase Radha’ah agar Tumbuh dengan Baik
Tahapan Pendidikan Anak dalam Islam – Penyapihan dalam Islam
Kisah Pendidikan Islam – SKALA PRIORITAS DALAM MENUNTUT ILMU
FIQHUL JUM’AH – KAPAN HARI KIAMAT TERJADI ?
Al-Imam adz-Dzahabi Rahimahullah
FIQHUL JUM’AH – Jual Beli di Hari Jum’at, Bolehkah?
KATA-KATA YANG MENGGUGAH DAN MERUBAH
TAHAPAN PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM – FASE RADHA’AH – PETUNJUK NABI DALAM MENYUSUI
Jangan Berhenti Menasehati
KAPAN WAKTU MUSTAJAB DI HARI JUMAT ITU TERJADI  ?
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Hari Ketujuh Dari Kelahiran – AQIQAH
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Memberi Nama) [13-15]
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Memberi Nama) [10-12]
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Memberi Nama) [7-9]
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Memberi Nama) [4-6]
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Memberi Nama)
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam – Fase Kelahiran (Mencukur)
Tahapan Pendidikan Anak Dalam Islam “Fase Kelahiran”
Komentar Ulama Tentang Pendidikan Anak [4]
Komentar Ulama Tentang Pendidikan Anak [3]
Komentar Ulama Tentang Pendidikan Anak [2]
Komentar Ulama Tentang Pendidikan Anak [1]
Proses Melahirkan [2]
Proses Melahirkan [1]
Do’a dan Dzikir Ibu Hamil [5]
Do’a dan Dzikir Ibu Hamil [4]
Do’a dan Dzikir Ibu Hamil [3]
Do’a dan Dzikir Ibu Hamil [2]
Do’a dan Dzikir Ibu Hamil [1]
Pendidikan Anak Pada Usia Kandungan [2]
Pendidikan Anak Pada Usia Kandungan [1]
Perhatian Islam Pada Janin [2]
PERHATIAN ISLAM PADA JANIN
Mintalah Kepada Allah [3]
Mintalah Kepada Allah [2]
Mintalah Kepada Allah [1]
Adab Jima’ [2]
Adab Jima’
Apa Yang Anda Pilih ? [3]
Apa Yang Anda Pilih ? [2]
Apa Yang Anda Pilih ? [1]
Kapan Pendidikan Anak Itu di Mulai ?
Dampak Keshalihan Guru Pada Anak [4]
Dampak Keshalihan Guru Pada Anak [3]
Dampak Keshalehan Guru Pada Anak [2]
Dampak Keshalehan Guru Pada Anak [1]
Dampak Kesholehan Orang Tua Pada Anak [3]
Dampak Keshalehan Orang Tua Pada Anak [2]
Dampak Keshalehan Orang Tua Pada Anak [1]
PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK [4]
PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK [3]
PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN ANAK [2]
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK [6]
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK [5]
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK [4]
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK [3]
PERAN IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK [2]
PERAN RUMAH DALAM PENDIDIKAN [2]
ORANG TUA ADALAH GURU PERTAMA [3]
ORANG TUA ADALAH GURU PERTAMA [2]
ORANG TUA ADALAH GURU PERTAMA [1]
Petunjuk Ibnu Qoyyim Rahimahullah Ta’ala dalam Mengurus Anak di Fase Radha’ah agar Tumbuh dengan Baik [4]
Petunjuk Ibnu Qoyyim Rahimahullah Ta’ala dalam Mengurus Anak di Fase Radha’ah agar Tumbuh dengan Baik [3]
Petunjuk Ibnu Qoyyim Rahimahullah Ta’ala dalam Mengurus Anak di Fase Radha’ah agar Tumbuh dengan Baik [2]
Petunjuk Ibnu Qoyyim Rahimahullah Ta’ala dalam Mengurus Anak di Fase Radha’ah agar Tumbuh dengan Baik [1]
Bagaimana Cara Nabi Mempengaruhi Akal Anak [5]
Bagaimana Cara Nabi Mempengaruhi Akal Anak [4]
BICARA SESUAI KADAR AKAL ANAK
Cara Nabi Mempengaruhi Akal Anak Dengan Dialog
DAMPAK KISAH PADA AKAN ANAK
Konsep Pendidikan Terbaik
AQIDAH
WASILAH YANG BENAR DAN YANG SALAH

WASILAH YANG BENAR DAN YANG SALAH

PEMBATAL KEISLAMAN KEDUA

 

  1. Menjadikan/membuat perantara antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al-Wasilah (اَلْوَسِيْلَةُ) secara bahasa (etimologi) berarti segala hal yang dapat menyampaikan serta dapat mendekatkan kepada sesuatu. Bentuk jamaknya adalah wasaa-il (وَسَائِلٌ).(1)

Al-Fairuz Abadi mengatakan tentang makna “ وَسَّلَ إِلَى اللهِ تَوْسِيْلاً”: “Yaitu ia mengamalkan suatu amalan yang dengannya ia dapat mendekatkan diri kepada Allah, sebagai perantara.” [2]

Selain itu wasilah juga mempunyai makna yang lainnya, yaitu kedudukan di sisi raja, derajat dan kedekatan. [3]

Jadi Wasilah secara syar’i (terminologi) yaitu yang diperintahkan di dalam Al-Qur-an adalah segala hal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu berupa amal ketaatan yang disyari’atkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al-Maa-idah: 35]

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu berkata: “Makna wasilah dalam ayat tersebut adalah peribadahan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah (al-Qurbah).” Demikian pula yang diriwayatkan dari Mujahid, Abu Wa’il, al-Hasan, ‘Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid dan yang lainnya. Qatadah berkata tentang makna ayat tersebut:

تَقَرَّبُوْا إِلَيْهِ بِطَاعَتِهِ وَالْعَمَلِ بِمَا يُرْضِيْهِ.

“Mendekatlah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang diridhai-Nya.” [4]

Adapun tawassul (mendekatkan diri kepada Allah dengan cara tertentu) ada tiga macam:

  1. Masyru’, yaitu tawassul kepada Allah Azza wa Jalla dengan Asma’ dan Sifat-Nya dengan amal shalih yang dikerjakannya atau melalui do’a orang shalih yang masih hidup.
  2. Bid’ah, yaitu mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara yang tidak disebutkan dalam syari’at, seperti tawassul dengan pribadi para Nabi dan orang-orang shalih, dengan kedudukan mereka, kehormatan mereka, dan sebagainya.
  3. Syirik, bila menjadikan orang-orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam ibadah, termasuk berdo’a kepada mereka, meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka.[5]

 

Penjelasan Tentang Tawassul yang Masyru’:

Tawassul yang masyru’ (yang disyari’atkan) ada 3 macam, yaitu: [6]

  1. Tawassul dengan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah.

Yaitu seseorang memulai do’a kepada Allah dengan mengagungkan, membesarkan, memuji, mensucikan, terhadap Dzat-Nya yang Mahatinggi, Nama-Nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi kemudian berdo’a dengan apa yang Dia inginkan dengan menjadikan pujian, pengagungan, dan pensucian ini hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia mengabulkan do’a dan mengabulkan apa yang seseorang minta kepada-Nya dan Dia pun mendapatkan apa yang dia minta kepada Rabb-nya.

Dalil dari Al-Qur-an tentang tawassul yang masyru’ ini adalah firman Allah Ta’ala:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah Asma-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-A’raaf: 180]

Berkata Abu Yusuf dari Imam Abu Hanifah rahimahullah : “Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk berdo’a kepada Allah kecuali dengan Nama-Nama dan sifat-sifat-Nya. Dan tidak diragukan lagi apabila telah shahih dari Nama-Nama Allah, maka begitu juga dalam sifat-sifat-Nya. Karena sebagian Nama-Nama Allah berasal dari sifat-sifat-Nya. Dan tidak masuk akal apabila sifat-sifat itu ada bagi sesuatu yang tidak memiliki dzat.

Dalil dari As-Sunnah tentang tawassul yang masyru’ ini adalah hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang mengucapkan:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، اَلْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، إِنِّي أَسْأَلُكَ ( الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ ).

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu. Sesungguhnya bagi-Mu segala pujian, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau Yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Ya Rabb Yang memiliki keagungan dan kemuliaan, ya Rabb Yang Mahahidup, ya Rabb yang mengu-rusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan (ke Surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka).”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَقَدْ دَعَا اللهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيْمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى.

“Sungguh engkau telah meminta kepada Allah dengan Nama-Nya yang paling agung yang apabila seseorang berdo’a akan dikabulkan, dan apabila ia meminta akan dipenuhi permintaannya.” [7]

Juga hadits lain yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:

يَاحَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِح لِى شَأْنِي كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ.

“Wahai Rabb Yang Mahahidup, wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku meski sekejap mata sekali pun (tanpa mendapat pertolongan-Mu).” [8]

  1. Seorang Muslim bertawassul dengan amal shalihnya.

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Yaitu orang-orang yang berdo’a: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa Neraka.” [Ali ‘Imran: 16] [9]

Dalil lainnya yaitu tentang kisah tiga orang penghuni gua yang bertawassul kepada Allah dengan amal-amal mereka yang shalih lagi ikhlas, yang mereka tujukan untuk mengharap wajah Allah Yang Mahamulia, maka mereka diselamatkan dari batu yang menutupi mulut gua tersebut.[10]

  1. Tawassul kepada Allah dengan do’a orang shalih yang masih hidup.

Jika seorang Muslim menghadapi kesulitan atau tertimpa musibah besar, namun ia menyadari kekurangan-kekurangan dirinya di hadapan Allah, sedang ia ingin mendapatkan sebab yang kuat kepada Allah, lalu ia pergi kepada orang yang diyakini keshalihan dan ketakwaannya, atau memiliki keutamaan dan pengetahuan tentang Al-Qur-an serta As-Sunnah, kemudian ia meminta kepada orang shalih itu agar berdo’a kepada Allah untuk dirinya, supaya ia dibebaskan dari kesedihan dan kesusahan, maka cara demikian ini termasuk tawassul yang dibolehkan, seperti:

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, ia berkata: “Pernah terjadi musim kemarau pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari Jum’at. Tiba-tiba berdirilah seorang Arab Badui, ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, telah musnah harta dan telah kelaparan keluarga.’ Lalu Rasulullah mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a: ‘Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.” Tidak lama kemudian turunlah hujan.[11]

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu -ketika terjadi musim paceklik- ia meminta hujan melalui ‘Abbas bin ‘Abdil Muthalib Radhiyallahu anhu, lalu berkata: “Ya Allah, dahulu kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami. Sekarang kami memohon kepada-Mu melalui paman Nabi kami, maka berilah kami hujan.” Ia (Anas bin Malik) berkata: “Lalu mereka pun diberi hujan.”[12]

Seorang Mukmin dapat pula minta dido’akan oleh saudaranya untuknya seperti ucapannya: “Berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan keselamatan bagiku atau memenuhi keperluanku.” Dan yang serupa dengan itu. Sebagaimana juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada seluruh ummatnya untuk mendo’akan beliau, seperti bershalawat kepada beliau setelah adzan atau memohon kepada Allah agar beliau diberikan wasilah, keutamaan dan kedudukan yang terpuji yang telah dijanjikan oleh-Nya.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, bahwasanya ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْامِثْلَ يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِيَ الْوَسِيْلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَبْتَغِي إِلاَّ لِعَبْدِ اللهِ تَعَالَى، وَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ السَّفَاعَةُ.

“Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muadzin. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah wasilah (derajat di Surga) kepada Allah untukku karena ia adalah kedudukan di dalam Surga yang tidak layak bagi seseorang kecuali bagi seorang hamba dari hamba-hamba Allah dan aku berharap akulah hamba tersebut. Maka, barangsiapa memohonkan wasilah untukku, maka dihalalkan syafa’atku baginya.[13]

Do’a yang dimaksud adalah do’a sesudah adzan yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ.

“Ya Allah, Rabb Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang akan didirikan. Berilah al-wasilah (kedudukan di Surga) dan keutamaan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bangkitkanlah beliau sehingga dapat menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan.” [14]

Penjelasan Tentang Tawassul Yang Bid’ah:

Tawassul yang bid’ah yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syari’at. Tawassul yang bid’ah ini ada beberapa macam [15], di antaranya:

  1. Tawassul dengan kedudukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kedudukan orang selainnya.

Perbuatan ini adalah bid’ah dan tidak boleh dilakukan. Adapun hadits yang berbunyi:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوْهُ بِجَاهِيْ, فَإِنَّ جَاهِي عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ.

“Jika kalian hendak memohon kepada Allah, maka mohonlah kepada-Nya dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah adalah agung.”

Hadits ini adalah bathil yang tidak jelas asal-usulnya dan tidak terdapat sama sekali dalam kitab-kitab hadits yang menjadi rujukan, tidak juga seorang ulama pun yang menyebutnya sebagai hadits [16]. Jika tidak ada satu pun dalil yang shahih tentangnya, maka itu berarti tidak boleh, sebab setiap ibadah tidak dilakukan kecuali berdasarkan dalil yang shahih dan jelas.

  1. Tawassul dengan dzat makhluk.

Tawassul ini -seperti bersumpah dengan makhluk- tidak dibolehkan, sebab sumpah makhluk terhadap makhluk tidak dibolehkan, bahkan termasuk syirik, sebagaimana disebutkan di dalam hadits. Dan Allah tidak menjadikan permohonan kepada makhluk sebagai sebab dikabulkannya do’a dan Dia tidak mensyari’atkan hal tersebut kepada para hamba-Nya.

  1. Tawassul dengan hak makhluk.

Tawassul ini pun tidak dibolehkan, karena dua alasan:

Pertama, bahwa Allah tidak wajib memenuhi hak atas seseorang, tetapi justeru sebaliknya, Allah-lah yang menganugerahi hak tersebut kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan adalah hak Kami menolong orang-orang yang beriman.” [Ar-Ruum: 47]

Orang yang taat mendapatkan balasan (kebaikan) dari Allah karena anugerah dan nikmat, bukan karena balasan setara sebagai-mana makhluk dengan makhluk yang lain.

Kedua, hak yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya adalah hak khusus bagi diri hamba tersebut dan tidak ada kaitannya dengan orang lain dalam hak tersebut. Jika ada yang bertawassul dengannya, padahal dia tidak mempunyai hak berarti dia bertawassul dengan perkara asing yang tidak ada kaitannya antara dirinya dengan hal tersebut dan itu tidak bermanfaat untuknya sama sekali.[17]

Adapun hadits yang berbunyi:

أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِيْنَ

“Aku memohon kepada-Mu dengan hak orang-orang yang memohon.”

Hadits ini dha’if sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (III/21), lafazh ini milik Ahmad dan Ibnu Majah. Di dalam sanad hadits ini terdapat Athiyyah al-Aufi dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu. Athiyyah adalah perawi yang dha’if seperti yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah dalam al-Adzkaar, Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam al-Qaa’idatul-Jaliilah dan Imam adz-Dzahabi dalam al-Miizaan, bahkan dikatakan (dalam adh-Dhu’aa-faa’, I/88): “Disepakati kedhaifannya!!” Demikian pula oleh al-Hafizh al-Haitsami di tempat lainnya dari Majma’uz Zawaa-id (V/236)[18]

Penjelasan Tentang Tawassul Yang Syirik:

Tawassul yang syirik, yaitu menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam ibadah seperti berdo’a kepada mereka, meminta hajat, atau memohon pertolongan sesuatu kepada mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk bagi orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” [Az-Zumar: 3] [19]

 

Tawassul dengan meminta do’a kepada orang mati tidak diperbolehkan bahkan perbuatan ini adalah syirik akbar. Karena mayit tidak mampu berdo’a seperti ketika ia masih hidup. Demikian juga meminta syafa’at kepada orang mati, karena ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhuma dan para Sahabat yang bersama mereka, juga para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul, dan meminta syafa’at kepada orang yang masih hidup, seperti kepada al-‘Abbas bin ‘Abdil Muthalib dan Yazid bin al-Aswad. Mereka tidak bertawassul, meminta syafa’at dan memohon diturunkannya hujan melalui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik di kuburan beliau atau pun di kuburan orang lain, tetapi mereka mencari pengganti (dengan orang yang masih hidup).

‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata, ‘Ya Allah, dahulu kami bertawassul kepada-Mu dengan perantaran Nabi-Mu, sehingga Engkau menurunkan hujan kepada kami dan kini kami bertawassul kepada paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami.’ Ia (Anas) berkata: ‘Lalu Allah menurunkan hujan [20].’ Mereka menjadikan al-‘Abbas Radhiyallahu anhu sebagai pengganti dalam bertawassul ketika mereka tidak lagi bertawassul kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan yang disyari’atkan sebagaimana yang telah mereka lakukan sebelumnya. Padahal sangat mungkin bagi mereka untuk datang ke kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertawassul melalui beliau, jika memang hal itu dibolehkan. Dan mereka (para Sahabat Radhiyallahu anhum) yang meninggalkan praktek-praktek tersebut merupakan bukti tidak diperbolehkannya bertawassul dengan orang mati, baik meminta do’a maupun syafa’at kepada mereka. Seandainya meminta do’a atau syafa’at, baik kepada orang mati atau maupun yang masih hidup itu sama saja, tentu mereka tidak berpaling kepada orang yang lebih rendah derajatnya.[21]

 

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]

 

Footnote

[1]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits wal Atsar (V/185) oleh Majduddin Abu Sa’adat al-Mubarak Muhammad al-Jazry yang terkenal dengan Ibnul Atsir (wafat th. 606 H) rahimahullah

[2]. Qaamuusul Muhiith (III/634), cet. Daarul Kutub Ilmiyah.

[3]. Lihat Tawassul Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu (hal. 10), oleh Syaikh al-Albani, cet. Ad-Daarus Salafiyah, th. 1405 H.

[4]. Tafsiir Ibni Jarir ath-Thabari (IV/567), set. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah dan Tafsiir Ibni Katsiir (II/60), cet. Daarus Salaam.

[5]. Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah (hal. 15-17).

[6]. Diringkas dari at-Tawassul Anwaa’uhu wa Ahkamuhu oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Daarus Salafiyah, th. 1405 H; Majmuu’ Fataawaa wa Rasaa-il (II/335-355) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin; dan Haqiiqatut Tawassul al-Masyru’ wal Mamnuu’, tash-hih Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin.

[7]. HR. Abu Dawud (no. 1495), an-Nasa-i (III/52) dan Ibnu Majah (no. 3858), dari Sahabat Anas bin Malik z. Lihat Shahiih Ibni Majah (II/329).

[8]. HR. An-Nasa-i, al-Bazzar dan al-Hakim (I/545).Hadits ini hasan, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib (I/417, no. 661).

[9]. Lihat juga Ali ‘Imran: 53 dan 193-194.

[10]. HR. Al-Bukhari (no.2272, 3465) dan Muslim (no. 2743) dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma. Lihat Riyaadhush Shaalihiin (no. 12, bab Ikhlas)

[11]. HR. Al-Bukhari (no. 932, 933, 1013) dan Abu Dawud (no. 1174), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.

[12]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1010) dan Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqaat (IV/28-29) dan Mukhtashar al-Bukhari (no. 536).

[13]. HR. Muslim (no. 384), Abu Dawud (no. 523), at-Tirmidzi (no. 3614) dan an-Nasa’i (II/25), dari Sahabat bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma.

[14]. HR. Al-Bukhari (Fat-hul Baari, II/94 no. 614),Abu Dawud (no. 529), at-Tirmidzi (no. 211), an-Nasa-i (II/26-27) dan Ibnu Majah (no. 722)

[15]. Dinukil dari ‘Aqiidatut Tauhiid (hal. 142-144) oleh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan.

[16]. Lihat Majmuu’ Fataawaa (I/319) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

[17]. ‘Aqiidatut Tauhiid (hal. 144).

[18]. Dinukil dari Tawassul ‘Anwaa-uhu wa Ahkaamuhu (hal. 99) oleh Syaikh Muham-mad Nashiruddin al-Albani, cet. Daarus Salafiyyah. Lihat juga Silsilatul ahaadiits adh-Dha’iifah (no.24) oleh Syaikh al-Albani.

[19]. Lihat juga QS. Al-Ahqaaf: 5-6.

[20]. HR.Al-Bukhari (no.1010) dari Sahabat Anas Radhiyallahu anhu.

[21]. ‘Aqiidatut Tauhiid (hal.142-143).

 

Read more https://almanhaj.or.id/2461-hukum-wasilah-tawassul.html

About the author

Abu Rufaydah Endang Hermawan, Lc. MA. Beliau Lahir di Cianjur tahun 1989 Pendidikan Formal 1. SDN Citamiyang 2. SMP T dan SMA T di PONPES Al-Ma’shum Mardiyah 3. S1 Pendidikan Agama Islam di STAINDO 4. S1 Syari’ah di LIPIA JAKARTA 5. S2 Tafsir al-Qur’an PTIQ Jakarta Saat ini membina Yayasan Ibnu Unib untuk pembangunan Masjid dan Sumur dan Ketua Yayasan Cahaya Kalimah Thoyyibah bergerak di Pendidikan, Sosial dan Dakwah

Related Post

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BIKER MUSLIM CIANJUR (BMC)

Kantor BMC
Jln. Prof. Moch. Yamiin No. 119 – Sayang- Cianjur Jawa Barat

CP. 0859 38 50000 4

RUMAH QUR’AN AMINAH

RUMAH QUR’AN AMINAH

Kp. Mananti RT/RW Desa. Margajaya Kec. Lemahsugih Majalengka

Akta Yayasan No. 1 14-8-2017 SK. Kemenkumham Nomor AHU-0012680.AH.01.04. Tahun 2017 NPWP 82.610.442.4-405.000

yayibnuunib@gmail.com HP. 0823 2140 9816

 

 

 

ALAMAT KANTOR YAYASAN

Kantor 1
Kp. Pasir Sarongge RT/RW. 03/08 Desa Ciputri Kec. Pacet Cianjur Jawa Barat

Kantor II
Perumahan Prima Anggrek al-Hidayah No. 21 RT/RW. 01/07 Desa Rancagoong Kec. Cilaku Cianjur Jawa Barat

CP. 0859 38 50000 4